FUNNY BLOCKS: MAINAN MURAH MERIAH YANG MERANGSANG KREATIFITAS ANAK

Sebenarnya sudah lama mengenal mainan jenis bongkar pasang ini, sejak punya anak satu sudah sering dibuat pusing karena saya selalu dapat jatah merangkai dan membereskan bentuk mainan yang kecil dan berserakan ini. Tapi mengingat bagusnya mainan ini maka tetap saja anak saya ngotot membelinya, gak cukup sebungkus, besok-besok kalau ketemu tukang mainan keliling pasti beli lagi. Karena bagiannya yang kecil-kecil itu memang sering banget hilang entah kemana.

raffi-dan-mainan.jpg
Dari sebungkus Funny Blocks bisa dibuat rumah-rumahan seperti ini.

Yang membuat saya tidak keberatan saat membelinya adalah juga karena harganya yang murah meriah, sebungkus Funny Blocks yang berwarna cerah ini hanya dibandrol sepuluh ribu rupiah. Kadang malah masih bisa kurang dengan sedikit menawar atau membeli lebih dari satu. *buebumodeon

Sekarang anak saya sudah mulai pandai dan mau duduk tenang merangkai mainan rumah-rumahan ini. Tapi kalau untuk anak/balita yg lebih kecil harus hati-hati dan diawasi orang dewasa, takutnya kalau anak-anak iseng memasukannya ke mulut.

funny-blocks.jpg
Di kertasnya ada gambar aneka bentuk dan model rumah-rumahan yang bisa dibuat. Membuat anak-anak semakin kreatif.

blocks.jpg
Banyak banget kan, punya Raffi sudah lebih dari tiga bungkus.

blocks-2.jpg
Asyik juga loh buat main sama-sama, biar beresinnya juga sama-sama.
#berantakan.

blocks-rumah-2.jpg
Yang ini tipe rumah mewah. Keren kan?

Yang lebih keren lagi mainan Funny Blocks ini made in Indonesia. Senangnya ada produk dalam negeri yang bagus seperti ini.

raffi-mainan-blocks.jpg
Raffi berpose dulu, siapa tahu setelah gede bisa jadi owner bisnis real estate. Haha. . .

Nah ini mainanku, apa mainanmu??

BERSEPEDA GEMBIRA

Beberapa minggu yang lalu anak bungsu saya sempat menangis hebat karena kepengen punya sepeda sendiri. Ceritanya pas waktu bermain ada anak tetangga yang meminjamkan sepeda mini berroda empat, Raffi senang sekali bermain sepeda sepanjang sore itu. Tapi saat hari menjelang petang dan anak-anak tetangga pada pulang, eh dia nangis hebat minta sepeda detik itu juga, gak tanggung-tanggung setengah jam lamanya Raffi ngamuk. Setelah dibujuk rayu dan melalui diplomasi alot yang melelahkan jua menandaskan stok kesabaran akhirnya jagoan kecil saya mau diam tapi dengan syarat besok harus punya sepeda.

Esoknya pun pagi-pagi si Ayah nanya-nanya ke tetangga yang anaknya sudah agak besar kali aja ada sepeda kecil lama yang udah gak kepakai lagi (mikirnya kalo beli yang baru kan agak mahal sedangkan memakainya cuma sebentar karena si kecil cepat besar). Ternyata ada dan (untungnya lagi) dikasih gitu aja, cuma roda sama rantainya yang mesti diperbaiki. Eh. . . Ternyata masih agak kebesaran, kaki Raffi gak nyampe ke tanah, tes jalan perdana sukses membuat dia nyemplung di kali mesti sudah pake roda samping. Mewek drama horor lagi dah.

Akhirnya karena ngenes banget liat Raffi berkubang lumpur dan gulma ijo maka diputuskanlah buat beli sepeda yang lebih kecil. Gak papa biar makenya gak lama, kali aja bisa diwariskan buat adeknya, kelak. Oops! #muka ngarep punya anak gadis.

