MENULIS DAN MOMENT KERASUKAN ITU

Menilik judul di atas sepertinya ada sebuah kesan magis yang berurusan langsung dengan dunia lain. Sebenarnya ini tak ada hubungannya dengan gangguan roh halus, makhluk astral atau semacamnya. Lalu apa hubungannya antara menulis dan ‘kerasukan’?

Jadi begini, saya sempat membuka-buka lagi buku-buku harian lawas saya, dan juga membaca kembali tulisan-tulisan lama di blog ini. Ada yang membuat saya heran, karena saya lupa kapan tepatnya menulis itu, kejadian apa yang membuat saya bisa menuliskan sesuatu yang setelah sekian tahun berlalu membuat saya bertanya “apa benar saya yang menuliskannya?”

Nah, karena itulah saya menyebutnya momen kerasukan karena dari tulisan-tulisan itu saya seakan menangkap kesan bahwa ada pribadi atau sosok yang lain yang menuliskannya (dalam beberapa bagian bahkan mengendalikannya, hihi. . .syerem), dan itu bukan saya secara normalnya. Tapi ini bukan kepribadian ganda.

Mungkin setiap tulisan punya kesan emosional tersendiri, apalagi tulisan saya yang memang hasil ungkapan pikiran dan perasaan yang dilandasi sentimen khas perempuan. Dan selalu ada peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi tulisan tersebut. Sehingga saat menuliskannya, emosi yang mewarnai peristiwa itulah yang mengendalikannya dan seakan menjadi “The Another Soul.”

Ada sebuah pepatah mengatakan:

Yang dibutuhkan seorang penyair (berlaku juga untuk penulis) hanyalah hujan dan patah hati.

Jujur, saya memang dapat lebih produktif dan banyak menulis ketika sedang patah hati, galau, marah, tertekan atau sedih. Saat-saat dipenuhi emosi negatif dan sedang down itu terasa lebih menyentuh kemanusiaan saya, terasa ada sesuatu yang merasuki ambang batas kesadaran, mungkin itulah yang disebut dengan inspirasi.

Karena di saat sedih manusia memang jadi lebih banyak merenung, lebih mudah menyelami hati dan menelaah ruang jiwa. Sehingga di saat badai telah berlalu, dalam diri manusia diharapkan telah tumbuh semangat yang baru.

Tapi harus hati-hati loh ya, bisa-bisa kerasukan beneran. Hahaha. . .

Mau?

NGEBLOG (MENULIS), DAPAT APA ??

Entah sudah berapa sekian kalinya saya diberondong pertanyaan serupa ini sejak memiliki hobi merangkai kata dalam tulisan, terlebih ketika saya putuskan untuk konsisten mengelola sebuah blog selama kurang lebih 2 tahun terakhir ini. Saya tak paham mengapa orang-orang kerap beraganggapan bahwa kegiatan kepenulisan selalu diidentikkan dengan sesuatu yang dapat menghasilkan materi atau penghargaan, padahal tak selalu demikian. Apalagi saya menulis hanya untuk menyalurkan hobi dan memuaskan jiwa saja. Jadi memang tak pernah terpikir untuk dapat menghasilkan uang dari aktifitas ngeblog ini, setidaknya untuk saat ini.

Dulu ketika masih sekolah saya juga sering mengirimkan karya tulis ke redaksi koran lokal di daerah saya. Sayang, memang hanya sedikit yang sempat dipublikasi, itupun tanpa honor sama sekali karena kolom sastra di koran itu masih baru dalam tahap percobaan. Mungkin karena tulisan yang saya kirimkan hanya saya tulis tangan karena ketiadaan sarana mesin ketik atau komputer (saya pernah mengirimkan cerpen yang saya tulis tangan dalam 8 halaman kertas folio), maka bisa jadi pihak redaksi mengalami kesulitan dalam proses editing. Jadi, saya memang tak berani berharap banyak.

Ketika masih memiliki handphone berjaringan CDMA saya juga sering ikut on air membaca puisi di stasiun radio, pernah menang dan dapat suvenir menarik juga. Tapi dari semua itu, hadiah memang bukan prioritas saya. Tanpa bermaksud sombong, meski jelek-jelek begini dulu saya sering mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan lomba dan sering juara juga loh. Hahah. . . Apa maksudnya coba? Ngoyo neh.

Tak sedikit juga orang-orang yang berpikir bahwa mestinya seorang blogger bisa menerbitkan dan punya buku sendiri. Helloooo. . . Seakan-akan semudah itu? setidaknya bagi saya yang ‘berada dalam tempurung yang tertutup’ dan masih terbilang anak kemarin sore di dunia blogging, memang tak pernah semudah itu. Saya sedang tak berada dalam kapasitas untuk bisa punya buku sendiri atau menghasilkan hal-hal yang berkaitan dengan materi dari hobi menulis saya ini.

Ketika tulisan saya dipublikasikan dan ada orang yang membacanya, itu adalah kebahagiaan yang tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Sebagai perbandingan mungkin sebelas duabelas lah dengan perasaan sangat gembira ketika mendapat kepastian positif hamil anak pertama yang memang telah dinanti-nantikan kehadirannya. Jadi semua ini meski hanya sampai ini sebenarnya telah melampaui harapan saya.

