Kisah Bahasa Banjar; SI LUMBAH TANGAN, SI BURIT LUNCUP wan SI TAHI MATAAN

Jadi ada sabuah kisah jaman bahari. Kisah batalu bakawan nang liwar rakat sarantang saruntung kasitu kamari kada tapisahakan. Hidup di kampung sama pada sakit, sama pada kada bakuitan lagi, jadi akrabnya bilang alahan pada badingsanak lagi. Jaka istilah urang wahini tu CS banar wan eksis-eksisnya. Urangnya gen kada dikenal ngarannya lagi, tapi galarannya haja; ada si Lumbah Tangan karana mangidap suatu panyakit kalainan genetik kah jaka wahini ujar urang tu lalu ukuran tangannya taganal pada ukuran urang nurmal. Ada si Burit Luncup ni tahuae kalu leh sudah burit tipang nang luncup bisa mancucuk. Yang katalu iya si Tahi Mataan, mambari maras haja ah matan lagi halus mata tu ti hibak kada baampihan batahi mataan.

Alkisah, tulak batalu bakawan ni ti bacari hundang, tulak ae manyusur sungai bajukung, bakayuh dilarut banyu. Sakalinya banyak ae leh dapat hundang, hibak saparu jukung hundang haja, jubung tinggi nang kaya gunung anak tuyukannya. Jadi bulikan ae leh ka kampung sambil manjaja hundang te.

“Hundang dang dang dang!!!!” Ujar si Lumbah Tangan.

“Murah murah… sakukut harganya sajampal sasuku haja!!” Ujar si Burit Luncup jua himung banar mamikir pacang banyak untungnya.

“Ayu lakasi siapa handak nukar!!” Ujar si Tahi  Mataan manawarakan.

Jadi leh, banyak ae urang handak manukari. Lalu ae kada maingat lagi si Lumbah Tangan mangukutakan hundangnya. Ada jua sawat barapa ikung ada urang manukar, habis sudah lingis hundang yang sing banyakan tadi. Bilang kaya dibariakan ae, rugi!!

“Iya haja am mun kaini ti rugi kita, lapah-lapah bacari hundang imbah dijual kada sabarapa hasilnya.” Ujar si Burit Luncup sangkal banar.

Sakalinya maka baduduk bagasut si Burit Luncup te, bakusur di jukung. Apang ada pada buntus ha lantai jukung, saitu saini naik banyu sungai.  Habut si Lumbah Tangan handak manciuki banyunya. Untung haja si Tahi Mataan sigap malihat kundisi darurat, langsung dikukutnya tahi matanya, dituplak akannya ka alah lantai jukung yang buntus te…. apa ada maslahat banar am salamatan sajukungan. Rupanya tahi matanya liat banar bilang kaya dampul jukung jua sakalinya.

“Han jaka tida habis kita tinggalam.” Ujar si Tahi Mataan bangga. “Untung tahi mataku kawa manapaliakan. Jaka tida apa habis kita jukung karam, karam….”

Karampuuut…… sakalinya…

Hahaha….

***

Kisah ini berdasarkan kisah yang sering diceritakan oleh orang tua dan kakak saya semasa kecil. Saya tidak tahu pasti pengarangnya siapa, saya menuliskannya hanya berdasarkan apa yang masih saya ingat saja. Semoga terhibur!!

OKTOBER BAPER (Edisi Kehilangan Mywapblog)

Galaulah kalian, galaulah kita, galaulah saya!!

Faktanya, di dunia ini ada banyak hal yang berada di luar kendali kekuasaan kita. Salah satunya adalah tentang masalah Mywapblog yang kita cintai ini, yang peredarannya akan segera hilang dari muka bumi ini. Padahal…..

Dulu, bahkan sekarang pun jikalau Mywapblog resmi ditutup, ngeblog tanpa perangkat komputer atau laptop itu adalah suatu hal yang sangat niscaya mustahil. Kerena itulah kehadiran Mywapblog di tengah banyaknya umat manusia dengan kemampuan dan fasilitas terbatas yang hendak menyalurkan hobi sharing dan menulis tetapi tak punya laptop, itu laksana sebuah oase di tengah gersang dan kejamnya gurun pasir terpanas di dunia. Bayangkan, kita semua dapat bebas berkarya dan mengelola blog lewat ponsel saja, hampir nyaris semudah kita update status galau dan alay di facebook!!!
Dan tentu saja, kita dapat juga bergaya, bangga, gak kalah dengan blog sebelah. Jiah!!

Tapi mungkin memang benar apa kata orang, kegembiraan yang agak "terlalu" indah dan penuh euforia emang gak akan tahan lama. Dan… this is it, so inilah akhirnya, kita berkabung, saya berduka sodara sodara!!! Atas berita akan ditutupnya mywapblog.

Terasa memang agak ganjil selama saya ngeblog di Mywapblog, tiga tahun pemirsa, bukan waktu singkat untuk sebuah kesabaran, yap! Selama itu saya terus bersabar dengan keterbatasan menulis lewat ponsel java yang harganya tak seberapa jika dibandingkan ponsel android terkini. Bersabar atas fasilitas ngeblog gratis yang servernya sering down hingga tak bisa diakses berhari-hari. Bersabar atas kwalitas lemotnya paket jaringan internet yang dibeli dengan harga rupiah termurah. Bersabar atas segalanya, bahkan saya bersabar ketika menkominfo, UC Browser dan provider kartu seluler yang saya pakai berkonspirasi memblokir banyak situs, termasuk Mywapblog, yang membuat saya tak lagi bisa maksimal dalam ngeblog ria. Kejaaaaaammm….