Gak sia-sia emang, Raffi rajin banget latihan bersepeda. Saban sore pasti minta temani keliling komplek sambil bersepeda (mamahnya ngos-ngosan ngikutin sambil jalan). Pergi mengaji juga lebih memilih bersepeda daripada naik motor.

Sampai kemudian di suatu pagi yang ajaib, dua roda bantu yang di samping kanan kiri itu dilepas si Ayah dan apa yang terjadi? Ternyata Raffi sudah bisa mengayuh sepeda roda dua. Yayy! Bukan main senangnya saya, di usianya yang belum 5 tahun dia udah bisa bersepeda hanya dalam beberapa minggu saja (gak sampai sebulan). Mengingat dulu kakaknya, Fikri, baru kenal sepeda pas kelas 1. Mungkin Raffi jadi cepat bisa karena pengen kayak abangnya yang kemana-mana gak pernah pisah sama sepedanya yang udah agak butut tapi fungsional itu.

Maka inilah duo jagoan yang saban sore ngajak mamahnya ikut keluyuran main sepeda itu;

kakak-adik.jpg
Muka-mukanya pada ngeselin, selalu becanda kalo ketemu lensa kamera.

1bersepeda-pasca-hujan.jpg
Ini euforia pasca hujan banget, ada genangan air cukup luas di jalanan komplek, jadilah anak-anak pada tumpah ruah kegirangan. Si Abang Fikri aja baju koko habis mengajinya gak diganti. Ckckck. . .

3bersepeda-pasca-hujan.jpg
Ada yang sepedanya tergeletak begitu saja.

2bersepeda-pasca-hujan.jpg
Duh, Raffi sepedanya dibikin salto gitu. Doyan bener basah-basahan dan kotor-kotoran.

1-raffi-bersepeda.jpg
Sekarang udah bisa tanpa roda samping lagi. Mukanya sangar gitu nak?

2-raffi-bersepeda.jpg
Hmm. . . Lagaknya udah macam Valentino Rossi. Keren ya, ya ya. . .

Mengingat saya udah mulai tua, saya lupa kalo jadi anak-anak dan punya sepeda bisa semenyenangkan itu, bisa segembira dan sebahagia mereka. Bahkan lumpur dan genangan air saja bisa membuat mereka tertawa. Jatuh dan terluka juga tak menyakiti mereka.

Faktanya, anak-anak memang sederhana, yang rumit adalah orang tua, dunia dan segala aturannya.

This is what that i called “enjoy sweet horrible moment.”

GIGI: KESEHATAN, NILAI ESTETIS, SENYUMAN DAN PESONA

Ada apa dengan gigi??

Eit, bukan Gigi yang telah resmi jadi istri Raffi Ahmad, atau band Gigi yang sempat eksis dulu. Ini adalah tentang gigi dalam arti yang sebenarnya, gigi yang ada dalam mulut kita.

Saya itu termasuk orang yang sebenarnya cukup sadar dalam hal menjaga kesehatan gigi, setidaknya sekarang setelah punya anak dan semakin sadar betapa pentingnya gigi dan betapa menyakitkannya ketika kita bermasalah dengan gigi.

Saya juga penggemar makanan manis dan masa kecil saya punya kenangan buruk tentang betapa seringnya saya sakit gigi, padahal orangtua sudah cukup melakukan segalanya untuk menjaga kesehatan gigi saya.

Karena itulah saya terbilang cerewet tentang gigi anak-anak saya. Sejak usia 8 bulanan saat mulai tumbuh gigi, saya sudah mulai merawat gigi anak-anak, mulai dari sikat lembut dengan jari (sampai digigit), pasta gigi berhadiah mobil (mobilan, haha), gosok gigi sebelum tidur, tapi entah kenapa ke dua anak saya tetap sering banget sakit gigi.

