Kisah Bahasa Banjar; SI LUMBAH TANGAN, SI BURIT LUNCUP wan SI TAHI MATAAN

Jadi ada sabuah kisah jaman bahari. Kisah batalu bakawan nang liwar rakat sarantang saruntung kasitu kamari kada tapisahakan. Hidup di kampung sama pada sakit, sama pada kada bakuitan lagi, jadi akrabnya bilang alahan pada badingsanak lagi. Jaka istilah urang wahini tu CS banar wan eksis-eksisnya. Urangnya gen kada dikenal ngarannya lagi, tapi galarannya haja; ada si Lumbah Tangan karana mangidap suatu panyakit kalainan genetik kah jaka wahini ujar urang tu lalu ukuran tangannya taganal pada ukuran urang nurmal. Ada si Burit Luncup ni tahuae kalu leh sudah burit tipang nang luncup bisa mancucuk. Yang katalu iya si Tahi Mataan, mambari maras haja ah matan lagi halus mata tu ti hibak kada baampihan batahi mataan.

Alkisah, tulak batalu bakawan ni ti bacari hundang, tulak ae manyusur sungai bajukung, bakayuh dilarut banyu. Sakalinya banyak ae leh dapat hundang, hibak saparu jukung hundang haja, jubung tinggi nang kaya gunung anak tuyukannya. Jadi bulikan ae leh ka kampung sambil manjaja hundang te.

“Hundang dang dang dang!!!!” Ujar si Lumbah Tangan.

“Murah murah… sakukut harganya sajampal sasuku haja!!” Ujar si Burit Luncup jua himung banar mamikir pacang banyak untungnya.

“Ayu lakasi siapa handak nukar!!” Ujar si Tahi  Mataan manawarakan.

Jadi leh, banyak ae urang handak manukari. Lalu ae kada maingat lagi si Lumbah Tangan mangukutakan hundangnya. Ada jua sawat barapa ikung ada urang manukar, habis sudah lingis hundang yang sing banyakan tadi. Bilang kaya dibariakan ae, rugi!!

“Iya haja am mun kaini ti rugi kita, lapah-lapah bacari hundang imbah dijual kada sabarapa hasilnya.” Ujar si Burit Luncup sangkal banar.

Sakalinya maka baduduk bagasut si Burit Luncup te, bakusur di jukung. Apang ada pada buntus ha lantai jukung, saitu saini naik banyu sungai.  Habut si Lumbah Tangan handak manciuki banyunya. Untung haja si Tahi Mataan sigap malihat kundisi darurat, langsung dikukutnya tahi matanya, dituplak akannya ka alah lantai jukung yang buntus te…. apa ada maslahat banar am salamatan sajukungan. Rupanya tahi matanya liat banar bilang kaya dampul jukung jua sakalinya.

“Han jaka tida habis kita tinggalam.” Ujar si Tahi Mataan bangga. “Untung tahi mataku kawa manapaliakan. Jaka tida apa habis kita jukung karam, karam….”

Karampuuut…… sakalinya…

Hahaha….

***

Kisah ini berdasarkan kisah yang sering diceritakan oleh orang tua dan kakak saya semasa kecil. Saya tidak tahu pasti pengarangnya siapa, saya menuliskannya hanya berdasarkan apa yang masih saya ingat saja. Semoga terhibur!!

OKTOBER BAPER (Edisi Kehilangan Mywapblog)

Galaulah kalian, galaulah kita, galaulah saya!!

Faktanya, di dunia ini ada banyak hal yang berada di luar kendali kekuasaan kita. Salah satunya adalah tentang masalah Mywapblog yang kita cintai ini, yang peredarannya akan segera hilang dari muka bumi ini. Padahal…..

Dulu, bahkan sekarang pun jikalau Mywapblog resmi ditutup, ngeblog tanpa perangkat komputer atau laptop itu adalah suatu hal yang sangat niscaya mustahil. Kerena itulah kehadiran Mywapblog di tengah banyaknya umat manusia dengan kemampuan dan fasilitas terbatas yang hendak menyalurkan hobi sharing dan menulis tetapi tak punya laptop, itu laksana sebuah oase di tengah gersang dan kejamnya gurun pasir terpanas di dunia. Bayangkan, kita semua dapat bebas berkarya dan mengelola blog lewat ponsel saja, hampir nyaris semudah kita update status galau dan alay di facebook!!!
Dan tentu saja, kita dapat juga bergaya, bangga, gak kalah dengan blog sebelah. Jiah!!

Tapi mungkin memang benar apa kata orang, kegembiraan yang agak "terlalu" indah dan penuh euforia emang gak akan tahan lama. Dan… this is it, so inilah akhirnya, kita berkabung, saya berduka sodara sodara!!! Atas berita akan ditutupnya mywapblog.

Terasa memang agak ganjil selama saya ngeblog di Mywapblog, tiga tahun pemirsa, bukan waktu singkat untuk sebuah kesabaran, yap! Selama itu saya terus bersabar dengan keterbatasan menulis lewat ponsel java yang harganya tak seberapa jika dibandingkan ponsel android terkini. Bersabar atas fasilitas ngeblog gratis yang servernya sering down hingga tak bisa diakses berhari-hari. Bersabar atas kwalitas lemotnya paket jaringan internet yang dibeli dengan harga rupiah termurah. Bersabar atas segalanya, bahkan saya bersabar ketika menkominfo, UC Browser dan provider kartu seluler yang saya pakai berkonspirasi memblokir banyak situs, termasuk Mywapblog, yang membuat saya tak lagi bisa maksimal dalam ngeblog ria. Kejaaaaaammm….

Maka, kalau kalian yang baru aja tempo hari bikin blog di sini, dan udah mau nangis darah saking bapernya karena Mywapblog mau ditutup, PANDANGLAH SAYA, LIHATLAH SAYA DAN USER-USER LAWAS LAINNYA yang udah sedia ampe lumutan menulis dan koar-koar di Mywapblog selama ini, dan kemudian menemukan fakta paling menyakitkan seperti ini. HOW COULD IT BEEEE??!!!!! Bayangkan betapa bapernya kita!!! Yang udah pernah jatuh bangun merasakan rumit, nyesek, ngenes dan juga senangnya ngeblog lewat hape. Baper sebaper-bapernya sayang!!