Maka, kalau kalian yang baru aja tempo hari bikin blog di sini, dan udah mau nangis darah saking bapernya karena Mywapblog mau ditutup, PANDANGLAH SAYA, LIHATLAH SAYA DAN USER-USER LAWAS LAINNYA yang udah sedia ampe lumutan menulis dan koar-koar di Mywapblog selama ini, dan kemudian menemukan fakta paling menyakitkan seperti ini. HOW COULD IT BEEEE??!!!!! Bayangkan betapa bapernya kita!!! Yang udah pernah jatuh bangun merasakan rumit, nyesek, ngenes dan juga senangnya ngeblog lewat hape. Baper sebaper-bapernya sayang!!

Dulu, harapan dan ekspektasi saya ketika pertama ngeblog adalah ingin mengabadikan kenangan dan membuat sejarah saya sendiri, kerena saya takut jikalau saya tua nanti saya akan semakin pelupa dan mulai tak bisa mengingat lagi moment-moment terbaik dalam hidup ini, karena itulah kelak blog inilah yang akan menjadi penyambung lidah atas kisah yang tak pernah bisa saya sampaikan secara lisan, blog inilah yang akan jadi kotak pandora berharga tempat saya menyimpan semua cerita. Lebih dari itu, blog ini adalah bukan sekadar karya tulis saja, blog ini adalah kumpulan KEKAYAAN INTELEKTUAL saya yang tak ternilai harganya!!

Ok, mungkin memang agak berlebihan, tapi memang seperti itulah saya menganggapnya.

Barangkali memang seperti inilah kehidupan, kita tetap harus bertahan. Seperti halnya dulu kejayaan Friendster yang digantikan Facebook, Multyply yang punya begitu banyak user pun akhirnya juga tutup yang membuat anggotanya juga kocar kacir entah kemana, situs Ngerumpi dot com yang punya motto ngerumpi tapi pake hati juga akhirnya tiada lagi. Seperti itu…. datang, hilang, pergi, hanyalah bagian kecil dari kehidupan, dan jikalau karena itu saya merana, baper, menangis dan insomnia lalu menulis keluh kesah penuh luka ini, maka itu juga hanyalah sebagian kecil saja dari masih banyaknya luka dan guncangan masalah yang akan menimpa dalam hidup ini.
Harusnya tidak apa-apa, harusnya kita bisa, harusnya…. Tapi…..

Mywapblog….
Banyak hal yang tak dapat saya relakan dalam kehidupan, dan kau kini menjadi salah satu di antaranya.
Hikz…..

LEBARAN KALI INI

Assalamualaikum…. pemirsa semuanya… masih dalam suasana lebaran kan ya. Saya dan keluarga mengucapkan selamat hari raya idul fitri dan mohon maaf lahir dan batin.

Berbulan-bulan lamanya saya tidak lagi mengisi blog ini dan baru sekarang muncul kembali, sungguh terlalu. Akhir-akhir ini saya memang sedang dibuat ribet oleh layanan kartu operator seluler yang saya pakai dan saya percayai, kartu itu dengan teganya telah "mengkhianati" saya dengan bekerjasama bersama UC browser dan Menkominfo; mereka memblokir banyak sekali situs bermuatan negatif, dan yang anehnya Mywapblog juga termasuk dalam daftar blokir mereka. Kalo situs porno sih saya setuju aja diblokir, tapi ini MWB loh, situs penyedia blog kesayangan kita semua loh, kok bisa?? Memang sih gak sepenuhnya diblokir, hanya fitur pengunggahan foto yang tak bisa lagi digunakan lewat UC browser. Setiap kali saya mau mengunggah foto pasti begini:

Kejam kan? oh kenapa?

Saya juga sudah mendownload aplikasi MWB di Google play store, dan hebatnya sama sekali gak bisa diakses, sepertinya provider Three punya masalah tersendiri dengan MWB. Karena sepertinya itu tak ada masalah bagi pengguna kartu operator yang lain.

Jadi saya terpaksa mengunggah foto lewat opera mini, yah walau agak lama dan berat loadingnya (untung opmin gak ikut-ikutan sekongkol). Hiks….

Okelah, cukup dengan keluhannya. Kali ini saya cuma mau sharing kegiatan lebaran tempo hari. Biasa aja sih, silaturrahmi, sungkeman, makan-makan. Hari pertama setelah salat ied ngumpul di rumah ortu, dan juga ortu saya yang ke dua (eh?), maksudnya ke rumahnya father's second wife sama kakak, ketemu adik2 satu bapak beda ibu, ketemu adik tiri juga, terus ziarah kubur almarhumah mertua. Hmmm…. Setelah semua cerita panjang, konflik, guncangan kehidupan itu, menerima segalanya adalah suatu keharusan, kalo kita tetap mau waras sepanjang sisa umur yang singkat ini.