Mungkin usaha saya belum maksimal, atau karena mereka ASI nya lama (hampir 3 tahun dan waktu menyusunya bisa sampai 2-3 jam). Atau karena emang doyan banget roti-rotian, permen dan makanan manis??

Entahlah. . .

Dan sekarang saya juga dibuat resah karena gigi tetap anak sulung saya sudah mulai tumbuh tapi gigi susunya belum lepas, dan dia ogah dicabut. Hiks. . .

Nah, karena itulah kesehatan gigi jadi amat penting karena berhubungan langsung dengan penampilan dan nilai estetis, gak kebayangkan wajah cakep dan keren tapi giginya gak rata dan ‘maju mundur’. Kecuali gigi abnormal yang bikin cantik; ginsul.

Jadi ada cerita menarik yang melatarbelakangi bahasan saya tentang gigi kali ini.

Kemarin-kemarin kami beli es jus di penjual tepi jalan di daerah saya yang terkenal lumayan enak dan laku juga. Yang paling menonjol sih si penjualnya. Ibu muda beranak satu, cantik, modis dan stylish juga dengan dandanan pake turban model mutakhir, make up, eye shadow biru, eye liner dan gak ketinggalan bulu mata palsu dan lipstik mentereng. Cocok-cocok aja sih dan gak berlebihan, sesuai usianya lah. Tapi kemudian ada yang janggal ketika ia tersenyum dan bicara.

Maaf, bukannya saya membicarakan kejelekan orang, ini hanya sebagai pelajaran tentang pentingnya kebersihan gigi karena berhubungan langsung dengan kecantikan dan kesehatan. Giginya amat bertolak belakang dengan penampilannya yang total tadi. Bisa dibilang kurang bersih, kuning kecoklatan dan aneh karena ada tempelan (entah perak, mutiara sintetis atau asesoris apa, yang jelas bukan behel) warna-warni di giginya itu. Sungguh kontras dan berpotensi meluluhlantakkan image bengkeng (Bahasa Banjar yang artinya keren, gaya, aksi dsb) yang telah terbangun melalu dandanannya tadi.

Ironiskan jadinya??

Lalu ada juga orang yang biasa-biasa saja, dandanannya standar gak make up, tapi ketika tersenyum mampu memalingkan duniaku dan duniamu karena manis dan pesonanya dan deretan gigi yang bersih terawat.

Memang ya, kalo perawatan gigi modern yang aman gak bisa dibilang murah, mahhal bingit dan lumayan menyita waktu juga (dulu pas menambal gigi anak saya maharnya dua ratus ribuan, seorang family pasang satu gigi palsu di depan hampir setengah juta dan tiga kali pertemuan). Tapi kalau sejak dini telaten membersihkan kita sebenarnya tak perlu merogoh kocek dalam-dalam hanya demi gigi. Resep nenek moyang selalu bisa jadi andalan: abu gosok dan sirih bisa menolong sebagai pencegahan. Syukur-syukur kalau rajin ke dokter gigi 6 bulan sekali.

Jadi ingat ada aktris Korea yang punya deretan gigi yang rapi dan putih bersih, walau dandanannya minimalis ia sangat mempesona di drama Miss Korea berperan sebagai Oh Ji Young yang di kompetisi wajah polos di drama itu, ia dinilai karena senyumnya yang menawan. Inilah dia Lee Yoon Hee:

miss-korea-e11-mkv-002070.jpg

oh-ji-young-senyum-screen.jpg
Waikikiii. . .

So sweet banget kan senyuman yang tampil bersama deretan gigi yang bersih terawat?

Gigi oh gigi. . .

Cerita tentang gigi lainnya:
Jangan Mengaku Galau Kalau belum Merasakan Sakit Gigi

Gigi Julak Ijuh



Gambar dari:
Eyang Kakung Google

ANAK-ANAK, AYAM RAS DAN PUBERTAS DINI

Apa yang akan saya bahas di postingan kali ini hanyalah berdasarkan beberapa fakta yang terjadi di lingkungan sekitar saya dan bukan berdasar riset atau penelitian yang terbukti kebenarannya.