Dulu, harapan dan ekspektasi saya ketika pertama ngeblog adalah ingin mengabadikan kenangan dan membuat sejarah saya sendiri, kerena saya takut jikalau saya tua nanti saya akan semakin pelupa dan mulai tak bisa mengingat lagi moment-moment terbaik dalam hidup ini, karena itulah kelak blog inilah yang akan menjadi penyambung lidah atas kisah yang tak pernah bisa saya sampaikan secara lisan, blog inilah yang akan jadi kotak pandora berharga tempat saya menyimpan semua cerita. Lebih dari itu, blog ini adalah bukan sekadar karya tulis saja, blog ini adalah kumpulan KEKAYAAN INTELEKTUAL saya yang tak ternilai harganya!!

Ok, mungkin memang agak berlebihan, tapi memang seperti itulah saya menganggapnya.

Barangkali memang seperti inilah kehidupan, kita tetap harus bertahan. Seperti halnya dulu kejayaan Friendster yang digantikan Facebook, Multyply yang punya begitu banyak user pun akhirnya juga tutup yang membuat anggotanya juga kocar kacir entah kemana, situs Ngerumpi dot com yang punya motto ngerumpi tapi pake hati juga akhirnya tiada lagi. Seperti itu…. datang, hilang, pergi, hanyalah bagian kecil dari kehidupan, dan jikalau karena itu saya merana, baper, menangis dan insomnia lalu menulis keluh kesah penuh luka ini, maka itu juga hanyalah sebagian kecil saja dari masih banyaknya luka dan guncangan masalah yang akan menimpa dalam hidup ini.
Harusnya tidak apa-apa, harusnya kita bisa, harusnya…. Tapi…..

Mywapblog….
Banyak hal yang tak dapat saya relakan dalam kehidupan, dan kau kini menjadi salah satu di antaranya.
Hikz…..

PENJARA

Aku menghapus air mataku dan segera mengambil kapas untuk menutup lubang hidungku yang terus mengeluarkan darah. Sudah memasuki bulan ke tiga sejak aku memasuki tempat penampungan ini, tapi sampai sekarang belum ada tanda2 aku akan bekerja seperti janji mereka. Benar2 kerja maksudku, dan membersihkan rumah ini bukan termasuk kerja yang ku inginkan.

Aku menatap jam dinding di kamar sempit yang sesak dengan empat penghuni yang senasib denganku. Nyaris pukul dua dini hari, beberapa teman terlihat tidur, ada yang mengigau dan sesekali ku dengar suara meringis kesakitan. Kali ini aku benar2 harus memutar otak ku. Biru dan lebam di sekujur tubuhku menuntut akal sehatku melakukan sesuatu.

Tapi semua jendela berteralis besi dan pintu digerendel gembok besar. Hatiku menciut, sah sudah, ini adalah penjara, TIDAK !!! ini N E R A K A.

“Kita harus melakukan sesuatu Lastri,” bisikku pada teman senasibku yang menggigil ketakutan di toilet usai dibogem mentah oleh pak Imran dan anak buahnya.

“A. . Aku takut Ti,” bibir Lastri bergetar, membiru, tulang hidungnya agak bengkok dan tidak lurus. Lastri memang lebih dulu di tempat ini, sekitar setahun, dan bekas2 luka itu lebih dari cukup menjelaskan semua yang ia dapat dari tempat terkutuk ini.

Tapi tekadku timbul dan tenggelam, apalagi sejak kematian Asih beberapa waktu lalu karena tubuhnya sudah tak tahan lagi menanggung siksaan itu. Aku_ kami_ menyaksikan Asih dianiaya demikian sadisnya hanya karena sedikit kesalahan yang tidak dapat kami pahami. Kala itu ia sudah terkapar di lantai, menangis memohon diampuni. Tapi pak Imran dan Bu Indah, juga Priyo, orang kepercayaan pak Imran terus menyiksanya.

Kami hanya bisa diam ketakutan membayangkan bila bernasib serupa. Perut Asih ditendang oleh kaki dengan sepatu lars. Jemarinya diinjak, pinggulnya disepak sampai berbunyi gemeretak. Wajahnya merah dialiri darah dari kepalanya yang bocor hasil pukulan stik golf yang dilayangkan Priyo.

Dan kami tak tahu kemana mereka membawa mayatnya, kami tak pernah keluar dari rumah ini.

“Kamu mau bernasib seperti Asih, Ti?” Kilatan mata Priyo bersinar jahat, di sampingnya ada pak Imran dengan seringai menakutkan.

“Lepaskan saya!”

Tapi pak Imran semakin mendesakku ke dinding, mengelus-elus daguku. Aku tahu saat ini iblis dalam dirinya hendak melakukan sesuatu. Sudah 3 hari ini bu Indah tidak di rumah. Aku mundur ke arah meja, tak sengaja ku menjatuhkan gelas, bunyinya mengundang Lastri dan Rina, mereka berkali-kali memanggilku dan menemukanku terpojok di sudut kamar ini berusaha keras melepaskan cengkraman tangan pak Imran.

“Ada telepon dari bu Indah, pak.” seru Rina. Kontan membuat Priyo dan pak Imran menjauh keluar dari kamar ini, tapi matanya masih berkilat padaku dan menjanjikan sesuatu.

Kami bertiga berpelukan, aku benar-benar tak tahan lagi. Aku harus pergi!! Kami harus keluar dari tempat terkutuk ini.

Sore harinya bu Indah pulang dan meledaklah amarahnya.

“Dasar wanita sundal! Aku tahu apa yang terjadi jika aku tak ada di rumah ini!!” Teriaknya padaku, dan melayanglah sepatu hak tingginya ke wajahku, melukai rahangku. Aku nyaris melawan tapi kemudian ia menjambak rambutku dan membenamkan wajahku ke dalam wastafel yang penuh dengan buih sabun cuci piring yang ku kerjakan tadi. Mataku perih sekali, tapi bu Indah tak mau berhenti, ia memukul tungkaiku dengan gagang sapu, dan ketika centong kayu itu mendarat di pelipisku, semua gelap, aku tak sadarkan diri.

Aku menemukan diriku dalam kegelapan, bersandar pada lantai ubin yang dingin, rupanya aku masih di dapur. Perlahan aku bergerak, melangkah mencari tombol lampu. Menyalakannya dan ruangan dapur disergap keheningan. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari. Berapa lama aku pingsan? Kenapa aku tidak mati saja sekalian?

