OKTOBER BAPER (Edisi Kehilangan Mywapblog)

Galaulah kalian, galaulah kita, galaulah saya!!

Faktanya, di dunia ini ada banyak hal yang berada di luar kendali kekuasaan kita. Salah satunya adalah tentang masalah Mywapblog yang kita cintai ini, yang peredarannya akan segera hilang dari muka bumi ini. Padahal…..

Dulu, bahkan sekarang pun jikalau Mywapblog resmi ditutup, ngeblog tanpa perangkat komputer atau laptop itu adalah suatu hal yang sangat niscaya mustahil. Kerena itulah kehadiran Mywapblog di tengah banyaknya umat manusia dengan kemampuan dan fasilitas terbatas yang hendak menyalurkan hobi sharing dan menulis tetapi tak punya laptop, itu laksana sebuah oase di tengah gersang dan kejamnya gurun pasir terpanas di dunia. Bayangkan, kita semua dapat bebas berkarya dan mengelola blog lewat ponsel saja, hampir nyaris semudah kita update status galau dan alay di facebook!!!
Dan tentu saja, kita dapat juga bergaya, bangga, gak kalah dengan blog sebelah. Jiah!!

Tapi mungkin memang benar apa kata orang, kegembiraan yang agak "terlalu" indah dan penuh euforia emang gak akan tahan lama. Dan… this is it, so inilah akhirnya, kita berkabung, saya berduka sodara sodara!!! Atas berita akan ditutupnya mywapblog.

Terasa memang agak ganjil selama saya ngeblog di Mywapblog, tiga tahun pemirsa, bukan waktu singkat untuk sebuah kesabaran, yap! Selama itu saya terus bersabar dengan keterbatasan menulis lewat ponsel java yang harganya tak seberapa jika dibandingkan ponsel android terkini. Bersabar atas fasilitas ngeblog gratis yang servernya sering down hingga tak bisa diakses berhari-hari. Bersabar atas kwalitas lemotnya paket jaringan internet yang dibeli dengan harga rupiah termurah. Bersabar atas segalanya, bahkan saya bersabar ketika menkominfo, UC Browser dan provider kartu seluler yang saya pakai berkonspirasi memblokir banyak situs, termasuk Mywapblog, yang membuat saya tak lagi bisa maksimal dalam ngeblog ria. Kejaaaaaammm….

Maka, kalau kalian yang baru aja tempo hari bikin blog di sini, dan udah mau nangis darah saking bapernya karena Mywapblog mau ditutup, PANDANGLAH SAYA, LIHATLAH SAYA DAN USER-USER LAWAS LAINNYA yang udah sedia ampe lumutan menulis dan koar-koar di Mywapblog selama ini, dan kemudian menemukan fakta paling menyakitkan seperti ini. HOW COULD IT BEEEE??!!!!! Bayangkan betapa bapernya kita!!! Yang udah pernah jatuh bangun merasakan rumit, nyesek, ngenes dan juga senangnya ngeblog lewat hape. Baper sebaper-bapernya sayang!!

Dulu, harapan dan ekspektasi saya ketika pertama ngeblog adalah ingin mengabadikan kenangan dan membuat sejarah saya sendiri, kerena saya takut jikalau saya tua nanti saya akan semakin pelupa dan mulai tak bisa mengingat lagi moment-moment terbaik dalam hidup ini, karena itulah kelak blog inilah yang akan menjadi penyambung lidah atas kisah yang tak pernah bisa saya sampaikan secara lisan, blog inilah yang akan jadi kotak pandora berharga tempat saya menyimpan semua cerita. Lebih dari itu, blog ini adalah bukan sekadar karya tulis saja, blog ini adalah kumpulan KEKAYAAN INTELEKTUAL saya yang tak ternilai harganya!!

Ok, mungkin memang agak berlebihan, tapi memang seperti itulah saya menganggapnya.

Barangkali memang seperti inilah kehidupan, kita tetap harus bertahan. Seperti halnya dulu kejayaan Friendster yang digantikan Facebook, Multyply yang punya begitu banyak user pun akhirnya juga tutup yang membuat anggotanya juga kocar kacir entah kemana, situs Ngerumpi dot com yang punya motto ngerumpi tapi pake hati juga akhirnya tiada lagi. Seperti itu…. datang, hilang, pergi, hanyalah bagian kecil dari kehidupan, dan jikalau karena itu saya merana, baper, menangis dan insomnia lalu menulis keluh kesah penuh luka ini, maka itu juga hanyalah sebagian kecil saja dari masih banyaknya luka dan guncangan masalah yang akan menimpa dalam hidup ini.
Harusnya tidak apa-apa, harusnya kita bisa, harusnya…. Tapi…..

