MENAKAR KEBERUNTUNGAN ORANG LAIN

Pernah suatu hari (bahkan mungkin sering), di saat lelah mencapai batas maksimum, setelah seharian berjibaku dengan berbagai persoalan hidup, di tengah rawannya kondisi perekonomian dan ditambah adegan drama bulanan akibat serangan Pra Menstruation Syndrome, saya merasa down, nelangsa, terpuruk sendirian.

Saat seperti inilah mendadak rasa syukur atas hidup dan setiap tarikan nafas yang saya hirup dengan gratis, menguap entah kemana. Ah, ternyata sayapun hanya manusia yang dapat dengan mudahnya menafikan karunia. Saya mengeluhkan betapa sulitnya kehidupan yang pernah saya jalani dan menganggap bahwa orang-orang di sekitar saya adalah lebih beruntung dan lebih berbahagia dibanding saya.

Aih. . .kejamnya!!

Kok bisa-bisanya saya merasa demikian dan lupa syukur di saat bobot badan ini naik drastis ke level 70 kilogram yang menandakan bahwa saya masih cukup makan. Hkhkhk. . . .
Kenapa dengan entengnya menganggap diri sedang terpuruk padahal saat ini saya masih bisa jumawa menikmati jaringan selancar dunia maya yang menghabiskan pulsa.

Agaknya kali ini saya tengah mengamini bahwa rumput tetangga memang terasa lebih cerah warna hijaunya dibanding ladang sendiri yang dipijak sehari-hari. Sampai-sampai saya menulis sebuah puisi (lebih tepatnya curcol) pendek perihal ini:

IRI

Aku menyaksikan betapa hidup orang-orang dimudahkan.
Dan mereka tidak mengalami seperti yang aku rasakan.

Inilah pemirsa pangkal masalahnya. Awal dari segala penyakit yang menggerogoti hati dan berpotensi mendatangkan pusing kepala dan tegang urat leher, naiknya tekanan darah bahkan memperpendek usia adalah membanding-bandingkan keadaan diri dengan orang lain. Itu adalah hal yang tak ada jelas juntrungannya, tak ada habisnya, tak peduli seberapa pintar, kaya atau hebatnya kita (apalagi yang just ordinary people seperti sayah), akan selalu ada orang-orang yang melampaui itu jauh, jauuuuuuh di atas segalanya. Karena bukankah diatas langit masih ada langit??

Dan kecenderungan manusia untuk selalu memandang ke atas ini agaknya perlu ditinjau kembali agar tak terlupa dimana kaki tengah berdiri, memijak rumput sendiri yang hijaunya tak kita perhatikan lagi, mulai jarang disirami, bahkan terlupa disyukuri.

Sayapun mengusap dahi yang berasa pening sedari tadi, melawan nyeri perut atas kodrat kewanitaan karena siklus hormonal, pertanda bahwa saya masih normal-normal saja.

Lagi, sederet tanya berseliweran di kepala:

Kok bisa-bisanya saya mengaku kewalahan menghadapi kerepotan sehari-hari bersama anak-anak yang tak bisa diam, padahal jikalau tanpa mereka saya akan kebingungan harus melakukan apa? Dan bukankah kerewelan mereka selama inilah yang menjadi ladang pahala bagi seorang ibu macam saya?

Kok bisa-bisanya saya merasa bete sendiri terhadap orang yang selama sebelas tahun ini setia mendampingi, padahal jika tanpa dia saya tak tahu akan kemana mendedikasikan hidup, cinta, pengabdian dan kesetiaan saya? Bukankah dari kerelaan dan kemurahan hatinyalah seorang istri seperti saya dapat mengharapkan surga?

Kok bisa-bisanya saya terus mengeluhkan tentang berapa rupiah yang mesti sirna karena ludes belanja untuk keperluan anak dan keluarga? Padahal diluar sana ada orang yang tak tahu kemana mesti membelanjakan uangnya dan hanya menghabiskannya untuk foya-foya tak berguna.

Kok bisa-bisanya rasa lelah ini sampai mengikis rasa syukur atas nikmat sehat yang masih melekat di badan? Demi setiap tarikan nafas dan udara bebas, yang Allah tak pernah menuntut kita membayar dalam menikmatinya kecuali hanya dengan ketaatan kita padaNYA, bersyukurlah dan berhentilah merasa sebagai orang yang paling menderita di dunia.

