TOPIK PEMBICARAAN IBU-IBU KETIKA NGUMPUL BERSAMA

Haha. . . Akhir-akhir ini berasa jadi emak-emak banget (loh emang udah ibu-ibu kan?), total banget dan penuh penghayatan peran karena tiap hari kudu nungguin anak sekolah TK dan semakin intens bertemu sesama ibu-ibu. Biasa deh, kalo udah ngumpul pasti emak-emak pada rame, ngomong ngalor ngidul, curhat-curhat, sampe gosipin artis anu kayak udah kenal dekat dan tetanggaan aja ama tu artis.

Sebenarnya apa sih yang biasa diomongin ibu-ibu kok tiap hari bisa rame aja terus macam pasar kaget. Ok, ini dia:

1. MERTUA

Nah, ini sengaja saya pajang di list teratas karena dari hasil survey dan observasi harian saya sepertinya memang topik mertua bisa dikatakan selalu masuk headline di halaman utama para ibu-ibu (biasanya sih antara mama mertua dan menantu perempuan). Gak ada habisnya, gak ada matinya. Mulai dari mertua yang baik hati nan sayang menantu ( konon katanya sangat sedikit, sekitar 10% ) sampai yang paling banyak dan paling santer terdengar yakni tipikal mertua yang bisa jadi musuh besar bagi menantu. Gak tanggung-tanggung populasinya mencakup hampir 90% bahwa mertua dan menantu gak bisa akur.

Sentimen khas dua perempuan beda zaman yang mencintai satu lelaki ini terus menuai polemik, dilema, curhat dan topik gosip yang selalu up to date di mana saja. Jadi, rasanya memang tak berlebihan bila ada peribahasa:

Adam dan Hawa adalah manusia paling berbahagia karena tak punya mertua.

2. SEKSUALITAS

Siapa bilang yang suka omongan nyerempet-nyerempet hanya kaum lelaki saja?

Perempuan pun bisa jadi sangat ahli dalam membicarakan perihal teori dalam ranah paling pribadi ini. Menuai reaksi beragam, dari cekikikan penuh rahasia, bisik-bisik tetangga sampai ledakkan tawa yang dapat meneteskan airmata. Seksualitas dan proses reproduksi manusia memang bahasan yang mampu menegakkan daun telinga, soal praktek tergantung kepribadian masing-masing dan kreatifitas pasangan tentunya. Hoho. . .

3. RESE bin KEPO

Apaan sih coba? Bukan ibu-ibu namanya kalo gak bawel, memang ada juga sih ibu-ibu yang anteng yang gak suka ngurusin masalah orang lain tapi seringnya (termasuk mak admin) ya rese dan kepo. Hobi gosipin artis, ngomongin orang lain atau minimal kepo nanya-nanya sekedar

“kerudung pinknya bu Ita cantik deh, berapa belinya? Di mana? Ada warna lain gak, mau douwnk. . .”

Panjang deh ceritanya kalau udah gitu bisa merembet-rembet ke pasar lokal Tanah Abang atau ngoyo ke lokasi pelelangan di luar negeri.

4. FASHION

Namanya ibu-ibu, belum afdol kalo gak menyinggung soal fashion dan trend kekinian.

“Itu daleman jilbabnya apa jeng? Ciput ninja apa ciput renda? Celana yang oke apa ya, legging apa celana harem? High heels apa sendal teplek? Alisnya dilukis aja apa disulam?”

Rempong abis dah kalo udah bicara fashionnya perempuan, makanya Syahrini sempat ngehits banget dengan trend busana Kaftan, Abaya Renda dan Tudung Fatima.

Kalo ada teman ibu-ibu yang jeli melihat peluang ya segera deh, besoknya bawa-bawa aneka pakaian grosiran buat di kreditkan. Lumayan. Gak heran juga ntar pas akhir tahun ajaran ada cekcok dikit perihal kredit macet utang yang gak dilunasi.

5. ISI TV

Ini ni yang saban hari gak pernah ketinggalan didiskusikan. Dari infotainment tentang perceraian artis anu yang padahal baru beberapa bulan menikah. Sinetron pak haji yang terus nambah episode bersession-session sampai beberapa kali musim haji gak kelar-kelar, sekumpulan serigala yang ternyata ganteng parasnya, gegap gempita drama korea sampai doktrin ajaran kepercayaan yang mengundang kontroversi dari tanah para Dewa, nuansa cinta dari Jazirah India dan yang paling gress dan membius kaum hawa adalah telenovela Cinta di Musim Duren, King Leman, sinetron langsung impor dari eksotisme negeri Turki.