Mywapblog….
Banyak hal yang tak dapat saya relakan dalam kehidupan, dan kau kini menjadi salah satu di antaranya.
Hikz…..

Advertisements

KEANEHAN PENDIDIKAN: TAHUN AJARAN BARU, MASA ORIENTASI DAN KEKERASAN

Kita sudah berada hampir di penghujung Ramadhan yang juga menandai akan berakhirnya libur panjang akhir tahun. Ini saatnya kembali ke sekolah baru atau kelas baru.

Biasanya anak-anak sekolah sangat semangat menyambut tahun ajaran baru ini. Terlihat dari gegapgempitanya mengikuti kegiatan hari pertama di sekolah. Tentu saja masa orientasi siswa yang ditujukan untuk pengenalan dan adaptasi di lingkungan sekolah atau kampus yang baru. Nama lainnya ospek atau ajang perpeloncoan.

Sebenarnya ini tradisi tahunan yang sudah biasa, tapi saya tergerak menulisnya karena kok makin kesini acara orientasi siswa semacam itu makin aneh dan ‘tak terkendali’. Mulai dari dandanan ala orang gila sampai kekerasan yang kerap menghilangkan nyawa. Dan itu bukan sekali dua. Ada apa ini sebenarnya?

Dulu semasa SMA saya sering bergelut dengan kegiatan OSIS dan MOS, tapi saya menilai semuanya masih wajar. Tentang keharusan membawa sapu lidi, bakul dan topi anyaman, atau bata beberapa biji. Yah. . . Walau ada beberapa yang akhirnya tak berguna sama sekali. Semisal pita warna warni di kerudung, atau ngapain pake kaos kaki belang sebelah. Atau. . . Berasa aneh juga kalo kakak kelasnya diharuskan galak dan pemarah. Loh?

Sekarang malah tambah parah, 3 hari selama MOS para siswa dibuat ‘segila mungkin’. Bawa-bawa kalung tutup botol, dot bayi, apaan maksudnya? Gak menurut siap-siap dihukum senior, mulai dari sit up atau push up, atau bisa jadi di bullying.

Heran aja, kok dilingkungan pendidikan semua itu bebas terjadi?? Sekolah yang kita bayar gak bisa dibilang murah, tujuannya agar mencerdaskan, tapi kok dibeginikan? Dan ironisnya lagi selalu berulang saban tahun.

Masa orientasi telah menarik batas yang jelas antara senioritas dan superioritas tanpa batas yang mana para junior harus patuh dan manut bahkan untuk tindakan di luar batas.

Kalau tujuannya untuk pengenalan lingkungan sekolah, kenapa juga harus ada ajang plonco-plonco sok jago? Kenapa juga para siswa baru dapat nama julukan yang harus mengundang ejekan? Juga berdandan memalukan? Heran. . .

Bahkan ketika jatuh korban karena tindak kekerasan yang dilakukan kakak kelas pada adik kelasnya, semua hanya tinggal cerita tanpa ada perubahan bagaimana ini tak terulang lagi. Masa orientasi siswa telah lumrah menjadi pot subur menumbuhkembangkan bibit dendam pada para junior yang diam-diam berharap bisa melakukan hal serupa di tahun-tahun mendatang pada adik kelas mereka nantinya.

Hm. . . Sesuatu memang!!!

PENDIDIKAN: KEBANGGAAN ATAU KESOMBONGAN?

Katakanlah kali ini saya sedang down, gak bisa move on, sedih bin nelangsa alias galau tingkat dewa. Saat ini saya sedang berada di titik terendah perasaan hati yang tersakiti (halah lebay! Udah kayak abege labil ajah. . .)

Semakin kesini, semakin saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan sekolah yang tinggi. Lebih penting lagi, meraih ilmu sepanjang kehidupan.

Jadi ceritanya, baru-baru ini saya ketemu teman lama jamannya sekolah dulu, kami pun bertukar cerita, sekarang anaknya juga sudah dua. Sekarang dia juga sama seperti saya, jadi pedagang dan tidak kuliah. Dari ceritanya ia agak menyayangkan karena tak bisa meneruskan pendidikan pasca SMA padahal dia (juga saya) termasuk siswa berprestasi yang selalu masuk 5 besar.

