OKTOBER BAPER (Edisi Kehilangan Mywapblog)

Galaulah kalian, galaulah kita, galaulah saya!!

Faktanya, di dunia ini ada banyak hal yang berada di luar kendali kekuasaan kita. Salah satunya adalah tentang masalah Mywapblog yang kita cintai ini, yang peredarannya akan segera hilang dari muka bumi ini. Padahal…..

Dulu, bahkan sekarang pun jikalau Mywapblog resmi ditutup, ngeblog tanpa perangkat komputer atau laptop itu adalah suatu hal yang sangat niscaya mustahil. Kerena itulah kehadiran Mywapblog di tengah banyaknya umat manusia dengan kemampuan dan fasilitas terbatas yang hendak menyalurkan hobi sharing dan menulis tetapi tak punya laptop, itu laksana sebuah oase di tengah gersang dan kejamnya gurun pasir terpanas di dunia. Bayangkan, kita semua dapat bebas berkarya dan mengelola blog lewat ponsel saja, hampir nyaris semudah kita update status galau dan alay di facebook!!!
Dan tentu saja, kita dapat juga bergaya, bangga, gak kalah dengan blog sebelah. Jiah!!

Tapi mungkin memang benar apa kata orang, kegembiraan yang agak "terlalu" indah dan penuh euforia emang gak akan tahan lama. Dan… this is it, so inilah akhirnya, kita berkabung, saya berduka sodara sodara!!! Atas berita akan ditutupnya mywapblog.

Terasa memang agak ganjil selama saya ngeblog di Mywapblog, tiga tahun pemirsa, bukan waktu singkat untuk sebuah kesabaran, yap! Selama itu saya terus bersabar dengan keterbatasan menulis lewat ponsel java yang harganya tak seberapa jika dibandingkan ponsel android terkini. Bersabar atas fasilitas ngeblog gratis yang servernya sering down hingga tak bisa diakses berhari-hari. Bersabar atas kwalitas lemotnya paket jaringan internet yang dibeli dengan harga rupiah termurah. Bersabar atas segalanya, bahkan saya bersabar ketika menkominfo, UC Browser dan provider kartu seluler yang saya pakai berkonspirasi memblokir banyak situs, termasuk Mywapblog, yang membuat saya tak lagi bisa maksimal dalam ngeblog ria. Kejaaaaaammm….

Maka, kalau kalian yang baru aja tempo hari bikin blog di sini, dan udah mau nangis darah saking bapernya karena Mywapblog mau ditutup, PANDANGLAH SAYA, LIHATLAH SAYA DAN USER-USER LAWAS LAINNYA yang udah sedia ampe lumutan menulis dan koar-koar di Mywapblog selama ini, dan kemudian menemukan fakta paling menyakitkan seperti ini. HOW COULD IT BEEEE??!!!!! Bayangkan betapa bapernya kita!!! Yang udah pernah jatuh bangun merasakan rumit, nyesek, ngenes dan juga senangnya ngeblog lewat hape. Baper sebaper-bapernya sayang!!

Dulu, harapan dan ekspektasi saya ketika pertama ngeblog adalah ingin mengabadikan kenangan dan membuat sejarah saya sendiri, kerena saya takut jikalau saya tua nanti saya akan semakin pelupa dan mulai tak bisa mengingat lagi moment-moment terbaik dalam hidup ini, karena itulah kelak blog inilah yang akan menjadi penyambung lidah atas kisah yang tak pernah bisa saya sampaikan secara lisan, blog inilah yang akan jadi kotak pandora berharga tempat saya menyimpan semua cerita. Lebih dari itu, blog ini adalah bukan sekadar karya tulis saja, blog ini adalah kumpulan KEKAYAAN INTELEKTUAL saya yang tak ternilai harganya!!

Ok, mungkin memang agak berlebihan, tapi memang seperti itulah saya menganggapnya.

Barangkali memang seperti inilah kehidupan, kita tetap harus bertahan. Seperti halnya dulu kejayaan Friendster yang digantikan Facebook, Multyply yang punya begitu banyak user pun akhirnya juga tutup yang membuat anggotanya juga kocar kacir entah kemana, situs Ngerumpi dot com yang punya motto ngerumpi tapi pake hati juga akhirnya tiada lagi. Seperti itu…. datang, hilang, pergi, hanyalah bagian kecil dari kehidupan, dan jikalau karena itu saya merana, baper, menangis dan insomnia lalu menulis keluh kesah penuh luka ini, maka itu juga hanyalah sebagian kecil saja dari masih banyaknya luka dan guncangan masalah yang akan menimpa dalam hidup ini.
Harusnya tidak apa-apa, harusnya kita bisa, harusnya…. Tapi…..