Kemarin-kemarin sempat terlibat konflik juga antara kita tiga saudara dengan orang tua, biasalah… beda visi dan misi antara dua lintas generasi. Karena itulah moment lebaran ini harus jadi titik balik untuk berbuat yang lebih baik, itu juga kan yang mewarnai kehidupan anak manusia? Dari konflik itu kita akan belajar cara menyelesaikan masalah dan meluruskan kekeliruan, menerima kenyataan, dan yang terpenting meminta dan memberi maaf. Semogaa…

Nah, yang paling saya senang sekali di lebaran tahun ini adalah saat berkunjung ke rumah adik kita yang bungsu, dia dan keluarga kecilnya baru pindahan, sekalian juga kakak saya yang berdomisili di luar kota ikut ke sana dan menjadikan mudiknya tahun ini paling berharga (biasanya cuma ngumpul di rumah mama). Maka jadi hebohlah ketika tiga saudara ini bersama, membuat para suami geleng-geleng kepala. Haha….

My beloved sisters; Kakak, adik
dan penampakan bocah-bocah nyempil dimana-mana.


Rencananya cuma mau foto bertiga, e tapi anak-anak ini gak mau ketinggalan. Putri kecil anak adik saya lah yang paling menawan, tertib dan manis, dia dijagain tiga sepupu laki-laki yang sangat menyayanginya.
Gadis kecil kesayangan kita!


Kata adik, saya itu adalah "jembatan yang membuat kita tetap keep in touch". Anak tengah mah gitu….
co cwiiit….

#jembatan yang dari tahun ketahun tambah lebar.
Tapi gue tetep paling tinggi kan kan kan.


Ini ni, trio huru-hara, pembuat ramai seisi dunia. Very great moment, see them grow up day bay day from kids, a boy, and then be a man. Cool?

Trio bapak-bapak, yang dua itu senderan di tembok kecapean bawa kita para ibu naik motor di sore hari yang panas.

Wefie ma kakak, gede-gedean muka.

Wefie ma adik, gak tahu dulu mama ngidam apaan sehingga si bungsu ini jadi yang paling mungil, dan cantik jugak :p

Teteup… penampakan dimana-mana.

Trio charlies angles, kakak tercinta di tengah ya….

Ini gak jelas ni apa yang diketawain?

Seru ya bisa ngumpul bareng gini, rasanya baru kemarin kita rebutan kamar mandi setiap mau ke sekolah, ribut terus, sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing dan tinggal berjauhan, cuma Idul Fitri yang bisa mempertemukan kita lagi. Huaaaaaaa….. kakak, adek, aku mewek neh…

Malam harinya kita mampir sebentar ke taman patung bekantan. Saya kurang tahu apa nama persisnya tempat ini, ada tulisan TAHER SQUARE di dekat taman yang masih terbilang baru dibangun di tengah kota Banjarmasin ini.

Di sini juga ada lapangan basket, wisata air dengan naik kelotok keliling alur sungai Barito, bisa foto-foto juga. Tapi sayang, mungkin karena masih baru, pepohonannya masih kurang sehingga di siang hari di sini sangat panas.
Semoga nanti tambah baik ya dan bisa benar-benar jadi ruang terbuka hijau yang rindang dan asri.


yang paling senang dan paling gak bisa diem dari semuanya.


foto sekali lagi ya kak, besok sudah mau pulang ke Batu Licin. Setahun lagi baru kita bisa ketemu.

#fotonya kurang mantap dalam gelap, cahayanya buram dan pecah…


Patung bekantannya ternyata bisa nyemprot air loh… kita bisa basah-basahan di bawahnya, brrrr….

Patung bekantan ini mengingatkan saya pada patung singa Merlion yang jadi ikon Singapura. Gak kalah kan kan kan…

Dan ini Banjarmasin punya!!

KAPAT OKTOBER DAN HUJAN PERTAMA YANG DITUNGGU-TUNGGU

Oktober sudah menyambangi kita, langit masih diliputi kabut asap dan udara beraroma jelaga, hawa panas dan kering. Di saat seperti inilah kebanyakan warga sedang dilanda galau sedemikian rupa. Karena masa panen telah lama berakhir dan ingin memulai masa tanam padi tetapi hujan belum turun, bibit tak bisa ditaburkan di atas tanah yang kering kerontang.

Ah, ternyata, kita manusiapun teramat sangat lemahnya karena masih bergantung pada kemurahan cuaca. Hujan selalu saja bisa membuat orang jadi lebih bahagia karena air berarti kehidupan dan kegairahan akan hidup itu sendiri.

Di Banjarmasin, masyarakat kami mengenal suatu istilah yang bernama KAPAT, yang artinya merujuk pada tanggal 10 bulan 10 (Oktober) yang dipercaya biasanya hujan pertama jatuh di bulan ini. Bisa pas di tanggal sepuluh itu atau setelahnya, syukur-syukur kalau hujan turun lebih awal. Karena Kapat ini menandakan awal mula memasuki musim hujan. Meskipun hujan yang turun tidak deras atau bahkan hanya hujan buatan hasil rekayasa pergerakan awan yang dilakukan BMKG.

Karena itulah Oktober menjadi penting bagi sebagian orang yang usahanya amat mengandalkan perubahan cuaca. Penting untuk mengetahui perubahan arah angin dan kadar kelembaban udara. Karena Oktober adalah penanda euforia bahwa musim tanam akan segera tiba. Di mana orang-orang akan jadi lebih sibuk sepanjang hari dan lebih lelap di malam hari.

Oktober juga menjadi bulan transisi, pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan yang akan ditandai dengan berbagai penyakit khas daerah tropis seperti pilek, demam, gangguan pencernaan, gatal-gatal dsb yang biasanya mudah menyerang anak-anak. Jadi para orang tua harus senantiasa siap dan waspada.