Sebenarnya saya banyak sekali memperoleh hal positif karena ngeblog, di luar hitungan materi tentu saja. Saya dapat ilmu pengetahuan yang memperluas wawasan, misalnya saya jadi mengenal cara penulisan dan kode-kode HTML dan BBCode, tahu cara mendownload game, video atau ebook dari internet yang mana kalau saya tak bergelut dunia blogging maka mungkin saya tak akan pernah tahu caranya, apalagi mengingat posisi saya yang hanya ibu rumah tangga (luar) biasa. Saya juga mendapatkan berbagai referensi, aneka tips dan bahkan teman-teman yang memperluas pergaulan dan menambah pengetahuan tanpa saya harus keluyuran. Dan yang paling membuat saya bangga, saya bisa menjawab dan mengimbangi rasa ingin tahu anak sulung saya karena ngeblog adalah juga sebagai sarana belajar yang mencerdaskan sekaligus menghibur di saat bersamaan. Entahlah, yang jelas dengan ngeblog saya merasa sedikit lebih cerdas dan open minded. Juga lebih kritis dan update atas isu-isu dan trend kekinian. Dan semua itu jelas, adalah sesuatu yang lebih berharga dari penilaian materi.

Karena itulah, blog ini adalah sesuatu yang dapat mewakili hati dan jiwa yang ‘gue banget’. Suatu kebahagiaan bentuk lainnya dalam bingkai eksistensi dunia maya, cinta dan karya. Saya bahkan tak peduli jika karena kegiatan ngeblog ini saya menandaskan pulsa sekian puluh ribu untuk kuota internet bulanan, mengorbankan kenyamanan memejamkan mata di tengah malam buta demi insomnia karena merangkai kata, bahkan menguji ketahanan dan kekuatan jempol kanan mengetik huruf demi hurup di keypad hingga level mutakhir sampai mengidap cantengan kronis, atau terus berusaha tabah menyabarkan diri karena menulis hanya menggunakan ponsel jadul sederhana berbasis Java (penting diketahui, saya adalah blogger yang tak pernah mengoperasikan komputer ataupun laptop. Nah, how could it be? Bayangkanlah sendiri). Yang terpenting dari semuanya itu adalah saya hanya ingin menulis tentang apa saja dan saya sajikan pada dunia.

“Ilmu pengetahuan adalah seumpama hewan buruan, ikatlah ia dengan tulisan”.
(Ali bin Abi Thalib)

Jadi, kamu menulis dapat apa?

MENIKMATI KEKACAUAN PAGI

Diam-diam, saya sering membayangkan memiliki suasana pagi yang tenang seperti di iklan-iklan televisi ditemani aroma kopi atau seduhan teh. Atau menikmati momen sarapan damai tanpa grasak grusuk, tanpa horornya insiden air tumpah seperti adegan-adegan di film atau drama.

Sebuah harapan yang ternyata sangat sulit (kalau tak bisa dibilang mustahil) diwujudkan ketika memiliki dua anak usia sekolah yang belum bisa mandiri.

Dalam usaha saya yang masih terus belajar menjadi ibu, ternyata saya tak pernah sesabar harapan saya. Meski sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali (subuh) sejak dulu (yah walau terkadang bisa kesiangan juga), tetap saja pagi hari akan menjadi kekacauan super yang berpotensi menekan urat syaraf menjadi tegang seharian. Faktanya kebiasaan bangun pagi saya bukan sesuatu yang dapat menular pada anak-anak saya, juga bukan suatu contoh yang dapat ditiru dengan entengnya. Ngerinya lagi, suami dengan kebiasaan begadang dan hobi memancing malamnya itu sedkit menambah keruh suasana dan dia tak pernah berada dalam kapasitas siaga yang dapat meringankan keruwetan istrinya.

Sering membuat saya merasa gagal menjadi ibu rumah tangga, merasa sendirian dan tak bisa diandalkan. Meski seberapa keras saya mencoba, saya hanya merasa sangat kewalahan, seperti dikejar-kejar waktu dan kehilangan diri sendiri. Dua jagoan yang amat saya sayangi itu sebenarnya adalah amanah yang seharusnya dapat mendekatkan ibunya pada surga dan merupakan ladang pahala. Tapi sering, hal-hal yang terjadi berada di luar kontrol manusia, membuat saya kerap merasa berdosa karenanya.

Si besar berada dalam fase pra remaja yang amat mengesalkan. Mulai menyenangi cara menarik dan mengisolasi diri, mencintai game online melebihi kebutuhannya akan nasi, tipikal kakak yang kreatif tapi bukan main usilnya, jua musuh abadi untuk yang namanya bangun pagi. Untuk mandi, sarapan dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya adalah tidak mempan hanya dengan satu kalimat perintah atau anjuran. Sering diwarnai drama lebay tingkat dewa, konflik dan kadang cuilan kulit di betis juga. Jahat ya saya?

Lalu si kecil yang tahun ini akan memasuki taman kanak-kanak, adalah tipe balita yang masih terjebak pada fase mencari kenyamanan pada bagian tubuh ibunya. Pasca disapih di usia 2,5 tahun lalu ia menjadi ‘mentil addicted’ terutama saat menjelang, sedang dan setelah istirahat (tidur/tiduran). Rempong bukan main ternyata saya dibuatnya. Apalagi pas rewelnya kumat, dia bisa mentil berjam-jam, maka jadilah pekerjaan tangan saya dipending semuanya. Yang agak ngenes itu ya ketika pagi, jadwal mentil rewelnya itu bentrok sama jadwal panggilan alam dan mandi saya. Karena saya juga harus membantu usaha perniagaan suami jadi harus bersiap-siap. Walhasil, itu jadi dilema dari pagi ini ke pagi besok yang berkesinambungan, dari Senin sampai Minggu, dua puluh empat jam sehari kali tujuh hari, tiga ratus enam puluh hari dalam setahun. Wew. . .

Membuat opsi program untuk memiliki anak perempuan mesti saya simpan dalam-dalam. Oops!

