TERNYATA, SAYA SEORANG FEMINIS

Hallooo.. pemirsa, selamat datang di blog saya ini. Lama banget ditinggalkan dan gak ada aktivitas menulis lagi. Sekarang sarana mengekspresikan diri sudah berpindah pada aplikasi yang jauh lebih aktraktif dan kreatif sehingga menulis di blog seperti ini jadi tidak seramai dulu lagi.

Tapi gak papa, yang penting kita masih bisa bertegur sapa, masih hidup dan eksis.

Nah, ngomong-ngomong soal eksistensi dan kehidupan, saya ingin sedikit menyenggol soal peran laki-laki dan perempuan menurut pandangan umum.

Dalam kultur masyarakat kita yang sangat PATRIARKIS ini, kita selalu mendengar betapa anak perempuan sangat ditekankan untuk pentingnya belajar menguasai tugas-tugas yang sifatnya kerumahtanggaan.

“Anak perempuan pamali bangun siang-siang, harusĀ  bangun subuh buat masak, biar nanti pas menikah bisa nyiapin makan buat suami dan anak!”

Sedikit contoh kata-kata yang sering kita dengar yang ditujukan untuk perempuan agar nantinya siap untuk kehidupan selanjutnya.

Tapi itu tidak berlaku untuk kaum laki-laki. Jarang sekali saya mendengar,

“laki-laki harus bisa masak dan mengerjakan pekerjaan rumah, agar nanti pas menikah gak melulu istri terus yang masak, siapa tahu istri lagi sakit kan bisa gantian.”

Laki- laki sudah merasa sangat cukup jika di desain hanya untuk mencari nafkah saja, sehingga sebagian besar dari mereka akan merasa sangat direndahkan ketika harus berurusan dengan pekerjaan rumah. Jarang banget kita melihat anak laki-laki disiapkan sejak dini untuk bisa jadi imam dan qowwam dalam rumah tangga mereka kelak.

Bahkan ketika harus dituntut ikut ambil bagian dalam ilmu parenting dan soal pengasuhan anak, kaum laki-laki hampir selalu berdalih,

“ah itukan urusan ibunya.”

“tanyakan PR sekolahmu dengan ibumu, ayah sibuk kerja”

Dan anehnya, dengan sangat tidak adilnya pula, kaum perempuan ini terutama para istri yang seharian harus berkutat dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya ini, dianggap sebagai pekerjaan mudah dan kurang dihargai karena “seharian di rumah saja” dan terlihat enak. Kaum laki-laki hanya menganggap bahwa pekerjaan mereka mencari nafkahlah yang paling susah dan paling berat di dunia!!

“ah, kamu seharian di rumah aja, capek apa sih?”

“di rumah ngapain aja sih seharian, kok gak beres-beres.”

Terus apa kabar IRT yang juga harus terjun bekerja dan setiap hari  juga harus mengurusi sendiri urusan rumah dan masalah anak beranak??!!

Kenapa masyarakat kita bisa terbiasa melihat perempuan ikut dalam mencari nafkah untuk keluarga, tetapiĀ  masih kurang bisa menerima kalau laki-laki membantu pekerjaan rumah tangga??

Sebuah pertanyaan yang sampai ini terus bergema di kepala saya sebagai seorang perempuan.