Mywapblog….
Banyak hal yang tak dapat saya relakan dalam kehidupan, dan kau kini menjadi salah satu di antaranya.
Hikz…..

Advertisements

INDONESIA DARURAT KEKERASAN SEKSUAL

Tulisan ini dikirimkan oleh saudari saya melalui Whats Ap tempo hari. Sebuah tulisan yang disebarkan di media sosial namun tak diketahui siapa persis penulisnya, yang jelas tulisan ini lahir dari keprihatinan kaum perempuan yang merasa hatinya luka ketika menyaksikan berbagai berita pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak gadis kita. Saya tergerak ikut serta menyampaikannya di sini dengan harapan dapat menyentuh kesadaran kita semua dan semakin meningkatkan kewaspadaan kita terhadap segala bentuk kejahatan terhadap perempuan, terutama kejahatan dan kekerasan seksual.


Saya tidak pernah tertarik untuk memposting foto ataupun kisah tentang kasus seseorang, namun kali ini, izinkan saya, sebagai seorang perempuan, mengeluh kesahkan apa yang saya rasakan.

Tidak heran, di Indonesia, ketika ada suatu kasus yang timbul, maka barulah kasus-kasus yang serupa ikut naik ke permukaan. Tak ubahnya kasus pemerkosaan sekaligus pembunuhan kpd Almh. Yuyun, siswi kelas 1 SMP asal Bengkulu yang diperkosa bergiliran oleh 14 laki-laki biadab dan tak berakhlak, yang sedang mabuk dan melampiaskan hasrat hewaninya kepada Almh, lantas dengan kejinya membuang mayat Almh, yang ternyata sudah meninggal dunia saat akhir-akhir pemerkosaan tsb dilakukan. Tragis memang. Anak perempuan yang sangat disayang oleh orangtuanya, yang diimpikan akan menjadi sukses, Ayahnya, Yakin (39), yang sejak kecil menjaga agar Yuyun baik-baik saja dan kelak menjadi wanita sukses, kemudian direnggut kewanitaan anak gadisnya dan dihancurkan hidupnya. Di akhir hidupnya, Yuyun harus menjadi santapan mereka yang mengaku manusia namun tak manusiawi, dan yang tak ingin disebut binatang, namun lebih rendah daripada binatang.

Muncul kasus lagi yang terkuak ke permukaan, kasus kali ini, siapapun yang membacanya, pasti akan tersayat hatinya, dan mungkin menitikan airmata. Bagaimana tidak, Eno Farihah (19), seorang pekerja di Tanggerang yang dengan sangat keji diperkosa dan dibunuh oleh lelaki yang mengaku berpacaran dengan Almh selama 1 bulan. Almh yang dengan sekuat tenaga menolak untuk berhubungan seksual, akhirnya membuat pacarnya yang baru berumur 16 tahun itu geram, dengan 2 orang lainnya, yang keduanya sama sama pernah ditolak dan tidak ditanggapi oleh Almh, mereka berusaha untuk memperkosa Almh. Ia pukul kepala Almh sampai berdarah darah, setelah itu diperksoa bergiliran oleh 3 orang biadab tersebut, Payudara Almh di gigit hingga berdarah, dan, yang saya tidak habis fikir dan sama sekali tidak terlintas di otak saya bahwa seorang manusia, yang hidup, memiliki alat indera yang sempurna, memiliki akal dan otak yang ukurannya sama disetiap individu, tega untuk memasukkan gagang cangkul kedalam vagina orang yang sempat dia bangga banggakan sebagai pacarnya, hasil visum Eno yang diakibatkan oleh masuknya gagang cangkul sedalam 50CM kedalam tubuhnya, yang dipaksakan, namun kemudian ditendang dengan kejinya agar gagang cangkul tersebut dapat masuk sepenuhnya kedalam vagina Eno. Almh. patah tulang pipi kanan berlubang, patah tulang rahang kanan, luka terbuka yang menembus lapisan penutup rongga panggul penggantung urat besar sebelah kanan. Robeknya hati sampai belakang bawah menembus ke atas dekat rongga dada kanan, robeknya paru-paru kanan bagian atas sampai bawah, pendarahan pada rongga dada 200 cc dan rongga perut 300 cc. Dan ya, Eno, yang menjadi satu satunya tulang punggung keluarga, harus diakhiri hidupnya oleh lelaki yang biadab.