Tapi kadang saya merasa agak sedikit bangga karena masih survive sampai sekarang dan masih berada dalam ambang batas kewarasan saya. Hahaha. . . Padahal ini bukan apa-apanya jika dibandingkan ketabahan almarhumah nenek saya yang punya selusin anak dan ditinggal mati kakek saya saat dua belas anak manusia itu masih kecil-kecil. Gak kuaaaat. . . #lambaikantanganpadakamera.

Sempat terpikir untuk sejenak cuti menjadi ibu. By the way, kira-kira kemana ya mengajukan proposal untuk cuti itu? Ada gak ya??

#mikirkeras

GOSIP DI PELATARAN RUMAH TETANGGA

Sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa blogwalking ke tempat sobat maya MWB’ers semua. Dan tak bisa memberikan bantuan atas sesuatu yang pernah disampaikan pada saya. Akhir-akhir ini saya agak sibuk dan sedang ada sedikit masalah, biasa, ibu-ibu yang mulai repot karena anaknya sudah harus masuk TK. Jadi saya mulai mengurus pendaftaran dan ternyata biayanya lumayan untuk ukuran kantong saya. Dan lagi, tak bisa dibayarkan nanti/dicicil (padahal maunya menunggu tabungan sekolah si Kakak bulan Mei/Juni nanti) karena yang sudah-sudah banyak yang mangkir dan tak bayar sampai lulus. Ironisnya, itu bukan karena kurang mampu. Ckckck. . . Kok tega ya?

Tapi kok masih bisa posting?

Itulah gunanya punya cadangan tulisan di draf, jadi ya. . . kebanyakan saya hanya mempublish tulisan yang sudah ada, biar tetap konsisten, gak vakum apalagi mati suri, mati kata atawa mati gaya. Hahahaha. . .

Terus, saya juga dapat shock therapy level maksimum karena kehadiran tetangga baru. Sebenarnya saya sudah lama hidup tanpa tetangga dekat (saya trauma, terakhir kali bertetangga saya pernah diintimidasi dan diusir gara-gara terpaksa mencabut aliran PDAM ke rumah tetangga karena mereka tak mau patungan membayarnya), entah kenapa kok saya yang jadi orang jahatnya padahal saya sampai jadi kuli cucian 9 bulan lamanya untuk membayar tagihan air yang membengkak itu? Kejam ya.

Saya senang punya tetangga lagi, artinya rumah saya tak akan lagi jadi satu-satunya di area persawahan ini. Walau saya bukan type orang yang senang ‘memberikan kelebihan kuah masakan’ pada tetangga. Tapi bukan berati anti sosial lo, saya berusaha jadi warga yang baik dan hanya mengurangi interaksi yang kurang perlu dan berlebihan, itu saja. Semisal gosip di pelataran rumah tetangga.

Inilah masalahnya pemirsa, dan ini juga yang membuat saya agak tertekan, para tetangga doyan sekali duduk-duduk di teras berjam-jam and talking everything. Setelah puas lalu mengunci pintu, tidur siang sedangkan anaknya yang ‘mucil’ tak bisa diam itu dibiarkannya berkeliaran di luar rumah.

Beberapa minggu pertama saya berusaha maklum dan senang juga mengobrol dengannya sebagai bentuk sosialisasi dan tanda pertemanan, tapi kok rasanya itu salah. Itu benar-benar menyita waktu dan gaya bicaranya yang high class super tinggi seperti tower operator seluler dan hapal gosip terkini, benar -benar mengganggu. Dan yang paling membuat saya shock, stres kuadrat adalah anaknya yang kalau BAB tak mau bilang, masih ‘keluar’ di celana dan ketika mau dicebokin dia gak mau sampai ngamuk dahsyat. Padahal sudah besar kelas TK B.

Ini benar-benar serius, karena harusnya di usia segitu anak-anak tidak BAB sembarangan lagi. Pernah suatu hari saya terpaksa menyuruh anak itu pulang ketika bermain di rumah saya. Saya mencium aroma ‘celana durjana’ itu di seantero ruangan dan baunya melekat pada lantai yang ia duduki. Mengenaskan sekali.

Maka sekarang saya tak tahan lagi, saya terpaksa jadi wanita jahat ketika tetangga2 saya duduk leyeh-leyeh bergosip ria dari pukul 9 pagi sampai tengah hari, karena saya harus mengerjakan tugas rumah. Jahat karena harus menutup pintu dengan wajah nyengir tak enak dan tak mengijinkan anak saya bermain dengan anaknya sejak insiden pertemanan mereka yang terakhir kali sukses menghilangkan dua belah sendal, membuat sapu alat kebersihan satu-satunya di rumah saya belepotan lumpur dan gulma yang mengganggu. Juga mengotori alat pancing milik suami saya. Benar-benar membuat saya kena Pra Menstruation Syndrome mendadak padahal haid sudah berlalu seminggu yang lalu. Saya marah, kesal, depresi.

Belum lagi sifat doyan pamer akut yang juga tak kalah mengganggu, ibu dan anak sama. Ini juga yang membuat anak bungsu saya terus merengek minta dibelikan sepatu roda karena mendengar ocehan anak tetangga yang sesumbar akan membelinya. Padahal saya tahu itu berat konsekuensinya karena si Kakak juga harus dapat hak yang sama. Artinya saya mesti beli dua pasang sepatu roda yang harganya tidak bisa dibilang murah. Padahal saya baru saja mendaftarkan si kecil sekolah TK dan si kakak harus ikut pelajaran tambahan karena nilai sekolahnya menurun menjelang ulangan kenaikan kelas. Itu membuat saya menunda membelikan sepeda untuk si kecil yang sudah direncanakan dari tahun lalu. Saya benar-benar dibuat pusing tujuh kali keliling lapangan futsal gara-gara perangai tetangga ajaib ini dan perihal trend sepatu roda itu.