Bagi orang yang cukup peka dan sensitif terhadap tanda-tanda alam, biasanya di waktu Kapat ini akan menyaksikan ada benang-benang halus seperti helaian sarang laba-laba yang melayang di udara. Itu semua semakin memastikan bahwa musim hujan segera tiba.

Setelah kepastian musim hujan di bulan Oktober berlalu, bulan Nopember dan Desember akan terasa lebih mudah dan sejuk tentu saja. Pertanda-pertanda alam pendeteksi musim hujan akan semakin kentara terasa. Jangkrik akan berbunyi sangat berisik sepanjang malam, ditingkahi nyanyian kodok yang teratur bergumam lewat suara dari lehernya yang bergelembung. Burung-burung gereja mematuk-matuk di atas atap dan Kutilang berkicau pagi-pagi.

Dan Desember akan membuat kita harus lebih banyak sedia ember karena biasanya kita akan kelebihan debit air alias banjir. Malam menjadi begitu dingin dan sejuk membuat para jomblo jadi lebih bersyukur jika ketika malam Minggu atau di malam tahun baru hujan turun tak kenal ampun. Haha. . .

Di musim hujan pula geliat kehidupan baru sangat terasa. Para pasangan muda pengantin baru menemukan momen yang paling pas untuk memperbanyak jumlah umat manusia. Hujan membuat orang orang lebih senang diam di rumah dan memerangkap diri dalam hangatnya tirai kelambu. Akay!

Ah, ternyata. . . Saya hanyalah seorang manusia yang teramat merindukan hujan.

SWARANGAN, EKSOTISME PANTAI YANG DITINGGALKAN

Entah karena belum musim liburan dan bukan pada hari Minggu, rekreasi kami sekeluarga tempo hari ke pantai bisa dikatakan sepi. Pantai Swarangan siang itu sepi pengunjung, hanya ada beberapa orang yang terlihat menikmati panorama pantai sambil sesekali menjepret foto dan berselfie ria.

Tapi memang keheningan pantai itu yang kami sukai, tenang, misterius dan eksotis. Sepanjang pesisir pantai terlihat bersih tanpa ada sampah yang mengganggu pemandangan. Walau agak menyayangkan karena tak ada satupun fasilitas umum yang berfungsi, kamar bilas dan kamar kecilnya sepertinya telah lama tak lagi digunakan dan tak ada air bersih sama sekali (bahkan untuk buang air kecil saja saya harus membersihkannya dengan air minum kemasan). Juga warung-warung banyak yang rusak dan tak ada aktifitas jual beli apapun yang terjadi. Pokoknya jadi seperti pantai yang ditinggalkan begitu saja. Sepi, tak berpenghuni. Membuat kami harus mengurungkan niat untuk berenang atau main air, dan lagi saat itu gelombangnya cukup besar dan bahaya untuk berenang.derai2-cemara-pinus.jpg
Derai-derai Pohon Cemara Pinus menyambut mata dengan kesejukan dan keteduhan saat memasuki area pantai. Ada pondok kecil juga untuk sejenak melepas penat.

derai2-cemara-pinus-2.jpg
Cemara Pinus ini mengelilingi sebuah kolam danau (yang sepertinya) buatan masyarakat setempat yang mungkin digunakan untuk tambak ikan.

cemara-pinus-3.jpg
“Pas banget ni untuk lokasi foto pre wedding!”
Seru tukang supir kala itu. Tempatnya memang aduhai untuk dinikmati dengan orang terkasih. Kalau di India pasti deh dijamin udah nyanyi tumpas se aye. . . Yu mus kuraye. . . Kya karoon hai ye kuch kuch ho ta hai. . . Hmm. . .

pantai-swarangan-yg-ditin.jpg
“The Leaving Beach”

Pantai yang ditinggalkan, hening, hanya ombak putih ber buih, kontras dengan warna pasir coklat yang lembut.

swarangan-pantai-sunyi.jpg
Ku lari ke hutan,
kemudian menyanyiku.

Ku lari ke pantai,
kemudian teriakku.

Sepi, sepi dan sendiri aku benci.
Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar.

Bosan aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat.
Seperti berjelaga jika ku sendiri.

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
biar mengaduh sampai gaduh.

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera.

Atau aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai?
(Tentang Seseorang, AADC) sunyi.jpg
Adalah sunyi yang menggaungkan namamu.
Adalah sunyi yang bertalu pada dinding hatimu. Mencari sendiri kemana debaran itu beranjak pergi?

warung-rusak.jpg
Warung yang rusak dan ditelantarkan begitu saja. Apa yang tersisa darinya?

Adakah gerangan cerita apa?

gmbrn-fikri.jpg
Biarku melukis langit pada pasirmu, menghias hijau dingin pegunungan pada hangat pesisir. Dan kelak mempertemukan asam dan garam dalam belanga kehidupan.
(sebuah gambar karya anak sulung saya, Fikri).

pohon-aneh.jpg
Ada satu jenis flora langka, berdaun seperti pandan atau nanas tapi berbatang seperti pohon.

buah-pohon-aneh.jpg
Buahnya mirip durian, ini yang warnanya oranye mungkin sudah tua.

buah-pohon-aneh-2.jpg
Yang ini masih hijau mungkin yang muda.

Kira-kira tumbuhan apa itu? Apakah ada yang tahu?



Inilah sedikit catatan perjalanan kali ini, semoga menambah referensi Anda.

Foto: Dokumentasi pribadi.
Lokasi: Pantai Swarangan Desa Jorong Kota Pelaihari Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan.

