ANAK-ANAK, AYAM RAS DAN PUBERTAS DINI

Apa yang akan saya bahas di postingan kali ini hanyalah berdasarkan beberapa fakta yang terjadi di lingkungan sekitar saya dan bukan berdasar riset atau penelitian yang terbukti kebenarannya.

Semua hanya sekedar asumsi dan pendapat saya pribadi berdasarkan apa yg saya lihat selama ini.

ANAK-ANAK, AYAM RAS DAN PUBERTAS DINI

Beberapa belas tahun lalu saat jaman saya sekolah dulu, masa-masa sekolah dasar sampai menengah pertama, dunia anak-anak dan remaja tidak sekompleks sekarang. Awal masa pubertas umumnya terjadi saat sudah masuk SMP.

Saya saja dulu pertama kali dapat menstruasi saat kelas 2 Tsanawiyah (setara SMP), itupun cuma sekali, saya baru dapat siklus bulanan rutin saat kelas 3. Rata-rata teman cewek lainnya juga begitu, apalagi cowoknya, bisa dipastikan masih imut karena memang banyak yang belum mengalami mimpi basah perdana (dari yang pernah saya baca, pria pubertas memang lebih lambat dari wanita. Dulu di kisaran usia 14 atau 15 tahun sedangkan wanita di usia 12 tahunan. Tapi fakta yang agak mengejutkan sekarang, anak perempuan mulai banyak yang dapat haid pertama mereka di usia 9 tahun.)

Lalu apa hubungannya dengan ayam ras atau ayam potong??

Saya pernah lihat sebuah acara talk show di TV yang nara sumbernya mengatakan (saya lupa siapa) : “Sekarang anak-anak cepat sekali puber karena gizi bagus dan rangsangan bagus.”

Nah, gizi bagus ini didapat dari apa yang anak-anak konsumsi tiap hari. Dan ayam hanyalah salah satu contoh kecil saja. Maraknya makanan siap saji dan sebagainya juga turut mempengaruhi.

Sayangnya gizi bagus ini hanya merangsang secara fisik dari tubuh anak, pubertas dini ini terjadi tanpa diimbangi kematangan pikiran dan kesadaran akan terjadinya perubahan pada tubuh mereka.

Dan ini diperparah oleh buruk atau kurangnya kwalitas makanan kita, kita sudah biasa dijejali berbagai macam bahan tambahan pangan yang justru membahayakan kesehatan seperti pengawet, pewarna, pemutih dan lain sebagainya.

Dari kabar yang beredar, ayam itu kalau hanya dipelihara dan dikasih makan secara biasa memakan waktu yang agak lama baru besar dan bisa dipotong. Nah, untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi terhadap ketersediaan ayam potong ini dan agar tahan terhadap penyakit yang dapat menyerang unggas maka ayam-ayam ini disuntik vitamin, disuntik hormon, diberi makan dan minum yang dicampuri suplemen agar cepat besar dan bisa segera dijual.

Ayam-ayam ini kerjanya hanya makan makan dan makan saja siang dan malam tanpa henti bahkan saking gemuknya ada ayam yang tak lagi sanggup berjalan (saya pernah melihat peternakan ayam potong milik sepupu). Ayam-ayam potong/broiler/ras sekarang siap panen hanya dalam kurun waktu pemeliharaan sekitar 1-2 bulan saja, cepat banget dibandingkan dulu dan ternak ayam tradisional.

Maka bayangkan bila ini yang terus anak-anak makan tiap hari, semua kandungan dalam daging ayam tadi akan terakumulasi dan disinyalir dapat mempercepat pertumbuhan hormon dalam tubuh anak dan untuk orang dewasa dapat mempercepat penuaan sel-sel tubuh dan gangguan penyakit degeneratif seperti stroke dan jantung koroner.

Maka jangan kaget liat anak cewek kelas 3 SD sudah mulai tumbuh payudara dan kemudian menangis saat dapat haid setahun kemudian (kelas 4). Atau orang dewasa masih umur 30 an yang badannya kaku sebelah karena serangan stroke.

Makanya saya kerap diwanti-wanti suami karena putra sulung saya (dan sebagian besar anak-anak) sangat menggemari ayam dan segala olahannya. Anak-anak sangat bersemangat makan apabila lauknya ayam, tak suka sayuran dan ogah makan ikan. Kalau dimakan saban hari dan dikonsumsi berlebihan apapun itu pasti tidak baik. Apalagi dampak pubertas ini membuat saya agak takut-takut ngeri, belum lagi tentang rangsangan bagus seperti tayangan TV yang dipenuhi sinetron remaja beradegan dewasa yang terus menerus secara sistematis, terstruktur dan masif (sori, minjam istilah sengketa pilpres) menstimulasi pikiran dan rasa ingin tahu anak-anak yang sangat tinggi dan butuh pemuasan segera.

Internet, sosial media dan mudahnya akses informasi yang dapat anak peroleh juga pergaulan yang semakin bebas dimana orang tua semakin cemas dalam menentukan batas antara yang pantas dan tidak pantas, semakin mengamini bahwa DUNIA ANAK-ANAK KITA TIDAK LAGI SEDERHANA. Mereka adalah tubuh dan pribadi yang harus selalu kita jaga dan kita arahkan agar tidak terjerumus dalam hal yang mengundang kemudharatan, dan itu adalah PR yang tidak mudah di era gombalisasi sekarang ini. Pastikan anak-anak mendapat penjelasan dan pemahaman yang benar tentang diri mereka yang wajib mereka ketahui.