Saya tidak ingin menyalahkan atau membenarkan pihak siapapun. Karena tanpa saya harus paparkan, kalian semua pasti sadar siapa yang tidak bermoral dan tak berkemanusiaan dalam kasus tersebut. Saya hanya ingin menyerukan, kepada yang membaca, bahwa, dibalik kehidupan manusia, dibalik tumbuh kembangnya seorang anak, ada orang tua, yang dengan keringat, air mata, biaya, dan tenaga, berusaha keras untuk membahagiakan anak anaknya, untuk menjaga anak anaknya, yang berharap anaknya dapat mengangkat derajat orangtuanya kelak. Bayangkan betapa hancurnya orang tua Almh ketika anaknya dijadikan hasrat pelampiasan nafsu syaitan? Bayangkan betapa kecewanya orang tua tersangka ketika anak yang Ia besarkan lantas tumbuh dan bersikap tak ubahnya seperti hewan?

Sekarang, saya, sebagai perempuan, merasa tidak aman berada dimanapun. Saya tidak ingin mengeneralisasi bahwa setiap laki-laki akan berbuat perbuatan keji yang dilakukan tersangka, namun pada kenyataannya, banyak serigala yang berlapis bulu domba. Dimanapun, kapanpun, siapapun, laki-laki, ataupun perempuan, semuanya punya hak hidup dan hak berteman dengan sesama. Namun siapa yang harus disalahkan ketika perlahan kebebasan individu untuk hidup dan berteman dengan sesama disalah gunakan sebagai ajang pelampiasan nafsu syaitan?

Maka kalau mati harus dibayar mati, saya akan lebih memilih para tersangka untuk dihukum mati. Kalau kalian ingin berpendapat bahwa dihukum mati adalah tindakan yang tak berkemanusiaan, maka, apakah tindakan memperkosa lalu membunuh adalah suatu tindakan kemanusiaan?

[REPOST] tulisan diatas tersebar luas di media sosial dan admin tidak tau siapa sebenernya penulis. Yang jadi garis besar adalah maraknya kasus kekerasan seksual pada perempuan semakin naik kepermukaan. Tapi apa yang harus dilakukan ketika hukuman bahkan bagi pelaku dibawah umur terkendala dengan HAM sehingga tidak bisa ditahan atau diberi hukuman setimpal?

KETIKA ANAK LELAKI MENANYAKAN SEKS

Nulis beginian porno gak yah?? Tahu deh, saya cuma mau sharing pengalaman dan menularkan kegundahan saja.Hihihi……

Akhirnya, pertanyaan “rumit” itu keluar juga dari mulut bocah lelaki saya yang duduk di kelas 5 sekolah dasar itu.

Kemarin sore yang tenang, sepulangnya dari bermain dengan teman sebayanya, Fikri duduk menghampiri saya yang tengah santai di depan televisi. Dan bertanya;

“Mama, bersetubuh itu apa?”

(Iya pemirsa, suerrrrr Fikri nanya gitu, gak dengan kata-kata yang lebih halus semisal hubungan intim.)

JDER…..

Kaget laksana disambar copet di siang bolong adalah reaksi saya dimenit-menit awal, padahal saya sudah menyiapkan momen ini sejak setahun lalu saat ia mulai bertanya masalah tanda-tanda pubertas pada anak laki-laki. Ternyata ini loh saatnya , membatin saya kala itu. Maka mau tidak mau saya jelaskan dengan sebenar-benarnya dengan kata-kata dan istilah umum (nama kelamin tidak diganti dengan istilah lain, tetap apa adanya) yang dapat ia pahami. Sedapat mungkin saya coba singkirkan perasaan malu dan tabu, saya mesti jujur dan terbuka tanpa harus vulgar tentunya.

