UNJUN PAIR; KEPERCAYAAN, MASKULINITAS DAN KENISCAYAAN KAUM LELAKI

Baca juga:
Pria dan Hobi yang Membuat Cemas Pasangan

Hampir 7 tahun lamanya bergelut dengan dunia perikanan dan segala tetek bengek pancing memancing, membuat saya tergerak untuk menulis tentang ini. Sebuah keniscayaan hidup dalam hobi kaum lelaki, yang masih diyakini bahwa wanita tak boleh sembarangan memasuki.

unjun-pair-kalai.jpg
Unjun Pair

Ada sebuah tragedi (kalau tak bisa dibilang aib yang sangat pamali dan mengerikan sekaligus memalukan) yang melatarbelakangi tulisan ini. Yaitu saya dengan tidak sengaja telah “terlintasi/terlangkahi (talingkang)” unjun pair (alat pancing ikan gabus yang terbuat dari bambu jenis tertentu yang diameter batangnya kecil dengan panjang 5-8 meter) yang jadi barang jualan suami saya. Dan naasnya kejadian itu dilihat oleh seorang calon pembeli yang amat sangat meyakini :

“bila unjun pair talingkang seorang wanita maka bisa tidak dapat memperoleh ikan lagi.” (kada pamatukan, lapah manating haja)

Saya tidak terima karena kepercayaan itu tidak berlaku jika lelaki yang malingkangnya. Saya merasa disudutkan dan terhina sebagai perempuan. Sayapun mendebat calon pembeli yang sudah terbilang tua itu karena kesal ketika beliau tanya “kamu tidak datang bulan kan?!” Karena kalau talingkang pas datang bulan dijamin unjun itu tak akan ada gunanya lagi, tak termaafkan dan tak terampuni. Dibuang saja sudah, terkutuk, najis, dan haram memakai unjun yang telah dilintasi wanita yang sedang datang bulan.

Jadi saya jawab ketus; “saya tidak sedang haid, dan kalau anda percaya hal itu ya itu bisa saja terjadi karena anda sangat meyakininya. Padahal itu hanya mitos, kepercayaan saja!!”

Tapi bapak itu kekeuh, tak jadi membeli unjun pilihannya yang tak sengaja saya lingkang tadi dan malah memilih unjun dalam ikatan yang lain. Dengan wajah tuanya yang kesal masih menyalahkan saya. Sukses membuat penyakit kambuhan SSG (Sindrom Sensitifitas Gender) saya kumat di tempat. Ckckck. . .

Benar-benar saya tak habis pikir. Hal sepele tentang perkara memancingpun bisa jadi sesuatu yang dengan mudahnya mendiskriminasi jenis kelamin perempuan. Dalam dunia memancing ikan gabus (maunjun pair iwak haruan) jelas sekali tak ada emansipasi berlaku di sini. Tak akan ada kesetaraan gender untuk hak yang sama dalam maunjun pair tak peduli seberapa pintar, piawai dan inginnya wanita menyentuhnya.

“Dunia memancing tradisional (yang hanya memakai bambu dan bukan joran pancing buatan pabrik berbahan fiber) dalam masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan amat lekat dengan mitos, mistis dan hal-hal tak masuk akal yang masih saja diyakini hingga detik ini. Unjun-unjun itu diperlakukan sedemikian rupa, dianggap istimewa, diyakini bertuah dan sakti dalam memancing kehadiran ikan yang besar-besar sampai tak sungkan dikeramatkan dan disayangi melebihi istri sendiri”.

“Unjun pair adalah simbol kedigdayaan dan maskulinitas kaum lelaki. Bukan hanya sekadar hobi, itu adalah sebuah eksistensi, sebuah keniscayaan tentang superioritas tertinggi yang hanya ada pada tangan lelaki dan perempuan tak berhak menandingi”.


Sebagai pelengkap postingan saya kali ini, berikut saya sertakan link video Basarang, kampung unjun yang telah saya unggah ke youtube.

KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR

Hmm. . .

Lama juga ya saya gak posting dan bersih-bersih di rumah maya ini, nyaris berdebu dan saya bersin pas masuk sini. Hatchii. . .
Kira-kira ada yang kangen saya tidak ya??

Kalo ada yang kangen ini saya kasih sun jauh dari Banjarmasin kota Seribu Sungai, tapi sunnya pakai bibir itik Sarati yang dagingnya gurih dimasak sambal habang itu. Cup cup ah, kweek. . .

Kali ini saya masih membahas tak jauh-jauh dari topik kemarin, masih tentang kehamilan dan segala tetek bengeknya.

Negeri ini memang tak terlepas dari segala macam adat istiadat, kebiasaan dan mitos yang masih dipercaya masyarakat, masing-masing daerah dan suku pasti punya, tak terkecuali di daerah saya. Tapi kali ini saya mengkhususkan pada hal yang diperuntukkan terutama bagi kaum perempuan. Secara umum, tujuan ritual-ritual adat dan hal-hal musykil yang dilakoni selama kehamilan ini adalah bertujuan agar diberi kemudahan melahirkan, bayi yang normal dsb.

Inilah beberapa KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR :

1.) CINCIN DI IBU JARI KAKI YANG TERBUAT DARI BEBERAPA HELAI BENANG HITAM

Setelah seorang istri diketahui pasti status kehamilannya maka biasanya ia diharuskan memakai cincin di ibu jari kakinya (saya lupa di kiri atau di kanan). Terbuat dari helaian benang hitam yang dililitkan dalam jumlah ganjil, 3, 5, 7 sampai 9 helai biasanya. Tujuannya agar tidak diganggu makhluk halus semisal Hantu Baranak (sejenis Sundel Bolong) yang suka dengan wanita hamil.

2.) BANYU BAYA

Ini adalah air putih biasa yang mungkin dibacakan atau ditiupkan sesuatu yang dimintakan pada bidan kampung atau tetuha masyarakat yang dihormati dan bisa menangani berbagai hal tentang kehamilan. Air ini bisa untuk diminum atau dimandikan. Lebih sering digunakan untuk kehamilan ke tiga (baya tiga, tapi bisa juga pas kehamilan pertama) karena dianggap sebagai bilangan ganjil dan rawan dengan berbagai gangguan kehamilan.