Mungkin saya berdosa membicarakan uneg2 di sini. Tapi saya tak tahu harus bagaimana lagi. Faktanya, saya tidak pernah benar2 punya teman di lingkungan rumah saya. Beda visi dan misi, tak cocok. Bisa dibilang, kalau di rumah saya lebih memilih menyendiri; menulis, kecanduan file pdf (ebook), main game/menemani anak2, menyulam/merajut, mempelajari seni aksesori sebagai hobi dan berteman dekat dengan mbah Google. Miris!

How could it be??

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Sebenarnya sudah lama sekali ingin mengangkat topik ini. Dulu-dulu sempat saya bicarakan di FB, eh ternyata ada juga pria yang mengomentari dan merasakan hal yang sama. Dari pembicaraan dengan teman-teman dan kerabat juga ada pengalaman yang seperti ini. Membuat saya merasa harus menulis ini dengan lebih serius dan sistematis (halah bahasanya!).

Oke, ladies and gentleman ini dia bahasan tentang

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Di tengah perkembangan dunia dan industri fashion terkini yang kian dinamis, kaum wanita dihadapkan pada berbagai pilihan untuk penampilan dan gaya hidup sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Perihal kebutuhan pokok manusia terhadap bahan sandang (pakaian) tak lagi melulu tentang menutup bagian tubuh yang tak pantas terlihat atau hanya melindungi dari gempuran cuaca panas dan dingin. Mode, ragam dan tata cara dalam hal berpakaian telah sejak lama menjadi trend, simbol dan ikon tersendiri pada masanya, hingga detik ini.

Lalu apa itu yang dimaksud dengan BAJU MENYESAL ??

Adalah pakaian yang entah mengapa setelah dibeli atau selesai dijahit membuat kita kurang puas, kurang suka untuk memakainya. Intinya baju menyesal (yang sebenarnya masih terbilang baru dan bagus) adalah kebalikan dari baju favorit kita (yang walau udah jelek, jadul dan bulukan tapi tetap enak dipakai) itu.

Sebuah pakaian bisa tiba-tiba menjadi baju menyesal karena banyak hal dan sebab. Beberapa diantaranya yaitu:

1. PERUBAHAN BERAT BADAN

Bisa karena menjadi kurus atau gemuk.

Ini persis seperti yang saya alami sekarang ini. Sejak 2 tahun terakhir pasca saya berhenti memberi ASI pada si bungsu, berat badan melonjak drastis dari angka 54 kg (bobot dan pose ideal saya yang gak jauh beda sama Arzetti Bilbina atawa Nadine Chandrawinata; seksi dan slim tak terperi) ke 69 kg (bentuk fisik saya paling mutakhir nan termontok dan bohay tak tertahankan) pemirsa!

Maka jadilah ladies, banyak baju menyesal mendadak yang mesti didiskualifikasi dari arena etalase pajangan lemari yang amat saya cintai. Terhitung ada 6 lembar celana jins keramat, 3 rok bertuah, belasan atasan dan beberapa baju panjang, jubah, gamis yang mesti saya lantunkan sayonaraaa. . . Suksesss menjadi sesak, tak muat dan tak terpakai lagi.

Menjadi salah satu fase tergalau paling nyesek nomor 27 dalam hidup wanita (setelah liat mantan kita pacaran ama sahabat yang ada di urutan 26), yaitu perasaan sedih itu ketika menyaksikan pakaian yang kita cintai tak akan terpakai lagi.

2. PASARAN

Salah satu indikator kalo sesuatu itu sedang tren adalah dari banyaknya orang yang memakainya. Apa iya?

Tapi kalo misalnya dalam satu acara atau kemana-mana banyaknya orang memakai pakaian yang serupa itu, walau gak sama persis, pasti ada dong perasaan aneh itu. Apalagi kalo tren itu bertahan lama, dijamin dah mending punya kita dimuseumkan aja. Haha. . .

3. BAJU KEMBARAN

Ini ni yang bisa bikin shock therapy level tertinggi dan membuat wanita bisa uring-uringan gak jelas selama empatbelas hari dikamar gara-gara pas di acara hajatan atau pesta teman, kita make baju sama persis dengan yang dipakai musuh bebuyutan atau gebetan barunya si mantan.

Asli nyesek pilu deh, apalagi tu baju gak murah dan beli di distro yang diklaim pramuniaganya limited edition. Ini gak dimuseumkan lagi, bisa langsung masukin kardus buat sumbangan korban bencana alam atau panti asuhan.

4. KURANG PUAS DENGAN KONDISI PAKAIAN

Pernah gak setelah beli baju kok tiba-tiba ada yang rasa gak enak, gak pede saat memakainya? Padahal pas mau beli udah dicoba dan oke saja. Atau sudah empat kali bolak balik sampai ileran menjelaskan ke tukang jahitnya, pas tu baju udah selesai eh kok kurang sreg saat dipakai.

Pernahkan pasti?

Kalau saya sering, membuat saya menangisi malam-malam buta saat anak-anak dan bapaknya sudah tidur, memandangi pakaian itu sembari memutar otak sampai 7 kali lapangan sepak takraw dan mikir serius ini baju salahnya apa yak? Kok bisa gak enak dipakainya.

Maka jadilah selama masa aktifnya baju itu bisa jadi jablay abadi yang ditinggal bang Toyib tiga abad, tak tersentuh ladies. Sungguh mengenaskan.