UNJUN PAIR; KEPERCAYAAN, MASKULINITAS DAN KENISCAYAAN KAUM LELAKI

Baca juga:
Pria dan Hobi yang Membuat Cemas Pasangan

Hampir 7 tahun lamanya bergelut dengan dunia perikanan dan segala tetek bengek pancing memancing, membuat saya tergerak untuk menulis tentang ini. Sebuah keniscayaan hidup dalam hobi kaum lelaki, yang masih diyakini bahwa wanita tak boleh sembarangan memasuki.

unjun-pair-kalai.jpg
Unjun Pair

Ada sebuah tragedi (kalau tak bisa dibilang aib yang sangat pamali dan mengerikan sekaligus memalukan) yang melatarbelakangi tulisan ini. Yaitu saya dengan tidak sengaja telah “terlintasi/terlangkahi (talingkang)” unjun pair (alat pancing ikan gabus yang terbuat dari bambu jenis tertentu yang diameter batangnya kecil dengan panjang 5-8 meter) yang jadi barang jualan suami saya. Dan naasnya kejadian itu dilihat oleh seorang calon pembeli yang amat sangat meyakini :

“bila unjun pair talingkang seorang wanita maka bisa tidak dapat memperoleh ikan lagi.” (kada pamatukan, lapah manating haja)

Saya tidak terima karena kepercayaan itu tidak berlaku jika lelaki yang malingkangnya. Saya merasa disudutkan dan terhina sebagai perempuan. Sayapun mendebat calon pembeli yang sudah terbilang tua itu karena kesal ketika beliau tanya “kamu tidak datang bulan kan?!” Karena kalau talingkang pas datang bulan dijamin unjun itu tak akan ada gunanya lagi, tak termaafkan dan tak terampuni. Dibuang saja sudah, terkutuk, najis, dan haram memakai unjun yang telah dilintasi wanita yang sedang datang bulan.

Jadi saya jawab ketus; “saya tidak sedang haid, dan kalau anda percaya hal itu ya itu bisa saja terjadi karena anda sangat meyakininya. Padahal itu hanya mitos, kepercayaan saja!!”

Tapi bapak itu kekeuh, tak jadi membeli unjun pilihannya yang tak sengaja saya lingkang tadi dan malah memilih unjun dalam ikatan yang lain. Dengan wajah tuanya yang kesal masih menyalahkan saya. Sukses membuat penyakit kambuhan SSG (Sindrom Sensitifitas Gender) saya kumat di tempat. Ckckck. . .

Benar-benar saya tak habis pikir. Hal sepele tentang perkara memancingpun bisa jadi sesuatu yang dengan mudahnya mendiskriminasi jenis kelamin perempuan. Dalam dunia memancing ikan gabus (maunjun pair iwak haruan) jelas sekali tak ada emansipasi berlaku di sini. Tak akan ada kesetaraan gender untuk hak yang sama dalam maunjun pair tak peduli seberapa pintar, piawai dan inginnya wanita menyentuhnya.

“Dunia memancing tradisional (yang hanya memakai bambu dan bukan joran pancing buatan pabrik berbahan fiber) dalam masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan amat lekat dengan mitos, mistis dan hal-hal tak masuk akal yang masih saja diyakini hingga detik ini. Unjun-unjun itu diperlakukan sedemikian rupa, dianggap istimewa, diyakini bertuah dan sakti dalam memancing kehadiran ikan yang besar-besar sampai tak sungkan dikeramatkan dan disayangi melebihi istri sendiri”.

“Unjun pair adalah simbol kedigdayaan dan maskulinitas kaum lelaki. Bukan hanya sekadar hobi, itu adalah sebuah eksistensi, sebuah keniscayaan tentang superioritas tertinggi yang hanya ada pada tangan lelaki dan perempuan tak berhak menandingi”.


Sebagai pelengkap postingan saya kali ini, berikut saya sertakan link video Basarang, kampung unjun yang telah saya unggah ke youtube.

KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR

Hmm. . .

Lama juga ya saya gak posting dan bersih-bersih di rumah maya ini, nyaris berdebu dan saya bersin pas masuk sini. Hatchii. . .
Kira-kira ada yang kangen saya tidak ya??

Kalo ada yang kangen ini saya kasih sun jauh dari Banjarmasin kota Seribu Sungai, tapi sunnya pakai bibir itik Sarati yang dagingnya gurih dimasak sambal habang itu. Cup cup ah, kweek. . .

Kali ini saya masih membahas tak jauh-jauh dari topik kemarin, masih tentang kehamilan dan segala tetek bengeknya.

Negeri ini memang tak terlepas dari segala macam adat istiadat, kebiasaan dan mitos yang masih dipercaya masyarakat, masing-masing daerah dan suku pasti punya, tak terkecuali di daerah saya. Tapi kali ini saya mengkhususkan pada hal yang diperuntukkan terutama bagi kaum perempuan. Secara umum, tujuan ritual-ritual adat dan hal-hal musykil yang dilakoni selama kehamilan ini adalah bertujuan agar diberi kemudahan melahirkan, bayi yang normal dsb.

Inilah beberapa KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR :

1.) CINCIN DI IBU JARI KAKI YANG TERBUAT DARI BEBERAPA HELAI BENANG HITAM

Setelah seorang istri diketahui pasti status kehamilannya maka biasanya ia diharuskan memakai cincin di ibu jari kakinya (saya lupa di kiri atau di kanan). Terbuat dari helaian benang hitam yang dililitkan dalam jumlah ganjil, 3, 5, 7 sampai 9 helai biasanya. Tujuannya agar tidak diganggu makhluk halus semisal Hantu Baranak (sejenis Sundel Bolong) yang suka dengan wanita hamil.