3.) MINYAK BANGSUL

Ini tak jauh berbeda dengan poin 2. Tapi ini berupa minyak yang harus dijilat/sedikit ditelan dan dioleskan ke perut dari atas ke bawah setiap pagi, dimulai sejak 7 bulan sampai melahirkan. Ini boleh untuk semua jenis kehamilan. Tujuannya agar mudah beranak dan lancar meluncur seperti minyak itu sendiri (orang Banjar bilang susurah/sasarahnya).

4.) MENANAM JARIYANGAW dan MENGIKAT TALI HADUK/IJUK

Ini sejenis tanaman pandan-pandanan yang biasa tumbuh di tanah yang berair, berbau menyengat berdaun lurus dan panjang. Ditanam di dekat rumah si ibu hamil agar tidak diganggu Kuyang (hantu wanita yang terbang hanya dengan kepala dan usus terburai yang suka makan bayi, darah dan tembuni/plasenta dari ibu yang melahirkan). Sedangkan tali haduk bisa diikatkan di sekeliling rumah di bagian bawah atau tongkat tiang penyangga.

5.) MANDI 7 BULANAN DAN MANDI KUCING

Ini adalah prosesi paling menggelikan, agak ngeri juga, yang pernah saya lihat. Mandi 7 bulanan biasanya hanya dari kalangan keturunan daerah tertentu yang melakoninya, seperti orang Nagara (salah satu daerah di Hulu Sungai, Kal Sel).

Prosesi ini sangat merepotkan dan terbuka untuk umum/undangan tetangga dan kerabat. Mandi dengan air bunga yang telah diberi jampi atau shalawat dsb, disiram dari kucuran sebuah mayang muda (pelepah buah kelapa yang belum terbuka) lalu kemudian dibelah dengan sekali tapak tangan. Prosesi injak telur, digosok banyu baya, air pelungsur oleh para tetuha wanita yang mana tangan mereka bebas mengubek-ubek tubuh si ibu hamil dari dada perut sampai ‘bawah’. Dan ibu hamilnya hanya memakai kain panjang batik (tapih bahalay) sebagai penutup tubuhnya (dan ini ditonton orang banyak loh, dijepret kamera juga), dipagari tebu yang digantungi uang, permen dan roti kering yang diperebutkan massa yang menonton.

Kalau mandi kucing adalah prosesi 7 bulanan yang lebih sederhana. Saya pernah melakoni yang ini karena keluarga saya dan suami bukan dari keturunan yang mengharuskan mandi seperti di atas. Jadi kita cukup membawa seekor kucing betina (lebih afdol jika kucingnya juga bunting). Diletakkan di pangkuan, membaca shalawat lalu byurr dengan air pas tengah hari Jum’at. Ini bisa dilakukan sendiri di kamar mandi. Hakikat hati adalah agar kita meneladani kemudahan kucing yang bisa sekali beranak lahir 3-5 ekor tanpa bantuan siapapun dan bayinya ‘malacung’ (melompat/keluar dengan mudahnya) seperti ketika si Kucing kena guyuran air. Begitu !

Anda percaya ??

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang sedikit di luar logika yang dilakukan para ibu hamil di daerah saya, tapi karena keterbatasan karakter di sebuah ponsel Java, maka apalah daya saya. Kiranya ini saja dulu sajian tulisan kali ini. Semoga bisa dijadikan sebagai khazanah keragaman eksotisme budaya tanah air, khususnya tanah Borneo dan tidak menjauhkan kita pada Sang Pencipta Segala, Allah Azza Wajalla.

BAWAAN BAYI ATAU BAWAAN MALAS ??

Ekhem!

Tes satu dua.

Tes ting tes ting, setetes langsung bunting.

Eh,

ibuhamil.gif
Gambar dari:
budak-keren.blogspot.com

Kalau biasanya saya rajin mengkritisi dan menilai secara subjektif, lebih menekan dan sedikit menyudutkan pria. Maka kali ini saya mau bawel, cerewet, ‘rese’ mengkritisi kaum saya, p e r e m p u a n.

Akhir-akhir ini saya sering dibuat ‘grrrh’, agak kesal gimana gitu lihat perangai dan lagaknya para ibu hamil. Kalau perihal ngidam yang tidak biasa di awal-awal kehamilan rasanya itu sudah lumrah dan biasa ya.

Tapi sekarang ini saya baru tahu kalau karena hamil si calon ibu bisa jadi maniak belanja, hobi jalan-jalan, makan di luar dan gak masak di rumah seharian.

Dan dalih yang paling shahih ya kata-kata sakti ”bawaan bayi, yang kalau tidak dituruti nanti anaknya bisa ileran, ngeces gak karuan”. Itu selalu jadi senjata pamungkas paling mandraguna agar para suami mau saja membiarkan para istri yang sedang bunting itu bertindak ‘semena-mena’.

Saya tahu kalau kondisi psikis ibu hamil rawan stres, gak boleh kelelahan dan butuh perhatian lebih dari orang-orang terdekat, terutama suami selaku oknum pelaku yang membuat bengkak kronis sembilan bulanan itu. Juga perlu pakaian baru ukuran jumbo untuk memuat perut yang membesar, pay*dara dan pinggul yang melebar. Tapi kok saya merasa agak kejam ya, kalau karena hamil para wanita jadi kemaruk dan konsumtif tiada tara yang tak ayal membuat para suami mengurut dada dan mengelus isi dompet yang isinya tinggal tak seberapa karena sedang kena sindrom tanggal tua.

Membuat saya bertanya, itu memang bawaan bayi atau bawaan malas??

Karena anehnya lagi siklus ‘ngidam mahal’ ini terus berlanjut sampai si orok lahir. Kalau pas hamil selalu makan di luar karena alasan bawaan bayi, maka pasca melahirkan dalihnya pasti tak lain tak bukan karena rempong dan repotnya mengurus bayi itu.