Anak saya itu memang sejak kecil kritisnya bukan main (bapaknya saja bilang anak cowok kok mulutnya bawel kayak cewek, udah kayak penyidik KPK saja saking cerewet dan detailnya), dari satu pertanyaan yang dijelaskan muncul lg serentetan pertanyaan. “Cairan yang keluar kalau mimpi basah itu apa ma?”. Ya saya jawab itu sperma namanya yang kalau ketemu sel telur wanita bisa jadi hamil lalu jadi anak karena bersetubuh (saya beri atau berhubungan seksual/suami istri) tadi (dari pertanyaan ini juga merembet ke masalah kenapa saya tiap hari menkonsumsi pil KB untuk mencegah dan merencanakan kehamilan), tapi itu HANYA UNTUK ORANG YANG SUDAH MENIKAH SEPERTI AYAH DAN IBU, kalau belum menikah gak boleh melakukannya. INGAT, disini kita perlu menekankan adanya konsep pernikahan agar anak paham bahwa hubungan seksual tak boleh dilakukan tanpa ikatan pernikahan yang sah dan juga menuntut tanggung jawab yang besar dan tidak main-main.

Dia mengangguk paham, saya kira selesai disana, ternyata masih ada lagi: “kalau air mani itu apa ma?”

Saya garuk-garuk hidung jadinya, ya itu sperma, nama lain dari sperma yang bisa keluar karena berhubungan suami istri atau karena mimpi basah jelang pubertas itu. Oh… manggut-manggut lagi, nah nanti kalo Fikri sudah ada tanda-tanda mimpi basah itu, nanti bilang ke mama ya, biar nanti mama ajari niat dan tata cara mandi wajib karena itu termasuk hadas besar. Paham? Dia mengangguk, ok ma !!

Oke sipp!

Sementara ini sih saya lihat wajahnya cukup puas dengan penjelasan itu, pokoknya sampai dia gak nanya2 lagi. Kemudian saya yang bertanya kenapa Fikri menanyakan itu, ternyata katanya tadi siang pas di sekolah dia belajar agama tentang hal2 yang membatalkan puasa, bersetubuh dan keluar air mani dengan sengaja termasuk diantaranya, maka jadi penasaran lah bocah lanang saya yang tahun ini baru memasuki usia 11 tahun itu. Oh… pantesan kata saya dalam hati, yang walaupun sudah dijelaskan secara garis besar oleh gurunya, rupanya anak saya ini tetap membawa segudang penasaran ketika pulang ke rumah. Ckckck……

Saya selalu berpikir seandainya anak saya perempuan mungkin saya tak akan semumet ini menjelaskan masalah pubertas dan seks, paling tidak karena saya juga perempuan itu pasti akan lebih mudah menyampaikannya. Tapi apa daya saya, alhamdulillah selalu karena saya punya dua anak lelaki yang cerdas, sangat kritis, dan untungnya masih mau bertanya dengan mamanya. Artinya mereka masih menganggap saya sebagai narasumber utama yang terpercaya (semoga) untuk melengkapi referensi khazanah kekayaan hidup dan dunia anak-anak mereka yang penuh warna dan tantangan ke depannya. Hahay……. bahasanya bo, kebanyakan stress ala ibu muda gini mah jadinya..

Muter-muter ngomongin masalah itu kemarin sampai sejam lebih, saya berusaha memberikan penjelasan gak hanya dari segi agama dan norma saja, tapi juga dari siklus normal manusia karena anak-anak juga sudah belajar mengenai sistem reproduksi makhluk hidup, jadi semua itu sangat penting agar anak-anak dapat mengenal diri mereka dengan baik, dan dapat lebih menghormati sesama dan juga lawan jenis mereka. Agar mereka tahu bahwa ada batasan dalam pergaulan dan berperilaku.

Membuat saya teringat dulu saat mungkin seusia Fikri saya pernah bertanya dengan saudara tua ayah (kami biasa memanggil beliau Amang) tentang kondom itu apa? Ha… Ternyata buah memang telah jatuh di bawah pohonnya. Skak mat!!

Hmmm…… Begini rasanya setelah “bom waktu pertanyaan rumit” itu akhirnya meletus, menjelaskan masalah pubertas ternyata lebih menakutkan dari menghadapi pubertas itu sendiri. Dan lagi, satu lagi cah lanang cah bagus yang juga menuntut ketabahan mamanya, Raffi minta di sunat liburan bulan puasa tahun ini. Bapaknya panik, belum genap 6 tahun lo, masih TK kecil lo…….