2.) BANYU BAYA

Ini adalah air putih biasa yang mungkin dibacakan atau ditiupkan sesuatu yang dimintakan pada bidan kampung atau tetuha masyarakat yang dihormati dan bisa menangani berbagai hal tentang kehamilan. Air ini bisa untuk diminum atau dimandikan. Lebih sering digunakan untuk kehamilan ke tiga (baya tiga, tapi bisa juga pas kehamilan pertama) karena dianggap sebagai bilangan ganjil dan rawan dengan berbagai gangguan kehamilan.

3.) MINYAK BANGSUL

Ini tak jauh berbeda dengan poin 2. Tapi ini berupa minyak yang harus dijilat/sedikit ditelan dan dioleskan ke perut dari atas ke bawah setiap pagi, dimulai sejak 7 bulan sampai melahirkan. Ini boleh untuk semua jenis kehamilan. Tujuannya agar mudah beranak dan lancar meluncur seperti minyak itu sendiri (orang Banjar bilang susurah/sasarahnya).

4.) MENANAM JARIYANGAW dan MENGIKAT TALI HADUK/IJUK

Ini sejenis tanaman pandan-pandanan yang biasa tumbuh di tanah yang berair, berbau menyengat berdaun lurus dan panjang. Ditanam di dekat rumah si ibu hamil agar tidak diganggu Kuyang (hantu wanita yang terbang hanya dengan kepala dan usus terburai yang suka makan bayi, darah dan tembuni/plasenta dari ibu yang melahirkan). Sedangkan tali haduk bisa diikatkan di sekeliling rumah di bagian bawah atau tongkat tiang penyangga.

5.) MANDI 7 BULANAN DAN MANDI KUCING

Ini adalah prosesi paling menggelikan, agak ngeri juga, yang pernah saya lihat. Mandi 7 bulanan biasanya hanya dari kalangan keturunan daerah tertentu yang melakoninya, seperti orang Nagara (salah satu daerah di Hulu Sungai, Kal Sel).

Prosesi ini sangat merepotkan dan terbuka untuk umum/undangan tetangga dan kerabat. Mandi dengan air bunga yang telah diberi jampi atau shalawat dsb, disiram dari kucuran sebuah mayang muda (pelepah buah kelapa yang belum terbuka) lalu kemudian dibelah dengan sekali tapak tangan. Prosesi injak telur, digosok banyu baya, air pelungsur oleh para tetuha wanita yang mana tangan mereka bebas mengubek-ubek tubuh si ibu hamil dari dada perut sampai ‘bawah’. Dan ibu hamilnya hanya memakai kain panjang batik (tapih bahalay) sebagai penutup tubuhnya (dan ini ditonton orang banyak loh, dijepret kamera juga), dipagari tebu yang digantungi uang, permen dan roti kering yang diperebutkan massa yang menonton.

Kalau mandi kucing adalah prosesi 7 bulanan yang lebih sederhana. Saya pernah melakoni yang ini karena keluarga saya dan suami bukan dari keturunan yang mengharuskan mandi seperti di atas. Jadi kita cukup membawa seekor kucing betina (lebih afdol jika kucingnya juga bunting). Diletakkan di pangkuan, membaca shalawat lalu byurr dengan air pas tengah hari Jum’at. Ini bisa dilakukan sendiri di kamar mandi. Hakikat hati adalah agar kita meneladani kemudahan kucing yang bisa sekali beranak lahir 3-5 ekor tanpa bantuan siapapun dan bayinya ‘malacung’ (melompat/keluar dengan mudahnya) seperti ketika si Kucing kena guyuran air. Begitu !

Anda percaya ??

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang sedikit di luar logika yang dilakukan para ibu hamil di daerah saya, tapi karena keterbatasan karakter di sebuah ponsel Java, maka apalah daya saya. Kiranya ini saja dulu sajian tulisan kali ini. Semoga bisa dijadikan sebagai khazanah keragaman eksotisme budaya tanah air, khususnya tanah Borneo dan tidak menjauhkan kita pada Sang Pencipta Segala, Allah Azza Wajalla.

SI PULAN BULIK KA BANUA 2 (HABIS)

Nah han, balanjut pulang kita ka kisah Pulan sumalam. Inya nyaman sudah wahini lalu handak bulik ka banua pulang. Tulak ba ampat baranak, alhamdulilah kada bataksi mutur kul lagi, tapi ba mubil ban ampat ampunnya saurang.

Tiiii. . .t. . .

Babunyi kalaksun mubil Pulan nang hanyar nitu, mirikx Honda CRV, putih mancarunung kalirnya hanyar kaluar pada dealer napa. Pas hinggapnya di bawah rapun asam di halaman julak tuha.

“Ninii. . . !” ujar Aluh anak Pulan nang pahalusnya kukuciak sambil turun pada mutur nang harat tu tih.

Takijat urang sarumahan, badadas turun julak mahaga. Pina tasisit tapih sidin sampai kaliatan buku lintuhut nang takariput.

“Uh. . . Umay. . . Pulan nah niti?!” Pina tiring maniring sidin matan sapatu kulit Pulan sampai ka atas kupalanya nang licin basamir hirang. “Ayu naikan, sini dang, sini ucu!” salalu marauh Aluh mangilik cucu di kamanakan nang kada suah batamuan.