Herran saya, mungkin jaman emang udah berubah, kalo dulu perempuan hamil cukup puas dengan memakai daster jadul warisan ibu atau mertua yang sudah kadaluwarsa, maka sekarang lain lagi, baju hamilnya mesti beli yang teranyar di mall atawa butik ternama biar gak kucel dan tetap trendy macam sosialita. Dan ini bener-bener kalap, melewati batas.

Karenanya saya menulis ini (walau dengan resiko tinggi kemungkinan dicekal, ditimpuk kapstok atau gak diundang lagi di acara arisan oleh para tetangga dan ibu-ibu muda) agar para suami waspada dan para istri sadar diri supaya kehamilan tidak dijadikan senjata, alat pemuas keinginan yang sebenarnya tidak penting-penting amat dan cenderung sebagai tindakan pemborosan yang menyuburkan perilaku malas.

Bukan berarti ibu hamil tak berhak menikmati kesenangan, tapi yang sesuailah dan sewajarnya saja.

Beli baju hamilnya gak usah banyak-banyak, cuma dipakai beberapa bulan ini kok.

Juga gak usahlah beli high heels berjeti-jeti, toh bahaya kalo pas hamil memakainya, kalau entar kepeleset trus mrosot ke got, piye? Kalaupun niatnya bisa dipakai pasca melahirkan biasanya ukuran kaki berubah dari saat hamil.

Tengoklah suasana dapur dan rasakan betapa dinginnya tanpa sentuhan tangan wanita. Kurangilah aktivitas makan di luar dan jadikan memasak sebagai kegiatan yang menyenangkan.

“Memasak dan mengolah makanan sendiri bukan hanya sekedar urusan mengisi perut yang lapar. Tapi itu juga sebagai sarana pemenuhan gizi keluarga yang terjamin kebersihan dan higienitasnya.

Lebih dari itu, memasak dan menyediakan makanan sendiri adalah salah satu elemen pengendalian yang super penting dalam rumah tangga yang berfungsi untuk terus merekatkan cinta kasih sayang suami pada sang istri”.

Ciyee. . . Ciyee. . . Masakanmu tak terlupakan ! #melukwajanamapanci

Jadi, mau insyaf kan jadi ibu hamil yang pemalas, gak suka masak dan doyan ngemall ?

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Sebenarnya sudah lama sekali ingin mengangkat topik ini. Dulu-dulu sempat saya bicarakan di FB, eh ternyata ada juga pria yang mengomentari dan merasakan hal yang sama. Dari pembicaraan dengan teman-teman dan kerabat juga ada pengalaman yang seperti ini. Membuat saya merasa harus menulis ini dengan lebih serius dan sistematis (halah bahasanya!).

Oke, ladies and gentleman ini dia bahasan tentang

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Di tengah perkembangan dunia dan industri fashion terkini yang kian dinamis, kaum wanita dihadapkan pada berbagai pilihan untuk penampilan dan gaya hidup sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Perihal kebutuhan pokok manusia terhadap bahan sandang (pakaian) tak lagi melulu tentang menutup bagian tubuh yang tak pantas terlihat atau hanya melindungi dari gempuran cuaca panas dan dingin. Mode, ragam dan tata cara dalam hal berpakaian telah sejak lama menjadi trend, simbol dan ikon tersendiri pada masanya, hingga detik ini.

Lalu apa itu yang dimaksud dengan BAJU MENYESAL ??

Adalah pakaian yang entah mengapa setelah dibeli atau selesai dijahit membuat kita kurang puas, kurang suka untuk memakainya. Intinya baju menyesal (yang sebenarnya masih terbilang baru dan bagus) adalah kebalikan dari baju favorit kita (yang walau udah jelek, jadul dan bulukan tapi tetap enak dipakai) itu.

Sebuah pakaian bisa tiba-tiba menjadi baju menyesal karena banyak hal dan sebab. Beberapa diantaranya yaitu:

1. PERUBAHAN BERAT BADAN

Bisa karena menjadi kurus atau gemuk.

Ini persis seperti yang saya alami sekarang ini. Sejak 2 tahun terakhir pasca saya berhenti memberi ASI pada si bungsu, berat badan melonjak drastis dari angka 54 kg (bobot dan pose ideal saya yang gak jauh beda sama Arzetti Bilbina atawa Nadine Chandrawinata; seksi dan slim tak terperi) ke 69 kg (bentuk fisik saya paling mutakhir nan termontok dan bohay tak tertahankan) pemirsa!

Maka jadilah ladies, banyak baju menyesal mendadak yang mesti didiskualifikasi dari arena etalase pajangan lemari yang amat saya cintai. Terhitung ada 6 lembar celana jins keramat, 3 rok bertuah, belasan atasan dan beberapa baju panjang, jubah, gamis yang mesti saya lantunkan sayonaraaa. . . Suksesss menjadi sesak, tak muat dan tak terpakai lagi.

Menjadi salah satu fase tergalau paling nyesek nomor 27 dalam hidup wanita (setelah liat mantan kita pacaran ama sahabat yang ada di urutan 26), yaitu perasaan sedih itu ketika menyaksikan pakaian yang kita cintai tak akan terpakai lagi.

2. PASARAN

Salah satu indikator kalo sesuatu itu sedang tren adalah dari banyaknya orang yang memakainya. Apa iya?

Tapi kalo misalnya dalam satu acara atau kemana-mana banyaknya orang memakai pakaian yang serupa itu, walau gak sama persis, pasti ada dong perasaan aneh itu. Apalagi kalo tren itu bertahan lama, dijamin dah mending punya kita dimuseumkan aja. Haha. . .

3. BAJU KEMBARAN

Ini ni yang bisa bikin shock therapy level tertinggi dan membuat wanita bisa uring-uringan gak jelas selama empatbelas hari dikamar gara-gara pas di acara hajatan atau pesta teman, kita make baju sama persis dengan yang dipakai musuh bebuyutan atau gebetan barunya si mantan.