Aku membasuh wajahku dan merasakan dinginnya air kran menyengat kulitku yang luka, lebam itu membuat wajahku terasa kaku. Aku mendekati dispenser, mencoba meloloskan segelas air ke tenggorokanku yang terasa kering dan panas. Tapi baru setengah aku meminumnya. Tiba-tiba kurasakan ada yang memelukku dari belakang, tangan itu kasar, besar dan berbulu, membuat gelas plastik di tanganku terlepas dan menumpahkan isinya ke lantai. Hanya menyisakan bunyi gelontang yang lemah, tiba-tiba saja aku menyesal mengapa itu bukan gelas kaca.

Pak Imran kian mendekatkan tubuhnya padaku, hidung besarnya mengendus-endus rambutku, mendesakku ke dinding, dan sebelah tangannya membekap erat mulutku, menelan kembali teriakanku bulat-bulat.

Tangan kasarnya tak berhenti menggerayangi tiap inci tubuhku, ia hampir nyaris. . . Sebelum akhirnya ku temukan sebilah pisau dapur dan menghunusnya ke perut pak Imran berkali-kali. Pria itu tumbang dan darah mengalir deras di lantai dapur, menggenangi putihnya lantai marmer. Pisau itu jatuh ke lantai, aku tercekat gemetar.

Terbayang jeruji penjara yg akan jadi tempat untuk menebus perbuatanku.

ELEGI BULIR PADI TANPA ISI

“Sudah tak ada yang bisa kita harapkan lagi, Lis. Kita gagal panen tahun ini.”

Darman memandang nelangsa pada hamparan sawah di hadapannya. Daun padi yang mulai muncul buahnya itu mendadak menguning tiba-tiba, membuat bulir padi yang muncul kerdil dan hampa.

Lilis, istri Darman duduk di samping suaminya, mengeluarkan singkong rebus dari rantang plastik yang dibawanya dari rumah. Udara siang itu terasa menyengat pasangan suami istri yang bernaung di bawah keteduhan atap Rumbia di gubuk di tengah sawah itu, hujan seakan-akan enggan lagi mengairi sawah para petani.

” Makan dulu pak, dari tadi pagi perut belum diisi.” Ujar Lilis dengan senyum seraya memberikan sepotong singkong dengan cocolan sambal terasi pada suaminya.

Sudah tiga hari ini Lilis tidak menanak nasi, beras hasil panen tahun lalu sudah lama tandas untuk bayar utang pada tengkulak. Kalaupun ada beras, biasanya Lilis lebih memilih untuk dimakan ke empat anaknya, kasihan jika anak-anak mesti makan singkong. Dan bubur nasi tadi pagi adalah sisa beras terakhir yang jadi sarapan anak-anaknya sebelum berangkat sekolah.

Kegagalan panen tahun ini menjadi pukulan besar bagi warga desa itu, dan meski kemarau telah berlalu masih belum ada geliat kehidupan yang dapat membangkitkan dari keterpurukan. Tak hanya sawah yang bermasalah, ikan-ikan di sungai pun entah pergi kemana.

Darman sedang memanggul beberapa batang singkong ketika ia berpapasan dengan Karta tetangganya. Karta terlihat membawa seperangkat alat setrum ikan, sepertinya ia mulai kembali melakoni profesinya di musim hujan ini.

“Mau nyetrum ke hulu Kar?” Tanya Darman.

“Iya Man, sudah lama gak makan ikan, dan kalau dapat banyak besok bisa dibawa ke pasar.” Ujar Karta sumringah.

“Tapi kemarin aku lihat di hulu sungai baru dipotas si Dirun, tak banyak juga ikannya.” Darman memperingatkan Karta kalau usahanya bisa sia-sia.

“Wah, bisa percuma juga aku kesana.” Karta manggut-manggut. “Sekarang tambah susah ya Man? Padi rusak ikanpun sulit di dapat.” Gumam Karta sambil berbalik pulang.

Darman menghela napas panjang, berat, memandang punggung Karta yang menjauh dengan tas alat setrum yang ada di belakangnya. Ia teringat penyuluhan di kantor kecamatan beberapa tahun lalu saat petugas dari Dinas Pertanian mengatakan bahwa mencari ikan menggunakan alat setrum dan potas bisa merusak keseimbangan ekosistem air dan membuat ikan jadi sulit berkembang biak karena telur-telurnya jadi prematur atau mati.

Tapi Darman dan sebagian besar warga yang mencari ikan dengan setrum tak menyadari bahwa itu juga yang menyebabkan sawah gagal panen, karena efek setrum dan penggunaan potas yang terus menerus telah mengubah kadar PH air dan tanah sehingga tanaman padi tak lagi bisa tumbuh dan berbuah dengan normal lagi.

Mendadak hujan turun di tengah hari bolong siang itu. Lilis bergegas mengambili jemuran cucian di depan rumahnya ketika di saat yang bersamaan terdengar suara gaduh dari tikungan jalan. Lilis melihat itu adalah suaminya dan beberapa orang warga, juga pak Rasidi si tengkulak desa yang nampaknya sedang murka.

“Dasar pencuri!!!” Hardik pak Rasidi sembari mendorong Darman dan tersungkur tepat di hadapan istrinya.

“Ada apa ini pak?” Lilis gelagapan dan bergegas merangkul suaminya yang mulai ditendang dan dipukuli warga. Seluruh badannya basah kuyup dan berlumpur. Sudut bibirnya mengalirkan darah segar.

“Aku tidak mencuri!!” teriak Darman, sejenak menghentikan orang-orang yang kalap. “Singkong ini memang ku tanam sendiri di sawah pak Gani, jadi aku mengambilnya.”

Pak Gani adalah pemilik sawah yang digarap Darman setiap tahunnya, tapi pak Gani tidak mematok jatah padi yang diterimanya, dengan digarap artinya tanah itu terawat dan tak rimbun ditanami tumbuhan liar. Pak Gani cukup bersyukur akan hal itu.

“Iya memang!” seru Rasidi, “Tapi tumbuhnya dekat patok batas tanahku, dan akar umbinya menjalar ke kebunku, itu artinya kau mencuri di sawahku!!”

Tanpa ampun, Darman, pria beranak empat itu menjadi bulan-bulanan warga yang merupakan anak buah Rasidi, tengkulak yang terkenal pelitnya itu. Rupanya kegagalan panen tahun ini membuat pria parlente berkumis melintir ala menir Belanda itu benar-benar sensitif dan kehilangan perikemanusiaannya.

Tak cukup, Darman juga diadukan ke kantor polisi dan harus disidang dengan tuduhan sebagai pencuri singkong.

KEMATIAN DAN PENYESALAN

Suasana hening saat matahari tegak di atas cakrawala tiba-tiba terusik dan hingar bingar pecah oleh sebuah kabar berita kematian yang diumumkan lewat corong toa di sebuah mushalla yang berada di komplek perumahan itu.