Beberapa ibu yang kritis juga gak ketinggalan menanggapi kebijakan pemerintah, kenaikah harga sembako dan juga merosotnya nilai Rupiah terhadap Dollar. Berat juga ya bahasannya, ibu-ibu juga bisa serius loh.

6. CURHAT SEGALA BIDANG, dsb

Pokoknya curhat aja, udah. Kemampuan berbicara kaum hawa kan emang lebih mumpuni dari laki-laki, jadi ya gak usah pake heran.

Membuat saya mikir sendiri, mungkin karena kemampuan wanita yang seperti inilah yang akan membuat kaum wanita jadi penghuni terbanyak di neraka. Naudzubillah.

PERGAULAN IBU-IBU DAN SEGALA KEANEHANNYA

Inilah dia, sepertinya memang hal inilah yang selalu ada dalam setiap pergaulan ibu-ibu yang tiap pagi menunggui anaknya sekolah TK. Bukan hal baru memang, juga sudah biasa, tapi tetap saja menghadirkan banyak cerita.

Sayapun tak luput dari ‘efek pergaulan’ ibu-ibu yang ngumpul enam hari dalam seminggu tiap pagi dari Senin sampai Sabtu ini. Karena anak saya belum bisa ditinggal sendiri di sekolahnya, maka otomatis saya jadi intens bertemu dan bergaul dengan para ibu-ibu yang macam-macam tingkah polahnya.

Tanpa saya jelaskan secara rincipun tentu para pemirsa budiman dapat membayangkan bagaimana riuh dan rempongnya suasana perkumpulan kaum ibu yang menunggui anaknya di sekolah (ghrgrrr. . . .).

Yang membuat saya tergerak menuliskan hal ini adalah karena suatu kejadian dimana anak-anak saat bermain lalu berujung pada pertengkaran. Namanya anak-anak ya kadang sering kelewatan bercandanya, rebutan apalah, kadang sampai berkelahi, kadang menangis atau malah sampai cidera ringan (mungkin sampai berat juga, walau jarang). Tapi hebatnya anak-anak, sebentar saja mereka bisa baikan lagi kok, marahannya gak pake lama dan gak dendam juga.

Nah, yang jadi bagian menariknya adalah ketika ibu-ibu yang anaknya lagi berselisih ini malah jadi ikut-ikutan ‘konslet’ juga. Masing-masing jadi pada keras kepala membela mati-matian anak masing-masing, ngotot gak mau kalah, gak peduli dan gak mau denger kalo masalah semacam itu gak usah dan gak baik dibesar-besarkan. Ibu-ibu tipikal begini bisa sampai berhari-hari bahkan bisa selamanya tetap mengumbar kebencian, saling beradu omelan dan hujatan tanpa peduli kalau anak-anak mereka sudah duduk sama-sama lagi, sudah main berdua lagi, sudah damai lagi. Ckckck. . .

Menghadapi ibu-ibu dengan karakter ‘pasukan berani mati dalam membela anak’ inilah yang sering membuat serba salah. Mereka taklid buta, yang penting adalah memandang anak mereka bersih tak bersalah, yang selalu salah adalah anak orang lain yang bresinggungan dengan anaknya (bahkan meskipun si anak memang terkenal usil dan sering mengganggu temannya tetap saja dibela), tak mau mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain mengenai itu. Kecenderungan inilah yang sangat membahayakan. Dan parahnya lagi, karena si ibu yang sering over reacted ini maka anaknya pun jadi bertindak manipulatif, mendramatisir keadaan dan selalu memposisikan diri sebagai korban, karena mereka merasa dibela jadinya besar kepala, menjadi Radja Ketjil Jang Tak Pernah Salah. Dari yang saya lihat dan pernah alami, anak-anak bisa jadi TA (Tukang Adu) yang semakin berpotensi meledakkan amarah dan naluri bela anak mati-matian ibunya yang salah kaprah itu semakin membara.

Duh. . . Susah juga ya kalo sudah berhadapan hal beginian. Dan itu belum lagi ditambah dengan tipikal ibu-ibu yang hobinya gosip plus adu domba (tipe manusia yang selalu ada di mana saja. Di mana saja pemirsa, di mana-mana!!). Dijamin tambah puanjaaaaaaaaaaaaaaang deh ceritanya. Kuota huruf lima ribu karakter di blog ponsel saya ini tentu tak akan cukup membahas semuanya. Haha. . .