Asli nyesek pilu deh, apalagi tu baju gak murah dan beli di distro yang diklaim pramuniaganya limited edition. Ini gak dimuseumkan lagi, bisa langsung masukin kardus buat sumbangan korban bencana alam atau panti asuhan.

4. KURANG PUAS DENGAN KONDISI PAKAIAN

Pernah gak setelah beli baju kok tiba-tiba ada yang rasa gak enak, gak pede saat memakainya? Padahal pas mau beli udah dicoba dan oke saja. Atau sudah empat kali bolak balik sampai ileran menjelaskan ke tukang jahitnya, pas tu baju udah selesai eh kok kurang sreg saat dipakai.

Pernahkan pasti?

Kalau saya sering, membuat saya menangisi malam-malam buta saat anak-anak dan bapaknya sudah tidur, memandangi pakaian itu sembari memutar otak sampai 7 kali lapangan sepak takraw dan mikir serius ini baju salahnya apa yak? Kok bisa gak enak dipakainya.

Maka jadilah selama masa aktifnya baju itu bisa jadi jablay abadi yang ditinggal bang Toyib tiga abad, tak tersentuh ladies. Sungguh mengenaskan.

Hal-hal semacam inilah yang membuat saya mendadak kerasukan dan bercita-cita ingin jadi desainer handal sekelas Dian Pelangi atawa Ivan Gunawan. Haha. . . Tapi bagaimana mungkin, membaca saja aku sulit. . . Eh, menjahit saja saya tak bisa. Habisnya kesal juga kelamaan jadi kolektor baju menyesal, walau sudah banyak yang dihibahkan ke orang yang lebih membutuhkan, tetap saja sakitnya tu di sini. Iya to?

Nah, ini ceritaku, apa ceritamu? Baju seperti apa yang membuatmu memberinya label menyesal?

ANTARA SAYA, BERAT BADAN DAN MEGHAN TRAINOR (Review Lagu All About that Bass)

Because you know I’m all about that bass Bout that bass, no treble.
4 x

Yeah, it’s pretty clear, I ain’t no size two. But I can shake it, shake it Like I’m supposed to do. Cause I got that boom boom that all the boys chase. And all the right junk in all the right places.

I see the magazine, workin’ that Photoshop. We know that shit ain’t real. C’mon now, make it stop If you got beauty beauty, just raise ’em up. Cause every inch of you is perfect. From the bottom to the top.

Yeah, my mama she told me don’t worry about your size. She says boys like a little more booty to hold at night. You know I won’t be no stick figure silicone Barbie doll. So if that’s what you’re into then go ahead and move along.

Because you know I’m All about that bass Bout that bass, no treble.
4 x

Hey!

I’m bringing booty back, Go ahead and tell them skinny bitches that. No I’m just playing I know you think you’re fat. But I’m here to tell ya, Every inch of you is perfect from the bottom to the top.

_____

Karena kau tahu aku amat suka bas ‘Amat suka bas, bukannya trebel.
4 x

Yeah jelas sekali, ukuranku bukan nomor dua. Tapi bisa kugoyang, bisa kugoyang seperti seharusnya. Karena kumiliki jedam jedum yang dikejar semua cowok. Sampah yang tepat di tempat yang tepat.

Kulihat majalah menggunakan Photoshop (editan.) Kita tahu semua itu bohong belaka. Ayolah, hentikanlah. Jika kau punya kecantikan, munculkanlah. Karena setiap inci dirimu itu sempurna. Dari bawah sampai atas.

Yeah, ibuku, dia bilang jangan pusing dengan ukuranmu. Dia bilang, para cowok lebih suka pantat yang lebih besar untuk didekap di waktu malam. Kau tahu aku takkan bertubuh lurus, boneka Barbie silikon. Jadi, jika itu yang kau kejar, Maka pergilah dan lanjutkanlah.

Kau tahu aku amat suka Bass, bukannya trebel. Amat suka bas bukannya trebel.
4 x

Hey!

Kan kukembalikan …. (?)
Ayo teruskanlah, katakan pada mereka yang kurus itu. Tidak, aku hanya main-main aku tahu kau pikir dirimu gendut. Tapi aku di sini tuk memberitahumu bahwa Setiap inci dirimu itu sempurna dari bawah sampai atas.

Terjemah-Lirik-Lagu-Barat

__

Videonya bisa ditengok DI SINI



Blak-blakan, apa adanya, berani, vulgar dan jauh meloncat dari pakem yang telah ada dan diyakini selama ini.

Itulah kesan saya ketika kali pertama menyaksikan video klip lagu ini di TV. Sukses membuat saya mengobok-obok isi kantong Google dan YouTube, memburu video dan liriknya. Dan sukses yang lebih drastis lagi adalah kemampuan lagu yang bernada ceria dan ngebeat ini membuat rasa percaya diri saya naik mencapai atap rumah tetangga, terbang dengan ringannya meski dengan bobot saya yang 70 kg ini.

Hahay. . . Mendadak saya merasa cantik, merasa dicintai karena saya mencintai diri saya sendiri. Tak perlu dijelaskanpun liriknya telah cukup menjelaskankan dengan gamblang bagaimana rasanya jadi wanita berbadan berisi yang harus bertahan hidup dalam ukuran kecantikan dan standar industri fashion dan kosmetik yang mengkultuskan tubuh ideal sekurus selangsing manekin, seimut boneka Barbie.

Ughh!

Seakan kurus dan langsing itu keharusan, sehingga jamak terjadi ritual permak tubuh yang menyakitkan dan menguras biaya. Agak kejam rasanya ketika di dunia perempuan kerap mengatakan dan meyakini bahwa :

” Kecantikan diciptakan bukan dilahirkan, dan tak ada pencapaian tanpa rasa sakit.”

Jangan ladies! Stop! Berhentilah menyakiti diri demi tujuan penampilan nan cantik itu.