Sontak orang berbisik-bisik dan bergumam kaget, serta merta para pelayat berduyun-duyun berdatangan menuju rumah almarhum.

Pak Ridwan, pria paruh baya yang dikenal ramah dan baik itu pergi untuk selama-lamanya meninggalkan kefanaan dunia, satu istri dan 4 orang anak. Serangan jantung, kabar itulah yang santer terdengar yang ditengarai sebagai penyebab atas kematiannya. Penyakit jantung itu telah menjadi teman akrab bagi pak Ridwan selama beberapa tahun belakangan ini.

Sampai kemudian penyakit itu pula yang membuat kondisi Pak Ridwan semakin lemah dan kerap sesak napas hingga tiba ajalnya, sesak itu bahkan kian bertambah saat keputusannya untuk menikah lagi, 4 tahun yang lalu, tepat setahun pasca kematian istri yang amat dikasihinya.

“Saya gak sudi Ayah kawin lagi, tidak dengan wanita itu!!” Seru Intan, anak ke dua pak Ridwan dengan sengit dan mata menyala. Ke dua tangannya bersidekap menyilang di depan dada.

“Dia terlalu muda Yah, dan sering keluyuran,” Andi, anak sulungnya menimpali.

Sedangkan Rudi, si bungsu yang masih kelas 1 SMP hanya manggut-manggut mengiyakan apa kata kakak-kakaknya.

Pak Ridwan menghela nafas panjang, beliau ingin menikahi wanita itu bukan karena keinginannya semata tapi juga atas saran keluarga dan tetangga, beliau telah beberapa kali urun rembug dengan keluarga yang lebih tua dan seorang pemuka agama setempat. Adalah Arini, perempuan yatim piatu yang tinggal dengan kakaknya. Arini adalah seorang janda berusia 25 tahun tanpa anak yang berprofesi sebagai sales alat rumah tangga yang terbilang masih tetangga sendiri.

“Ayah menikah, tidak ada niatan menghapus kenangan tentang ibu kalian. Tolonglah ayah, ijinkan ayah.”

Dan pernikahan itu pun terjadi, menyulut kecewa di hati ke tiga anak pak Ridwan yang tidak pernah benar-benar ikhlas atas pernikahan ke dua ayah mereka. Terutama Intan, dengan sentimen khas perempuan yang seakan membuat rumah mereka haram dimasuki Arini walau telah sah menjadi ibu tiri mereka.

Setelah menikah, Arini nyaris tidak pernah menginjakkan seujung kuku pun di rumah terlarang milik suaminya, ia takut jika keberadaannya mengusik kenangan Bu Linda, mendiang istri suaminya. Arini tetap di rumah kakaknya, dan ia berhenti bekerja, fokus pada kewajibannya mengurus rumah tangga. Tuduhan tak berdasar yang mengatakan bahwa ia wanita yang suka jalan-jalan dan hura-hura hanya disimpannya dalam hati saja.

Sampai kemudian si kecil Rafa terlahir dan kondisi kesehatan pak Ridwan kian menurun. Rafa kecil yang mewarisi kemiripan fisik 99% seperti ayahnya tetap tak bisa meluluhkan kekakuan hubungan Arini dan ke 3 anak tirinya, malah Intan terlihat semakin tak menyukai Arini dan Rafa.

Keberadaan Arini dan Rafa sebagai anggota keluarga yang tidak diakui membuat pak Ridwan menyimpan sesal tersendiri, meski keluarga yang lain seperti saudara dan ipar serta tetuha dalam keluarga besar mereka telah menerima dan berusaha memberi pengertian pada Intan, Andi dan Rudi, semua tetap tak digubrisnya dan semakin membuat Arini dan Rafa seperti musuh dan racun dalam kehidupan mereka.

Sampai hari itu tiba, dua hari sebelum kematiannya, pak Ridwan tidak bisa masuk untuk bekerja sebagai kepala sekolah di sebuah SMA Negeri, beliau kelelahan setelah mengalami tiga kali sesak napas.

“Ayah istirahat aja kalo masih sakit.” seru Arini.

“Iya dik, kamu mau ke pasar? Belikan aku buah atau kue yang biasa ya. Aku mau istirahat di rumah saja,” Terdengar napas berat pak Ridwan, beliau masuk lewat pintu belakang rumahnya yang berdekatan dengan rumah kakak Arini, pagi itu semua anak pak Ridwan telah berangkat kuliah dan bekerja.

Sepulang dari pasar, Arini memasak sup di rumahnya, setelah selesai menjelang tengah hari, ia berniat menyuruh suaminya untuk makan siang.

Dari pintu belakang ia langsung masuk ke rumah suaminya karena ke 3 anaknya belum pulang. Saat masuk ke kamar, Arini mendapati tubuh suaminya dalam keadaan telungkup dan tak bernyawa. Ia panik dan histeris, tubuh itu telah mulai mendingin, dan tak ada seorang pun yang tahu kapan pak Ridwan menghembuskan napas terakhirnya. Pria paruh baya yang dikenal ramah dan baik hati itu meninggal seorang diri dalam kamarnya yang sunyi.

Saat ke tiga anaknya datang dan mengangkat tubuh yang telah diambil sari kehidupannya itu, hanya tinggal sesal dan airmata yang tersisa tak sempat mewujudkan harapan sang Ayah agar mereka dapat menerima dan hidup rukun bersama Arini dan Rafa.

Udara menguarkan aroma duka yang kental saat pelayat berdatangan, gema tahlil dan ayat al Qur’an yang dilantunkan bercampur dengan suara isakan dan tangis kehilangan.

LAUTAN KASIH TANPA BATAS

Empat puluh delapan jam kontraksi yang hampir merampas kesadaran. Memberikan sakit tak terperi yang seakan mampu meremukkan tulang belakangku. Sesekali ia bergerak menghunjam ke perut bawah, mengalirkan bercak darah kehitaman.

“Tenang bu, sebentar lagi.” Kata bidan desa berseragam putih itu.

Membuatku kesal dan bermandikan keringat, sudah dua hari dua malam ia terus bilang sebentar. Sementara anak dalam perutku tak kunjung lahir, terus membuat sakit semakin tak tertahankan. Kata bidan itu juga aku sudah separuh jalan, ini sudah pembukaan lima. Maka perlu lima lagi agar bayi ini mau keluar. Tuhan, berapa lamakah itu? Satu jam? Atau satu hari lagi?