Terngiang lagi sebuah lagu yang telah saya sahkan sebagai original soundtrack atas film berseri yang berjudul kehidupan ini:

. . .Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah, tetap jalani hdup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pastikan menunjukkan kebenaran dan kuasanya pada hambanya yang setia dan tak kenal putus asa. . .
(D’Massiv).

Terus besyukur dan berusaha!!

Keep fighting!

#buru-buru ‘membeli pupuk dan menyiram tanaman’.

#Sebuah tulisan untuk ‘menampar’ diriku sendiri.

(edisi emak-emak galau karena membengkaknya budget pengeluaran pasca lebaran dan di awal tahun ajaran baru)

PIRING KOSONG UNTUK TETANGGA

Sorry, tulisan ini tak bermaksud menjelek-jelekkan orang lain atau menggosipkan tetangga sendiri. Ini hanyalah puncak kegalauan jiwa yang terpendam sekian lama.

Mungkin bisa dibilang, gampangnya anggap saja saya adalah tetangga yang tidak baik. Saya sering kalap dalam berinteraksi dengan suami dan anak-anak saya dan suka menyetel musik yang berpotensi membuat polusi suara sampai telinga tetangga. Saya juga bukan tetangga yang bisa diandalkan untuk memberi bantuan bila orang sebelah rumah ada hajatan. Saya juga bukan tetangga yang bisa memberikan kelebihan kuah masakannya pada tetangga yang lain.

Ahh, menulis ini membuat saya merasa sangat berdosa.

Rasa percaya diri saya sudah lama sekali jatuh ke titik nadir perihal urusan bertetangga ini. Dahulu, ada tetangga yang memberikan makanan pada saya. Maka sebagai bentuk rasa terima kasih dan balas budi, ketika esoknya hendak mengembalikan wadah piring bekas makanan itu, sayapun mengisinya dengan masakan sayur yang dibuat oleh alm mertua saya. Sehari kemudian malah tetangga saya itu mengatakan dengan terang-terangan bahwa sayur itu rasanya aneh dan wajahnya tak senang mencibir pada saya. Padahal masakan alm mertua sudah teruji enaknya loh.

Pernah juga di awal Ramadhan tadi suami memetik buah kelapa muda untuk minuman buka puasa dan mengupasnya di depan rumah lalu ada tetangga (si A) yang menyapa. Karena kelapa mudanya banyak maka si A diitawari suami. Katanya bolehlah. Lalu saya berikan dua biji dan diletakkan di terasnya. Tapi kemudian, besoknya kelapa itu malah dijadikan mainan oleh anaknya (digelindingkan, diinjak-injak dsb) di depan mata kami dan si A tak berinisiatif sedikitpun untuk ‘mengamankannya’ sampai seharian. Lalu sore harinya menjelang buka puasa ada tetangga yang lain (si B) yang menegur kelapa siapa ini kok dibiarkan di tengah jalan? Karena suami saya terlanjur kesal pemberiannya tak dihargai akhirnya disuruhnya ambil saja kelapa itu dan itu terjadi di hadapan si A yang awalnya kita beri tadi. Tentu saja si B senang sedangkan si A hanya pasang wajah tak tahu menahu sambil sinis meremehkan. Sadis gak tuh?

Dari situlah kepercayaan diri saya lenyap. Padahal saya memberikan yang terbaik yang kami bisa (kelapanya dipilihkan yang paling besar) dan masakan yang baru dimasak. Sejak itulah jika tetangga memberi sesuatu saya tak lagi/jarang mengisi wadahnya (piring/mangkok) kembali. Kapok jikalau apa yang saya berikan kurang berkenan atau tidak sesuai dengan selera orang lain.

Sedangkan saya tak tega menunjukkan ketidaksukaan dengan cara seperti itu. Padahal saya pernah (bahkan sering) diberi makanan/sesuatu oleh tetangga yang hampir gak layak makan. Lebaran kali ini saja (MAAF) saya diantari sepiring kerupuk yang bahkan digoreng tak sempurna, masih ada bagian-bagiannya yang tidak mengembang, jadi keras dan alot dimakan. Saya juga pernah diberi bubur kacang hijau yang jahenya kebanyakan, sampai telinga panas berdenging dibuatnya. Juga roti goreng yang lembek penuh minyak yang ketika dimakan (MAAF, lagi) rasanya seperti memasukkan sesendok mentega kadaluwarsa ke dalam mulut.