Semua hanya sekedar asumsi dan pendapat saya pribadi berdasarkan apa yg saya lihat selama ini.

ANAK-ANAK, AYAM RAS DAN PUBERTAS DINI

Beberapa belas tahun lalu saat jaman saya sekolah dulu, masa-masa sekolah dasar sampai menengah pertama, dunia anak-anak dan remaja tidak sekompleks sekarang. Awal masa pubertas umumnya terjadi saat sudah masuk SMP.

Saya saja dulu pertama kali dapat menstruasi saat kelas 2 Tsanawiyah (setara SMP), itupun cuma sekali, saya baru dapat siklus bulanan rutin saat kelas 3. Rata-rata teman cewek lainnya juga begitu, apalagi cowoknya, bisa dipastikan masih imut karena memang banyak yang belum mengalami mimpi basah perdana (dari yang pernah saya baca, pria pubertas memang lebih lambat dari wanita. Dulu di kisaran usia 14 atau 15 tahun sedangkan wanita di usia 12 tahunan. Tapi fakta yang agak mengejutkan sekarang, anak perempuan mulai banyak yang dapat haid pertama mereka di usia 9 tahun.)

Lalu apa hubungannya dengan ayam ras atau ayam potong??

Saya pernah lihat sebuah acara talk show di TV yang nara sumbernya mengatakan (saya lupa siapa) : “Sekarang anak-anak cepat sekali puber karena gizi bagus dan rangsangan bagus.”

Nah, gizi bagus ini didapat dari apa yang anak-anak konsumsi tiap hari. Dan ayam hanyalah salah satu contoh kecil saja. Maraknya makanan siap saji dan sebagainya juga turut mempengaruhi.

Sayangnya gizi bagus ini hanya merangsang secara fisik dari tubuh anak, pubertas dini ini terjadi tanpa diimbangi kematangan pikiran dan kesadaran akan terjadinya perubahan pada tubuh mereka.

Dan ini diperparah oleh buruk atau kurangnya kwalitas makanan kita, kita sudah biasa dijejali berbagai macam bahan tambahan pangan yang justru membahayakan kesehatan seperti pengawet, pewarna, pemutih dan lain sebagainya.

Dari kabar yang beredar, ayam itu kalau hanya dipelihara dan dikasih makan secara biasa memakan waktu yang agak lama baru besar dan bisa dipotong. Nah, untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi terhadap ketersediaan ayam potong ini dan agar tahan terhadap penyakit yang dapat menyerang unggas maka ayam-ayam ini disuntik vitamin, disuntik hormon, diberi makan dan minum yang dicampuri suplemen agar cepat besar dan bisa segera dijual.

Ayam-ayam ini kerjanya hanya makan makan dan makan saja siang dan malam tanpa henti bahkan saking gemuknya ada ayam yang tak lagi sanggup berjalan (saya pernah melihat peternakan ayam potong milik sepupu). Ayam-ayam potong/broiler/ras sekarang siap panen hanya dalam kurun waktu pemeliharaan sekitar 1-2 bulan saja, cepat banget dibandingkan dulu dan ternak ayam tradisional.

Maka bayangkan bila ini yang terus anak-anak makan tiap hari, semua kandungan dalam daging ayam tadi akan terakumulasi dan disinyalir dapat mempercepat pertumbuhan hormon dalam tubuh anak dan untuk orang dewasa dapat mempercepat penuaan sel-sel tubuh dan gangguan penyakit degeneratif seperti stroke dan jantung koroner.

Maka jangan kaget liat anak cewek kelas 3 SD sudah mulai tumbuh payudara dan kemudian menangis saat dapat haid setahun kemudian (kelas 4). Atau orang dewasa masih umur 30 an yang badannya kaku sebelah karena serangan stroke.