Kita semua tahu, setiap ibu memang sangat menyayangi anaknya, walaupun anak-anak bisa salah, orang tua selalu bisa menerima dan memaafkan anaknya. Tapi kasih sayang inipun hendaknya jangan melebihi porsinya. Orang tua, terutama ibu harus bisa melihat dulu seperti apa sebenarnya hal yang terjadi dalam dunia anak-anak. Jangan sampai karena urusan anak membuat kita cekcok dengan teman, tetangga atau sesama ibu lainnya. Anak-anak juga harus dibiasakan untuk menghadapi masalah mereka sendiri dengan teman-temannya, jangan sedikit-sedikit orang tua turun tangan dan emosional (bahkan ada yang sampai melabrak guru yang mencoba meluruskan masalah anak-anak yang sedang bertengkar itu). Permasalahan hidup dan cara kita menghadapinya sekarang ini akan membentuk kehidupan mereka dimasa depan nantinya, dimana para orang tua tak bisa melindungi anak-anak mereka selamanya.

Hmm. . . Wallahualam.

KADANG (PERNIKAHAN)

Terkadang. . .

Kita hanya perlu berterimakasih dan meminta maaf.

Tapi mengapa itu begitu sulit?

Ini terasa seperti sesungguhnya.
Kita saling berteriak, memaki dan berkata benci.
Kita mulai saling menyakiti satu sama lain.
Meski saling menyimpan cinta yang sama besarnya.

Tapi kita bisa apa??

Kau bukan lagi jemari yang pernah menghapus airmata di pipi.
Yang jatuh lantaran hal- hal sepele yang ternyata menyedihkan.
Kau kini telah jadi penyebab turunnya airmata itu,
menjadi hujan. . .
yang tenggelam ditelan bantal semalaman.



A poetry inspired by :
Korean Drama FULL HOUSE

UNJUN PAIR; KEPERCAYAAN, MASKULINITAS DAN KENISCAYAAN KAUM LELAKI

Baca juga:
Pria dan Hobi yang Membuat Cemas Pasangan

Hampir 7 tahun lamanya bergelut dengan dunia perikanan dan segala tetek bengek pancing memancing, membuat saya tergerak untuk menulis tentang ini. Sebuah keniscayaan hidup dalam hobi kaum lelaki, yang masih diyakini bahwa wanita tak boleh sembarangan memasuki.

unjun-pair-kalai.jpg
Unjun Pair

Ada sebuah tragedi (kalau tak bisa dibilang aib yang sangat pamali dan mengerikan sekaligus memalukan) yang melatarbelakangi tulisan ini. Yaitu saya dengan tidak sengaja telah “terlintasi/terlangkahi (talingkang)” unjun pair (alat pancing ikan gabus yang terbuat dari bambu jenis tertentu yang diameter batangnya kecil dengan panjang 5-8 meter) yang jadi barang jualan suami saya. Dan naasnya kejadian itu dilihat oleh seorang calon pembeli yang amat sangat meyakini :

“bila unjun pair talingkang seorang wanita maka bisa tidak dapat memperoleh ikan lagi.” (kada pamatukan, lapah manating haja)

Saya tidak terima karena kepercayaan itu tidak berlaku jika lelaki yang malingkangnya. Saya merasa disudutkan dan terhina sebagai perempuan. Sayapun mendebat calon pembeli yang sudah terbilang tua itu karena kesal ketika beliau tanya “kamu tidak datang bulan kan?!” Karena kalau talingkang pas datang bulan dijamin unjun itu tak akan ada gunanya lagi, tak termaafkan dan tak terampuni. Dibuang saja sudah, terkutuk, najis, dan haram memakai unjun yang telah dilintasi wanita yang sedang datang bulan.

Jadi saya jawab ketus; “saya tidak sedang haid, dan kalau anda percaya hal itu ya itu bisa saja terjadi karena anda sangat meyakininya. Padahal itu hanya mitos, kepercayaan saja!!”

Tapi bapak itu kekeuh, tak jadi membeli unjun pilihannya yang tak sengaja saya lingkang tadi dan malah memilih unjun dalam ikatan yang lain. Dengan wajah tuanya yang kesal masih menyalahkan saya. Sukses membuat penyakit kambuhan SSG (Sindrom Sensitifitas Gender) saya kumat di tempat. Ckckck. . .