Walaupun saya bukan orang yang pilih-pilih makanan dan bisa makan apa saja, tapi kalau seperti itu keadaannya sayapun angkat tangan.

Mengingat ini kok kesannya saya jadi kelinci eksperimen masakan tetangga yang jadi proyek gagal total (karena dia dengan tanpa malu bilang: masak ini belajar coba-coba, gak bisa bikinnya, dicicipi deh, katanya. Sembari menyerahkan semangkok besar bubur kacang ‘pedas’ itu). Yang kalau saya lihat dari wajahnya sayapun tak yakin apa ia sanggup memakan masakannya sendiri.

Jadi dilema banget deh pokoknya. Memang gak selalu sih, mereka sering juga memberi sesuatu yang memang enak (baca: layak makan). Cuma ya saya jadi mikir sendiri, kalau seandainya keadaan dibalik bagaimana? Saya yang memberi yang seperti itu bagaimana perasaan mereka?

Karena itulah akhirnya saya pilih aman dengan hanya mengembalikan piring kosong untuk tetangga.

Jahat ya saya.

Biarlah. . .

SAYA DAN KENANGAN ONE NIGHT STAND

Rasanya tanpa harus saya jelaskanpun sebagian besar dari kita pasti tahu apa itu ONE NIGHT STAND. Sebenarnya ini hanya dikhususkan untuk orang dewasa alias adult only zone. Kalau belum tahu artinya bisa digoogling sendiri deh.

Kali ini saya hendak berbagi pengalaman saja. Kira-kira sepuluh tahun silam saya pernah mengalami langsung one night stand ini. Kenangan yang benar-benar tak terlupakan. Kejadian tepatnya adalah ketika saya baru punya anak pertama setelah setahun lebih menikah. Karena agak nervous dengan peran sebagai ibu baru dan kelelahan merawat si kecil, saya jadi bertengkar dengan suami dan lalu iapun pergi kerja shift malam dan meninggalkan saya sendirian di rumah.

Saya tak bisa tidur dan melewati malam dengan sedih, sendiri dan hampa. Kemudian selepas tengah malam suami saya pulang untuk menengok keadaan kami (saat itu si kecil masih sakit), dan betapa TERKEJUTNYA dia menyaksikan saya sedang melakukan one night stand saat anak sedang sakit. Iya pemirsa, saya one night stand alias berdiri satu malam sambil menggendong si kecil yang rewel karena sakit. Spontan saja suami memeluk kami, dan segera mengambil alih gendongan lalu menyuruh saya istrirahat melemaskan bahu barang sejenak (perlu diketahui saat itu anak saya berbobot 10,5 kg di usia 6 bulan. Jadi bisa dibayangkan nyeri pegelnya one night stand menggendongnya sendirian, berjam-jam nyaris semalaman).

Nah itulah pengalaman saya tentang one night stand.
Apa? Otaknya sudah pada porno ya mikir yang gak gak? Kan secara harfiah one night stand artinya memang berdiri satu malam. Dan saya memang tidak sedang menceritakan one night stand yang secara kiasan berarti hubungan intim tanpa ikatan yang terjadi dalam semalam yang sedang trend saat ini. Karena itu adalah pertanda degradasi moral masyarakat yang udah kadung ketularan budaya barat/luar. See??

MENULIS DAN MOMENT KERASUKAN ITU

Menilik judul di atas sepertinya ada sebuah kesan magis yang berurusan langsung dengan dunia lain. Sebenarnya ini tak ada hubungannya dengan gangguan roh halus, makhluk astral atau semacamnya. Lalu apa hubungannya antara menulis dan ‘kerasukan’?

Jadi begini, saya sempat membuka-buka lagi buku-buku harian lawas saya, dan juga membaca kembali tulisan-tulisan lama di blog ini. Ada yang membuat saya heran, karena saya lupa kapan tepatnya menulis itu, kejadian apa yang membuat saya bisa menuliskan sesuatu yang setelah sekian tahun berlalu membuat saya bertanya “apa benar saya yang menuliskannya?”