Selalu, bagi saya menjadi ibu adalah enjoying sweet horrible moment, menikmati momen mengerikan yang manissss. 🙂

REMAJA DAN SEPEDA MOTOR

Ternyata begini ya kelamaan gak posting, otak sudah nyaris hijrah ke dengkul, jempol juga udah tumpul, terlalu terlena dengan rutinitas hidup memang membahayakan pemirsa.

Gak ada yang spesial kali ini meski saya sudah lama gak hadir ngeblog, tulisan saya masih seputar curhatan standar dan keresahan khas ibu-ibu, semoga masih ada pembaca budiman yang sudi menengok di mari.

Jadi ceritanya saya sedang jadi ibu-ibu yang spesilaisasinya cemas melulu ini melihat kelakuan anak-anak muda jaman sekarang. Setelah kemarin-kemarin anak-anak pada nagih gadget berlayar sentuh, sekarang sudah mulai sesumbar minta tunggangan kuda besi, iyah pemirsa, para abege super labil itu ngotot mau belajar naek motor. Gak kira-kira, yang nagih mah bocah SD yang buang ingus aja masih kagak bener.

Jadi ibu di era kekinian mah kudu banyak sabar (dan banyak duit juga) mestinya ya. Fenomena beginian juga ditambah parah ama tayangan sinetron yang lagi naek daun yang temanya tentang anak sekolahan yang kerjanya balapan trek-trekan pake motor guede itu, yang meski sudah ditegur komisi penyiaran tetap gak mempan. Ajibbbbbbb…..

Di daerah saya sudah banyak remaja yang jadi korban motornya sendiri, malah ada yang sampai hilang nyawa karena balapan sama temannya, orangnya baru kelas satu SMP, baru lulus SD tahun lalu, koit dengan kepala pecah dan rusuk hancur. Trus tempo hari, ada dua bocah yang dari penampakannya saya yakin banget masih sekolah dasar, jatuh saat mengendarai motor matic dan serta merta menabrak warung nasi di tepi jalan. Untungnya gak makan korban jiwa, tapi setelah itu heboh semua, mereka menangis, mewek cengeng pemirsa karena shock berat, gemetar, gugup plus takut banget akibat insiden itu. Sukses membuat ibunya harus ganti rugi dan ngomel-ngomel juga sepanjang perjalanan. Ckckck…..

Nah lu, kalo sudah ginikan yang salah siapa? Makanya pak polisi itu emang benar tentang peraturan mengendarai motor dan memiliki SIM haruslah usia 17 tahun, secara anak remaja di bawah usia itu memang belum matang, belum siap fisik dan mentalnya dalam mengendarai motor, plusssss menanggung resikonya kalo terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Yuk, para bunda, ayah, jangan keburu senang (kalo gak bisa dibilang bangga) dulu kalo anak remajanya sudah berani menggeber motor sendiri dan dengan enaknya pergi ke sekolah mengendarainya. Resikonya sangat besar pak, bu!

Anak-anak, dan adek-adek, sayangi dan jaga diri kalian, karena yang akan menanggung akibatnya bukan hanya diri sendiri saja tapi orang lain juga. Karena itulah saya sangat mendukung rencana pemerintah daerah dan dinas pendidikan Banjarmasin yang akan melarang penggunaan motor bagi anak SMP/SMA sederajat yang belum memiliki SIM. Itu sebuah langkah bagus yang sangat tepat untuk setidaknya mengurangi angka kecelakaan lalu lintas di kalangan remaja, semoga bisa terrealisasi secepatnya dan konsisten penerapannya.

GAMBAR BERCERITA; EUFORIA KEMARAU

meranggas.jpg

Hujan belum turun, musim kemarau cukup betah menyambangi bumi Borneo, matahari masih setia menyala. Kalau sudah begini, maka usaha perniagaan kami di bidang perikanan dan pemancingan pun terpaksa harus vakum sejenak. Jadi bapaknya punya lebih banyak waktu di rumah ngumpul sama anak-anak, sampai sempat-sempatnya membuatkan ayunan dari ban bekas karena area persawahan di sekitar rumah kami mengering, asik buat bermain. Kalau padi sudah dipanen semua nanti mau buat lapangan bola. Cihuy!