Benar-benar saya tak habis pikir. Hal sepele tentang perkara memancingpun bisa jadi sesuatu yang dengan mudahnya mendiskriminasi jenis kelamin perempuan. Dalam dunia memancing ikan gabus (maunjun pair iwak haruan) jelas sekali tak ada emansipasi berlaku di sini. Tak akan ada kesetaraan gender untuk hak yang sama dalam maunjun pair tak peduli seberapa pintar, piawai dan inginnya wanita menyentuhnya.

“Dunia memancing tradisional (yang hanya memakai bambu dan bukan joran pancing buatan pabrik berbahan fiber) dalam masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan amat lekat dengan mitos, mistis dan hal-hal tak masuk akal yang masih saja diyakini hingga detik ini. Unjun-unjun itu diperlakukan sedemikian rupa, dianggap istimewa, diyakini bertuah dan sakti dalam memancing kehadiran ikan yang besar-besar sampai tak sungkan dikeramatkan dan disayangi melebihi istri sendiri”.

“Unjun pair adalah simbol kedigdayaan dan maskulinitas kaum lelaki. Bukan hanya sekadar hobi, itu adalah sebuah eksistensi, sebuah keniscayaan tentang superioritas tertinggi yang hanya ada pada tangan lelaki dan perempuan tak berhak menandingi”.


Sebagai pelengkap postingan saya kali ini, berikut saya sertakan link video Basarang, kampung unjun yang telah saya unggah ke youtube.

KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR

Hmm. . .

Lama juga ya saya gak posting dan bersih-bersih di rumah maya ini, nyaris berdebu dan saya bersin pas masuk sini. Hatchii. . .
Kira-kira ada yang kangen saya tidak ya??

Kalo ada yang kangen ini saya kasih sun jauh dari Banjarmasin kota Seribu Sungai, tapi sunnya pakai bibir itik Sarati yang dagingnya gurih dimasak sambal habang itu. Cup cup ah, kweek. . .

Kali ini saya masih membahas tak jauh-jauh dari topik kemarin, masih tentang kehamilan dan segala tetek bengeknya.

Negeri ini memang tak terlepas dari segala macam adat istiadat, kebiasaan dan mitos yang masih dipercaya masyarakat, masing-masing daerah dan suku pasti punya, tak terkecuali di daerah saya. Tapi kali ini saya mengkhususkan pada hal yang diperuntukkan terutama bagi kaum perempuan. Secara umum, tujuan ritual-ritual adat dan hal-hal musykil yang dilakoni selama kehamilan ini adalah bertujuan agar diberi kemudahan melahirkan, bayi yang normal dsb.

Inilah beberapa KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR :

1.) CINCIN DI IBU JARI KAKI YANG TERBUAT DARI BEBERAPA HELAI BENANG HITAM

Setelah seorang istri diketahui pasti status kehamilannya maka biasanya ia diharuskan memakai cincin di ibu jari kakinya (saya lupa di kiri atau di kanan). Terbuat dari helaian benang hitam yang dililitkan dalam jumlah ganjil, 3, 5, 7 sampai 9 helai biasanya. Tujuannya agar tidak diganggu makhluk halus semisal Hantu Baranak (sejenis Sundel Bolong) yang suka dengan wanita hamil.

2.) BANYU BAYA

Ini adalah air putih biasa yang mungkin dibacakan atau ditiupkan sesuatu yang dimintakan pada bidan kampung atau tetuha masyarakat yang dihormati dan bisa menangani berbagai hal tentang kehamilan. Air ini bisa untuk diminum atau dimandikan. Lebih sering digunakan untuk kehamilan ke tiga (baya tiga, tapi bisa juga pas kehamilan pertama) karena dianggap sebagai bilangan ganjil dan rawan dengan berbagai gangguan kehamilan.

3.) MINYAK BANGSUL

Ini tak jauh berbeda dengan poin 2. Tapi ini berupa minyak yang harus dijilat/sedikit ditelan dan dioleskan ke perut dari atas ke bawah setiap pagi, dimulai sejak 7 bulan sampai melahirkan. Ini boleh untuk semua jenis kehamilan. Tujuannya agar mudah beranak dan lancar meluncur seperti minyak itu sendiri (orang Banjar bilang susurah/sasarahnya).