Lalu ia bercerita tentang teman-teman dulu yang ‘lebih beruntung’ karena bisa kuliah dan punya pekerjaan bagus, gaji tinggi dan jabatan prestisius. Dan ah. . . Rasa minder itu sedikit mengikis rasa syukur atas hidup kami saat ini.

Ironisnya, teman-teman yang sekarang ‘sukses’ itu adalah orang-orang yang dahulunya malas sekolah, bandel, aktivis nyontek, jago curang dan sebagainya. Tapi satu hal yang mereka punya dan tak ada pada kami: mereka kaya.

Sekali lagi, pendidikan dan sekolah terbaik hanya milik mereka yang mampu membayarnya, dan mereka bisa berpongah-pongah ria membanggakannya, dan sah-sah saja bila menyombongkannya.

Yang paling membuat saya jatuh ke titik terendah adalah cerita dari Fikri anak sulung saya, yang pas kelas 3 ini ia punya wali kelas yang ternyata adalah teman sekolah saya dulu. Selama setahun menjadi guru kelas anak saya, saya amat merasakan dan menyadari bahwa titel sarjana di belakang nama seseorang akan menjadi pembeda yang kejam bagi orang yang tidak mempunyainya seperti saya.

Sebagai guru, yang mana anak saya, saya titipkan padanya selama di sekolah, beberapa kali saya rasakan sikap dan perkataan guru tersebut yang agak melukai harga diri dan merendahkan saya sebagai orang tua. Dan tidak sekali dua kali anak saya menangis dan sering murung karena sikap dan kata-kata gurunya ini.

Saat itu terjadi saya hanya bisa menelan airmata dan terus menyemangati Fikri agar jangan kecil hati. Karena itu lah nak, kamu harus sekolah sungguh-sungguh agar tidak terhina, dapat menjadi sukses dan jangan semena-mena.

Saya jadi teringat tokoh Lintang di novel Laskar Pelangi yang sangat jenius dan pintar luar biasa tapi ‘hanya berakhir menjadi buruh serabutan’ dan tak bisa kuliah ke luar negeri seperti Ikal (padahal Ikal hanya jadi pengangguran setelah kuliah di Prancis).

Betapa sempitnya pikiran manusia akhir zaman dalam menakar bentuk kesuksesan. Memangnya kenapa walau pintar tapi tak kuliah? Walau hanya jadi kuli rendahan tapi mampu menghidupi diri sendiri dan tak kelaparan, bukankah itu juga suatu kesuksesan?

Dan lagi, pendidikan macam apa yang dapat dibanggakan ketika kemampuan nilai dan otak tak mencukupi maka sogokan yang menjadi pembuka jalan??

Inilah fenomena yang sudah amat lumrah dan biasa. Orang-orang ‘pintar dan berpendidikan tinggi’ di luar sana sudah terbiasa berbangga hati pada jabatan dan profesi mereka bahkan tak sungkan menyombongkan diri pada orang yang dianggap lebih rendah dari mereka.

Inilah dunia yang absurd dan aneh itu. Seorang petani di desa yang punya puluhan hektar sawah akan dianggap kesuksesan yang biasa saja walau tanah itu miliknya sendiri. Tapi coba lihat, seorang sarjana yang dapat bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar milik asing justru amat dibanggakan begitu rupa. Padahal hanya jadi jongos, bawahan yang difungsikan untuk mempertebal pundi-pundi atasan mereka. Inilah realitas pendidikan yang sama sekali tidak mencerdaskan, tidak memerdekakan, justru melahirkan perbudakan dan penjajahan gaya baru yang kita semua bangga-banggakan menjadi lingkaran setan mematikan.

TANTANGAN PENDIDIKAN DI AKHIR ZAMAN

Lama juga tidak posting sesuatu, jadi kangen dengan kegiatan blogging. Nah, daripada nyampah tidak karuan mengumbar status galau di FB, mending saya menulis lagi di sini. Semoga para pengunjung setia tidak bosan, ya ya?

Bukannya sok alim atau sok suci, juga bukan bermaksud menyinggung SARA, ini hanyalah bentuk kekhawatiran dan kegalauan saya saja sebagai orang tua, sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Apalagi di era sekarang, yang katanya sudah masuk kategori zaman edan. Dimana anak-anak semakin luas pergaulannya dan semakin berliku tantangan pendidikannya. Bukan hanya sekedar pendidikan yang menunjang kehidupan fana duniawi, tapi yang terpenting dan (seharusnya) yang utama adalah pendidikan untuk bekal akhirat kelak.