Makanya saya kerap diwanti-wanti suami karena putra sulung saya (dan sebagian besar anak-anak) sangat menggemari ayam dan segala olahannya. Anak-anak sangat bersemangat makan apabila lauknya ayam, tak suka sayuran dan ogah makan ikan. Kalau dimakan saban hari dan dikonsumsi berlebihan apapun itu pasti tidak baik. Apalagi dampak pubertas ini membuat saya agak takut-takut ngeri, belum lagi tentang rangsangan bagus seperti tayangan TV yang dipenuhi sinetron remaja beradegan dewasa yang terus menerus secara sistematis, terstruktur dan masif (sori, minjam istilah sengketa pilpres) menstimulasi pikiran dan rasa ingin tahu anak-anak yang sangat tinggi dan butuh pemuasan segera.

Internet, sosial media dan mudahnya akses informasi yang dapat anak peroleh juga pergaulan yang semakin bebas dimana orang tua semakin cemas dalam menentukan batas antara yang pantas dan tidak pantas, semakin mengamini bahwa DUNIA ANAK-ANAK KITA TIDAK LAGI SEDERHANA. Mereka adalah tubuh dan pribadi yang harus selalu kita jaga dan kita arahkan agar tidak terjerumus dalam hal yang mengundang kemudharatan, dan itu adalah PR yang tidak mudah di era gombalisasi sekarang ini. Pastikan anak-anak mendapat penjelasan dan pemahaman yang benar tentang diri mereka yang wajib mereka ketahui.

Jangan biarkan mereka menjadi remaja yang hanya jejingkrakan dan super histeria kala melihat idola mereka beraksi, dan hanya bisa menggeleng tak tahu saat harus mandi wajib pasca menstruasi karena tak hapal (bahkan tak tahu) apa niat mandi dan bagaimana caranya.

ANAK PEREMPUAN: COBAAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

Menilik judul di atas, rasanya saya agak sedikit diskrimanatif. Yang namanya anak, mau laki atau perempuan sebenarnya sama saja, orang tua punya tanggung jawab yang sama besarnya dalam membesarkan dan mendidik ke duanya agar bisa berproses menjadi selayaknya manusia.

Tapi kali ini saya lebih menitik beratkan pada anak perempuan karena naluri wanita saya terketuk dengan betapa ‘berat’nya tanggung jawab dan ‘beban mental’ ketika kita punya anak perempuan di tengah kemajuan peradaban, efek negatif pergaulan dan lunturnya nilai kesopanan serta di tengah gempuran krisis keimanan.

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib pernah berkata: jika lelaki hilang kehormatannya dunia masih bisa tertawa, dan bila wanita hilang kehormatannya maka dunia menangis selamanya.

Maka tak berlebihan jika di antara keutamaan anak perempuan, orang tua yang dapat mendidik, merawat dan menikahkan anak gadisnya dengan cara yang ma’ruf maka surga telah dijanjikan padanya. Karena sadar betapa beratnya tanggung jawab memiliki anak perempuan.

Saya sendiri adalah bagian dari tiga bersaudara perempuan semua, dan saya tahu benar seperti apa Abah bertanggung jawab dalam membesarkan kami semua, hingga sekarang kami telah berrumah tangga. Seorang ayah tak akan tenang sampai anak gadisnya menikah.

Sungguh suatu fenomena yang amat memiriskan hati saya ketika melihat gadis-gadis sekarang amat bebas keluyuran, pacaran dan tak menjaga diri. Sementara orang tua di rumah terasa hidup di atas api dalam pusaran kecemasan tiada henti. Sampai kemudian saya lihat karena keterlanjuran dan ketakutan akan aib, anak-anak gadis ini menikah di usia belia dengan stempel ‘asal balaki haja’ (yang penting punya suami daripada gak karuan).