Hal-hal semacam inilah yang membuat saya mendadak kerasukan dan bercita-cita ingin jadi desainer handal sekelas Dian Pelangi atawa Ivan Gunawan. Haha. . . Tapi bagaimana mungkin, membaca saja aku sulit. . . Eh, menjahit saja saya tak bisa. Habisnya kesal juga kelamaan jadi kolektor baju menyesal, walau sudah banyak yang dihibahkan ke orang yang lebih membutuhkan, tetap saja sakitnya tu di sini. Iya to?

Nah, ini ceritaku, apa ceritamu? Baju seperti apa yang membuatmu memberinya label menyesal?

GIGI: KESEHATAN, NILAI ESTETIS, SENYUMAN DAN PESONA

Ada apa dengan gigi??

Eit, bukan Gigi yang telah resmi jadi istri Raffi Ahmad, atau band Gigi yang sempat eksis dulu. Ini adalah tentang gigi dalam arti yang sebenarnya, gigi yang ada dalam mulut kita.

Saya itu termasuk orang yang sebenarnya cukup sadar dalam hal menjaga kesehatan gigi, setidaknya sekarang setelah punya anak dan semakin sadar betapa pentingnya gigi dan betapa menyakitkannya ketika kita bermasalah dengan gigi.

Saya juga penggemar makanan manis dan masa kecil saya punya kenangan buruk tentang betapa seringnya saya sakit gigi, padahal orangtua sudah cukup melakukan segalanya untuk menjaga kesehatan gigi saya.

Karena itulah saya terbilang cerewet tentang gigi anak-anak saya. Sejak usia 8 bulanan saat mulai tumbuh gigi, saya sudah mulai merawat gigi anak-anak, mulai dari sikat lembut dengan jari (sampai digigit), pasta gigi berhadiah mobil (mobilan, haha), gosok gigi sebelum tidur, tapi entah kenapa ke dua anak saya tetap sering banget sakit gigi.

Mungkin usaha saya belum maksimal, atau karena mereka ASI nya lama (hampir 3 tahun dan waktu menyusunya bisa sampai 2-3 jam). Atau karena emang doyan banget roti-rotian, permen dan makanan manis??

Entahlah. . .

Dan sekarang saya juga dibuat resah karena gigi tetap anak sulung saya sudah mulai tumbuh tapi gigi susunya belum lepas, dan dia ogah dicabut. Hiks. . .

Nah, karena itulah kesehatan gigi jadi amat penting karena berhubungan langsung dengan penampilan dan nilai estetis, gak kebayangkan wajah cakep dan keren tapi giginya gak rata dan ‘maju mundur’. Kecuali gigi abnormal yang bikin cantik; ginsul.

Jadi ada cerita menarik yang melatarbelakangi bahasan saya tentang gigi kali ini.

Kemarin-kemarin kami beli es jus di penjual tepi jalan di daerah saya yang terkenal lumayan enak dan laku juga. Yang paling menonjol sih si penjualnya. Ibu muda beranak satu, cantik, modis dan stylish juga dengan dandanan pake turban model mutakhir, make up, eye shadow biru, eye liner dan gak ketinggalan bulu mata palsu dan lipstik mentereng. Cocok-cocok aja sih dan gak berlebihan, sesuai usianya lah. Tapi kemudian ada yang janggal ketika ia tersenyum dan bicara.

Maaf, bukannya saya membicarakan kejelekan orang, ini hanya sebagai pelajaran tentang pentingnya kebersihan gigi karena berhubungan langsung dengan kecantikan dan kesehatan. Giginya amat bertolak belakang dengan penampilannya yang total tadi. Bisa dibilang kurang bersih, kuning kecoklatan dan aneh karena ada tempelan (entah perak, mutiara sintetis atau asesoris apa, yang jelas bukan behel) warna-warni di giginya itu. Sungguh kontras dan berpotensi meluluhlantakkan image bengkeng (Bahasa Banjar yang artinya keren, gaya, aksi dsb) yang telah terbangun melalu dandanannya tadi.

Ironiskan jadinya??

Lalu ada juga orang yang biasa-biasa saja, dandanannya standar gak make up, tapi ketika tersenyum mampu memalingkan duniaku dan duniamu karena manis dan pesonanya dan deretan gigi yang bersih terawat.

Memang ya, kalo perawatan gigi modern yang aman gak bisa dibilang murah, mahhal bingit dan lumayan menyita waktu juga (dulu pas menambal gigi anak saya maharnya dua ratus ribuan, seorang family pasang satu gigi palsu di depan hampir setengah juta dan tiga kali pertemuan). Tapi kalau sejak dini telaten membersihkan kita sebenarnya tak perlu merogoh kocek dalam-dalam hanya demi gigi. Resep nenek moyang selalu bisa jadi andalan: abu gosok dan sirih bisa menolong sebagai pencegahan. Syukur-syukur kalau rajin ke dokter gigi 6 bulan sekali.

Jadi ingat ada aktris Korea yang punya deretan gigi yang rapi dan putih bersih, walau dandanannya minimalis ia sangat mempesona di drama Miss Korea berperan sebagai Oh Ji Young yang di kompetisi wajah polos di drama itu, ia dinilai karena senyumnya yang menawan. Inilah dia Lee Yoon Hee:

miss-korea-e11-mkv-002070.jpg

oh-ji-young-senyum-screen.jpg
Waikikiii. . .

So sweet banget kan senyuman yang tampil bersama deretan gigi yang bersih terawat?

Gigi oh gigi. . .