Inilah euforia kemarau itu :

main-ayunan-2.jpg
Ayo, siapa dulu yang giliran naik ayunan pertama? Gak boleh rebutan ya.

main-ayunan-3.jpg
Ok, sudah diputuskan perempuan dapat giliran pertama, ladies first! Cowok-cowok ngalah.

main-ayunan-1.jpg
Berpeganganlah kuat-kuat! Kawan-kawanmu akan mendorongmu tinggi-tinggi dan jauh, menembus angin menyongsong langit.

main-ayunan-1b.jpg
Inilah kebebasan itu kawan. Jika aku terbang, pastilah aku elang. Dan jika aku hinggap maka aku adalah kupu-kupu bersayap.

abah-maayun-anak.jpg
Bukankah Ayah janji, jika aku pintar di sekolah dan jadi anak yang patuh maka Ayah akan mengayunku kencang-kencang seratus kali. Sanggup?

jalan-sawah.jpg
Jalan setapak ini menuju pada sesuatu, tentang kemuning padi yang menjanjikan harapan. Kali ini alam berbaik hati, tak perlu jumawa dengan gedungmu yang congkak berdiri. Maka nikmat yang mana yang akan kau ingkari?

sawah-ku-banyak.jpg
Aku gak usah jadi direktur atau pengusaha batu bara, gak juga CEO, juga gak perlu jadi PNS. Cukup dengan punya kontrakan dua puluh lima pintu dan ladang padi beras Siam Unus sepuluh ribu hektar!

menunjuk-sawah.jpg
Ayah lihat itu tidak?! Orang-orang itu membangun komplek perumahan di area persawahan, kelak bagaimana kita menanam padi? Apa nanti kita berhenti makan nasi? Apa mesti diganti beras plastik? Sorry, perutku gak toleran dengan bahan pangan berbahan sintetis.

manggumba-banih.jpg
Semua masih tradisional di sini, padi dipanen dengan ranggaman dan arit, lalu diirik dan kemudian dibersihkan dari gayang banih dengan alat besar bernama Gumbaan ini. Jadi gak usah kalian usik kami dengan wacana modernisasi bidang pertanian. Tahun lalu, ketika hama membuat kami gagal panen, toh kalian semua angkat tangan.

sawah-dan-saya.jpg
“Great Smile under Topi Purun

our-place.jpg
In my place, in my place Were lines that I couldn’t change I was lost, oh yeah I was lost, I was lost Crossed lines I shouldn’t have crossed I was lost, oh yeah. . .

If you go, if you go Leave me down here on my own Then I’ll wait for you, yeah. Yeah, how long must you wait for it? Yeah, how long must you pay for it? Yeah, how long must you wait for it, oh, for it? Singing Please, please, please Come back and sing to me To me, to me. . .
(In My Place, Cold Play)

meranggas.jpg
Sejumput musim gugur turun di depan rumah kita, meluruhkan daun-daun yang jatuh kala dicumbu angin. Dan jika kemarau ini masih lama, hujan pasti akan tiba karena langit berhutang janji cuaca pada kita.



Beras Siam Unus= jenis beras unggulan khas Kalimantan Selatan (terutama kecamatan Gambut) yang memiliki karakteristik bulir yang halus memanjang, putih bersih dan pulen tapi tidak lembek dimasak. Hanya panen setahun sekali.

Ranggaman= alat untuk memanen padi khas Kalimantan, terbuat dari lembaran kayu tipis dan sepotong bambu kecil, di bagian tengahnya dipasangi silet untuk memotong batang padi.

Diirik/mairik banih= proses pemisahan bulir padi dari batang dan daunnya dengan cara diinjak-injak.

Gayang banih= batang dan daun padi yang telah kering.

Topi Purun= Topi tradisional yang terbuat dari anyaman tanaman Purun (sejenis pandan-pandanan berdaun kecil panjang yang dalamnya berronga) yang dikeringkan dan dipipihkan.

Lokasi foto: kecamatan Gambut, kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

PERGAULAN IBU-IBU DAN SEGALA KEANEHANNYA

Inilah dia, sepertinya memang hal inilah yang selalu ada dalam setiap pergaulan ibu-ibu yang tiap pagi menunggui anaknya sekolah TK. Bukan hal baru memang, juga sudah biasa, tapi tetap saja menghadirkan banyak cerita.

Sayapun tak luput dari ‘efek pergaulan’ ibu-ibu yang ngumpul enam hari dalam seminggu tiap pagi dari Senin sampai Sabtu ini. Karena anak saya belum bisa ditinggal sendiri di sekolahnya, maka otomatis saya jadi intens bertemu dan bergaul dengan para ibu-ibu yang macam-macam tingkah polahnya.