Sedangkan aku seorang diri di sini, pria bejat yang ku sebut suami itu pamit merantau untuk bekerja sejak kandunganku menginjak 7 bulan. Dan mas Rian tak pernah pulang.

Ah. . . Aku jadi teringat ibu, andai dulu ku mau sedikit saja mendengarkan nasehatnya.

“Aaaah. . .!” Aku menjerit, sebuah pergerakan yang kuat seakan hendak menerobos liang kemaluanku, mengalirkan rasa hangat di paha dan pantatku. Air ketubankah itu?

Bu bidan sigap melihat kondisiku, sekali lagi dicoloknya liang kemaluanku dengan telunjuknya yang bersarung tangan dari karet, kulihat ia telah menyiapkan peralatannya di atas ceper besar berbahan stainles steel yang menimbulkan bunyi gemerincing gunting dan alat-alat lainnya yang saling beradu.

“Siap ibu, mulai tarik napas perlahan-lahan, dan keluarkan. Bayi ibu sudah siap lahir.”

Aku berdebar dan merasakan lututku lemas, lalu sakit itu semakin melingkupi pinggang dan perut bawahku, berputar-putar membuat mulas yang hebat aku tersentak saat ku sadar gunting itu memotong sedikit area batas antara anus dan vagina dan aku menjerit sekali lagi. Terengah-engah dengan keringat bercucuran, tanganku meremas kain lusuh dasterku yang merosot di pangkal paha. Mataku terasa panas dan kontras dengan keringat dingin yang terus bercucuran tanpa henti.

“Sedikit lagi bu, kepalanya sudah terlihat, bayinya agak besar. Tarik dan keluarkan lagi.”

Aku menarik napas lagi dan mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku, rasanya ini amat akrab dengan kematian, sangat dekat. Sampai kemudian ku melihat wajah ibu dan Sarah, adikku yang terkecil.

“Ibuu. . . ” Teriakku berusaha meyakinkan apakah beliau benar-benar nyata.

Lalu terdengarlah tangisan membahana dalam ruangan serba putih itu, dan semuanya gelap, hanya dapat ku dengar suara samar.

“Alhamdulilah bu, anaknya sehat, selamat. Seorang putra.”

Hampir 3 jam lamanya aku tak sadarkan diri, saat ku terbangun ku melihat lagi wajah ibu, kali ini berurai airmata dan dalam dekapannya ada bayi dalam balutan kain bedong bermotif batik.

“Kamu sudah sadar nak?”

Suara ibu menyadarkanku sepenuhnya bahwa beliau hadir untukku. Aku menangis saat mendekap bayiku dalam gendongan ibu.

“Ayo ke rumah ibu, kita pulang, biar ibu merawatmu dan cucuku.”

¤ ¤ ¤

Tempat yang disebut ibu rumah hanyalah sebuah rumah bedakan dengan satu kamar yang ditempati oleh ibu, bapak dan 4 adikku. Rumah yang dahulu amat ku benci karena sumpek dan sesak, sampai ku memutuskan minggat dengan Rian dan terpaksa dinikahkan.

“Bu, apa bapak gak marah, aku begini.” Aku ragu karena selama dua tahun terakhir ini aku bukan lagi anak gadis mereka yang manis dan penurut.

Ibu tersenyum menenangkan. “Sama cucu sendiri kok marah.” Ibu mengelus pipi bayi yang merah itu dan menepuk punggungku, membereskan segalanya dan kami pulang dengan becak sore harinya.

¤ ¤ ¤

Aku hanya heran, kok ibu bisa tahan dan tetap waras dalam menghadapi kami, lima anaknya yang bandel. Sedangkan aku sudah pusing gak karuan saat bayi yang baru berusia beberapa hari itu menangis keras, menolak disusui dan muntah tak kenal tempat dan waktu. Parahnya lagi, bila itu terjadi tengah malam saat aku hampir mati menahan kantuk.

¤ ¤ ¤

Ibu tak menanyakan dimana mas Rian, tapi dari matanya aku yakin ia tahu bahwa keadaanku sedang tidak baik. Sudah 3 bulan aku tinggal di rumah ibu karena aku tak mampu lagi untuk membayar kontrakanku.

“Ibu,” ku dekati ibu yang baru saja meletakkan putraku Alif dalam buaian.

Ibu berbalik, menatapku sayu. Tapi matanya masih menyinarkan nyala kasih yang tak ada habisnya.

“Maafkan Ita, bu. Ampuni Ita.” Aku terisak, meraih jemari ibu yang hangat, menempelkannya pada pipiku yang basah dan menciumnya. Berharap bahwa ampunannya masih setia menyimpan surga untuk anak-anaknya.

T A M A T



Baca juga:

MENDUNG KELABU DI MATA IBU

DAGING

Panas matahari terasa menyengat di atas kepala, membuat semakin sesak udara yang terkontaminasi debu. Anto memutuskan berhenti sejenak di bawah pohon di tepi jalan Tamrin yang macet hari itu.

Ia berjongkok dan lantas berselonjor kaki di pinggiran trotoar, karung lusuh berisi hasil memulung hari ini diletakkan di sampingnya. Dari tas kumal yang tersampir di pinggangnya, ia mengeluarkan sebuah botol air mineral yang diisi air dari rumah. Dengan antusias ia mereguk kesegaran air yang tak direbus itu, membuat rasa lapar di perutnya sedikit tertolong.

Tak jauh dari tempatnya berteduh ada sebuah warung makan nasi Padang yang menguarkan aroma gurih khas daging rendang. Membuat rasa lapar yang menjadi itu minta segera diisi nasi.

Anto bangkit dan melangkah, diangkatnya karung yang penuh sampah botol dan gelas plastik itu, diletakkannya tali pikulan karung itu di atas kepalanya. Maka terbungkuk-bungkuklah bocah pemulung berumur sepuluh tahun tersebut, langkahnya tersaruk-saruk karena berat bawaannya.

Tapi ia diam-diam tersenyum, karena esok hari raya Idul Adha, itu artinya ia bisa mendapatkan jatah daging kurban yang dibagikan panitia di masjid Istiqlal.

Anto mempercepat langkahnya menuju rumah pak Imran, juragan pengumpul sampah hasil pulungan warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Setelah menerima uang dari pak Imran, Anto bergegas ke warung mpok Minah. Ia telah menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli bahan masakan untuk membuat rendang daging.