Nah, karena itulah saya menyebutnya momen kerasukan karena dari tulisan-tulisan itu saya seakan menangkap kesan bahwa ada pribadi atau sosok yang lain yang menuliskannya (dalam beberapa bagian bahkan mengendalikannya, hihi. . .syerem), dan itu bukan saya secara normalnya. Tapi ini bukan kepribadian ganda.

Mungkin setiap tulisan punya kesan emosional tersendiri, apalagi tulisan saya yang memang hasil ungkapan pikiran dan perasaan yang dilandasi sentimen khas perempuan. Dan selalu ada peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi tulisan tersebut. Sehingga saat menuliskannya, emosi yang mewarnai peristiwa itulah yang mengendalikannya dan seakan menjadi “The Another Soul.”

Ada sebuah pepatah mengatakan:

Yang dibutuhkan seorang penyair (berlaku juga untuk penulis) hanyalah hujan dan patah hati.

Jujur, saya memang dapat lebih produktif dan banyak menulis ketika sedang patah hati, galau, marah, tertekan atau sedih. Saat-saat dipenuhi emosi negatif dan sedang down itu terasa lebih menyentuh kemanusiaan saya, terasa ada sesuatu yang merasuki ambang batas kesadaran, mungkin itulah yang disebut dengan inspirasi.

Karena di saat sedih manusia memang jadi lebih banyak merenung, lebih mudah menyelami hati dan menelaah ruang jiwa. Sehingga di saat badai telah berlalu, dalam diri manusia diharapkan telah tumbuh semangat yang baru.

Tapi harus hati-hati loh ya, bisa-bisa kerasukan beneran. Hahaha. . .

Mau?

NGEBLOG (MENULIS), DAPAT APA ??

Entah sudah berapa sekian kalinya saya diberondong pertanyaan serupa ini sejak memiliki hobi merangkai kata dalam tulisan, terlebih ketika saya putuskan untuk konsisten mengelola sebuah blog selama kurang lebih 2 tahun terakhir ini. Saya tak paham mengapa orang-orang kerap beraganggapan bahwa kegiatan kepenulisan selalu diidentikkan dengan sesuatu yang dapat menghasilkan materi atau penghargaan, padahal tak selalu demikian. Apalagi saya menulis hanya untuk menyalurkan hobi dan memuaskan jiwa saja. Jadi memang tak pernah terpikir untuk dapat menghasilkan uang dari aktifitas ngeblog ini, setidaknya untuk saat ini.

Dulu ketika masih sekolah saya juga sering mengirimkan karya tulis ke redaksi koran lokal di daerah saya. Sayang, memang hanya sedikit yang sempat dipublikasi, itupun tanpa honor sama sekali karena kolom sastra di koran itu masih baru dalam tahap percobaan. Mungkin karena tulisan yang saya kirimkan hanya saya tulis tangan karena ketiadaan sarana mesin ketik atau komputer (saya pernah mengirimkan cerpen yang saya tulis tangan dalam 8 halaman kertas folio), maka bisa jadi pihak redaksi mengalami kesulitan dalam proses editing. Jadi, saya memang tak berani berharap banyak.

Ketika masih memiliki handphone berjaringan CDMA saya juga sering ikut on air membaca puisi di stasiun radio, pernah menang dan dapat suvenir menarik juga. Tapi dari semua itu, hadiah memang bukan prioritas saya. Tanpa bermaksud sombong, meski jelek-jelek begini dulu saya sering mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan lomba dan sering juara juga loh. Hahah. . . Apa maksudnya coba? Ngoyo neh.

Tak sedikit juga orang-orang yang berpikir bahwa mestinya seorang blogger bisa menerbitkan dan punya buku sendiri. Helloooo. . . Seakan-akan semudah itu? setidaknya bagi saya yang ‘berada dalam tempurung yang tertutup’ dan masih terbilang anak kemarin sore di dunia blogging, memang tak pernah semudah itu. Saya sedang tak berada dalam kapasitas untuk bisa punya buku sendiri atau menghasilkan hal-hal yang berkaitan dengan materi dari hobi menulis saya ini.