Jangan biarkan mereka menjadi remaja yang hanya jejingkrakan dan super histeria kala melihat idola mereka beraksi, dan hanya bisa menggeleng tak tahu saat harus mandi wajib pasca menstruasi karena tak hapal (bahkan tak tahu) apa niat mandi dan bagaimana caranya.

ANAK PEREMPUAN: COBAAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

Menilik judul di atas, rasanya saya agak sedikit diskrimanatif. Yang namanya anak, mau laki atau perempuan sebenarnya sama saja, orang tua punya tanggung jawab yang sama besarnya dalam membesarkan dan mendidik ke duanya agar bisa berproses menjadi selayaknya manusia.

Tapi kali ini saya lebih menitik beratkan pada anak perempuan karena naluri wanita saya terketuk dengan betapa ‘berat’nya tanggung jawab dan ‘beban mental’ ketika kita punya anak perempuan di tengah kemajuan peradaban, efek negatif pergaulan dan lunturnya nilai kesopanan serta di tengah gempuran krisis keimanan.

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib pernah berkata: jika lelaki hilang kehormatannya dunia masih bisa tertawa, dan bila wanita hilang kehormatannya maka dunia menangis selamanya.

Maka tak berlebihan jika di antara keutamaan anak perempuan, orang tua yang dapat mendidik, merawat dan menikahkan anak gadisnya dengan cara yang ma’ruf maka surga telah dijanjikan padanya. Karena sadar betapa beratnya tanggung jawab memiliki anak perempuan.

Saya sendiri adalah bagian dari tiga bersaudara perempuan semua, dan saya tahu benar seperti apa Abah bertanggung jawab dalam membesarkan kami semua, hingga sekarang kami telah berrumah tangga. Seorang ayah tak akan tenang sampai anak gadisnya menikah.

Sungguh suatu fenomena yang amat memiriskan hati saya ketika melihat gadis-gadis sekarang amat bebas keluyuran, pacaran dan tak menjaga diri. Sementara orang tua di rumah terasa hidup di atas api dalam pusaran kecemasan tiada henti. Sampai kemudian saya lihat karena keterlanjuran dan ketakutan akan aib, anak-anak gadis ini menikah di usia belia dengan stempel ‘asal balaki haja’ (yang penting punya suami daripada gak karuan).

Membuahkan masalah di tengah kesuburan pohon masalah. Para orang tua seakan tak mampu lagi memilihkan pasangan hidup yang lebih baik untuk anak perempuannya. Maka amat lumrah saya temui, pasangan muda yang menikah tanpa tanggung jawab, tak bekerja, tak bisa jadi imam dalam kehidupan, pemeras orang tua dan masih suka hura-hura.

Yah. . . Walau orang bisa berubah dan pernikahan bisa menjadi salah satu jalan menuju kebaikan perubahan, tapi perubahan harus diusahakan tanpa henti dan butuh kesabaran seumur hidup. Perubahan juga tidak datang dalam satu atau dua hari. Hal-hal yang diawali dengan baik saja belum tentu berjalan baik, apalagi jika memang yang dimulai dengan kesalahan dan terus dipelihara dengan ketidak baikan?

Karenanya, seorang anak perempuan dapat dengan mudahnya menyeret orang tuanya atau suaminya ke dalam neraka. Ketika ia tak bisa menjaga diri dan kehormatannya, maka habislah semuanya. Wanita adalah tiang negara, kehancuran akan menyambangi ketika generasi muda rusak akhlak dan moralnya. Apalagi jika yang hancur adalah kaum wanita, maka bisa dipastikan tak ada lagi ibu yang amanah dalam mendidik anak-anaknya dan menjaga keluarganya.

Wanita, anak perempuan, dalam ranah kodratnya sebagai seorang ibu akan menjadi benteng pertahanan terakhir ketika kita terus menerus digempur bujukan-bujukan kesesatan. Maka akan seperti apa jadinya jika generasi muda kita, anak-anak perempuan kita, rusak oleh pergaulan dan terlena godaan fana dunia??

Saya, walau tak punya anak gadis, sangat merasakan hal ini cukup berat. Anak laki-laki pun bisa menjadi warning peringatan tanda bahaya ketika mulai melangkah keluar jalur. Dari bisik-bisik tetangga, anak perempuan ditakutkan akan membawa ‘perut’ alias hamil di luar nikah, dan anak laki-laki dikhawatirkan menjadi pembuat kehamilan tak diinginkan.

Waspadalah. . . Waspadalah!!

PASTIKAN DIRI CUKUP PINTAR DALAM MENGGUNAKAN SMARTPHONE

Berawal dari keresahan saya akhir-akhir ini menyaksikan bocah-bocah petantang petenteng bergaya dengan gadget canggih keluaran terbaru. Menandaskan sekian puluh ribu untuk nangkring seharian di warnet atau gaya-gayaan sok eksis di sosial media padahal masih bau kencur tak cukup umur. Sementara para ayah sibuk kerja nguli ngantor dan lembur jua para ibu tahunya cuma sumur dapur dan kasur.