Cerita tentang gigi lainnya:
Jangan Mengaku Galau Kalau belum Merasakan Sakit Gigi

Gigi Julak Ijuh



Gambar dari:
Eyang Kakung Google

ANTARA SAYA, BERAT BADAN DAN MEGHAN TRAINOR (Review Lagu All About that Bass)

Because you know I’m all about that bass Bout that bass, no treble.
4 x

Yeah, it’s pretty clear, I ain’t no size two. But I can shake it, shake it Like I’m supposed to do. Cause I got that boom boom that all the boys chase. And all the right junk in all the right places.

I see the magazine, workin’ that Photoshop. We know that shit ain’t real. C’mon now, make it stop If you got beauty beauty, just raise ’em up. Cause every inch of you is perfect. From the bottom to the top.

Yeah, my mama she told me don’t worry about your size. She says boys like a little more booty to hold at night. You know I won’t be no stick figure silicone Barbie doll. So if that’s what you’re into then go ahead and move along.

Because you know I’m All about that bass Bout that bass, no treble.
4 x

Hey!

I’m bringing booty back, Go ahead and tell them skinny bitches that. No I’m just playing I know you think you’re fat. But I’m here to tell ya, Every inch of you is perfect from the bottom to the top.

_____

Karena kau tahu aku amat suka bas ‘Amat suka bas, bukannya trebel.
4 x

Yeah jelas sekali, ukuranku bukan nomor dua. Tapi bisa kugoyang, bisa kugoyang seperti seharusnya. Karena kumiliki jedam jedum yang dikejar semua cowok. Sampah yang tepat di tempat yang tepat.

Kulihat majalah menggunakan Photoshop (editan.) Kita tahu semua itu bohong belaka. Ayolah, hentikanlah. Jika kau punya kecantikan, munculkanlah. Karena setiap inci dirimu itu sempurna. Dari bawah sampai atas.

Yeah, ibuku, dia bilang jangan pusing dengan ukuranmu. Dia bilang, para cowok lebih suka pantat yang lebih besar untuk didekap di waktu malam. Kau tahu aku takkan bertubuh lurus, boneka Barbie silikon. Jadi, jika itu yang kau kejar, Maka pergilah dan lanjutkanlah.

Kau tahu aku amat suka Bass, bukannya trebel. Amat suka bas bukannya trebel.
4 x

Hey!

Kan kukembalikan …. (?)
Ayo teruskanlah, katakan pada mereka yang kurus itu. Tidak, aku hanya main-main aku tahu kau pikir dirimu gendut. Tapi aku di sini tuk memberitahumu bahwa Setiap inci dirimu itu sempurna dari bawah sampai atas.

Terjemah-Lirik-Lagu-Barat

__

Videonya bisa ditengok DI SINI



Blak-blakan, apa adanya, berani, vulgar dan jauh meloncat dari pakem yang telah ada dan diyakini selama ini.

Itulah kesan saya ketika kali pertama menyaksikan video klip lagu ini di TV. Sukses membuat saya mengobok-obok isi kantong Google dan YouTube, memburu video dan liriknya. Dan sukses yang lebih drastis lagi adalah kemampuan lagu yang bernada ceria dan ngebeat ini membuat rasa percaya diri saya naik mencapai atap rumah tetangga, terbang dengan ringannya meski dengan bobot saya yang 70 kg ini.

Hahay. . . Mendadak saya merasa cantik, merasa dicintai karena saya mencintai diri saya sendiri. Tak perlu dijelaskanpun liriknya telah cukup menjelaskankan dengan gamblang bagaimana rasanya jadi wanita berbadan berisi yang harus bertahan hidup dalam ukuran kecantikan dan standar industri fashion dan kosmetik yang mengkultuskan tubuh ideal sekurus selangsing manekin, seimut boneka Barbie.

Ughh!

Seakan kurus dan langsing itu keharusan, sehingga jamak terjadi ritual permak tubuh yang menyakitkan dan menguras biaya. Agak kejam rasanya ketika di dunia perempuan kerap mengatakan dan meyakini bahwa :

” Kecantikan diciptakan bukan dilahirkan, dan tak ada pencapaian tanpa rasa sakit.”

Jangan ladies! Stop! Berhentilah menyakiti diri demi tujuan penampilan nan cantik itu.

Meski kabarnya lagu ini menuai protes yang datang justru dari kalangan feminis karena dinilai menyudutkan wanita yang langsing (karena kuatnya pledoi dalam lirik lagunya atas wanita gemuk yang selama ini juga tak jarang seakan dianaktirikan dari dunia fashion dan lekat dengan diskriminasi), tapi lagu ini telah menggugah dan menginspirasi saya, dan amat sangat mewakili perasaan dan diri saya yang tahu benar rasanya _dibully bahkan dibuat merasa bersalah dan tak nyaman atas apa yang saya makan dan lakukan karena anggapan orang_ ketika jarum timbangan terus bergeser ke kanan dan amat sulit jika harus membuatnya ke kiri lagi.

Meghan Trainor sendiri dari yang bisa kita semua lihat adalah gadis muda yang manis dan menarik meski tubuhnya memang berisi tapi setiap wanita seksi dengan cara dan gayanya sendiri. Mau kurus ataupun gemuk semua punya plus minusnya masing-masing, apalagi jika mulai memasuki ranah kecantikan, hubungan dengan lawan jenis dan sensualitas.

So, selama gemuk tak membawa masalah dan tetap sehat, pede aja lagii, karena,

Yeah, my mama she told me don’t worry about your size. . .
She says boys like a little more booty to hold at night. . .
(Aw aw aw. . .)

ANALOGI PLAYBOY; BUAYA ATAU KUCING ??