Tanpa saya jelaskan secara rincipun tentu para pemirsa budiman dapat membayangkan bagaimana riuh dan rempongnya suasana perkumpulan kaum ibu yang menunggui anaknya di sekolah (ghrgrrr. . . .).

Yang membuat saya tergerak menuliskan hal ini adalah karena suatu kejadian dimana anak-anak saat bermain lalu berujung pada pertengkaran. Namanya anak-anak ya kadang sering kelewatan bercandanya, rebutan apalah, kadang sampai berkelahi, kadang menangis atau malah sampai cidera ringan (mungkin sampai berat juga, walau jarang). Tapi hebatnya anak-anak, sebentar saja mereka bisa baikan lagi kok, marahannya gak pake lama dan gak dendam juga.

Nah, yang jadi bagian menariknya adalah ketika ibu-ibu yang anaknya lagi berselisih ini malah jadi ikut-ikutan ‘konslet’ juga. Masing-masing jadi pada keras kepala membela mati-matian anak masing-masing, ngotot gak mau kalah, gak peduli dan gak mau denger kalo masalah semacam itu gak usah dan gak baik dibesar-besarkan. Ibu-ibu tipikal begini bisa sampai berhari-hari bahkan bisa selamanya tetap mengumbar kebencian, saling beradu omelan dan hujatan tanpa peduli kalau anak-anak mereka sudah duduk sama-sama lagi, sudah main berdua lagi, sudah damai lagi. Ckckck. . .

Menghadapi ibu-ibu dengan karakter ‘pasukan berani mati dalam membela anak’ inilah yang sering membuat serba salah. Mereka taklid buta, yang penting adalah memandang anak mereka bersih tak bersalah, yang selalu salah adalah anak orang lain yang bresinggungan dengan anaknya (bahkan meskipun si anak memang terkenal usil dan sering mengganggu temannya tetap saja dibela), tak mau mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain mengenai itu. Kecenderungan inilah yang sangat membahayakan. Dan parahnya lagi, karena si ibu yang sering over reacted ini maka anaknya pun jadi bertindak manipulatif, mendramatisir keadaan dan selalu memposisikan diri sebagai korban, karena mereka merasa dibela jadinya besar kepala, menjadi Radja Ketjil Jang Tak Pernah Salah. Dari yang saya lihat dan pernah alami, anak-anak bisa jadi TA (Tukang Adu) yang semakin berpotensi meledakkan amarah dan naluri bela anak mati-matian ibunya yang salah kaprah itu semakin membara.

Duh. . . Susah juga ya kalo sudah berhadapan hal beginian. Dan itu belum lagi ditambah dengan tipikal ibu-ibu yang hobinya gosip plus adu domba (tipe manusia yang selalu ada di mana saja. Di mana saja pemirsa, di mana-mana!!). Dijamin tambah puanjaaaaaaaaaaaaaaang deh ceritanya. Kuota huruf lima ribu karakter di blog ponsel saya ini tentu tak akan cukup membahas semuanya. Haha. . .

Kita semua tahu, setiap ibu memang sangat menyayangi anaknya, walaupun anak-anak bisa salah, orang tua selalu bisa menerima dan memaafkan anaknya. Tapi kasih sayang inipun hendaknya jangan melebihi porsinya. Orang tua, terutama ibu harus bisa melihat dulu seperti apa sebenarnya hal yang terjadi dalam dunia anak-anak. Jangan sampai karena urusan anak membuat kita cekcok dengan teman, tetangga atau sesama ibu lainnya. Anak-anak juga harus dibiasakan untuk menghadapi masalah mereka sendiri dengan teman-temannya, jangan sedikit-sedikit orang tua turun tangan dan emosional (bahkan ada yang sampai melabrak guru yang mencoba meluruskan masalah anak-anak yang sedang bertengkar itu). Permasalahan hidup dan cara kita menghadapinya sekarang ini akan membentuk kehidupan mereka dimasa depan nantinya, dimana para orang tua tak bisa melindungi anak-anak mereka selamanya.

Hmm. . . Wallahualam.

RAFFI’s FIRST DAY SCHOOL

The holiday is over and very busy day!!