Aih. . . Ngomel dah saya, urat bawelnya lagi tegang ini.

Jadi ceritanya kurang lebih sebulan ini kita baru beli tablet berbasis teknologi android gitu karena udah dari tahun kemarin anak sulung saya nagih terus (karena kawan-kawannya udah pada punya, anak TK juga gak kalah hebohnya.) ckckck. . .

mitot910.jpgKita belinya yang ini

Namanya saya gaptek mana tahu make gadget gituan. Eh, busyet! Ternyata gamenya oke punya, aplikasinya gila. Untung saya seorang blogger jadi gak bodo-bodo amat soal aplikasi ponsel deesbe. Minimal tahulah game yang dicari anak-anak dan bisa ngefilter juga kalo si ayah mulai genit ngintip-ngintip situs ekhem. . . .

Saat mengutak-atik gadget canggih buatan Cina berlayar jilat 7 inch (biasa buebu yang penting murah aja, -_-” ) itu, kok saya tiba-tiba merasa bodoh ya? Merasa betapa tercecernya saya di tengah peradaban modern ini. Betapa banyak yang saya (dan kebanyakan emak-emak di luar sana) tidak pahami tentang benda idaman anak-anak sekarang, yang dibawa kemana aja oleh mereka akhir-akhir ini.

Saya ragu, apa bocah ingusan yang rela menandaskan tabungan dan sedikit memaksa orang tua demi smartphone ini, tahu fungsi dan kegunaan sebenarnya. Amat sangat disayangkan, jika teknologi secanggih itu hanya dijadikan alat pamer ke teman-teman, bahan gaya-gayaan, galau dan narsis satu kelurahan di jejaring sosial, main game seharian sampai lupa makan atau malah jadi pelampiasan mata melototin tayangan dan situs-situs setan!!

Iya, saya marrah sekali, kesal banget rasanya! Dari hasil saya ngubek-ngubek play store dan game shop saya sering menemukan game yang berbau pornografi dan pornoaksi. Seperti game berkategori fashion tentang model dan cara berpakaian. Hmm. . . . Tokoh di game itu hanya pake kutang dan cangcut saja dan kita harus mengganti bajunya.

Juga game superhero, aduh, tokoh ceweknya seringkali punya ukuran dada di atas rata-rata dan diekspos juga nyaris setengahnya. Apalagi yang jelas-jelas memang game seks dan adu (maaf) k*lamin (gila! Kok ada game tentang cara hubungan pasutri ala Kamasutra).

Memang tak bisa dipungkiri, sebagian game dihadirkan tidak hanya sebagai sarana hiburan tapi juga (kabarnya) merupakan alat propaganda Barat untuk menjatuhkan moral generasi muda kita. Jadi, waspadalah! Waspadalah!

Tapi yang paling membuat saya kecewa sendiri adalah para orang tua yang tak mengerti hal ini. Mereka mudah saja membelikan anak-anaknya segalanya tapi hanya sedikit yang bisa mengawasi dan mengontrolnya. Seperti HP saja, masih banyak ortu yang untuk nelpon dan sms saja pusing separuh mampus, lah mana tahu apa yang dilakukan anak-anak seharian di warnet atau lagi googling di internet?!

Maka ini penting, agar para orang tua, terutama ibu, untuk tidak gaptek dan harus melek teknologi! Belajar ladies! Ambil smartphone anakmu, periksa gadget suamimu! Cerdaskan dirimu untuk memfilter efek negatif kemajuan teknologi!

DAN PASTIKAN KITA CUKUP PINTAR DALAM MENGGUNAKAN SMARTPHONE .


Image:
hargatabletkomplit.blogspot.com

TANTANGAN PENDIDIKAN DI AKHIR ZAMAN

Lama juga tidak posting sesuatu, jadi kangen dengan kegiatan blogging. Nah, daripada nyampah tidak karuan mengumbar status galau di FB, mending saya menulis lagi di sini. Semoga para pengunjung setia tidak bosan, ya ya?

Bukannya sok alim atau sok suci, juga bukan bermaksud menyinggung SARA, ini hanyalah bentuk kekhawatiran dan kegalauan saya saja sebagai orang tua, sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Apalagi di era sekarang, yang katanya sudah masuk kategori zaman edan. Dimana anak-anak semakin luas pergaulannya dan semakin berliku tantangan pendidikannya. Bukan hanya sekedar pendidikan yang menunjang kehidupan fana duniawi, tapi yang terpenting dan (seharusnya) yang utama adalah pendidikan untuk bekal akhirat kelak.

Ada 4 peristiwa yang membuat saya ingin menulis ini:

¤Nah, kemarin itu anak saya yang masih kelas 3 SD itu ada tugas praktek gerakan solat dari guru agamanya. Satu persatu murid maju ke depan kelas dan memperagakannya. Ada 3 penilaian: BAIK, CUKUP dan KURANG. Kata anak saya, banyak yang nilainya KURANG karena tak hapal gerakan solat.

¤Ada seorang pemuda yang saat orang tuanya meninggal ia tak bisa membacakan doa dan surah Yasin dalam tulisan arab dan kesana kemari mencari Yasin yang ada tulisan latinnya.

¤Ada sekumpulan anak-anak tengah bermain di salah satu rumah temannya. Lalu di rumah itu ada orang dewasa yang sedang shalat zuhur. Tiba-tiba ada seorang anak usia 7 tahunan yang bertanya:

“Itu ibumu lagi ngapain?”