Ada 4 peristiwa yang membuat saya ingin menulis ini:

¤Nah, kemarin itu anak saya yang masih kelas 3 SD itu ada tugas praktek gerakan solat dari guru agamanya. Satu persatu murid maju ke depan kelas dan memperagakannya. Ada 3 penilaian: BAIK, CUKUP dan KURANG. Kata anak saya, banyak yang nilainya KURANG karena tak hapal gerakan solat.

¤Ada seorang pemuda yang saat orang tuanya meninggal ia tak bisa membacakan doa dan surah Yasin dalam tulisan arab dan kesana kemari mencari Yasin yang ada tulisan latinnya.

¤Ada sekumpulan anak-anak tengah bermain di salah satu rumah temannya. Lalu di rumah itu ada orang dewasa yang sedang shalat zuhur. Tiba-tiba ada seorang anak usia 7 tahunan yang bertanya:

“Itu ibumu lagi ngapain?”

“Lagi shalat, emang kamu gak tahu?” jawab si anak dari pemilik rumah yang lagi shalat itu.

Kalau anak yang bertanya tadi non muslim mungkin wajar. Tapi ia muslim, ironis jika shalat saja ia bahkan tak tahu. Apa orang tuanya. . . .

¤Saya sempat terlibat pembicaraan serius dengan adik saya yang masih sibuk merampungkan kuliahnya. Katanya, menilik pendidikan anak-anak sekarang perlu bukan hanya sekedar pelajaran umum, yang terpenting adalah penanaman nilai moral dan agama.

Anak-anak yang dibekali ilmu agama, katakanlah salah satunya bersekolah di madrasah atau pesantren yang mengkhususkan pada pelajaran keislaman, bukan jaminan ia bisa menjadi ‘lurus’ dan tidak terjerumus pergaulan yang ke barat-baratan. Apalagi jika sejak kecil sudah dijejali tata cara dan gaya pendidikan yang hanya mementingkan tujuan kemapanan duniawi saja.

Memang, 2 hal itu juga tergantung pribadi si anak nantinya. Tapi bukankah paling tidak sebagai langkah awal penanaman nilai-nilai moral dan agama, sebagai dasar untuk bekal akhirat kelak. Karena itu, jauh lebih penting dari segala jenis pendidikan (umum maupun agama) yang didapat anak di sekolah, adalah PENDIDIKAN AGAMA DI RUMAH. Jadikan rumah dan para penghuni di dalamnya punya atmosfer keislaman yang kondusif dan terarah.

Yang lebih mencemaskan saya, berkaca dari peristiwa di atas, adalah ironisme yang terjadi di kalangan masyarakat belakangan ini. Para orang tua berramai-ramai mengikutkan anak-anaknya dalam program les untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris atau untuk les musik yang kadang tidaklah terlalu perlu.

Tapi ketika anak-anak hanya bisa bengong dan melongo saat membaca surah al fatihah karena tak bisa membaca huruf hijaiyah, yang saya lihat orang tuanya adem ayem saja, tak ada niat memberikan les mengaji atau mengajari si anak baca tulis Al Qur’an.

Sungguh sesuatu yang amat memiriskan rasa hati saya.

Jikalau di rumah saja anak tak mendapat bimbingan agama dan pendidikan moral yang cukup dan tepat lantas bagaimana jadinya dengan pergaulannya di luar rumah? Maka kita tak perlu kaget jika tawuran pelajar marak, bisa bergaul bebas tanpa batas, sampai seks usia dini hingga kehamilan dan aborsi.

Saya bersyukur, walau tidak pernah sekolah agama secara intensif tapi orang tua terutama Abah, beliau cukup sadar dalam penanaman nilai agama bagi anak-anaknya. Saya masih ingat, dahulu selesai solat Magrib berjamaah, beliau selalu mengajari saya mengaji walau saya juga bersekolah di TPA setiap sore. Dan suasana itulah yang ingin saya ‘hidupkan’ di lingkungan keluarga saya.

Sungguh tak mudah, mendidik anak-anak di era ini penuh tantangan dan perlu pengawasan ekstra. Ini adalah akhir zaman, perlahan menuju pasti suatu kehancuran yang tak terelakkan. Dan kita semua perlu bekal iman yang cukup agar kehancuran itu tak menjadikan kita binasa dan masuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Wallahualam bishshawab. . .