4.) MENANAM JARIYANGAW dan MENGIKAT TALI HADUK/IJUK

Ini sejenis tanaman pandan-pandanan yang biasa tumbuh di tanah yang berair, berbau menyengat berdaun lurus dan panjang. Ditanam di dekat rumah si ibu hamil agar tidak diganggu Kuyang (hantu wanita yang terbang hanya dengan kepala dan usus terburai yang suka makan bayi, darah dan tembuni/plasenta dari ibu yang melahirkan). Sedangkan tali haduk bisa diikatkan di sekeliling rumah di bagian bawah atau tongkat tiang penyangga.

5.) MANDI 7 BULANAN DAN MANDI KUCING

Ini adalah prosesi paling menggelikan, agak ngeri juga, yang pernah saya lihat. Mandi 7 bulanan biasanya hanya dari kalangan keturunan daerah tertentu yang melakoninya, seperti orang Nagara (salah satu daerah di Hulu Sungai, Kal Sel).

Prosesi ini sangat merepotkan dan terbuka untuk umum/undangan tetangga dan kerabat. Mandi dengan air bunga yang telah diberi jampi atau shalawat dsb, disiram dari kucuran sebuah mayang muda (pelepah buah kelapa yang belum terbuka) lalu kemudian dibelah dengan sekali tapak tangan. Prosesi injak telur, digosok banyu baya, air pelungsur oleh para tetuha wanita yang mana tangan mereka bebas mengubek-ubek tubuh si ibu hamil dari dada perut sampai ‘bawah’. Dan ibu hamilnya hanya memakai kain panjang batik (tapih bahalay) sebagai penutup tubuhnya (dan ini ditonton orang banyak loh, dijepret kamera juga), dipagari tebu yang digantungi uang, permen dan roti kering yang diperebutkan massa yang menonton.

Kalau mandi kucing adalah prosesi 7 bulanan yang lebih sederhana. Saya pernah melakoni yang ini karena keluarga saya dan suami bukan dari keturunan yang mengharuskan mandi seperti di atas. Jadi kita cukup membawa seekor kucing betina (lebih afdol jika kucingnya juga bunting). Diletakkan di pangkuan, membaca shalawat lalu byurr dengan air pas tengah hari Jum’at. Ini bisa dilakukan sendiri di kamar mandi. Hakikat hati adalah agar kita meneladani kemudahan kucing yang bisa sekali beranak lahir 3-5 ekor tanpa bantuan siapapun dan bayinya ‘malacung’ (melompat/keluar dengan mudahnya) seperti ketika si Kucing kena guyuran air. Begitu !

Anda percaya ??

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang sedikit di luar logika yang dilakukan para ibu hamil di daerah saya, tapi karena keterbatasan karakter di sebuah ponsel Java, maka apalah daya saya. Kiranya ini saja dulu sajian tulisan kali ini. Semoga bisa dijadikan sebagai khazanah keragaman eksotisme budaya tanah air, khususnya tanah Borneo dan tidak menjauhkan kita pada Sang Pencipta Segala, Allah Azza Wajalla.

BAWAAN BAYI ATAU BAWAAN MALAS ??

Ekhem!

Tes satu dua.

Tes ting tes ting, setetes langsung bunting.

Eh,

ibuhamil.gif
Gambar dari:
budak-keren.blogspot.com

Kalau biasanya saya rajin mengkritisi dan menilai secara subjektif, lebih menekan dan sedikit menyudutkan pria. Maka kali ini saya mau bawel, cerewet, ‘rese’ mengkritisi kaum saya, p e r e m p u a n.

Akhir-akhir ini saya sering dibuat ‘grrrh’, agak kesal gimana gitu lihat perangai dan lagaknya para ibu hamil. Kalau perihal ngidam yang tidak biasa di awal-awal kehamilan rasanya itu sudah lumrah dan biasa ya.

Tapi sekarang ini saya baru tahu kalau karena hamil si calon ibu bisa jadi maniak belanja, hobi jalan-jalan, makan di luar dan gak masak di rumah seharian.

Dan dalih yang paling shahih ya kata-kata sakti ”bawaan bayi, yang kalau tidak dituruti nanti anaknya bisa ileran, ngeces gak karuan”. Itu selalu jadi senjata pamungkas paling mandraguna agar para suami mau saja membiarkan para istri yang sedang bunting itu bertindak ‘semena-mena’.