“Lagi shalat, emang kamu gak tahu?” jawab si anak dari pemilik rumah yang lagi shalat itu.

Kalau anak yang bertanya tadi non muslim mungkin wajar. Tapi ia muslim, ironis jika shalat saja ia bahkan tak tahu. Apa orang tuanya. . . .

¤Saya sempat terlibat pembicaraan serius dengan adik saya yang masih sibuk merampungkan kuliahnya. Katanya, menilik pendidikan anak-anak sekarang perlu bukan hanya sekedar pelajaran umum, yang terpenting adalah penanaman nilai moral dan agama.

Anak-anak yang dibekali ilmu agama, katakanlah salah satunya bersekolah di madrasah atau pesantren yang mengkhususkan pada pelajaran keislaman, bukan jaminan ia bisa menjadi ‘lurus’ dan tidak terjerumus pergaulan yang ke barat-baratan. Apalagi jika sejak kecil sudah dijejali tata cara dan gaya pendidikan yang hanya mementingkan tujuan kemapanan duniawi saja.

Memang, 2 hal itu juga tergantung pribadi si anak nantinya. Tapi bukankah paling tidak sebagai langkah awal penanaman nilai-nilai moral dan agama, sebagai dasar untuk bekal akhirat kelak. Karena itu, jauh lebih penting dari segala jenis pendidikan (umum maupun agama) yang didapat anak di sekolah, adalah PENDIDIKAN AGAMA DI RUMAH. Jadikan rumah dan para penghuni di dalamnya punya atmosfer keislaman yang kondusif dan terarah.

Yang lebih mencemaskan saya, berkaca dari peristiwa di atas, adalah ironisme yang terjadi di kalangan masyarakat belakangan ini. Para orang tua berramai-ramai mengikutkan anak-anaknya dalam program les untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris atau untuk les musik yang kadang tidaklah terlalu perlu.

Tapi ketika anak-anak hanya bisa bengong dan melongo saat membaca surah al fatihah karena tak bisa membaca huruf hijaiyah, yang saya lihat orang tuanya adem ayem saja, tak ada niat memberikan les mengaji atau mengajari si anak baca tulis Al Qur’an.

Sungguh sesuatu yang amat memiriskan rasa hati saya.

Jikalau di rumah saja anak tak mendapat bimbingan agama dan pendidikan moral yang cukup dan tepat lantas bagaimana jadinya dengan pergaulannya di luar rumah? Maka kita tak perlu kaget jika tawuran pelajar marak, bisa bergaul bebas tanpa batas, sampai seks usia dini hingga kehamilan dan aborsi.

Saya bersyukur, walau tidak pernah sekolah agama secara intensif tapi orang tua terutama Abah, beliau cukup sadar dalam penanaman nilai agama bagi anak-anaknya. Saya masih ingat, dahulu selesai solat Magrib berjamaah, beliau selalu mengajari saya mengaji walau saya juga bersekolah di TPA setiap sore. Dan suasana itulah yang ingin saya ‘hidupkan’ di lingkungan keluarga saya.

Sungguh tak mudah, mendidik anak-anak di era ini penuh tantangan dan perlu pengawasan ekstra. Ini adalah akhir zaman, perlahan menuju pasti suatu kehancuran yang tak terelakkan. Dan kita semua perlu bekal iman yang cukup agar kehancuran itu tak menjadikan kita binasa dan masuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Wallahualam bishshawab. . .

TENTANG SEORANG BOCAH

“Ketika seorang anak kehilangan sosok orang tua sebagai panutan, maka jalanan akan menjadi Ibu yang nyaman.”


Andi mengayuh sepeda kecil butut pemberian tetangganya di tengah terik matahari siang itu. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya, menguarkan aroma hari yang menyerang hidung setiap orang yang dilaluinya. Bocah lima tahunan itu berwajah kotor dengan noda ingus mengering di pipi sebelah kanannya. Bajunya nampak kebesaran dan bagian lehernya melorot ke sebelah bahunya, noda berwarna coklat kehitaman mengaburkan gambar Power Ranger di dada bajunya.

Ia mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa menuju rumah. Rasanya haus sekali dan, agak lapar. Tubuh kurusnya tersengal sampai di dapur, tak ada nasi atau ikan. Hanya air putih di teko di atas lantai.

Andi menuangkan air dan meminumnya segelas penuh skali tenggak. Ia mencari ke sekeliling, tak ada siapapun di rumah. Lalu ia putuskan kembali ke jalan membawa sepedanya. Dengan cepat ia keluar dari gang, mendapati keteduhan pohon Ketapang dan termangu menyaksikan anak-anak sekolah yang baru pulang. Rambutnya yang kemerahan dan tegak berdiri jarang-jarang berayun kaku ditiup angin panas siang itu.

Lalu ada seorang bapak yang mendekati, iba terpancar dari matanya saat memandang Andi.

“Nama kamu siapa?” tanya bapak itu.
“Andi,” jawabnya sayu.
“Ibumu mana?”
“Ibu pergi sama dede, dan bapak Andi gak ada di rumah.”

Saat ditanya kapan ibunya pulang, Andi menggeleng tak tahu. Katanya ibunya tak akan kembali.