Saidang idang ay wan bini Pulan apa mun liwar bengkengnya hari itu si Limah. Baju nang tukaran di mall di butik nitu, kakambannya warna habu ruku bagambar tulisan lugu Lois Vuitton nang kainnya pina licin mancilang. Limah manjinting tas Hermes nang bagirap batu ruby wan karistal Sawarovski. Pakayan kangkalung haja bilang handak nang kaya rantai kapal nang sandar di darmaga palabuhan Trisakti, buah mata kalungnya nangkaya tungkul pisang manggala di kabun pahumaan pa haji Asli. Galangnya kada kisah lagi, bila bagarak bini Pulan manggaruncay galang karuncung nang bilang lacit ka inggan siku kiwa kanan.

“Bah, baduit banar kamanakanku ni salawas madam pada banua.” Ujar hati julak tuha. Maricak ilat sidin, tauling kupala.

Saitu saini sidin manyuruh naik ka rumah, badadas maulahakan banyu satrup wan manyurung wadai pais buta.

“Hadang dahulu pulan lah, diaku handak ka subalah. Itu paranah mamarina ikam jua. Kuburan di alah tanah wakap langgar tu kubur uma abah ikam. Pa uwan nang bamajlis di hulu tu paranah pakai’an lawan ikam. Nang baisi bingkil las di hilir tu dangsanak sakatirian wan arwah abah ikam. Nang di higa rumah ni sapupu talu kali wan ikam.”

Habis tu pang juriyat manjuriyat silsilah kulawarga di baca julak tuha, kababang sidin bakiyawan kukulaan subalah manyubalah mahabarakan si Pulan nang sugih datang baelang.

Haaann. . .

T A M A T

Buat suamiku terkasih:

“Terima kasih atas ide, kata-kata dan cerita yang penuh pelajaran tentang kondisi sosial masyarakat di sekitar kita ini.”

^_^v

SI PULAN BULIK KA BANUA

Ada pang sudah mun kikira manaluwalas tahun sudah si Pulan madam pada banua. Asal mula umpat pa haji Asli mandangani badagang pancarakinan di Pasar Lima. Mandua tahun Pulan jadi susuruhan pa haji gasan ma angkutakan karung bawang, karung gula, baras macam-macam ae.

Kada dirasanya lagi bilang asa pingkar balukuk hari-hari manyahan karung nang puluhan kilu nitu, napang ha mun hidup kadada dangsanak, kawitan matian hudah ka duanya, jadi kadada lagi nang diharap-harap. Sampai Pulan tapabini lawan si Limah anak acil Siti nang umpat ma ambil upah manguyak bawang di pasar tutih.

Bangsa satahun balaki babini lahir si Utuh, masih ae hidup Pulan balum pina mungkat bakadudukan, rumah masih umpat manyiwa di bidak pa haji Asli, Limah kada kawa lagi umpat basiang bawang imbah baranakan, bagana ae di rumah.

¤ ¤ ¤

Kada karasaan sakulah TK Utuh, pina mauk pulang ma’adi bininya Pulan. Taungut Pulan mamikirakan panghidupan mun kakaini haja. Taingat pas tahun tadi inya bulik ka banua handak jarah ka kubur kawitannya. Naik ka rumah mamarinanya, julak tuha pina kada rigi malihat Pulan batalu baranak pina sakit.

“Siapa?” ujar julak tuha pas malihat Pulan saparanakan badiri di muhara lawang.

“Ulun lak ay, Pulan, anak Jamiyah.”

“ih, Pulan kah? Adul lah abah kam.” Ujar Julak Tuha sambil maniring nang batalu baranak tu tih.

Pina riwas muha julak malihat parigal kamanakan nang di ujut niti. Asa kada rigi malihat Pulan pina uyuh mambawa tas buruk, nang bini babaju lungris kubas banar tukaran ari raya ampat tahun nang liwat pina kuhay kada bapakayan napa apa, apa lagi mun maliat muha si utuh pipinya batampung lantaran hingus pina mangaring kana palit wan bajunya nang bagambar Power Rangers batual di alah dadanya bakas muak dalam mutur kul tadi.

“Ayja, masukan dahulu, diaku handak ka muhara satumat tah.” ujar julak pina takurisit dahi.

“Siah!” jar julak mangiyaw minantu sidin. “ulahakan banyu lah!”

Lalu turun julak, hadang dihadang sajam dua jam kada naik lagi julak tuha. Asa kada nyaman Pulan kada jadi bamalam, imbah ka kubur uma abahnya badadas ae bulikan.

Pulan kada tahu, bangsa saparapat jam kalu imbah julak turun ti, sidin manalipun ka hapi Siah.

“U, Siah, bulikan nah sudah Pulan ti? Aku mun buhannya bulikan naik ay, bahujung maminta baras atawa bahutang banaray urang kaitu.” Umay, liwar pang pamuntungan julak ni.

¤ ¤ ¤

Kada kawa aku mun kakaini haja, damhati Pulan, supan aku kada dianggap kulawarga ulih dangsanak uma.

“MUN KADA SUGIH AKU KADA BULIK LAGI KA BANUA !” Batugul banar kahandak hati Pulan, basumpah inya sambil mamusut banyu mata wan pancung tapih.

Pulan ti ampih pang ba angkut, wahini inya manunggu’i toko pa haji Asli yang di Pasar Hanyar, barang pancarakinan jua. Sudah babarapa hari ni inya pina taungut saurangan. Lalu dirawa ulih pa haji.