Ketika tulisan saya dipublikasikan dan ada orang yang membacanya, itu adalah kebahagiaan yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Sebagai perbandingan mungkin sebelas duabelas lah dengan perasaan sangat gembira ketika mendapat kepastian positif hamil anak pertama yang memang telah dinanti-nantikan kehadirannya. Jadi semua ini meski hanya sampai ini sebenarnya telah melampaui harapan saya.

Sebenarnya saya banyak sekali memperoleh hal positif karena ngeblog, di luar hitungan materi tentu saja. Saya dapat ilmu pengetahuan yang memperluas wawasan, misalnya saya jadi mengenal cara penulisan dan kode-kode HTML dan BBCode, tahu cara mendownload game, video atau ebook dari internet yang mana kalau saya tak bergelut dunia blogging maka mungkin saya tak akan pernah tahu caranya, apalagi mengingat posisi saya yang hanya ibu rumah tangga (luar) biasa. Saya juga mendapatkan berbagai referensi, aneka tips dan bahkan teman-teman yang memperluas pergaulan dan menambah pengetahuan tanpa saya harus keluyuran. Dan yang paling membuat saya bangga, saya bisa menjawab dan mengimbangi rasa ingin tahu anak sulung saya karena ngeblog adalah juga sebagai sarana belajar yang mencerdaskan sekaligus menghibur di saat bersamaan. Entahlah, yang jelas dengan ngeblog saya merasa sedikit lebih cerdas dan open minded. Juga lebih kritis dan update atas isu-isu dan trend kekinian. Dan semua itu jelas, adalah sesuatu yang lebih berharga dari penilaian materi.

Karena itulah, blog ini adalah sesuatu yang dapat mewakili hati dan jiwa yang ‘gue banget’. Suatu kebahagiaan bentuk lainnya dalam bingkai eksistensi dunia maya, cinta dan karya. Saya bahkan tak peduli jika karena kegiatan ngeblog ini saya menandaskan pulsa sekian puluh ribu untuk kuota internet bulanan, mengorbankan kenyamanan memejamkan mata di tengah malam buta demi insomnia karena merangkai kata, bahkan menguji ketahanan dan kekuatan jempol kanan mengetik huruf demi hurup di keypad hingga level mutakhir sampai mengidap cantengan kronis, atau terus berusaha tabah menyabarkan diri karena menulis hanya menggunakan ponsel jadul sederhana berbasis Java (penting diketahui, saya adalah blogger yang tak pernah mengoperasikan komputer ataupun laptop. Nah, how could it be? Bayangkanlah sendiri). Yang terpenting dari semuanya itu adalah saya hanya ingin menulis tentang apa saja dan saya sajikan pada dunia.

“Ilmu pengetahuan adalah seumpama hewan buruan, ikatlah ia dengan tulisan”.
(Ali bin Abi Thalib)

Jadi, kamu menulis dapat apa?

MENIKMATI KEKACAUAN PAGI

Diam-diam, saya sering membayangkan memiliki suasana pagi yang tenang seperti di iklan-iklan televisi ditemani aroma kopi atau seduhan teh. Atau menikmati momen sarapan damai tanpa grasak grusuk, tanpa horornya insiden air tumpah seperti adegan-adegan di film atau drama.

Sebuah harapan yang ternyata sangat sulit (kalau tak bisa dibilang mustahil) diwujudkan ketika memiliki dua anak usia sekolah yang belum bisa mandiri.

Dalam usaha saya yang masih terus belajar menjadi ibu, ternyata saya tak pernah sesabar harapan saya. Meski sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali (subuh) sejak dulu (yah walau terkadang bisa kesiangan juga), tetap saja pagi hari akan menjadi kekacauan super yang berpotensi menekan urat syaraf menjadi tegang seharian. Faktanya kebiasaan bangun pagi saya bukan sesuatu yang dapat menular pada anak-anak saya, juga bukan suatu contoh yang dapat ditiru dengan entengnya. Ngerinya lagi, suami dengan kebiasaan begadang dan hobi memancing malamnya itu sedkit menambah keruh suasana dan dia tak pernah berada dalam kapasitas siaga yang dapat meringankan keruwetan istrinya.