Ternyata dari cerita warga di sekitar sana, Andi adalah korban prahara rumah tangga. Ayahnya adalah seorang duda dengan banyak anak dari istri terdahulu. Lalu menikahi ibunya, hingga ia terlahir, saat usianya 2 tahun mereka berpisah karena ibunya tak tahan dengan ayahnya yang malas bekerja dan kasar. Saat itu Andi ikut ibunya, namun sekarang telah menikah lagi dan punya anak. Ia tak mau lagi ikut ibunya karena sering dimarahi.

Akhirnya Andi beralih tangan ke ayahnya yang tidak lebih banyak menyayanginya. Justru Andi lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan. Ia bisa jajan kalau ada orang yang memberinya uang, seperti bapak tadi.

Sampai senja tiba tak ada yang mencarinya, sementara ayahnya menghabiskan sepanjang hari dengan melamun atau memancing yang seringkali tanpa memperoleh ikan.


Beginilah potret nyata seorang anak yang menjadi korban ‘kekejaman prahara cinta’ atau barangkali ‘ketidakbijakan manusia’. Mereka terlahir dan hidup tanpa pengasuhan yang layak. Dan masih banyak Andi-Andi yang lain, yang luput dari hangat sentuhan kasih ibu dan aman perlindungan seorang ayah.

Sekali waktu juga pernah ada seorang balita yang dipukul dan dimarahi habis-habisan oleh ibu dan ayah tirinya, sampai dikeluarkan dari rumah saat malam hari. Entah kenapa ada sebagian ibu bisa jadi demikian tega pada anak yang sudah kehilangan bapak karena tragis perceraian? Setiap melihat wajah dan kenakalan anaknya rasanya mau marah saja, apalagi mengingat tentang si bapak yang pergi lepas tanggung jawab.

Lalu anak-anak ini besar dalam pengasuhan jalanan tempat mereka bermain seharian dan debu serta terik matahari menjadi kawan sejati. Mereka tak lagi menyediakan airmata untuk menyesali apa yang telah terjadi. Karena tak pernah cukup memahami, seperti apa sebenarnya dan akan kemana cinta dua orang dewasa bermuara?

BERMAIN PASIR: KEGEMBIRAAN YANG BERBUAH PETAKA

Masih ingat dengan tulisan saya yang berjudul ANAK-ANAK ITU ?. Yang menceritakan tentang asyiknya anak-anak saya bermain pasir.Ternyata, dibalik kreatifitas dan kesenangan yang didapat saat bermain pasir itu, ada bahaya tersembunyi yang luput saya sadari.

Apa pasal? Ke dua anak saya mengalami bentol-bentol dan gatal-gatal yang amat sangat gatal terutama pada malam hari. Dari info seorang teman, ada kemungkinan anak saya terinfeksi cacing pasir yang amat sangat kecil/mikro yang masuk ke dalam kulit.

Lalu saya googling dan menemukan sebuah artikel yang menjelaskan tentang ini, dan semua tanda dan gejala persis ada pada anak saya.

Cacing pasir atau cutaneous larva migrans atau creeping eruption adalah cacing yang bisa masuk ke dalam kulit karena kontak langsung dengan media yang kotor seperti tanah, lumpur atau pasir. Rentan menyerang anak-anak karena hobi mereka bermain di tanah, duduk ‘balapak’. Paling sering yang kena adalah kaki, sela-sela pantat dan perut.

Perjalanan penyakit( larva migrans cutaneous). Pada manusia, masa tunasnya mencapai beberapa hari dan penyakit ini dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan bila tidak diobati. Awalnya hanya berupa bintik merah gatal (mbentol), lalu melonjong, memanjang, berkelak-kelok seperti spiral. Gatal pada malam hari, lantaran saat itu si Larva cacing jalan-jalan berlenggak-lenggok menyusuri kulit rata-rata 2mm-3mm per hari. Jadi jika alur lenggak-lenggoknya sekitar 15 cm, berarti kira-kira sudah berlangsung sekitar 5 hari.

Pengobatan biasanya dilakukan dengan penyemprotan Chlorethyl, tapi hanya bersifat sementara dan tidak mematikan cacing dan larvanya sampai tuntas. Jadi pengobatan yang lebih dianjurkan adalah dengan Albendazole. Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 400 mg perhari, dosis tunggal, selama 3 hari atau 200 mg dua kali sehari selama 5 hari. Dosis anak kurang dari 2 tahun: 200 mg perhari selama 3 hari. Atau 10-15 mg per kg berat badan, 4 kali perhari selama 3-5 hari.Jining Wang, MD, February 28, 2006. (sumber: http://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/02/ Dengan sedikit perubahan)”

Sungguh mengerikan bukan? Jadi ini penting bagi para orang tua ataupun kalian yang punya adik atau keponakan, sanak saudara, tetangga, anak-anak agar tidak mengalami hal seperti yang saya alami ini.

Berikut foto telapak kaki anak saya yang gatal-gatal karena ada larva cacing di dalamnya dan menjadi parasit yang sangat mengganggu.

cacing-pasir-1.jpgcacing-pasir-2.jpg

Saya dan suami sudah melakukan usaha pengobatan sedini dan semaksimal mungkin sebelum tambah parah. Dengan segenap kerendahan hati kami sekeluarga mohon bantuan doa kepada semua pembaca dan pengunjung setia blog ini, agar Allah memberikan kesembuhan kepada ke dua anak saya agar segera terbebas dari infeksi cacing ini.