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menghadiri acara walimah perkawinan seorang kerabat yang masih terbilang saudara satu bapak dari suami saya. Ya, suami saya yang selama ini saya ketahui sebagai anak tunggal ternyata punya saudara sebapak. Dan tidak hanya satu, ada banyak, saya menyebut banyak karena tidak tahu jumlah persisnya dan mereka saling terpisah satu sama lain bahkan ada beberapa yang tidak saling kenal.

Jangan tanya soal hubungan silaturahmi yang terputus puluhan tahun, hal itu terjadi bukan tanpa sebab. Ternyata renggangnya hubungan kekeluargaan ini terjadi karena imbas dari sifat playboy akut yang diderita seorang ayah.

Kok bisa?

Maaf sebelumnya, bukan bermaksud membuka aib orang yang telah tiada, tapi saya hanya ingin menjadikan ini sebagai bahan pelajaran bagi kita semua.

Seorang playboy biasanya diidentikkan sebagai Pria Buaya, tidak setia dan senang bermain wanita. Padahal ini analogi yang agak kurang tepat, sebab Buaya itu termasuk hewan yang setia pada pasangannya, sama seperti Penguin dan Merpati yang termasuk hewan paling setia di dunia.

Kalau menurut saya, analogi yang tepat untuk sifat playboy adalah Kucing. Mengapa kucing?

Jadi dalam sebuah percakapan antara suami saya dan salah seorang saudaranya sebapak (kakak), saya mendengar begini:

“Aneh sekali , kita ini saudara yang bahkan tidak tahu satu sama lain. Kita bahkan punya banyak keponakan. Kalau seperti sinetron bisa jadi terjadi hubungan sedarah. Karena bapak dahulu benar-benar bertindak seperti Kucing. Tukang kawin, membuat anak dan lalu meninggalkan istri-istrinya yang membesarkan anak-anak seorang diri, lalu kemudian mencari istri baru lagi.”

Soal tanggung jawab, jangan tanya itu pula. Playboy semacam ini benar-benar bertindak seperti Kucing, datang pada saat musim kawin dan pergi saat perbuatannya mulai menunjukkan hasilnya. Bukankah kucing jantan biasanya pergi setelah sukses menghamili betinanya??

Sangat memiriskan hati membayangkan seperti apa kondisi anak-anak yang ditinggalkan bapaknya itu, anak-anak yang mesti berjuang untuk bertahan hidup tanpa kepedulian seorang ayah dan beban mental karena beribukan seorang wanita yang mesti menyandang status janda gantung di usia yang masih muda.

Benar-benar Kucing garong penjahat wanita. Dan yang paling membuat saya tak habis pikir, ada saja (bahkan banyak) wanita yang terjerat cinta sesaat playboy cap Kucing ini. Mungkin pepatah yang menyatakan bahwa “wanita lebih tertarik pada pria bajingan” ada benarnya. Karena sepak terjang dan predikat playboy ini seakan-akan jadi rekam jejak yang serupa piagam penghargaan yang dapat melegitimasi upaya mereka dalam penaklukan hati wanita. Tak terelakkan sekaligus tak terbantahkan. Hsseeeh. . . . .

Ternyata ‘Kucing’ yang berbulu lembut, jinak dan menggemaskan itu bisa sangat mengesalkan kaum hawa. Ckckck. . .

Nah, men!!
Mau jadi pria gentleman atau manusia serigala setengah kucing??

HUJAN MALAM MINGGU DAN PENANGKAL HUJAN UNTUK ACARA HAJATAN

air-hujan-biru-daun-kunin.jpg

Gambar dari:
http://www.dakwatuna.com

Desember telah membuktikan eksistensinya. Menjelang pergantian tahun, hujan terus turun tak kenal tempat dan waktu.

Jika ada 2 hal yang paling disukai para jomblo, maka itu adalah: gebetan yang baru putus sama pacarnya dan hujan yang turun di malam Minggu semalam suntuk. Hihihi. . . .

Itulah yang terjadi di daerah saya, kawasan Gambut dan sekitarnya diguyur hujan semalaman dan masih tak berhenti sampai siang hari Minggu ini.

Kalau saya pribadi, meski bukan jomblo, saya amat sangat menyukai hujan yang turun malam hari. Bukan perkara kelambu dan pintu kamar yang bisa jadi terkunci rapat lebih awal (ehem. . .), tapi bunyi hujan yang jatuh di atas atap itu loh, jauh lebih mujarab daripada lagu pengantar tidur yang paling syahdu sekalipun. Seisi rumah dijamin tidur nyenyak.

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting.
Airnya turun tidak terkira. . .
Cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua.

Lalu di daerah tempat tinggal saya ada kebiasaan mengadakan acara hajatan perkawinan di hari Minggu. Jadi diharapkan agar hari itu cuacanya cerah dan tidak hujan.

Untuk itu maka si empunya hajatan punya ritual khusus yang dipercaya untuk menangkal hujan. Yaitu dengan manyandaakan tudung panci (dari bahasa Banjar, artinya menggadaikan tutup panci) pada tetangga yang dianggap cukup berpengaruh/tetuha kampung dan satu lagi yaitu mamais batu (memepes batu seperti pepes ikan, dibalut dengan daun pisang, lalu dikukus atau bisa juga dibakar)

Bingung kan pasti??

Hari gini masih melakoni hal tak masuk akal semacam itu? Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah jadi bagian tradisi turun temurun. Mungkin memang hanya mitos yang tidak terbukti kebenarannya (karena hanya Allah lah penentu segalanya), tapi para pelakunya selalu mensyaratkan ritual basanda tudung panci dan mamais batu ini sebagai bentuk ikhtiar agar acara tidak terkendala hujan dengan catatan hakikat hati dan keyakinan hanya kepada Allah semata.

Wallahualam. . .