“Uy, Pulan! Napa pina marung haja muha, napa dipikirakan?” ujar haji pas Pulan ma atar duit saturan badagang ari kamarian.

“Anu, pa haji ay, ulun ni. . . Tapi pian jangan sarik lah, kalu ulun ni tapalampang.” ujar Pulan asa gair.

“haw, napa garang?” Bingung pa haji.

“Ulun ni, umanya utuh pina mauk, ma’adi paji ae, mana Utuh sakulah sudah jadi ulun ni asa handak ae baisi usaha saurang. . .” Pulan manarik hinak.

“Ay, bujurkah? Adalah kam bamudal? Handak usaha napa?” pa haji kada sarik.

“Ada pang kios pun mama mintuha bakas sidin bawarung nasi dahulu kada tapakai lagi, sidin gagaringan haja di rumah, jar sidin jaka diusahai napakah, badagang napakah.” Pulan manjalasakan maksud hatinya.

“Nah, bagus tu, badagang napa ikam cagar Pul? Aku hakun ae mamudaliakan mun ikam hakun.” ujar haji Asli.

Langsung simbak simbur banyu mata Pulan, diciumnya tangan pa haji, dipaluknya, dianggapnya asa kaya kuitan.

¤ ¤ ¤

Imbah tujuh tahun tumbang tumbalik bausaha saurang, badagang pancarikinan jua kaya pa haji, akhirnya kawa jua pina tanyaman. Kawa mambulikakan hutang mudal, manukar rumah, ma umrahakan mintuhanya. Limah imbah dua anaknya ganalan kawa jua batoko baju di pasar Sudimampir, bakakariditan mulai kumplik sampai ka handil. Singkat kata, naik ka atas putaran ruda kahidupan si Pulan wan Limah barakat cangkal barakat sabar.

Pas taluwalas sudah bilangan tahunnya Pulan bausaha di Banjar, handak ae bulik ka banua manjarahi kubur kawitan wan maliati adakah lagi mamarina wan kula-kula an nang masih hidupan.

Nang sakali ni Pulan tulak ba ampat baranak, si Utuh kalas 6 SD sudah, si Aluh kalas 1 SD

¤ ¤ ¤

Nah, tapaksa basambung kita ka episod salanjutnya, apa mun mangatik di hapi ni kada muat banyak karakternya.

Dan juga, maaf banget buat yang gak paham bahasa Banjar, cerita ini saya buat tanpa penjelasan/terjemahannya. Saya sendiri saja dibuat pusing juga karena ternyata tak mudah merangkai kata-kata jadi sebuah cerita dalam bahasa daerah.

RAMBUT KARACUNAN SAMPU

Nining Randa Balu ni sudah tuha, labih saparu baya limpat satangah abad. Kikira asa labih 65 umur sidin niya. Apa mun muha takariput, kulimbit pina kisut, pipi kimput, susu bakalirut.

Tapi bujur haja sidin tuha tapi masih liwar bigasnya, bajalan kada bungkuk apalagi pakai tungkat. Urang sidin maambil upah mangatam haja masih kawa kulihan sapuluh balik sahari, bairik, balabang, kaya urang anum jua.

Ngaran sidin ni sabujurnya Sariyah, tagal dikiyaw Nining Randa lantaran cucu sidin nang pangganalnya bangaran Miranda. Han, harat banar ngaran cucu sidin ni leh, kajadian pangaruh sinatrun di tipi pang. Amun Balu te artinya lantaran sidin janda, laki sidin (kai Ibus) mati ditimbak patir pas rahatan batanam talu walas tahun nang lalu.

Jadi leh Nining Randa ni ada lagi sapasal kaanihan dalam diri sidin nang tuha tu. Rambut sidin liwar hirangnya, sabilah kadada bahuban. Han, anih banar luku, padahal mun saumuran sidin tu ada nang putih sampai ka kaning-kaning.

Napa rahasia rambut sidin mahirang maikal mayang lacit ka pinggang te sakalinya matan kakanak bujangan sidin rajin bakasay rambut wan minyak lala, bila bakujamas sidin pakai santan dirasapakan hanyar dilibas langis-langis. Saban ari Jumahat musti sidin mambanam kuminting, ditumbuk dalam lasung gangsa lalu diambil minyaknya, hanyar dikulay ka rambut. Makanya liwar labat wan hirangnya rambut sidin.

Kada nangkaya kakanak wahini rami banar baribunding, sambung rambut sagalaan. Padahal rambut jadinya rahaw, karaw kaya sasapu haduk taculup di licak.

Pas kaya kalakuan Si Utuh, cucu Nining Randa nang paanumnya, nang umurnya hanyar lima walas tahun. Rambutnya habis bahabang-habang, jambulnya pina biru. Bamamang paniniyan maliat pacucuan gawian nangkaya urang kapir.

harajuku02.jpg

“Batuah banar ikam ni Tuh ay, rambut kalalangkaran warnanya hirang maka dikalir habang! Sah sudah, nyata kupala ikam ni KARACUNAN SAMPU !”

Papar sidin bagarunum, rambut bawarna tuti dikira sidin lantaran sampu gasan rambut bakujamas. Sidin kada tahu amun wahini rami mawarnai rambut pakai cat lampit supaya mirip wan bubuhan Japang atawa buyben Kuriya. . .

Dintu sakalinya. . .

Gambar mainta matan: ijs.blogspot.com