Anto berlari pulang membawa satu kantong plastik berisi dua liter beras, bumbu masakan, minyak goreng, dan ditangan kirinya menenteng sebotol minyak tanah. Ia sangat gembira, dan disambut ibunya di depan gubuk reot berdinding kardus.

Ibunya adalah wanita tua yang sudah sepuluh tahun ditinggal mati suaminya, dan ke enam anaknya pergi merantau entah kemana. Maka tinggallah mereka berdua saja, menghadapi kerasnya kehidupan di kota Jakarta.

“Makan dulu, To.” seru ibunya sambil meyendok nasi panas dari dalam panci.

Anto mencuci tangannya dan lalu makan dengan lahap bersama ibunya hanya dengan lauk tempe saja.

“Bu, nanti sore Anto mau ke Istiqlal, biar saya sekalian bermalam di sana, jadi paginya habis salat Ied bisa cepat kebagian daging.” Kata Anto semangat dengan suara tertahan karena mulutnya penuh nasi. Ibunya mengangguk tersenyum dan akan dengan senang hati menyiapkan bumbu untuk memasak daging nanti.

¤ ¤ ¤

Allahuakbar Allahuakbar. . . Allahuakbar walillahilhamd. . .

Suara takbir berkumandang di sekitar masjid Istiqlal. Anto telah tiba dengan pakaiannya yang terbaik, sebuah baju koko berwarna biru muda dan kopiah haji pemberian pak Imran lebaran tahun lalu.

Nyaris semalaman Anto tak bisa tidur karena tak sabar menunggu pagi.

Usai salat Ied, ada ratusan sapi dan kambing yang disembelih di lingkungan masjid, banyak orang telah antri, nenek-nenek, ibu-ibu yang menggendong balitanya yang terus menangis karena berdesak-desakkan demi daging sapi setengah kilo gram tersebut.

Sebagian orang mendapatkan daging tidak untuk dimasak dan dikonsumsi sendiri, melainkan untuk dijual. Karena bagi masyarakat tak mampu, memasak daging pun perlu modal yang tidak sedikit. Hal itu membuat otak Anto berpikir, jika saja daging kurban yang dibagikan sudah masak atau kalau perlu dikalengkan seperti kornet sapi yang lezat seperti yang dilihatnya di iklan TV di rumah pak Imran, maka pastilah rakyat miskin tak akan menjual daging kurban tersebut dan akan dengan senang hati memakannya.

Anto berusaha menerobos kerumunan orang yang semakin membludak di halaman sekitar masjid, ia telah dapat satu kantong plastik jatah daging. Ia ingin segera pulang, karena ia pun amat lapar setelah semalaman sampai siang ini mengantri daging dan tak makan.

¤ ¤ ¤

Ketika sampai di dekat lokasi rumahnya di bantaran kali Ciliwung, Anto kaget setengah mati melihat semua warga dan tetangganya berhamburan ke jalan-jalan, ada yang menangis, marah dan ada yang berpelukan. Semua bangunan gubuk mereka berantakan.

“Anto, rumah kita To.” jerit ibunya saat melihat Anto telah datang.

Orang-orang meratap dan marah karena tadi malam satuan polisi pamong praja melakukan penggusaran pada bangunan liar yang merusak keindahan kota Jakarta.

Lenyaplah impian Anto untuk menikmati daging yang dimasak lezat. Gubuknya rata dengan tanah, beras berserakan dan bumbu yang dibelinya kemarin jatuh ke sungai Ciliwung saat penggusuran terjadi.

Ibu Anto menangis meraung-raung seperti tetangganya yang lain. Sementara Anto berdiri terpaku memeluk bungkusan plastik hitam berisi daging sapi segar itu di dadanya. Erat, erat sekali.

KARENA AMAT JADI SARJANA

Tumpukan lembaran kertas berkas laporan keuangan teronggok begitu saja di atas meja kerja Amat. Dengan lemas ia sandarkan punggungnya pada kursi empuk yang bisa berputar 360 derajat itu, ia memicingkan mata dan jarinya memijit-mijit dahi, pusing itu tak mau pergi.

Dengan gontai Amat melangkah ke luar ruangan kantornya menuju balkon dari gedung berlantai 20 itu, ia menghela nafas berat, Amat lupa entah kapan terakhir kalinya ia libur dan mengambil jatah cuti. Jabatannya sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor tak memungkinkannya untuk bisa libur dalam jangka waktu lama dan tak bisa sering minta cuti.

Tapi kali ini ia benar-benar pusing, stres dan muak setelah keuangan perusahaan terganggu gara-gara proyek pengiriman impor lobster gagal karena udang-udang tersebut mati kepanasan karena cuaca yang tak menentu.

Dan berkas yang menumpuk tadi adalah beberapa daftar kerugian dan tagihan utang.

Bulan puasa tinggal 2 bulanan lagi, tiba-tiba Amat merasa sesak dan rindu kampung halamannya di desa Kayu Bawang kec. Gambut kab. Banjar, Kalimantan Selatan. Ia rindu uma dan abahnya yang tinggal pusaranya saja, rindu rumah kayu batawing ulin di pinggiran handil tempatnya biasa bermain sepeda, rindu hijaunya daun banih dan kuning buahnya bila wayah katam tiba. Ah, sepetak sawah yang terpaksa dijual abah saat Amat kuliah dan lulus jadi sarjana, pahumaan yang dulu memberinya beras dan nasi untuk sepanjang tahun sampai kembali bertemu musim tanam dan mangatam. Bertahun-tahun ia tak pulang, hampir 5 tahun setelah kematian uma abahnya.

¤¤~

Amat berkemas, ia harus pulang kampung hari ini juga, persetan dengan omelan bosnya yang keberatan, masa bodoh dengan Neta, istrinya yang tak bisa ikut karena harus menghadiri seminar kesehatan jadi pembicara disana sebagai dokter kandungan dan melarangnya. Ia segera menuju bandara bersama Ryan anaknya.

Pesawat dari Jakarta itu lepas landas di bandara Syamsudin Nor Landasan Ulin, Amat bergegas mencari taksi dan menuju desa Kayu Bawang.

Ia sedikit terperangah, jalan aspal yang dulu sempit kini telah diperlebar dan nampak baru, di kiri kanan jalan dipenuhi orang berjualan dan beberapa toko bahan bangunan. Sungai berair hitam tempat ia biasa bermain lanting kini telah menyempit dan disesaki sampah. Yang paling mencolok matanya adalah barisan perumahan yang tepat membelah areal persawahan, menodai hijaunya daun banih yang baru selesai tanam.