Dan rupanya, matahari masih bersembunyi dibalik awan mendung dan hujan masih tak mau berhenti sampai saya publish postingan ini, keberangkatan saya ke tempat hajatan tetanggapun tertunda.

SELEBRASI PASCA MELAHIRKAN

Setelah 9 bulan lamanya menikmati momen menakjubkan sebuah kehamilan, kini tiba saatnya menyambut kehadiran si buah hati. Kegembiraan dan kesibukan selalu mewarnai hari-hari saat menjadi seorang ibu. Banyak hal dan rencana-rencana yang hendak dilakukan setelah melahirkan, saya menyebutnya selebrasi pasca melahirkan, semacam kegiatan yang menandakan bahwa saya telah jadi seorang ibu, salah satu fase penting dalam hidup seorang perempuan.

Inilah dia selebrasi pasca melahirkan itu:

1) TENGKURAP

Setelah kurang lebih 9 bulan lamanya tidak bisa tengkurap, tentunya para pembaca yang budiman bisa membayangkan betapa penatnya itu. Maka sehari setelah melahirkan saya dapat merasakan nikmat yang luar biasa karena dapat tengkurap lagi. Tapi untuk yang melahirkannya melalui operasi caesar harap bersabar dulu, tengkurapnya ditunda sampai benar-benar sembuh total jahitannya, takut kenapa-napa. Oke?

2) BERGERAK

Ini yang kebanyakan disepelekan ibu-ibu muda, seringkali pasca melahirkan membuat sulit bergerak dan enggan beraktivitas seperti biasa, karena ada mertua atau orang tua yang melayani, kerjanya hanya di kasur saja selonjoran seharian. Padahal bergerak dalam mengerjakan tugas harian bisa mempercepat pemulihan loh dan itu tak akan membuat kita sakit parah atau jahitan terlepas. Asal jangan main salto dan lompat tinggi aja.

3) MEMAKAI KEMBALI BAJU-BAJU LAMA

Ini dia momen selebrasi yang paling menyenangkan bagi saya. Setelah dibuat puas oleh model pakaian besar dan gombrong yang memuat perut buncit maka ini saatnya memakai lagi baju-baju yang sekian bulan hanya bisa ngumpet di lemari. Bisa kembali tampil modis dengan jins pensil atau atasan yang ngepas badan. Secara, biasanya ibu-ibu kalo udah beranak apalagi memberi ASI bobot badannya bisa turun drastis dan langsing alami.

Saya aja dulu habis beranak cuma 54 kg, padahal pas hamil naik di level 70 kg, (tapi sekarang setelah menyapih anak ke dua saya, bobot saya naik lagi. Hm. . . Jadi ngarep buat hamil lagi, kali aja bisa kurus dan langsing kembali kalo udah beranak dan kasih ASI. Wkwkwkwk. . .)

4) POTONG RAMBUT (MERIAS DIRI)

Syukur-syukur kalo bisa perawatan nifas ke salon atau klinik kecantikan/kesehatan. Tapi kalau gak bisa, cukup dengan mandi bersih sampai wangi, pakai lotion badan atau lulur/wadak tradisional sebelum memakai korset/gurita membebat perut. Dan yang pasti saya lakukan adalah potong rambut setelah masa nifas saya usai. Semacam ritual ‘merdeka’, kebebasan, rasa praktis dan efisiensi. Cukup menyisakan sedikit rambut untuk diikat.

5) HUNTING PERLENGKAPAN BAYI

Karena saya bukan tipe calon ibu yang latah kalap beli segala peralatan bayi ketika hamil, maka saya hanya membeli yang memang perlu dan secukupnya saja. Setelah bayinya mulai berbentuk (baca: agak besar) barulah saya beli baju dan perlengkapan bayi yang lucu dan unyu itu. Tapi tetep, skala prioritas dan lama pemakaian jadi bahan pertimbangan.

6) UPGRADE PAKAIAN DALAM

Ini yang gak kalah pentingnya bagi para ibu baru. Perubahan bentuk badan berarti juga perubahan ukuran seperangkat alat kelengkapan pribadi. Sudah saatnya menanggalkan celana dalam lebar khas nenek-nenek, mulailah menggantinya dengan panty seksi, lingerie dan dapatkan perhatian lagi dari suami (wew. . . Xixixi. . .)

7) MENGUNJUNGI TEMAN/TETANGGA YANG MELAHIRKAN

Ini penting juga loh karena manusia makhluk sosial. Kumpul-kumpul di klub kehamilan atau bertandang ke rumah teman dan tetangga, saling berbagi pengalaman, curhat soal anak dan kehamilan bisa jadi jurus jitu menangkal Baby Blues atau stres pasca melahirkan. Jangan mengurung diri di rumah terus, keluar dan hadapilah indahnya dunia bersama si kecil dalam gendongan Anda!

8) RAJIN MENGHADIRI UNDANGAN

Juga sebagai salah satu bentuk sosialisasi. Setelah jadi ibu, wanita juga harus mulai membaur dengan lingkungannya. Dan percaya deh, pergi ke acara hajatan dengan membawa anak pasti lebih menyenangkan daripada pergi sendirian. Terlebih kalo bawa kakaknya yang masih balita, pasti dapat perlakuan istimewa dengan disuguhkan makanan lebih dulu (haha. . . Pengalaman nih emang kayaknya!)

Nah, itulah kira-kira ladies momen-momen selebrasi pasca melahirkan berdasar pengalaman pribadi saya. Apapun itu, walau betapa repotnya menjadi seorang ibu, selalu ada saja saat-saat terindah yang tak akan terlupakan. So. . . Enjoy this sweet horible moment!