DILEMATIS KURIKULUM PENDIDIKAN SD

Saya menulis ini hanya dari kaca mata masyarakat awam, saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang amat mencemaskan kondisi pendidikan dan pelajaran di sekolah dasar.

Kemarin saya sempat menulis status di facebook tentang pelajaran kelas 3 SD itu nyaris sama dengan pelajaran SMP belasan tahun lalu pas jamannya saya sekolah dulu. Lalu Taofiqussalam memberi komentar begini: “Bener bunda, menurutku belum layak anak SD menerima pelajaran seperti itu. Dinas Pendidikan perlu meninjau ulang masalah kurikulum.”

Setali tiga uang dengan pendapat seorang guru olahraga saya pas SMA dulu. Beliau juga mengaku agak kebingungan dengan pelajaran keponakannya yang masih SD. Materinya sudah sangat ‘tinggi’ dan ‘sulit’ untuk diterima anak-anak.

Kata beliau lagi, untung kalau orang tuanya pernah sekolah, minimal sampai SMA seperti saya, kan bisa mengajari anak. Lah kalau pendidikannya SD saja tidak khatam bagaimana?

2 pendapat tersebut benar-benar membuat saya merenung. Karena saya benar-benar merasakan sendiri hal ini pada anak saya Fikri yang masih kelas 3 SD. Setiap saya membantunya mengerjakan PR, saya jadi merasa jadi anak sekolah yang baru belajar juga, karena materi pelajarannya amat sangat berbeda dan juga baru dibandingkan masa-masa saya sekolah dahulu.

Sebagai contoh kecil saja adalah pada pelajaran IPA, istilah-istilah Biologi tentang penggolongan tumbuhan seperti Monokotil, Dikotil. Tentang hewan ovivar, vivivar, herbivora dan karnivora sudah ada dan harus dipelajari di kelas 3, yang mana dahulu saya baru mempelajari ini pada saat SMP. Untuk pelajaran yang lebih menguras otak seperti matematika, jangan ditanya lagi bagaimana tingkat kesulitannya. Satu kata ‘STRESS’ cukup menjelaskan.

Memang, semua ini demi kemajuan pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Tapi toh, ternyata, pada penerapannya kita dihadapkan pada dilema. Banyak anak-anak yang tidak bisa menerima pelajaran dengan maksimal karena tidak atau kurang mengerti pada pelajaran yang disampaikan di sekolah.

Belum lagi para murid dituntut untuk belajar aktif dan mandiri dengan sarana buku penunjang dan alat pendukung belajar yang terbatas. Tak apa jika di semua sekolah negeri memiliki fasilitas seperti komputer dan buku-buku perpustakaan yang memadai. Kenyataan di lapangan semua itu masih barang langka, kalaupun ada, penggunaannya belum seperti yang diharapkan.

Sementara, buku yang menjadi pegangan para siswa hanyalah LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang lebih mengutamakan soal-soal dan latihan-latihan tapi minim materi penjelasan. Berkali-kali saya harus mencari jawaban di luar buku, beruntung jika kita melek teknologi, masih bisa mencari referensi di internet. Kalau tidak? Siap-siap dengan kolom jawaban kosong dan nilai NOL.

Terlebih lagi, saya lihat, lebih mengutamakan pelajaran umum dan nilai akademis. Untuk program pendidikan karakter dan kerohanian (pelajaran agama) masih sangat kurang. Terbukti dengan pelajaran seperti matematika yang bisa sampai 4 kali dalam seminggu, dan agama hanya 1 atau 2 kali pertemuan saja. Sungguh sangat disayangkan.

Dulu-dulu juga, saat anak saya masih TK B. Guru-gurunya sempat memberi penjelasan pada kami selaku orang tua murid tentang les membaca dan menulis yang ‘terpaksa’ diwajibkan pihak sekolah.

Kata mereka, seharusnya sekolah TK, pada hakikatnya sebagai pendidikan usia dini hanya memperkenalkan sedikit saja tentang calistung. Yang utama adalah kegembiraan bermain dan sosialisasi anak-anak. Tapi karena saat masuk SD sudah harus bisa membaca dan menulis, maka anak-anak TK ‘terpaksa diwajibkan’ mengikuti les secara intensif 3 kali seminggu dan diberi tambahan jam pelajaran.