Untuk sobat mayaku semuanya, saya dan keluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin. Sekarang saya hanya bisa sesekali tampil di blog karena pasca Ramadhan dan Lebaran saya tambah sibuk karena ini bertepatan dengan tahun ajaran baru. Sekarang si adik sudah mulai masuk sekolah TK hari pertama tepatnya tanggal 23 Juli hari Kamis tempo hari.

Saya sempat cemas, takut Raffi rewel dan tantrum kayak si abang terulang lagi. Dulu sempat horor banget ketika Fikri pertama kali masuk TK, 2 bulan lamanya saya mesti menghadapi kengerian pagi karena dia ngamuk terus di sekolah, gak mau pake seragam, ogah berbaris dan jutek sama teman dan guru. Pokoknya dulu itu (sekitar 5-6 tahun sudah berlalu) kita jadi tenar di sekolah sebagai ibu yang paling rempong mengenaskan karena putra kecilnya paling susah diatur dan doyan ngamuk.

Tapi ternyata (tanpa bermaksud membanding-bandingkan anak, hanya sebagai penjelasan. Karena tiap anak itu spesial dan punya potensinya sendiri) Raffi berbanding 180 derajat dengan kakaknya Fikri. Hari pertama sekolah berlalu dengan aman, damai, kondusif dan terkendali. Meski belum bisa mengikuti gerakan dan menyanyi saat berbaris, kelakuan Raffi cukup tertib. Nyess. . . Banget rasanya melihat si kecil masuk sekolah, mau berteman dan penuh semangat. Dan tanpa tempertantrum (ngamuk) tentu saja.

Tapi ‘kepintaran’ Raffi menghadapi hari pertama sekolahnya ini bukan datang begitu saja. Semua itu juga tak lepas dari peran serta si abang Fikri yang sering mengenalkan konsep sekolah dan menemani bermain di sekitar rumah. Karena Fikri juga, Raffi mau masuk sekolah mengaji tiap sore di lokasi yang sama dengan TK pagi. Jadi semacam sosialisasi sebagai bentuk antisipasi saya supaya Raffi gak kaget dan gak takut sekolah karena sudah terbiasa. Dan itu terbukti sangat berhasil, hampir dua bulan Raffi mengaji tiap sore, sehingga ia terbiasa dengan lingkungan sekolahnya walau bertemu dengan banyak orang yang tak dikenal. Dan insha Allah akan tetap diteruskan sekolah mengajinya.

Fikri juga sering main sepeda dengan Raffi, jadi Raffi gak jadi terlalu nempel dengan ‘aroma ketek’ mamanya. Dan yang paling membuat senang adalah Raffi menepati janjinya untuk berhenti ketergantungan ‘mentil addicted’ jika sudah sekolah TK. Karena Fikri terus mewanti-wanti nanti malu sama teman kalo ketahuan masih mentil. Horee. . . Merdeka!! Berhasil berhasil!! #doratheexplorermodeon

Bahkan setelah pulang Raffi bercerita pada neneknya bahwa ada anak yang menangis dan masuk kelas harus sama mamanya. Lalu nenek tanya “kalau Raffi menangis tidak?”. “Gak dong, Raffi kan pintar.” Katanya sesumbar sambil memasang muka bangga. Hehe. . . Ajaib memang yang namanya anak-anak.

Maka jadilah hari Kamis itu jadi pagi paling narsis. Ini dia pose Raffi yang begitu semangat untuk sekolah:

raffi-baju-seragam-2.jpg
Kalau hari Senin baju seragamnya pakai rompi seperti ini. Kerren ya??

raffi-baju-seragam.jpg
Sangar! Peci putihnya juga keren

raffi-sekolah-3.jpg
Kalau hari Kamis pakai baju batik khas Kalimantan Selatan, namanya Kain Sasirangan.

raffi-sekolah.jpg
Ayo berangkat!!

raffi-sekolah-2.jpg
Lets go!

di-sekolah.jpg
Waktu berbaris ada banyak lagu dan gerakannya. Satu yang saya ingat: . . .anak-anak senang, ibu guru senang, mama papa juga ikut senang. . . Kaki dihentak-hentak, pinggul digoyang-goyang sungguh senang!

Yang ini Fikri sudah kelas 5 tahun ini, tambah pintar dan tambah guanteng jugak!
fikri-bungas.jpg
“Terima kasih ya kakak!”