Meski kabarnya lagu ini menuai protes yang datang justru dari kalangan feminis karena dinilai menyudutkan wanita yang langsing (karena kuatnya pledoi dalam lirik lagunya atas wanita gemuk yang selama ini juga tak jarang seakan dianaktirikan dari dunia fashion dan lekat dengan diskriminasi), tapi lagu ini telah menggugah dan menginspirasi saya, dan amat sangat mewakili perasaan dan diri saya yang tahu benar rasanya _dibully bahkan dibuat merasa bersalah dan tak nyaman atas apa yang saya makan dan lakukan karena anggapan orang_ ketika jarum timbangan terus bergeser ke kanan dan amat sulit jika harus membuatnya ke kiri lagi.

Meghan Trainor sendiri dari yang bisa kita semua lihat adalah gadis muda yang manis dan menarik meski tubuhnya memang berisi tapi setiap wanita seksi dengan cara dan gayanya sendiri. Mau kurus ataupun gemuk semua punya plus minusnya masing-masing, apalagi jika mulai memasuki ranah kecantikan, hubungan dengan lawan jenis dan sensualitas.

So, selama gemuk tak membawa masalah dan tetap sehat, pede aja lagii, karena,

Yeah, my mama she told me don’t worry about your size. . .
She says boys like a little more booty to hold at night. . .
(Aw aw aw. . .)

SEBUAH CATATAN DARI DAN UNTUK PEREMPUAN (LELAKI WAJIB BACA !!)

Aneh ya?
Judulnya terkesan maksa banget, tapi tak apalah karena memang itu misi dari tulisan ini; membuka tabir kesadaran nurani dan pintu hati lelaki/suami. Hohoho. . .

Kurang lebih sejak 1,5 tahun yang lalu saya menulis di blog ini, dan memberanikan diri untuk melihat bagaimana tanggapan orang-orang atas apa yang saya tuliskan. Ada secercah harapan dan ada semacam euforia yang membuncah dalam jiwa saya.

Apa yang saya tuliskan, sebagian besar berupa pengalaman dan hasil pengamatan lingkungan sosial masyarakat, telah membuat para perempuan di luar sana sudi membacanya, memberikan opini, sharing pengalaman dan saling curhat juga di blog ini. Semakin menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata saya tidak sendiri.

Kita adalah perempuan yang dapat saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman hidup nan berharga.

Karena itulah saya ingin terus menulis, menyuarakan gaung jiwa kaum hawa yang sering hanya terdiam di balik pintu rumahnya tapi menyimpan gelegak di dalam dada.

Saya ingin terus menulis, menegaskan hakikat sebuah eksistensi bahwasanya perempuan tidak sendirian. Ia ditemani cinta, dikawal rasa suka cita yang diharapkan mampu menjadi bekal dalam menjalani hari-hari tergelap dalam hidup yang sarat muatan derita.

Kita masih bisa saling berbagi airmata dan bersama-sama menghapusnya, menyadari bahwa esok masih ada matahari.

Suara-suara kaum perempuan yang kerap tertelan oleh ketegasan otoritas lelaki yang ia sebut suami. Kepatuhan tanpa cela yang harus selalu berusaha dipenuhi dalam lingkaran kewajiban, kodrat dan bakti. Semua itu ada dalam lingkaran harmoni yang mesti saling menunjang dan melengkapi tanpa ada niatan sedikitpun untuk merasa lebih hebat atau lebih tinggi.

Karena itulah, tulisan-tulisan ini adalah suara hati saya sebagai seorang perempuan, seorang istri sekaligus seorang ibu yang ingin didengar, dipercaya dan lebih diperhatikan oleh keadaan yang seringkali berat sebelah dan hanya berpihak pada superioritas kaum lelaki.

Sebuah perenungan yang dalam tentang refleksi kehidupan seorang perempuan;

Wanita dan problematika rumah tangga:

Semua Profesi Ada Di sini

Antara Mitos dan Fakta Pasca Melahirkan

Antara Mertua VS Menantu

Ketika Pria Ingin Menikah (lagi)

Pria dan Hobi yang membuat Cemas Pasangan

Wahai Para Suami, Banyak Berbaik Hatilah pada Istrimu

Cerewetnya Wanita dan Sembrononya Pria

Ibu Rumah Tangga dan Teknologi

Seorang Ibu Rumah Tangga dan Blognya

Fiksi dan cerita pendek tentang perempuan:

Lautan Kasih Tanpa Batas

Mendung Kelabu di Mata Ibu

Hari-hari Ariana

Satu Malam Jelang Lebaran Haji

Wanita dan Kecantikan:

Antara Wanita, Kecantikan dan Riasan Wajah

Menguak Misteri Penyebab Kenaikan Berat Badan Wanita setelah Menikah

Ibu dan anak:

Tangan Ibu dan Kerepotan pasca Melahirkan

Anak Perempuan; Cobaan dan Ujian Akhir Zaman

Ketika Jumlah Anak Terus Bertambah

ASI VS Susu Formula

Surat Buat Bapak

Sebenarnya masih banyak link yang hendak saya bagikan tentang dunia perempuan dan segala problematikanya, tapi sementara ini cukup sampai di sini saja. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

SELEBRASI PASCA MELAHIRKAN

Setelah 9 bulan lamanya menikmati momen menakjubkan sebuah kehamilan, kini tiba saatnya menyambut kehadiran si buah hati. Kegembiraan dan kesibukan selalu mewarnai hari-hari saat menjadi seorang ibu. Banyak hal dan rencana-rencana yang hendak dilakukan setelah melahirkan, saya menyebutnya selebrasi pasca melahirkan, semacam kegiatan yang menandakan bahwa saya telah jadi seorang ibu, salah satu fase penting dalam hidup seorang perempuan.

Inilah dia selebrasi pasca melahirkan itu:

1) TENGKURAP

Setelah kurang lebih 9 bulan lamanya tidak bisa tengkurap, tentunya para pembaca yang budiman bisa membayangkan betapa penatnya itu. Maka sehari setelah melahirkan saya dapat merasakan nikmat yang luar biasa karena dapat tengkurap lagi. Tapi untuk yang melahirkannya melalui operasi caesar harap bersabar dulu, tengkurapnya ditunda sampai benar-benar sembuh total jahitannya, takut kenapa-napa. Oke?