Beberapa menit kemudian Amat tiba di desanya, ia melangkah menuntun tangan anaknya tapi tak jua menemukan rumah orang tuanya. Beruntung ia bertemu julak Burhan, pria tua yang dulu menjadi kaum langgar sampai sekarang.

“Astaga, Amat, ikam kah ni Mat!” julak Burhan kaget melihat Amat dan menepuk bahunya.
“Inggih, lak ae, ulun mancari kubur uma abah, tapi asa bingung pas sampai disini kada kaya dahulu lagi.” ujar Amat sambil melihat sekeliling.
“Nah. . Ayuja, naik ka rumah julak dahulu kaina ku kesahkan.”

Lalu Amat mengikuti julak Burhan menuju rumahnya yang mana hanya berjarak 5 buah rumah dari rumah orang tuanya.

“Mat,” julak membuka pembicaraan sambil menatap pada barisan perumahan di hadapannya. Amat menunggu.

Dari cerita julak, airmata Amat mengalir begitu saja. Ternyata, setelah abahnya menjual sawah, para pemborong dan orang-orang proyek perumahan berdarah Cina itu juga membeli tanah disekitarnya dan lalu membuat perumahan tepat di area persawahan. Puluhan bahkan ratusan rumah telah berjejer rapi siap huni. Membuat banjir melanda jika musim hujan tiba, dan hama tikus semakin tak terkendali populasinya.

“Sudah 3 tahun banih kada tapi mau baik lagi.” ujar julak Burhan, gamang dan sedih.

Dan tentang rumah orang tua Amat, setahun lalu terkena pelebaran jalan, sehingga terpaksa di robohkan. Tanah tempat kuburan uma abahnya sekarang telah berdiri kantor pemasaran untuk perumahan tersebut.

Amat terdiam, jika saja ia tak kuliah ke kota, andai saja ia tak jadi sarjana, ah. . Andai saja anak muda sekarang tak terlena dengan mimpi manis untuk jadi orang kantoran, mungkin sawah-sawah itu masih bisa memberikan padi berkwalitas baik dan tak akan terjual pada para pengusaha dan cukong dari Cina. Amat memeluk anaknya dan menyimpan tangisannya.

TAMAT

Arti kata:

Uma abahnya= ibu bapaknya.

Batawing ulin= berdinding kayu besi/kayu ulin.

Handil= seperti gang tapi lebih luas dan panjang.

Banih= padi.

Wayah katam, mangatam= musim panen, memanen.

pahumaan= sawah.

Lanting= susunan batang pisang yang dibuat perahu.

Julak= paman/ panggilan hormat untuk orang yang lebih tua.

Kaum langgar= wakar mesjid.

Inggih= iya.

Ulun, ikam= saya, kamu.

Asa= rasa.

Kada= tidak

RUMAH BESAR BERPAGAR TINGGI

Memasuki kawasan permukiman di komplek perumahan itu suasana mewah sudah terasa. Gerbangnya terlihat megah dengan ukiran mewah bergaya Eropa, di samping kiri dan kanan jalan selebar 8 meter beraspal hitam nan licin itu terdapat lampu taman yang menerangi kala malam hari. Deretan pohon Palem Botol tumbuh berjejer rapi dan terawat. Di tepinya terdapat kotak beton tempat tanaman-tanaman kecil berbunga indah. Beberapa pohon besar menaungi jalan menuju area perumahan elite tersebut.

Sebuah pos satpam eksklusif ber AC menandai betapa berkelasnya tempat itu. Mobil-mobil mewah berseliweran muncul dari garasi-garasi rumah yang besar dan berpagar tinggi.

Hal ini pula yang membuat Bu Salma ngotot mempertahankan istana peninggalan almarhum suaminya yang wafat setahun lalu. Meski tahu akan tinggal sendiri karena ke 3 anaknya sudah menikah dan punya rumah masing-masing, Bu Salma bersikeras dengan pendiriannya.

“Ibu, mending ibu ikut saya saja bu, kasian ibu sendirian. Kalau saya tak bisa menemani ibu di sini, tak mungkin karena kantor terlalu jauh dari sini.” Bujuk Anto, anak sulung bu Salma yang direktur itu.

“Kenapa gak dijual saja bu, atau dikontrakkan.? Uangnya bisa buat ibu simpan atau naik haji.” Ujar Rita, anak ke dua beliau saat berkunjung dengan dua anaknya 3 bulan lalu.

Tapi yang paling membuat bu Salma termenung berhari-hari adalah kata-kata si bungsu Rani yang baru menikah dan belum punya anak tapi harus ikut suaminya yang jadi dokter di pedalaman.

“Saya takut ibu kenapa-napa sendirian begini, sekarang banyak perampokan.”

Ibu Salma menepis kekhawatirannya dan melangkah ke pekarangan menyiram tanaman. Tapi di rumah mewah berlantai dua dengan empat kamar suite itu beliau tak sendiri, ada mang Diman dan mak Ijah, pasangan suami istri yang jadi pembantunya yang sudah sama tuanya dengan beliau. Perihal pembantu ini pun Bu Salma tetap tak mau mencari yang lebih muda dan kuat, membuat ke 3 anaknya hanya geleng kepala.

Sampai suatu hari mang Diman sakit mendadak dan meninggal dunia. Membuat mak Ijah terpaksa pulang ke kampung halamannya untuk menguburkan jasad suaminya.

Bu Salma melewati harinya sendirian, duduk merajut di teras depan berlantai marmer berwarna putih keperakan. Gerakan tangannya terhenti ia menatap pagar besi berukir yang mengelilingi rumahnya. Kemarin malam ia sempat menelepon salah satu anaknya dan memberitahukan tentang kematian mang Diman dan mak Ijah akan kembali setelah 7 hari tahlilan. Pagar itu tergembok dari dalam, di luar tak ada tanda-tanda akan ada yang datang. Bahkan tetangga yang sekadar menyapa pun tak ada.

¤ ¤ ¤

Seorang wanita tua dengan kain kebaya lusuh dan sarung batik berdiri di depan pagar rumah Bu Salma. Itu mak Ijah yang sudah kembali dari kampung pasca kematian suaminya. Berkali-kali wanita tua itu memencet bel tapi tak ada jawaban, hanya lampu teras menyala.

“Apa bu Salma ke rumah anaknya?” gumam mak Ijah dalam hati.

Akhirnya mak Ijah putuskan untuk membuka gerbangnya saja karena ia juga memegang kunci rumah yang sangat besar itu. Saat pintu di buka, mak Ijah memanggil-manggil bu Salma dari ruang tamu, tapi tak ada jawaban.