DILEMATIS KURIKULUM PENDIDIKAN SD

Saya menulis ini hanya dari kaca mata masyarakat awam, saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang amat mencemaskan kondisi pendidikan dan pelajaran di sekolah dasar.

Kemarin saya sempat menulis status di facebook tentang pelajaran kelas 3 SD itu nyaris sama dengan pelajaran SMP belasan tahun lalu pas jamannya saya sekolah dulu. Lalu Taofiqussalam memberi komentar begini: “Bener bunda, menurutku belum layak anak SD menerima pelajaran seperti itu. Dinas Pendidikan perlu meninjau ulang masalah kurikulum.”

Setali tiga uang dengan pendapat seorang guru olahraga saya pas SMA dulu. Beliau juga mengaku agak kebingungan dengan pelajaran keponakannya yang masih SD. Materinya sudah sangat ‘tinggi’ dan ‘sulit’ untuk diterima anak-anak.

Kata beliau lagi, untung kalau orang tuanya pernah sekolah, minimal sampai SMA seperti saya, kan bisa mengajari anak. Lah kalau pendidikannya SD saja tidak khatam bagaimana?

2 pendapat tersebut benar-benar membuat saya merenung. Karena saya benar-benar merasakan sendiri hal ini pada anak saya Fikri yang masih kelas 3 SD. Setiap saya membantunya mengerjakan PR, saya jadi merasa jadi anak sekolah yang baru belajar juga, karena materi pelajarannya amat sangat berbeda dan juga baru dibandingkan masa-masa saya sekolah dahulu.

Sebagai contoh kecil saja adalah pada pelajaran IPA, istilah-istilah Biologi tentang penggolongan tumbuhan seperti Monokotil, Dikotil. Tentang hewan ovivar, vivivar, herbivora dan karnivora sudah ada dan harus dipelajari di kelas 3, yang mana dahulu saya baru mempelajari ini pada saat SMP. Untuk pelajaran yang lebih menguras otak seperti matematika, jangan ditanya lagi bagaimana tingkat kesulitannya. Satu kata ‘STRESS’ cukup menjelaskan.

Memang, semua ini demi kemajuan pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Tapi toh, ternyata, pada penerapannya kita dihadapkan pada dilema. Banyak anak-anak yang tidak bisa menerima pelajaran dengan maksimal karena tidak atau kurang mengerti pada pelajaran yang disampaikan di sekolah.

Belum lagi para murid dituntut untuk belajar aktif dan mandiri dengan sarana buku penunjang dan alat pendukung belajar yang terbatas. Tak apa jika di semua sekolah negeri memiliki fasilitas seperti komputer dan buku-buku perpustakaan yang memadai. Kenyataan di lapangan semua itu masih barang langka, kalaupun ada, penggunaannya belum seperti yang diharapkan.

Sementara, buku yang menjadi pegangan para siswa hanyalah LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang lebih mengutamakan soal-soal dan latihan-latihan tapi minim materi penjelasan. Berkali-kali saya harus mencari jawaban di luar buku, beruntung jika kita melek teknologi, masih bisa mencari referensi di internet. Kalau tidak? Siap-siap dengan kolom jawaban kosong dan nilai NOL.

Terlebih lagi, saya lihat, lebih mengutamakan pelajaran umum dan nilai akademis. Untuk program pendidikan karakter dan kerohanian (pelajaran agama) masih sangat kurang. Terbukti dengan pelajaran seperti matematika yang bisa sampai 4 kali dalam seminggu, dan agama hanya 1 atau 2 kali pertemuan saja. Sungguh sangat disayangkan.

Dulu-dulu juga, saat anak saya masih TK B. Guru-gurunya sempat memberi penjelasan pada kami selaku orang tua murid tentang les membaca dan menulis yang ‘terpaksa’ diwajibkan pihak sekolah.

Kata mereka, seharusnya sekolah TK, pada hakikatnya sebagai pendidikan usia dini hanya memperkenalkan sedikit saja tentang calistung. Yang utama adalah kegembiraan bermain dan sosialisasi anak-anak. Tapi karena saat masuk SD sudah harus bisa membaca dan menulis, maka anak-anak TK ‘terpaksa diwajibkan’ mengikuti les secara intensif 3 kali seminggu dan diberi tambahan jam pelajaran.

Sungguh, semua yang saya jabarkan di sini amat membingungkan saya (dan mungkin beberapa orang tua di luar sana). Rasanya anak-anak sudah dibiasakan dengan ‘tekanan’ yang diharuskan seperti ini.

Malah kadang para tenaga pengajar juga semakin menambah kadar penekanan ini (dengan cara mengajar yang ‘keras’ dengan berbagai aturan dan tumpukan PR setiap hari). Ya, memang bukan salah para guru. Mereka hanya menerapkan program kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan.

Entahlah. . .

Akhir kata, saya hanya berharap suatu saat nanti, Presiden dan Menteri dan Dinas Pendidikan membaca postingan ini.


Artikel terkait:
Pendidikan Gratis ???