2) BERGERAK

Ini yang kebanyakan disepelekan ibu-ibu muda, seringkali pasca melahirkan membuat sulit bergerak dan enggan beraktivitas seperti biasa, karena ada mertua atau orang tua yang melayani, kerjanya hanya di kasur saja selonjoran seharian. Padahal bergerak dalam mengerjakan tugas harian bisa mempercepat pemulihan loh dan itu tak akan membuat kita sakit parah atau jahitan terlepas. Asal jangan main salto dan lompat tinggi aja.

3) MEMAKAI KEMBALI BAJU-BAJU LAMA

Ini dia momen selebrasi yang paling menyenangkan bagi saya. Setelah dibuat puas oleh model pakaian besar dan gombrong yang memuat perut buncit maka ini saatnya memakai lagi baju-baju yang sekian bulan hanya bisa ngumpet di lemari. Bisa kembali tampil modis dengan jins pensil atau atasan yang ngepas badan. Secara, biasanya ibu-ibu kalo udah beranak apalagi memberi ASI bobot badannya bisa turun drastis dan langsing alami.

Saya aja dulu habis beranak cuma 54 kg, padahal pas hamil naik di level 70 kg, (tapi sekarang setelah menyapih anak ke dua saya, bobot saya naik lagi. Hm. . . Jadi ngarep buat hamil lagi, kali aja bisa kurus dan langsing kembali kalo udah beranak dan kasih ASI. Wkwkwkwk. . .)

4) POTONG RAMBUT (MERIAS DIRI)

Syukur-syukur kalo bisa perawatan nifas ke salon atau klinik kecantikan/kesehatan. Tapi kalau gak bisa, cukup dengan mandi bersih sampai wangi, pakai lotion badan atau lulur/wadak tradisional sebelum memakai korset/gurita membebat perut. Dan yang pasti saya lakukan adalah potong rambut setelah masa nifas saya usai. Semacam ritual ‘merdeka’, kebebasan, rasa praktis dan efisiensi. Cukup menyisakan sedikit rambut untuk diikat.

5) HUNTING PERLENGKAPAN BAYI

Karena saya bukan tipe calon ibu yang latah kalap beli segala peralatan bayi ketika hamil, maka saya hanya membeli yang memang perlu dan secukupnya saja. Setelah bayinya mulai berbentuk (baca: agak besar) barulah saya beli baju dan perlengkapan bayi yang lucu dan unyu itu. Tapi tetep, skala prioritas dan lama pemakaian jadi bahan pertimbangan.

6) UPGRADE PAKAIAN DALAM

Ini yang gak kalah pentingnya bagi para ibu baru. Perubahan bentuk badan berarti juga perubahan ukuran seperangkat alat kelengkapan pribadi. Sudah saatnya menanggalkan celana dalam lebar khas nenek-nenek, mulailah menggantinya dengan panty seksi, lingerie dan dapatkan perhatian lagi dari suami (wew. . . Xixixi. . .)

7) MENGUNJUNGI TEMAN/TETANGGA YANG MELAHIRKAN

Ini penting juga loh karena manusia makhluk sosial. Kumpul-kumpul di klub kehamilan atau bertandang ke rumah teman dan tetangga, saling berbagi pengalaman, curhat soal anak dan kehamilan bisa jadi jurus jitu menangkal Baby Blues atau stres pasca melahirkan. Jangan mengurung diri di rumah terus, keluar dan hadapilah indahnya dunia bersama si kecil dalam gendongan Anda!

8) RAJIN MENGHADIRI UNDANGAN

Juga sebagai salah satu bentuk sosialisasi. Setelah jadi ibu, wanita juga harus mulai membaur dengan lingkungannya. Dan percaya deh, pergi ke acara hajatan dengan membawa anak pasti lebih menyenangkan daripada pergi sendirian. Terlebih kalo bawa kakaknya yang masih balita, pasti dapat perlakuan istimewa dengan disuguhkan makanan lebih dulu (haha. . . Pengalaman nih emang kayaknya!)

Nah, itulah kira-kira ladies momen-momen selebrasi pasca melahirkan berdasar pengalaman pribadi saya. Apapun itu, walau betapa repotnya menjadi seorang ibu, selalu ada saja saat-saat terindah yang tak akan terlupakan. So. . . Enjoy this sweet horible moment!

KEKASIH PENGECUT, MANTAN MENYEBALKAN

Ada gak judul yang lebih mengenaskan dari itu?

Lama juga rasanya saya gak koar-koar dari sudut pandang emosional seorang perempuan. Kali ini saya akan mengulas sedikit tentang mengesalkannya seorang mantan yang saat jadi kekasih juga seorang pengecut.

Yakin dah, kalau dengar kata mantan pasti berjuta rasanya, galau? Mungkin iya. Sedih? Bisa jadi, atau justru bahagia setelah hubungan cinta kandas dan seorang kekasih turun pangkat jadi mantan?

Jadi ceritanya begini, saya dibuat kesal dengan sebuah drama yang mengisahkan sepasang kekasih, kemudian ceweknya pergi gitu aja. Setelah 4 tahun yang menyakitkan, move on yang menguras kesadaran agar matahari berasa tetap terbit di timur dan dunia gak jadi kiamat hanya karena seorang anak manusia sedang patah hati. Eh. . . Tiba-tiba si cewek datang ngajak balikan gitu aja setelah si cowoknya udah in relationship. Ini ni yang saya bilang, kekasih pengecut mantan nyebelin. Minta diracun emang, ckckck. . .

Terus beberapa Minggu ini jadwal saya padat dalam rangka menghadiri banyaknya hajatan kawinan anak tetangga dan beberapa kawan lama. Nah, ada sebuah cerita menarik yang gak jauh beda dari drama di atas tadi. Tapi sebentar, kita setel original soundtracknya dulu.

“Kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga. . .”

Itulah kata-kata bang Haji Rhoma Irama yang amat digaungkan para pencinta di seluruh Indonesia. Tapi sayangnya hanya sedikit orang yang memahaminya dan telah bersiap diri untuk sebuah kehilangan yang mungkin tidak kita sadari sampai seseorang itu sudah benar-benar pergi.