Membuahkan masalah di tengah kesuburan pohon masalah. Para orang tua seakan tak mampu lagi memilihkan pasangan hidup yang lebih baik untuk anak perempuannya. Maka amat lumrah saya temui, pasangan muda yang menikah tanpa tanggung jawab, tak bekerja, tak bisa jadi imam dalam kehidupan, pemeras orang tua dan masih suka hura-hura.

Yah. . . Walau orang bisa berubah dan pernikahan bisa menjadi salah satu jalan menuju kebaikan perubahan, tapi perubahan harus diusahakan tanpa henti dan butuh kesabaran seumur hidup. Perubahan juga tidak datang dalam satu atau dua hari. Hal-hal yang diawali dengan baik saja belum tentu berjalan baik, apalagi jika memang yang dimulai dengan kesalahan dan terus dipelihara dengan ketidak baikan?

Karenanya, seorang anak perempuan dapat dengan mudahnya menyeret orang tuanya atau suaminya ke dalam neraka. Ketika ia tak bisa menjaga diri dan kehormatannya, maka habislah semuanya. Wanita adalah tiang negara, kehancuran akan menyambangi ketika generasi muda rusak akhlak dan moralnya. Apalagi jika yang hancur adalah kaum wanita, maka bisa dipastikan tak ada lagi ibu yang amanah dalam mendidik anak-anaknya dan menjaga keluarganya.

Wanita, anak perempuan, dalam ranah kodratnya sebagai seorang ibu akan menjadi benteng pertahanan terakhir ketika kita terus menerus digempur bujukan-bujukan kesesatan. Maka akan seperti apa jadinya jika generasi muda kita, anak-anak perempuan kita, rusak oleh pergaulan dan terlena godaan fana dunia??

Saya, walau tak punya anak gadis, sangat merasakan hal ini cukup berat. Anak laki-laki pun bisa menjadi warning peringatan tanda bahaya ketika mulai melangkah keluar jalur. Dari bisik-bisik tetangga, anak perempuan ditakutkan akan membawa ‘perut’ alias hamil di luar nikah, dan anak laki-laki dikhawatirkan menjadi pembuat kehamilan tak diinginkan.

Waspadalah. . . Waspadalah!!

PASTIKAN DIRI CUKUP PINTAR DALAM MENGGUNAKAN SMARTPHONE

Berawal dari keresahan saya akhir-akhir ini menyaksikan bocah-bocah petantang petenteng bergaya dengan gadget canggih keluaran terbaru. Menandaskan sekian puluh ribu untuk nangkring seharian di warnet atau gaya-gayaan sok eksis di sosial media padahal masih bau kencur tak cukup umur. Sementara para ayah sibuk kerja nguli ngantor dan lembur jua para ibu tahunya cuma sumur dapur dan kasur.

Aih. . . Ngomel dah saya, urat bawelnya lagi tegang ini.

Jadi ceritanya kurang lebih sebulan ini kita baru beli tablet berbasis teknologi android gitu karena udah dari tahun kemarin anak sulung saya nagih terus (karena kawan-kawannya udah pada punya, anak TK juga gak kalah hebohnya.) ckckck. . .

mitot910.jpgKita belinya yang ini

Namanya saya gaptek mana tahu make gadget gituan. Eh, busyet! Ternyata gamenya oke punya, aplikasinya gila. Untung saya seorang blogger jadi gak bodo-bodo amat soal aplikasi ponsel deesbe. Minimal tahulah game yang dicari anak-anak dan bisa ngefilter juga kalo si ayah mulai genit ngintip-ngintip situs ekhem. . . .

Saat mengutak-atik gadget canggih buatan Cina berlayar jilat 7 inch (biasa buebu yang penting murah aja, -_-” ) itu, kok saya tiba-tiba merasa bodoh ya? Merasa betapa tercecernya saya di tengah peradaban modern ini. Betapa banyak yang saya (dan kebanyakan emak-emak di luar sana) tidak pahami tentang benda idaman anak-anak sekarang, yang dibawa kemana aja oleh mereka akhir-akhir ini.