Sering membuat saya merasa gagal menjadi ibu rumah tangga, merasa sendirian dan tak bisa diandalkan. Meski seberapa keras saya mencoba, saya hanya merasa sangat kewalahan, seperti dikejar-kejar waktu dan kehilangan diri sendiri. Dua jagoan yang amat saya sayangi itu sebenarnya adalah amanah yang seharusnya dapat mendekatkan ibunya pada surga dan merupakan ladang pahala. Tapi sering, hal-hal yang terjadi berada di luar kontrol manusia, membuat saya kerap merasa berdosa karenanya.

Si besar berada dalam fase pra remaja yang amat mengesalkan. Mulai menyenangi cara menarik dan mengisolasi diri, mencintai game online melebihi kebutuhannya akan nasi, tipikal kakak yang kreatif tapi bukan main usilnya, jua musuh abadi untuk yang namanya bangun pagi. Untuk mandi, sarapan dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya adalah tidak mempan hanya dengan satu kalimat perintah atau anjuran. Sering diwarnai drama lebay tingkat dewa, konflik dan kadang cuilan kulit di betis juga. Jahat ya saya?

Lalu si kecil yang tahun ini akan memasuki taman kanak-kanak, adalah tipe balita yang masih terjebak pada fase mencari kenyamanan pada bagian tubuh ibunya. Pasca disapih di usia 2,5 tahun lalu ia menjadi ‘mentil addicted’ terutama saat menjelang, sedang dan setelah istirahat (tidur/tiduran). Rempong bukan main ternyata saya dibuatnya. Apalagi pas rewelnya kumat, dia bisa mentil berjam-jam, maka jadilah pekerjaan tangan saya dipending semuanya. Yang agak ngenes itu ya ketika pagi, jadwal mentil rewelnya itu bentrok sama jadwal panggilan alam dan mandi saya. Karena saya juga harus membantu usaha perniagaan suami jadi harus bersiap-siap. Walhasil, itu jadi dilema dari pagi ini ke pagi besok yang berkesinambungan, dari Senin sampai Minggu, dua puluh empat jam sehari kali tujuh hari, tiga ratus enam puluh hari dalam setahun. Wew. . .

Membuat opsi program untuk memiliki anak perempuan mesti saya simpan dalam-dalam. Oops!

Tapi kadang saya merasa agak sedikit bangga karena masih survive sampai sekarang dan masih berada dalam ambang batas kewarasan saya. Hahaha. . . Padahal ini bukan apa-apanya jika dibandingkan ketabahan almarhumah nenek saya yang punya selusin anak dan ditinggal mati kakek saya saat dua belas anak manusia itu masih kecil-kecil. Gak kuaaaat. . . #lambaikantanganpadakamera.

Sempat terpikir untuk sejenak cuti menjadi ibu. By the way, kira-kira kemana ya mengajukan proposal untuk cuti itu? Ada gak ya??

#mikirkeras

GOSIP DI PELATARAN RUMAH TETANGGA

Sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa blogwalking ke tempat sobat maya MWB’ers semua. Dan tak bisa memberikan bantuan atas sesuatu yang pernah disampaikan pada saya. Akhir-akhir ini saya agak sibuk dan sedang ada sedikit masalah, biasa, ibu-ibu yang mulai repot karena anaknya sudah harus masuk TK. Jadi saya mulai mengurus pendaftaran dan ternyata biayanya lumayan untuk ukuran kantong saya. Dan lagi, tak bisa dibayarkan nanti/dicicil (padahal maunya menunggu tabungan sekolah si Kakak bulan Mei/Juni nanti) karena yang sudah-sudah banyak yang mangkir dan tak bayar sampai lulus. Ironisnya, itu bukan karena kurang mampu. Ckckck. . . Kok tega ya?

Tapi kok masih bisa posting?

Itulah gunanya punya cadangan tulisan di draf, jadi ya. . . kebanyakan saya hanya mempublish tulisan yang sudah ada, biar tetap konsisten, gak vakum apalagi mati suri, mati kata atawa mati gaya. Hahahaha. . .

Terus, saya juga dapat shock therapy level maksimum karena kehadiran tetangga baru. Sebenarnya saya sudah lama hidup tanpa tetangga dekat (saya trauma, terakhir kali bertetangga saya pernah diintimidasi dan diusir gara-gara terpaksa mencabut aliran PDAM ke rumah tetangga karena mereka tak mau patungan membayarnya), entah kenapa kok saya yang jadi orang jahatnya padahal saya sampai jadi kuli cucian 9 bulan lamanya untuk membayar tagihan air yang membengkak itu? Kejam ya.