Sebut saja Rina dan Radit, setelah melalui masa pedekate yang giat, waktu pacaran yang diwarnai putus nyambung bertahun-tahun, sebelas kali selingkuh si Radit, dua puluh dua kali pula si Rina memaafkan (karena untuk satukali pengkhianatan, butuh duakali memaafkan dan merelakan). Sedari jamannya kuliah sampai udah kerja dan kita masih gini-gini aja. So, mau dibawa kemana hubungan kita??

Sampai sebuah kesadaran mengoyak kesabaran Rina yang terasa sia-sia selama ini.

“Kapan kamu mau menemui orang tuaku? Aku capek kaya gini terus, aku mau serius dan menikah.” Rina mengultimatum.

Radit kelabakan, tergagap, melongo dan jelaslah kekasih model ini gak akan pernah ngajak lo ke penghulu (catet !!).

“Aku percaya kalo kita emang jodoh kita bisa menikah , tapi kalo jodohku orang lain ku harap kamu rela, mungkin saja ada seseorang yang serius sama aku. Ku harap kita bisa saling merelakan.” Lanjut Rina lagi.

Sebuah pernyataan putus asa seorang wanita yang hanya ditanggapi seorang pria dengan sebelah telinga. Tapi siapa yang tahu hidup manusia? Hati bisa berpaling, cinta bisa berubah. Toh pada akhirnya setiap kita lebih memilih kepastian, apalagi wanita.

Radit dan Rina tetap jalan dan gak putus juga sampai kemudian harapan Rina jadi kenyataan. Gak ada hujan gak ada guntur tiba-tiba ada seorang kenalan yang datang melamarnya secara baik-baik dan ingin menikahinya segera. Singkat cerita setelah proses perkenalan singkat, lamaran dan sebagainya, tanggal pernikahan pun ditentukan.

Rina merasa semua sempurna dan menikah tanpa proses pacaran rasanya lebih melegakan dari pada pacaran lama tapi gak tahu pasti kapan nikahnya?

Tapi kemudian, satu hari jelang pernikahan, Radit menelepon.

“Kok kamu tega sih beb?” suaranya kayak gak tidur seminggu, memelas gitu.

“Aku kan udah bilang ama kamu, aku mau menikah dengan orang yang beneran serius ama aku.” kata Rina tenang.

Dan apa yang terjadi, setelah mendengar besok Rina akan menikah, meweklah Radit, dia menangis sodara-sodara! Laki-laki tipikal kekasih pengecut itu ternyata merasa terluka dan diam-diam ngarep.com juga kalo Rina gak jadi nikah dengan orang lain. Lah udah jadi mantan ngeselin jugak?

T E R L A L U. . .

Lah maunya apa? Gak tahu apa sakitnya tu di sini (nunjuk gigi). Tapi peduli amat dah, Rina telah memantapkan hatinya karena ia telah memberikan kesempatan bertahun-tahun lamanya menanti keberanian Radit. Maka jangan salahkan Rina ketika kesempatan itu diambil oleh sosok calon suaminya yang gentleman. Terserah Radit sekarang paling-paling bakal muter lagu Malaysia lawas oh. . .berderai airmataku mengiringi hari persandinganmu. . .

Nah, pemirsah! Ini pelajaran loh ya. Sesuatu atau seseorang itu seringnya baru terasa berarti saat udah gak ada di genggaman kita lagi. Maka jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang kita miliki sebelum diambil oleh orang lain dan membuat kita hanya bisa gigit jari.

Nangis nangis dah!

Kapok gak?

Kekasih Pengecut, Mantan Menyebalkan

Kumplit emang.

WANITA: MAKHLUK NOMOR DUA

Ini adalah dunia patriarkat, dunia yang didominasi sepak terjang kaum lelaki.

Selebihnya wanita hanya pelengkap, figuran yang sering disepelekan, dan tak diijinkan untuk jadi pemeran utama.

Seperti yang sering saya lihat, hak-hak kaum perempuan kerap dinomorduakan. Pernah dengarkan? “Buat apa sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya ke dapur juga, mengurus anak dan suami juga!”

Benar-benar diskriminatif. Hello. . . Bapak bapak!! Wanita itu akan jadi madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya, maka mereka harus pintar dalam segala hal. Gak bisa dong jaman sekarang disamakan dengan tempo dulu saat ibu ibu bisa aja sukses mendidik lusinan anak meski tak kenal alfabet. Sekarang tantangannya udah beda, kaum perempuan harus bisa jadi gudang ilmu dan mentor kehidupan yang mumpuni bagi anak-anaknya yang hidup di tengah era digital dan peradaban modern.

Jadi, anak gadis tak perlu sekolah tinggi-tinggi? Sungguh suatu opsi yang harus dipikir lagi.

Saya teringat kata-kata kakak saya: “Apabila anak pintar/berprestasi pasti dibilang ‘anak ayah/ siapa dulu dong bapaknya’. Tapi pas anak lagi ada masalah/sakit pasti langsung jatuh vonis ‘ini ibunya gimana sih”.

Bener-bener, jadi wanita itu gampang banget disalahkan, dan selalu ada di garda terdepan untuk jadi penyebab atas situasi tak mengenakkan.

Contoh lagi, yang paling membuat saya kesal separuh mampus adalah saat seorang suami menikah lagi. Kok masyarakat dengan kejam dan amat sadisnya langsung memvonis “istrinya pasti gak bisa merawat diri, atau. . . Pasti lalai dalam rumah tangga, makanya suaminya kawin lagi.” Jarang orang bilang “emang suaminya yang playboy dan tukang kawin”.

Terus yang juga bikin saya miris, kalo wanita ditinggal cerai atau mati suaminya, langsung ada label “janda gatel” hanya karena saban pagi ngobrol ama tukang sayur langganan. Lah pria? Dengan terhormatnya setelah ditinggal istri langsung naik pangkat jadi “duda keren”. Nyeri dan ngeri sekalii. . . Wanita selalu menjadi pihak yang paling gampang jadi korban dan dikorbankan.