Saya ragu, apa bocah ingusan yang rela menandaskan tabungan dan sedikit memaksa orang tua demi smartphone ini, tahu fungsi dan kegunaan sebenarnya. Amat sangat disayangkan, jika teknologi secanggih itu hanya dijadikan alat pamer ke teman-teman, bahan gaya-gayaan, galau dan narsis satu kelurahan di jejaring sosial, main game seharian sampai lupa makan atau malah jadi pelampiasan mata melototin tayangan dan situs-situs setan!!

Iya, saya marrah sekali, kesal banget rasanya! Dari hasil saya ngubek-ngubek play store dan game shop saya sering menemukan game yang berbau pornografi dan pornoaksi. Seperti game berkategori fashion tentang model dan cara berpakaian. Hmm. . . . Tokoh di game itu hanya pake kutang dan cangcut saja dan kita harus mengganti bajunya.

Juga game superhero, aduh, tokoh ceweknya seringkali punya ukuran dada di atas rata-rata dan diekspos juga nyaris setengahnya. Apalagi yang jelas-jelas memang game seks dan adu (maaf) k*lamin (gila! Kok ada game tentang cara hubungan pasutri ala Kamasutra).

Memang tak bisa dipungkiri, sebagian game dihadirkan tidak hanya sebagai sarana hiburan tapi juga (kabarnya) merupakan alat propaganda Barat untuk menjatuhkan moral generasi muda kita. Jadi, waspadalah! Waspadalah!

Tapi yang paling membuat saya kecewa sendiri adalah para orang tua yang tak mengerti hal ini. Mereka mudah saja membelikan anak-anaknya segalanya tapi hanya sedikit yang bisa mengawasi dan mengontrolnya. Seperti HP saja, masih banyak ortu yang untuk nelpon dan sms saja pusing separuh mampus, lah mana tahu apa yang dilakukan anak-anak seharian di warnet atau lagi googling di internet?!

Maka ini penting, agar para orang tua, terutama ibu, untuk tidak gaptek dan harus melek teknologi! Belajar ladies! Ambil smartphone anakmu, periksa gadget suamimu! Cerdaskan dirimu untuk memfilter efek negatif kemajuan teknologi!

DAN PASTIKAN KITA CUKUP PINTAR DALAM MENGGUNAKAN SMARTPHONE .


Image:
hargatabletkomplit.blogspot.com

TANTANGAN PENDIDIKAN DI AKHIR ZAMAN

Lama juga tidak posting sesuatu, jadi kangen dengan kegiatan blogging. Nah, daripada nyampah tidak karuan mengumbar status galau di FB, mending saya menulis lagi di sini. Semoga para pengunjung setia tidak bosan, ya ya?

Bukannya sok alim atau sok suci, juga bukan bermaksud menyinggung SARA, ini hanyalah bentuk kekhawatiran dan kegalauan saya saja sebagai orang tua, sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Apalagi di era sekarang, yang katanya sudah masuk kategori zaman edan. Dimana anak-anak semakin luas pergaulannya dan semakin berliku tantangan pendidikannya. Bukan hanya sekedar pendidikan yang menunjang kehidupan fana duniawi, tapi yang terpenting dan (seharusnya) yang utama adalah pendidikan untuk bekal akhirat kelak.

Ada 4 peristiwa yang membuat saya ingin menulis ini:

¤Nah, kemarin itu anak saya yang masih kelas 3 SD itu ada tugas praktek gerakan solat dari guru agamanya. Satu persatu murid maju ke depan kelas dan memperagakannya. Ada 3 penilaian: BAIK, CUKUP dan KURANG. Kata anak saya, banyak yang nilainya KURANG karena tak hapal gerakan solat.