ANAK-ANAK ITU

fikriraffi-1.jpg

Mereka yang tak pernah pusing soal cuaca. Tak pernah merutuk pada hujan yang kadang datang tiba-tiba dan mengacaukan segala rencana. Dapat bebas berlarian di tengah derasnya hujan tanpa memikirkan sakit akan masalah kesehatan.

Juga tak pernah menyumpah pada panas matahari. Mereka bisa bebas bermain seharian menyusur jalan walau panas terik menghitamkan kulit tubuh. Tak sibuk memakai pemutih wajah, mereka bisa berdamai dan berteman dengan segala keekstriman cuaca yang tak terduga.

Pun jua tak cemas akan masa depan. Apakah cita-cita dan impian-impian mereka akan jadi nyata? Kebahagiaan mereka amat sederhana, bisa bermain dan tertawa, hanya perlu sedikit rupiah untuk kembang gula. Bagi mereka hidup adalah pergerakan tiada henti. Kreatifitas tanpa batas. Tak sungkan pada lumpur yang dapat menjadi media seni yang menyenangkan. Juga tak takut pasir, alam adalah sahabat mereka yang mampu mengerti jiwa-jiwa petualang muda.

Tak merisaukan perselisahan dan airmata. Meski sesaat lalu bertentangan, sejurus kemudian kembali berjabat tangan. Tak pernah ada dendam dalam kamus mereka.

Meski kadang mereka menangis, merengek atau bahkan mengamuk sekalipun, tapi mereka tetap anak-anak yang mampu membuat senyum di sudut bibirmu.

Jangan warnai putih mereka dengan hitam derita. Tetap ukirkan pelangi yang menjadi teman sepanjang perjalanan. Walau barangkali hujan membawa cabaran guntur. Jangan pernah gentar!

fikri-raffi-2.jpg

When I was just a little boy.
I asked my mother what will I be. . .
Will I be handsome?
Will I be rich?
Here’s what she said to me. . .
Que sera sera Whatever will be will be The future’s not ours to see
Que sera sera. . .

(Que Sera Sera, Pink Martini)

TAK ADA YANG GRATIS ABANG

Sorry. . .

Judul di atas bukan bermaksud meniru kata-kata dari sebuah lagu, tapi karena itulah yang dapat mewakili postingan kali ini.

Hm. . . Mendengar kata gratis, siapa yang tidak melebarkan telinganya dan kalau ada kata GRATIS tertera di mana pun itu pasti mata yang mengantuk bisa terbelalak lagi. Nah lo. . . Hayo. . . Jujur aja deh, apa lagi di jaman uedan yang serba sulit dan apa-apa yang dapat dinilai dengan uang telah jadi mahal seperti sekarang ini.

Sebutlah yang paling akrab di dunia maya ini seperti internet gratis, atau di mall beli dua gratis satu. Yang ini mah kesukaannya kaum hawa. Tapi yang paling membuat saya gembira dan berlega hati adalah tentang adanya program pendidikan dan jaminan kesehatan gratis.

Terbayang nantinya anak-anak saya dapat menempuh pendidikan yang tinggi dan meraih cita-cita mereka tanpa biaya. Tentu saja saya sangat berbahagia mendengar tentang kabar itu seperti dari tayangan-tayangan TV selama ini.

Tapi biasanya, harapan tak sesuai realita, cita-cita kadang berseberangan dengan fakta, pun rencana masih sekedar wacana.

Meski pemerintah sudah berusaha menerapkan program pendidikan gratis dan juga anggaran khusus telah tersedia untuk memuluskan rencana ini, tetap saja, jamak kita temui praktek nyata di lapangan tak sesuai dengan yang dicanangkan.

Meski iuran bulanan semisal SPP atau BP3 (dulu jaman saya sekolah disebut begitu) sudah ditiadakan untuk pendidikan dasar 9 tahun, tapi toh tetap saja kita masih direpotkan dengan biaya seragam dan penebusan buku pelajaran, malah ada pungutan uang pangkal untuk kursi.

Dan kalau dikalkulasi biaya tetek bengek dan remeh temeh semacam itu lumayan menguras kantong, ironisnya lagi, saban tahun angkanya terus menanjak naik.

Kalau saya pribadi sih tak ambil pusing karena masih mampu dan pendidikan adalah prioritas yang diutamakan dalam kehidupan. Tapi kalau si orang tua murid kerjanya hanya sebagai buruh tani di ladang orang yang harus menghidupi 6 orang anak, bagaimana? Atau orang tua yang sangat ingin menyekolahkan anaknya tapi terkendala karena beliau hanya seorang kuli berpenghasilan tak pasti walau cuma sekadar mengganjal perut lapar hari ini? Atau seorang ibu single parent yang menyambung hidup hanya sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah?

Semua itu akan jadi cerita berbeda saat (lagi-lagi) kemiskinan jadi kendala. Padahal, memperoleh pendidikan yang layak merupakan hak paling asasi dari setiap anak, tak peduli anak orang berada atau dari kalangan tak punya, SEMUA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN.

Lalu kenapa masih saja mengelu-elukan slogan PENDIDIKAN GRATIS? Bila kenyataan amat sangat bertolak belakang dengan program yang diterapkan. Kenapa masih saja menggaungkan jargon-jargon persuasif bahwa anak-anak jalanan harus kembali bersekolah? Kenapa kita jadi seakan-akan ‘mengadopsi bahasa tipu daya ala iklan’ dan menjadikan masyarakat kelas bawah sebagai korban?