Jika wanita bekerja, ia tetap jadi seorang ibu rumah tangga yang melayani keluarganya dan akan tetap menghandle segalanya di tangannya. Maka ada pepatah, seorang ibu bisa sekaligus menjadi ayah (merawat anak dan mencari nafkah), tapi seorang ayah tak bisa menggantikan peran ibu. Jadi, wanita, makhluk yang selalu dinomorduakan ini justru kerap melakukan pekerjaan (yang umum) dilakukan laki-laki karena suatu keadaan yang memaksa demikian.

Saya tak kaget bila dalam sebuah rumah seorang ayah lebih membanggakan putranya ketimbang anak gadisnya. Juga memprioritaskan keinginan si anak laki-laki daripada anak perempuannya. Sejak lama kaum adam seakan telah dibentuk oleh suatu keadaan yang membuat penekanan pada kiprah kaum perempuan, sehingga saat wanita bisa melakukan segala peran maka hal itu akan dianggap sebagai ancaman. Lalu muncullah larangan-larangan, batasan dan vonis atau anggapan yang mendiskreditkan perempuan.

Dan tentu saja, terlepas dari apapun peran yang wanita bisa, jangan melupakan kodrat keperempuanan kita sebagai seorang istri dan ibu. Jadikan apa yang telah kita raih dan miliki (entah itu karier, materi, pendidikan) tak akan meninggikan kepala kita di depan suami dan menjadi penunjang keharmonisan dan pelengkap kebahagiaan rumah tangga (ingatlah Khadijah, seorang wanita saudagar, pedagang yang kaya raya, yang mengabdikan segenap diri dan hartanya demi kepentingan dakwah suaminya, Nabi Muhammad salallahualaihi wasalam). Jua semakin memantapkan peran wanita ibu rumah tangga sebagai sekolah pertama.

ANAK PEREMPUAN: COBAAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

Menilik judul di atas, rasanya saya agak sedikit diskrimanatif. Yang namanya anak, mau laki atau perempuan sebenarnya sama saja, orang tua punya tanggung jawab yang sama besarnya dalam membesarkan dan mendidik ke duanya agar bisa berproses menjadi selayaknya manusia.

Tapi kali ini saya lebih menitik beratkan pada anak perempuan karena naluri wanita saya terketuk dengan betapa ‘berat’nya tanggung jawab dan ‘beban mental’ ketika kita punya anak perempuan di tengah kemajuan peradaban, efek negatif pergaulan dan lunturnya nilai kesopanan serta di tengah gempuran krisis keimanan.

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib pernah berkata: jika lelaki hilang kehormatannya dunia masih bisa tertawa, dan bila wanita hilang kehormatannya maka dunia menangis selamanya.

Maka tak berlebihan jika di antara keutamaan anak perempuan, orang tua yang dapat mendidik, merawat dan menikahkan anak gadisnya dengan cara yang ma’ruf maka surga telah dijanjikan padanya. Karena sadar betapa beratnya tanggung jawab memiliki anak perempuan.

Saya sendiri adalah bagian dari tiga bersaudara perempuan semua, dan saya tahu benar seperti apa Abah bertanggung jawab dalam membesarkan kami semua, hingga sekarang kami telah berrumah tangga. Seorang ayah tak akan tenang sampai anak gadisnya menikah.

Sungguh suatu fenomena yang amat memiriskan hati saya ketika melihat gadis-gadis sekarang amat bebas keluyuran, pacaran dan tak menjaga diri. Sementara orang tua di rumah terasa hidup di atas api dalam pusaran kecemasan tiada henti. Sampai kemudian saya lihat karena keterlanjuran dan ketakutan akan aib, anak-anak gadis ini menikah di usia belia dengan stempel ‘asal balaki haja’ (yang penting punya suami daripada gak karuan).

Membuahkan masalah di tengah kesuburan pohon masalah. Para orang tua seakan tak mampu lagi memilihkan pasangan hidup yang lebih baik untuk anak perempuannya. Maka amat lumrah saya temui, pasangan muda yang menikah tanpa tanggung jawab, tak bekerja, tak bisa jadi imam dalam kehidupan, pemeras orang tua dan masih suka hura-hura.

Yah. . . Walau orang bisa berubah dan pernikahan bisa menjadi salah satu jalan menuju kebaikan perubahan, tapi perubahan harus diusahakan tanpa henti dan butuh kesabaran seumur hidup. Perubahan juga tidak datang dalam satu atau dua hari. Hal-hal yang diawali dengan baik saja belum tentu berjalan baik, apalagi jika memang yang dimulai dengan kesalahan dan terus dipelihara dengan ketidak baikan?

Karenanya, seorang anak perempuan dapat dengan mudahnya menyeret orang tuanya atau suaminya ke dalam neraka. Ketika ia tak bisa menjaga diri dan kehormatannya, maka habislah semuanya. Wanita adalah tiang negara, kehancuran akan menyambangi ketika generasi muda rusak akhlak dan moralnya. Apalagi jika yang hancur adalah kaum wanita, maka bisa dipastikan tak ada lagi ibu yang amanah dalam mendidik anak-anaknya dan menjaga keluarganya.

Wanita, anak perempuan, dalam ranah kodratnya sebagai seorang ibu akan menjadi benteng pertahanan terakhir ketika kita terus menerus digempur bujukan-bujukan kesesatan. Maka akan seperti apa jadinya jika generasi muda kita, anak-anak perempuan kita, rusak oleh pergaulan dan terlena godaan fana dunia??

Saya, walau tak punya anak gadis, sangat merasakan hal ini cukup berat. Anak laki-laki pun bisa menjadi warning peringatan tanda bahaya ketika mulai melangkah keluar jalur. Dari bisik-bisik tetangga, anak perempuan ditakutkan akan membawa ‘perut’ alias hamil di luar nikah, dan anak laki-laki dikhawatirkan menjadi pembuat kehamilan tak diinginkan.

Waspadalah. . . Waspadalah!!