Saya tahu kalau kondisi psikis ibu hamil rawan stres, gak boleh kelelahan dan butuh perhatian lebih dari orang-orang terdekat, terutama suami selaku oknum pelaku yang membuat bengkak kronis sembilan bulanan itu. Juga perlu pakaian baru ukuran jumbo untuk memuat perut yang membesar, pay*dara dan pinggul yang melebar. Tapi kok saya merasa agak kejam ya, kalau karena hamil para wanita jadi kemaruk dan konsumtif tiada tara yang tak ayal membuat para suami mengurut dada dan mengelus isi dompet yang isinya tinggal tak seberapa karena sedang kena sindrom tanggal tua.

Membuat saya bertanya, itu memang bawaan bayi atau bawaan malas??

Karena anehnya lagi siklus ‘ngidam mahal’ ini terus berlanjut sampai si orok lahir. Kalau pas hamil selalu makan di luar karena alasan bawaan bayi, maka pasca melahirkan dalihnya pasti tak lain tak bukan karena rempong dan repotnya mengurus bayi itu.

Herran saya, mungkin jaman emang udah berubah, kalo dulu perempuan hamil cukup puas dengan memakai daster jadul warisan ibu atau mertua yang sudah kadaluwarsa, maka sekarang lain lagi, baju hamilnya mesti beli yang teranyar di mall atawa butik ternama biar gak kucel dan tetap trendy macam sosialita. Dan ini bener-bener kalap, melewati batas.

Karenanya saya menulis ini (walau dengan resiko tinggi kemungkinan dicekal, ditimpuk kapstok atau gak diundang lagi di acara arisan oleh para tetangga dan ibu-ibu muda) agar para suami waspada dan para istri sadar diri supaya kehamilan tidak dijadikan senjata, alat pemuas keinginan yang sebenarnya tidak penting-penting amat dan cenderung sebagai tindakan pemborosan yang menyuburkan perilaku malas.

Bukan berarti ibu hamil tak berhak menikmati kesenangan, tapi yang sesuailah dan sewajarnya saja.

Beli baju hamilnya gak usah banyak-banyak, cuma dipakai beberapa bulan ini kok.

Juga gak usahlah beli high heels berjeti-jeti, toh bahaya kalo pas hamil memakainya, kalau entar kepeleset trus mrosot ke got, piye? Kalaupun niatnya bisa dipakai pasca melahirkan biasanya ukuran kaki berubah dari saat hamil.

Tengoklah suasana dapur dan rasakan betapa dinginnya tanpa sentuhan tangan wanita. Kurangilah aktivitas makan di luar dan jadikan memasak sebagai kegiatan yang menyenangkan.

“Memasak dan mengolah makanan sendiri bukan hanya sekedar urusan mengisi perut yang lapar. Tapi itu juga sebagai sarana pemenuhan gizi keluarga yang terjamin kebersihan dan higienitasnya.

Lebih dari itu, memasak dan menyediakan makanan sendiri adalah salah satu elemen pengendalian yang super penting dalam rumah tangga yang berfungsi untuk terus merekatkan cinta kasih sayang suami pada sang istri”.

Ciyee. . . Ciyee. . . Masakanmu tak terlupakan ! #melukwajanamapanci

Jadi, mau insyaf kan jadi ibu hamil yang pemalas, gak suka masak dan doyan ngemall ?

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Sebenarnya sudah lama sekali ingin mengangkat topik ini. Dulu-dulu sempat saya bicarakan di FB, eh ternyata ada juga pria yang mengomentari dan merasakan hal yang sama. Dari pembicaraan dengan teman-teman dan kerabat juga ada pengalaman yang seperti ini. Membuat saya merasa harus menulis ini dengan lebih serius dan sistematis (halah bahasanya!).

Oke, ladies and gentleman ini dia bahasan tentang

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Di tengah perkembangan dunia dan industri fashion terkini yang kian dinamis, kaum wanita dihadapkan pada berbagai pilihan untuk penampilan dan gaya hidup sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Perihal kebutuhan pokok manusia terhadap bahan sandang (pakaian) tak lagi melulu tentang menutup bagian tubuh yang tak pantas terlihat atau hanya melindungi dari gempuran cuaca panas dan dingin. Mode, ragam dan tata cara dalam hal berpakaian telah sejak lama menjadi trend, simbol dan ikon tersendiri pada masanya, hingga detik ini.

Lalu apa itu yang dimaksud dengan BAJU MENYESAL ??