Kenapa tak diganti saja kata gratis menjadi ‘program pendidikan murah semoga semua bisa makan bangku sekolah’. Agar harapan-harapan jutaan jelata tak terlalu dilambungkan hingga batas angkasa untuk kemudian dihempaskan dalam palung ketidakmampuan.

Ya sayang, tak ada yang benar-benar gratis abang.

Membahagiakan Orang Tua

Sudah jamak kita lihat dan kita dengar bahwa sebagai anak kita pasti ingin membahagiakan orang tua. Sebagai tanda bakti kita, sebagai penebus hutang budi (yang walau bagaimanapun tetap tak akan terbayar dengan apapun), juga sebagai kewajiban kesantunan kita terhadap orang tua. Rasanya sah-sah saja dan memang seharusnya jika kita sebagai anak berusaha membahagiakan orang tua.

Seperti yang biasa kita lihat dalam tayangan-tayangan televisi. Orang-orang yang punya materi berlebih dapat dengan mudah melakukan sesuatu yang ia klaim sebagai cara membahagiakan orang tua. Sebutlah para artis yang lagi eksis di atas panggung popularitas. Mereka beramai-ramai memberangkatkan haji atau umroh orang tuanya atau membelikan rumah mewah dan mencukupi segala kekurangan materi yang selama ini pernah dialami. Memang, di usia senja para orang tua, kita merasa perlu dan memang wajib membuat mereka bahagia.

Tapi akan lain kisahnya jika si anak bukan orang dengan materi berlebih. Ia juga ingin membahagiakan orang tua walau ia sendiri untuk bisa makan 2 kali sehari saja harus kerja mati-matian. Apa segala bentuk kebahagiaan harus diukur dengan materi dan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang saja?

Lalu bagaimana jika si anak tak pernah jadi kaya ketika ia dewasa?

Saya pribadi kadang sedih mengenang semua ini. Menikah di usia muda lepas 3 bulan lulus SMU, punya anak hanya berselang se tahun setelahnya, berkutat dengan kesibukan anak beranak, membuat saya tak sempat memasuki dunia kerja. Kemandirian finansial saya tak punya karena hanya mengandalkan penghasilan suami, dan semua itu seakan-akan memberi jarak dengan ke dua orang tua saya. Saya masih tak bisa memberi kontribusi apa-apa di hari senja mereka.

Tapi toh percuma jika saya menyesali diri dan waktu yang telah lalu, kita bisa memulai dari hal-hal kecil.

1) Mendoakan orang tua.
Di tengah tekanan hidup dan guncangan labil ekonomi yang terus menerjang hari ke hari. Kalau harta sudah tak punya, doa anak saleh adalah pahala yang tidak putus-putusnya sampai pangkal liang lahat menghimpit manusia (semoga).

2) Berusaha Mandiri
Karena tak bekerja, maka saya bisa full mengurus anak tanpa harus minta bantuan orang tua. Saya tak tahu lebih bahagia mana antara orang tua yang anaknya tidak kaya tapi tak merepotkan dengan titipan cucu DENGAN orang tua yang bisa dinaikkan haji tapi oleh anaknya dijadikan ‘pembantu’ ??

3) Stop membawa masalah ke rumah orang tua
Di awal-awal menikah karena masih di usia remaja labil dan harus seatap dengan mertua membuat saya jadi tipikal istri “cek cok pulang”. Iya, ada masalah dengan mertua saya pulang, salah paham dengan laki saya lari, masalah dikit saya minggat. Bawa-bawa sebakul airmata dan menangis sepuasnya di hadapan orang tua. Memalukan! Kalau mau curhat masalah tidak harus dramatis ala sinetron seperti itu kan?

4) Sesekali ajak anak berkumpul dengan kakek neneknya
Pernah dengar pepatah : DEKAT BAU TAHI, JAUH BAU WANGI?? Nah, ini berlaku untuk kehadiran anak cucu di usia tua para orang tua. Percaya deh, kalau setiap hari harus bersama cucu yang super aktif tak bisa diam, para orang tua yang nota bene sudah tak muda lagi dan kerap disinggahi aneka penyakit, maka kebersamaan yang terlalu sering bisa jadi biang pusing. Jadi, kita bisa ajak anak menginap di rumah ortu misalkan setiap akhir pekan saja.

5) Mendengarkan
Kalau dahulu kita terbiasa menuntut orang tua untuk selalu mendengar kita, sekarang cobalah datangi mereka dan dengarkan ada cerita apa. Walau hanya cerita tentang pinggang yang sering sakit, sinetron rebutan suami yang membuat sedih atau tentang Syahrini yang tambah seksi atau mungkin masalah urusan pensiun di hari tua. Dengarkan apa kata orang tua!! Kadang kita hanya perlu menyediakan dua telinga untuk mengerti mereka.

6) Mudah dihubungi
Menikah, tinggal berjauhan dan sudah punya kehidupan sendiri, jangan jadikan alasan untuk antipati terhadap orang tua. Aktifkan selalu nomor hape dan buat akses yang mudah untuk dicapai orang tua. Dan jika mereka butuh bantuan, hadirlah walau kehadiran itu tak banyak membantu.

Karena kita orang kecil yang mudah merasa berbahagia walau hanya dengan hal-hal kecil.