Tiba-tiba mak Ijah menutup hidungnya, bau tak sedap menyeruak saat memasuki ruang tengah. Ia pun bergegas mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Astaghfirullah. . .”

Mak Ijah nyaris pingsan, ia menemukan sesosok tubuh di depan pintu kamar mandi dengan kondisi mengenaskan dan membusuk.

“Bu Salma !” Teriak mak Ijah sembari berlari tergopoh-gopoh ke luar memanggil tetangganya. Orang-orang berdatangan, panik.

¤ ¤ ¤

garis-polisi.jpg

Rumah bu Salma yang mewah berpagar tinggi itu di pasang garis polisi. Mak Ijah menangis tersedu dan shock berat saat memberikan keterangan. Dari hasil otopsi pihak RS menyatakan bahwa bu Salma terkena serangan stroke di kamar mandi 4 hari yang lalu.


Gambar dari:
http://www.elshinta.com

MENDUNG KELABU DI MATA IBU

ibu.jpg

Hari ini, seperti biasa, di sebuah koridor panjang dengan lantai marmer putih aku mempercepat langkahku. Ada mendung hitam bergayut di langit sana.

Tak banyak yang dapat ku ingat dari ibu, ketika semua terjadi aku masih kanak-kanak sekali. . . .

Ah ibu, aku tahu beliau bukan wanita cengeng yang gampang sedih. Saat gaji ayah tak mencukupi untuk sekolah kakakku dan aku, juga adikku yang masih balita, beliau dengan sigap membantu perekonomian keluarga. Beliau begadang malam hari, membuat penganan kue-kue dan menjualnya siang hari. Sampai suatu malam, aku terbangun saat mendengar tangisan dan teriakan di dapur.

Saat itu yang ku ingat adalah ayah jadi jarang pulang karena menjadi tukang ojek malam hari. Tapi aku tak pernah tahu bahwa dari pekerjaan sampingan yang ayah klaim dapat menambah penghasilan itu, segalanya bermula.

Kadang satu malam ia tak pulang, dua hari sampai berhari-hari. Wanita pendiam yang tegar itu, yang ku sebut Ibu. . . Beliau tetap berjualan seperti biasa, karena ayah mulai alpa memberikan sangu kepada kami berempat. Itu berlanjut dan puncaknya adalah malam itu saat ku dengar keributan di dapur.

Rupanya ayah baru pulang setelah nyaris seminggu lupa pada rumah. Entah kenapa beliau marah sekali pada ibu yang masih sibuk memasak kue-kuenya. Aku tak berani melihat langsung ke dapur, hanya dari celah pintu kamar. Kulihat kakakku yang saat itu baru masuk SMU menangis meraung-raung dengan sebatang sapu ditangannya.

Ayah dan ibu terlibat pertengkaran dan adu mulut. Tak jelas apa yang mereka ributkan, hanya ibu berkali-kali menyebut “wanita itu”. Lalu ayah kian menggila, beliau mulai memukul ibu, dan menampar wajahnya. Sampai kakakku histeris saat ayah hendak membanting sebuah kursi kayu pada ibu.

“BERHENTI !! Jangan pukul ibuku, jangan pukul ibuku, ayah pergi!” teriak kakak berulang-ulang sambil memukulkan gagang sapu pada pintu.

Dan akhirnya kursi itu dihempaskan ke lantai dan ayah pergi lagi entah kemana. Kulihat ibu dan kakakku berpelukan dalam tangis paling memilukan yang pernah ku ingat, aku berlari dan memeluk ibu, ikut menangis. Saat itu adik kecilku masih terlelap di ranjangnya.

Tak pernah ku tahu, malam itu adalah awal dari hari-hari gelap ibu. Dan aku baru tahu jawabannya setelah beberapa bulan kemudian. Ayah pulang membawa seorang bayi laki-laki berusia 8 bulanan. Yang ternyata adalah anak dari istri muda ayah, yang masih terbilang tetangga karena rumah wanita itu tidak jauh dari rumah kami. Setiap akhir pekan dan sepulang sekolah kami bertiga disuruh ayah menjagakan Reno karena ibunya harus bekerja.

Dan ibuku, aku tak tahu bagaimana hati ibu saat harus merawat anak dari wanita yang telah mengambil lelaki yang ia sebut suami. Bertahun-tahun itu terjadi. Rupanya anak laki-laki itulah yang menjadi kebanggan ayah, yang tak pernah ada pada kami, putri-putrinya.

Belasan tahun berlalu, istri muda ayah itu telah punya dua anak. Kami telah terbiasa dengan segala kekurangan dan saling berbagi, sampai-sampai aku mengira duka itu telah sirna.

Tapi aku tak pernah tahu, saat ibu mulai meracau tak jelas, marah-marah, mengganggu orang dan atau mengamuk tiba-tiba.

Sampai di sinilah ibu akhirnya saat seminggu yang lalu sebuah mobil petugas kesehatan terpaksa membawanya dengan ke dua tangan terikat dan suntikan penenang.

Mendung sedari pagi yang memberati langit akhirnya menjatuhkan rinai gerimis. Aku melangkah cepat bersama ke dua anakku menuju ruangan tempat ibu di rawat di sebuah rumah sakit jiwa.

“Nenek. . . !” ke dua anak ku memeluk ibu, kata suster kondisi beliau mulai stabil. Kami duduk santai di kursi panjang di selasar itu.

Aku mencium tangan ibu yang selama ini telah merawatku. Aku tak pernah tahu ternyata luka-luka itu separah ini. Luka-luka masa lalu itu ternyata mampu membawa ibu ke tempat menyedihkan macam ini. Ibu bercanda dengan ke dua cucunya, beliau bilang jika terus membaik dan teratur minum obat, beliau bisa cepat pulang.

“Ibu harus sembuh dulu,” kataku sambil melihat pergelangan ibu, di sana ada bekas ikatan di kulitnya. Kata suster baru tadi pagi dilepaskan karena ibu tak meronta-ronta lagi.

“Kasian Ipah, siapa yang menyediakan keperluannya?” ibu ingat adikku yang baru masuk perguruan tinggi.

“Ibu tenang aja, kan di rumah ada ayah.”

Mendadak ibu terdiam, aku menatap wajahnya. Ah, mendung itu belum sirna. Sementara gerimis menjelma hujan memerciki sepanjang selasar pagi itu. . .


Gambar dari:
kresyagina.wordpress.com