Adalah pakaian yang entah mengapa setelah dibeli atau selesai dijahit membuat kita kurang puas, kurang suka untuk memakainya. Intinya baju menyesal (yang sebenarnya masih terbilang baru dan bagus) adalah kebalikan dari baju favorit kita (yang walau udah jelek, jadul dan bulukan tapi tetap enak dipakai) itu.

Sebuah pakaian bisa tiba-tiba menjadi baju menyesal karena banyak hal dan sebab. Beberapa diantaranya yaitu:

1. PERUBAHAN BERAT BADAN

Bisa karena menjadi kurus atau gemuk.

Ini persis seperti yang saya alami sekarang ini. Sejak 2 tahun terakhir pasca saya berhenti memberi ASI pada si bungsu, berat badan melonjak drastis dari angka 54 kg (bobot dan pose ideal saya yang gak jauh beda sama Arzetti Bilbina atawa Nadine Chandrawinata; seksi dan slim tak terperi) ke 69 kg (bentuk fisik saya paling mutakhir nan termontok dan bohay tak tertahankan) pemirsa!

Maka jadilah ladies, banyak baju menyesal mendadak yang mesti didiskualifikasi dari arena etalase pajangan lemari yang amat saya cintai. Terhitung ada 6 lembar celana jins keramat, 3 rok bertuah, belasan atasan dan beberapa baju panjang, jubah, gamis yang mesti saya lantunkan sayonaraaa. . . Suksesss menjadi sesak, tak muat dan tak terpakai lagi.

Menjadi salah satu fase tergalau paling nyesek nomor 27 dalam hidup wanita (setelah liat mantan kita pacaran ama sahabat yang ada di urutan 26), yaitu perasaan sedih itu ketika menyaksikan pakaian yang kita cintai tak akan terpakai lagi.

2. PASARAN

Salah satu indikator kalo sesuatu itu sedang tren adalah dari banyaknya orang yang memakainya. Apa iya?

Tapi kalo misalnya dalam satu acara atau kemana-mana banyaknya orang memakai pakaian yang serupa itu, walau gak sama persis, pasti ada dong perasaan aneh itu. Apalagi kalo tren itu bertahan lama, dijamin dah mending punya kita dimuseumkan aja. Haha. . .

3. BAJU KEMBARAN

Ini ni yang bisa bikin shock therapy level tertinggi dan membuat wanita bisa uring-uringan gak jelas selama empatbelas hari dikamar gara-gara pas di acara hajatan atau pesta teman, kita make baju sama persis dengan yang dipakai musuh bebuyutan atau gebetan barunya si mantan.

Asli nyesek pilu deh, apalagi tu baju gak murah dan beli di distro yang diklaim pramuniaganya limited edition. Ini gak dimuseumkan lagi, bisa langsung masukin kardus buat sumbangan korban bencana alam atau panti asuhan.

4. KURANG PUAS DENGAN KONDISI PAKAIAN

Pernah gak setelah beli baju kok tiba-tiba ada yang rasa gak enak, gak pede saat memakainya? Padahal pas mau beli udah dicoba dan oke saja. Atau sudah empat kali bolak balik sampai ileran menjelaskan ke tukang jahitnya, pas tu baju udah selesai eh kok kurang sreg saat dipakai.

Pernahkan pasti?

Kalau saya sering, membuat saya menangisi malam-malam buta saat anak-anak dan bapaknya sudah tidur, memandangi pakaian itu sembari memutar otak sampai 7 kali lapangan sepak takraw dan mikir serius ini baju salahnya apa yak? Kok bisa gak enak dipakainya.

Maka jadilah selama masa aktifnya baju itu bisa jadi jablay abadi yang ditinggal bang Toyib tiga abad, tak tersentuh ladies. Sungguh mengenaskan.

Hal-hal semacam inilah yang membuat saya mendadak kerasukan dan bercita-cita ingin jadi desainer handal sekelas Dian Pelangi atawa Ivan Gunawan. Haha. . . Tapi bagaimana mungkin, membaca saja aku sulit. . . Eh, menjahit saja saya tak bisa. Habisnya kesal juga kelamaan jadi kolektor baju menyesal, walau sudah banyak yang dihibahkan ke orang yang lebih membutuhkan, tetap saja sakitnya tu di sini. Iya to?

Nah, ini ceritaku, apa ceritamu? Baju seperti apa yang membuatmu memberinya label menyesal?