Saya senang punya tetangga lagi, artinya rumah saya tak akan lagi jadi satu-satunya di area persawahan ini. Walau saya bukan type orang yang senang ‘memberikan kelebihan kuah masakan’ pada tetangga. Tapi bukan berati anti sosial lo, saya berusaha jadi warga yang baik dan hanya mengurangi interaksi yang kurang perlu dan berlebihan, itu saja. Semisal gosip di pelataran rumah tetangga.

Inilah masalahnya pemirsa, dan ini juga yang membuat saya agak tertekan, para tetangga doyan sekali duduk-duduk di teras berjam-jam and talking everything. Setelah puas lalu mengunci pintu, tidur siang sedangkan anaknya yang ‘mucil’ tak bisa diam itu dibiarkannya berkeliaran di luar rumah.

Beberapa minggu pertama saya berusaha maklum dan senang juga mengobrol dengannya sebagai bentuk sosialisasi dan tanda pertemanan, tapi kok rasanya itu salah. Itu benar-benar menyita waktu dan gaya bicaranya yang high class super tinggi seperti tower operator seluler dan hapal gosip terkini, benar -benar mengganggu. Dan yang paling membuat saya shock, stres kuadrat adalah anaknya yang kalau BAB tak mau bilang, masih ‘keluar’ di celana dan ketika mau dicebokin dia gak mau sampai ngamuk dahsyat. Padahal sudah besar kelas TK B.

Ini benar-benar serius, karena harusnya di usia segitu anak-anak tidak BAB sembarangan lagi. Pernah suatu hari saya terpaksa menyuruh anak itu pulang ketika bermain di rumah saya. Saya mencium aroma ‘celana durjana’ itu di seantero ruangan dan baunya melekat pada lantai yang ia duduki. Mengenaskan sekali.

Maka sekarang saya tak tahan lagi, saya terpaksa jadi wanita jahat ketika tetangga2 saya duduk leyeh-leyeh bergosip ria dari pukul 9 pagi sampai tengah hari, karena saya harus mengerjakan tugas rumah. Jahat karena harus menutup pintu dengan wajah nyengir tak enak dan tak mengijinkan anak saya bermain dengan anaknya sejak insiden pertemanan mereka yang terakhir kali sukses menghilangkan dua belah sendal, membuat sapu alat kebersihan satu-satunya di rumah saya belepotan lumpur dan gulma yang mengganggu. Juga mengotori alat pancing milik suami saya. Benar-benar membuat saya kena Pra Menstruation Syndrome mendadak padahal haid sudah berlalu seminggu yang lalu. Saya marah, kesal, depresi.

Belum lagi sifat doyan pamer akut yang juga tak kalah mengganggu, ibu dan anak sama. Ini juga yang membuat anak bungsu saya terus merengek minta dibelikan sepatu roda karena mendengar ocehan anak tetangga yang sesumbar akan membelinya. Padahal saya tahu itu berat konsekuensinya karena si Kakak juga harus dapat hak yang sama. Artinya saya mesti beli dua pasang sepatu roda yang harganya tidak bisa dibilang murah. Padahal saya baru saja mendaftarkan si kecil sekolah TK dan si kakak harus ikut pelajaran tambahan karena nilai sekolahnya menurun menjelang ulangan kenaikan kelas. Itu membuat saya menunda membelikan sepeda untuk si kecil yang sudah direncanakan dari tahun lalu. Saya benar-benar dibuat pusing tujuh kali keliling lapangan futsal gara-gara perangai tetangga ajaib ini dan perihal trend sepatu roda itu.

Mungkin saya berdosa membicarakan uneg2 di sini. Tapi saya tak tahu harus bagaimana lagi. Faktanya, saya tidak pernah benar2 punya teman di lingkungan rumah saya. Beda visi dan misi, tak cocok. Bisa dibilang, kalau di rumah saya lebih memilih menyendiri; menulis, kecanduan file pdf (ebook), main game/menemani anak2, menyulam/merajut, mempelajari seni aksesori sebagai hobi dan berteman dekat dengan mbah Google. Miris!

How could it be??