¤Ada seorang pemuda yang saat orang tuanya meninggal ia tak bisa membacakan doa dan surah Yasin dalam tulisan arab dan kesana kemari mencari Yasin yang ada tulisan latinnya.

¤Ada sekumpulan anak-anak tengah bermain di salah satu rumah temannya. Lalu di rumah itu ada orang dewasa yang sedang shalat zuhur. Tiba-tiba ada seorang anak usia 7 tahunan yang bertanya:

“Itu ibumu lagi ngapain?”

“Lagi shalat, emang kamu gak tahu?” jawab si anak dari pemilik rumah yang lagi shalat itu.

Kalau anak yang bertanya tadi non muslim mungkin wajar. Tapi ia muslim, ironis jika shalat saja ia bahkan tak tahu. Apa orang tuanya. . . .

¤Saya sempat terlibat pembicaraan serius dengan adik saya yang masih sibuk merampungkan kuliahnya. Katanya, menilik pendidikan anak-anak sekarang perlu bukan hanya sekedar pelajaran umum, yang terpenting adalah penanaman nilai moral dan agama.

Anak-anak yang dibekali ilmu agama, katakanlah salah satunya bersekolah di madrasah atau pesantren yang mengkhususkan pada pelajaran keislaman, bukan jaminan ia bisa menjadi ‘lurus’ dan tidak terjerumus pergaulan yang ke barat-baratan. Apalagi jika sejak kecil sudah dijejali tata cara dan gaya pendidikan yang hanya mementingkan tujuan kemapanan duniawi saja.

Memang, 2 hal itu juga tergantung pribadi si anak nantinya. Tapi bukankah paling tidak sebagai langkah awal penanaman nilai-nilai moral dan agama, sebagai dasar untuk bekal akhirat kelak. Karena itu, jauh lebih penting dari segala jenis pendidikan (umum maupun agama) yang didapat anak di sekolah, adalah PENDIDIKAN AGAMA DI RUMAH. Jadikan rumah dan para penghuni di dalamnya punya atmosfer keislaman yang kondusif dan terarah.

Yang lebih mencemaskan saya, berkaca dari peristiwa di atas, adalah ironisme yang terjadi di kalangan masyarakat belakangan ini. Para orang tua berramai-ramai mengikutkan anak-anaknya dalam program les untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris atau untuk les musik yang kadang tidaklah terlalu perlu.

Tapi ketika anak-anak hanya bisa bengong dan melongo saat membaca surah al fatihah karena tak bisa membaca huruf hijaiyah, yang saya lihat orang tuanya adem ayem saja, tak ada niat memberikan les mengaji atau mengajari si anak baca tulis Al Qur’an.

Sungguh sesuatu yang amat memiriskan rasa hati saya.

Jikalau di rumah saja anak tak mendapat bimbingan agama dan pendidikan moral yang cukup dan tepat lantas bagaimana jadinya dengan pergaulannya di luar rumah? Maka kita tak perlu kaget jika tawuran pelajar marak, bisa bergaul bebas tanpa batas, sampai seks usia dini hingga kehamilan dan aborsi.

Saya bersyukur, walau tidak pernah sekolah agama secara intensif tapi orang tua terutama Abah, beliau cukup sadar dalam penanaman nilai agama bagi anak-anaknya. Saya masih ingat, dahulu selesai solat Magrib berjamaah, beliau selalu mengajari saya mengaji walau saya juga bersekolah di TPA setiap sore. Dan suasana itulah yang ingin saya ‘hidupkan’ di lingkungan keluarga saya.

Sungguh tak mudah, mendidik anak-anak di era ini penuh tantangan dan perlu pengawasan ekstra. Ini adalah akhir zaman, perlahan menuju pasti suatu kehancuran yang tak terelakkan. Dan kita semua perlu bekal iman yang cukup agar kehancuran itu tak menjadikan kita binasa dan masuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Wallahualam bishshawab. . .