Sungguh, semua yang saya jabarkan di sini amat membingungkan saya (dan mungkin beberapa orang tua di luar sana). Rasanya anak-anak sudah dibiasakan dengan ‘tekanan’ yang diharuskan seperti ini.

Malah kadang para tenaga pengajar juga semakin menambah kadar penekanan ini (dengan cara mengajar yang ‘keras’ dengan berbagai aturan dan tumpukan PR setiap hari). Ya, memang bukan salah para guru. Mereka hanya menerapkan program kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan.

Entahlah. . .

Akhir kata, saya hanya berharap suatu saat nanti, Presiden dan Menteri dan Dinas Pendidikan membaca postingan ini.


Artikel terkait:
Pendidikan Gratis ???

TAK ADA YANG GRATIS ABANG

Sorry. . .

Judul di atas bukan bermaksud meniru kata-kata dari sebuah lagu, tapi karena itulah yang dapat mewakili postingan kali ini.

Hm. . . Mendengar kata gratis, siapa yang tidak melebarkan telinganya dan kalau ada kata GRATIS tertera di mana pun itu pasti mata yang mengantuk bisa terbelalak lagi. Nah lo. . . Hayo. . . Jujur aja deh, apa lagi di jaman uedan yang serba sulit dan apa-apa yang dapat dinilai dengan uang telah jadi mahal seperti sekarang ini.

Sebutlah yang paling akrab di dunia maya ini seperti internet gratis, atau di mall beli dua gratis satu. Yang ini mah kesukaannya kaum hawa. Tapi yang paling membuat saya gembira dan berlega hati adalah tentang adanya program pendidikan dan jaminan kesehatan gratis.

Terbayang nantinya anak-anak saya dapat menempuh pendidikan yang tinggi dan meraih cita-cita mereka tanpa biaya. Tentu saja saya sangat berbahagia mendengar tentang kabar itu seperti dari tayangan-tayangan TV selama ini.

Tapi biasanya, harapan tak sesuai realita, cita-cita kadang berseberangan dengan fakta, pun rencana masih sekedar wacana.

Meski pemerintah sudah berusaha menerapkan program pendidikan gratis dan juga anggaran khusus telah tersedia untuk memuluskan rencana ini, tetap saja, jamak kita temui praktek nyata di lapangan tak sesuai dengan yang dicanangkan.

Meski iuran bulanan semisal SPP atau BP3 (dulu jaman saya sekolah disebut begitu) sudah ditiadakan untuk pendidikan dasar 9 tahun, tapi toh tetap saja kita masih direpotkan dengan biaya seragam dan penebusan buku pelajaran, malah ada pungutan uang pangkal untuk kursi.

Dan kalau dikalkulasi biaya tetek bengek dan remeh temeh semacam itu lumayan menguras kantong, ironisnya lagi, saban tahun angkanya terus menanjak naik.

Kalau saya pribadi sih tak ambil pusing karena masih mampu dan pendidikan adalah prioritas yang diutamakan dalam kehidupan. Tapi kalau si orang tua murid kerjanya hanya sebagai buruh tani di ladang orang yang harus menghidupi 6 orang anak, bagaimana? Atau orang tua yang sangat ingin menyekolahkan anaknya tapi terkendala karena beliau hanya seorang kuli berpenghasilan tak pasti walau cuma sekadar mengganjal perut lapar hari ini? Atau seorang ibu single parent yang menyambung hidup hanya sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah?

Semua itu akan jadi cerita berbeda saat (lagi-lagi) kemiskinan jadi kendala. Padahal, memperoleh pendidikan yang layak merupakan hak paling asasi dari setiap anak, tak peduli anak orang berada atau dari kalangan tak punya, SEMUA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN.

Lalu kenapa masih saja mengelu-elukan slogan PENDIDIKAN GRATIS? Bila kenyataan amat sangat bertolak belakang dengan program yang diterapkan. Kenapa masih saja menggaungkan jargon-jargon persuasif bahwa anak-anak jalanan harus kembali bersekolah? Kenapa kita jadi seakan-akan ‘mengadopsi bahasa tipu daya ala iklan’ dan menjadikan masyarakat kelas bawah sebagai korban?

Kenapa tak diganti saja kata gratis menjadi ‘program pendidikan murah semoga semua bisa makan bangku sekolah’. Agar harapan-harapan jutaan jelata tak terlalu dilambungkan hingga batas angkasa untuk kemudian dihempaskan dalam palung ketidakmampuan.

Ya sayang, tak ada yang benar-benar gratis abang.