REMAJA DAN SEPEDA MOTOR

Ternyata begini ya kelamaan gak posting, otak sudah nyaris hijrah ke dengkul, jempol juga udah tumpul, terlalu terlena dengan rutinitas hidup memang membahayakan pemirsa.

Gak ada yang spesial kali ini meski saya sudah lama gak hadir ngeblog, tulisan saya masih seputar curhatan standar dan keresahan khas ibu-ibu, semoga masih ada pembaca budiman yang sudi menengok di mari.

Jadi ceritanya saya sedang jadi ibu-ibu yang spesilaisasinya cemas melulu ini melihat kelakuan anak-anak muda jaman sekarang. Setelah kemarin-kemarin anak-anak pada nagih gadget berlayar sentuh, sekarang sudah mulai sesumbar minta tunggangan kuda besi, iyah pemirsa, para abege super labil itu ngotot mau belajar naek motor. Gak kira-kira, yang nagih mah bocah SD yang buang ingus aja masih kagak bener.

Jadi ibu di era kekinian mah kudu banyak sabar (dan banyak duit juga) mestinya ya. Fenomena beginian juga ditambah parah ama tayangan sinetron yang lagi naek daun yang temanya tentang anak sekolahan yang kerjanya balapan trek-trekan pake motor guede itu, yang meski sudah ditegur komisi penyiaran tetap gak mempan. Ajibbbbbbb…..

Di daerah saya sudah banyak remaja yang jadi korban motornya sendiri, malah ada yang sampai hilang nyawa karena balapan sama temannya, orangnya baru kelas satu SMP, baru lulus SD tahun lalu, koit dengan kepala pecah dan rusuk hancur. Trus tempo hari, ada dua bocah yang dari penampakannya saya yakin banget masih sekolah dasar, jatuh saat mengendarai motor matic dan serta merta menabrak warung nasi di tepi jalan. Untungnya gak makan korban jiwa, tapi setelah itu heboh semua, mereka menangis, mewek cengeng pemirsa karena shock berat, gemetar, gugup plus takut banget akibat insiden itu. Sukses membuat ibunya harus ganti rugi dan ngomel-ngomel juga sepanjang perjalanan. Ckckck…..

Nah lu, kalo sudah ginikan yang salah siapa? Makanya pak polisi itu emang benar tentang peraturan mengendarai motor dan memiliki SIM haruslah usia 17 tahun, secara anak remaja di bawah usia itu memang belum matang, belum siap fisik dan mentalnya dalam mengendarai motor, plusssss menanggung resikonya kalo terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Yuk, para bunda, ayah, jangan keburu senang (kalo gak bisa dibilang bangga) dulu kalo anak remajanya sudah berani menggeber motor sendiri dan dengan enaknya pergi ke sekolah mengendarainya. Resikonya sangat besar pak, bu!

Anak-anak, dan adek-adek, sayangi dan jaga diri kalian, karena yang akan menanggung akibatnya bukan hanya diri sendiri saja tapi orang lain juga. Karena itulah saya sangat mendukung rencana pemerintah daerah dan dinas pendidikan Banjarmasin yang akan melarang penggunaan motor bagi anak SMP/SMA sederajat yang belum memiliki SIM. Itu sebuah langkah bagus yang sangat tepat untuk setidaknya mengurangi angka kecelakaan lalu lintas di kalangan remaja, semoga bisa terrealisasi secepatnya dan konsisten penerapannya.

Advertisements