OKTOBER BAPER (Edisi Kehilangan Mywapblog)

Galaulah kalian, galaulah kita, galaulah saya!!

Faktanya, di dunia ini ada banyak hal yang berada di luar kendali kekuasaan kita. Salah satunya adalah tentang masalah Mywapblog yang kita cintai ini, yang peredarannya akan segera hilang dari muka bumi ini. Padahal…..

Dulu, bahkan sekarang pun jikalau Mywapblog resmi ditutup, ngeblog tanpa perangkat komputer atau laptop itu adalah suatu hal yang sangat niscaya mustahil. Kerena itulah kehadiran Mywapblog di tengah banyaknya umat manusia dengan kemampuan dan fasilitas terbatas yang hendak menyalurkan hobi sharing dan menulis tetapi tak punya laptop, itu laksana sebuah oase di tengah gersang dan kejamnya gurun pasir terpanas di dunia. Bayangkan, kita semua dapat bebas berkarya dan mengelola blog lewat ponsel saja, hampir nyaris semudah kita update status galau dan alay di facebook!!!
Dan tentu saja, kita dapat juga bergaya, bangga, gak kalah dengan blog sebelah. Jiah!!

Tapi mungkin memang benar apa kata orang, kegembiraan yang agak "terlalu" indah dan penuh euforia emang gak akan tahan lama. Dan… this is it, so inilah akhirnya, kita berkabung, saya berduka sodara sodara!!! Atas berita akan ditutupnya mywapblog.

Terasa memang agak ganjil selama saya ngeblog di Mywapblog, tiga tahun pemirsa, bukan waktu singkat untuk sebuah kesabaran, yap! Selama itu saya terus bersabar dengan keterbatasan menulis lewat ponsel java yang harganya tak seberapa jika dibandingkan ponsel android terkini. Bersabar atas fasilitas ngeblog gratis yang servernya sering down hingga tak bisa diakses berhari-hari. Bersabar atas kwalitas lemotnya paket jaringan internet yang dibeli dengan harga rupiah termurah. Bersabar atas segalanya, bahkan saya bersabar ketika menkominfo, UC Browser dan provider kartu seluler yang saya pakai berkonspirasi memblokir banyak situs, termasuk Mywapblog, yang membuat saya tak lagi bisa maksimal dalam ngeblog ria. Kejaaaaaammm….

Maka, kalau kalian yang baru aja tempo hari bikin blog di sini, dan udah mau nangis darah saking bapernya karena Mywapblog mau ditutup, PANDANGLAH SAYA, LIHATLAH SAYA DAN USER-USER LAWAS LAINNYA yang udah sedia ampe lumutan menulis dan koar-koar di Mywapblog selama ini, dan kemudian menemukan fakta paling menyakitkan seperti ini. HOW COULD IT BEEEE??!!!!! Bayangkan betapa bapernya kita!!! Yang udah pernah jatuh bangun merasakan rumit, nyesek, ngenes dan juga senangnya ngeblog lewat hape. Baper sebaper-bapernya sayang!!

Dulu, harapan dan ekspektasi saya ketika pertama ngeblog adalah ingin mengabadikan kenangan dan membuat sejarah saya sendiri, kerena saya takut jikalau saya tua nanti saya akan semakin pelupa dan mulai tak bisa mengingat lagi moment-moment terbaik dalam hidup ini, karena itulah kelak blog inilah yang akan menjadi penyambung lidah atas kisah yang tak pernah bisa saya sampaikan secara lisan, blog inilah yang akan jadi kotak pandora berharga tempat saya menyimpan semua cerita. Lebih dari itu, blog ini adalah bukan sekadar karya tulis saja, blog ini adalah kumpulan KEKAYAAN INTELEKTUAL saya yang tak ternilai harganya!!

Ok, mungkin memang agak berlebihan, tapi memang seperti itulah saya menganggapnya.

Barangkali memang seperti inilah kehidupan, kita tetap harus bertahan. Seperti halnya dulu kejayaan Friendster yang digantikan Facebook, Multyply yang punya begitu banyak user pun akhirnya juga tutup yang membuat anggotanya juga kocar kacir entah kemana, situs Ngerumpi dot com yang punya motto ngerumpi tapi pake hati juga akhirnya tiada lagi. Seperti itu…. datang, hilang, pergi, hanyalah bagian kecil dari kehidupan, dan jikalau karena itu saya merana, baper, menangis dan insomnia lalu menulis keluh kesah penuh luka ini, maka itu juga hanyalah sebagian kecil saja dari masih banyaknya luka dan guncangan masalah yang akan menimpa dalam hidup ini.
Harusnya tidak apa-apa, harusnya kita bisa, harusnya…. Tapi…..

Mywapblog….
Banyak hal yang tak dapat saya relakan dalam kehidupan, dan kau kini menjadi salah satu di antaranya.
Hikz…..

Advertisements

AKHIRNYA DESCENDANTS OF THE SUN TAYANG DI INDONESIA


Gambar dari; lensaremaja.com

Kabar gembira buat pencinta drama Korea, drama yang paling hits di awal tahun 2016 dan paling ditunggu-tunggu kehadirannya akhirnya tayang di televisi swasta di Indonesia. RCTI menyiarkan drama ini sejak hari Senin tanggal 25 Juli 2016 kemarin, dari Senin sampai Jumat jelang tengah malam, pukul 22.30 WIB (jam tayang favorit penderita insomnia). Kalo di tempat saya, Banjarmsin dan sekitarnya kena hampir jam 12 WITA. Horee….

Senang banget juga tayangnya pake subtitel aja dan bukan dubbing, soalnya saya kurang sreg dengan drama korea yang didubbing. Kurang greget karena gak bisa denger oppa, daebak, omo, atau gomawo dengan aksen khas yang terdengar begitu seksi di kuping saya. Thanks ya RCTI.

Drama yang dibintangi oleh si mega bintang Korea super cantik Song Hye Kyo dan aktor cute Song Joong Ki ini berkisah tentang dua anak manusia berbeda profesi, visi dan misi namun punya satu perasaan yang sama. Tentang seorang tentara anggota pasukan khusus dan seorang gadis dokter. Fix banget yah dua profesi itu emang paling klop kayaknya, di kehidupan nyata juga kalo ada pasutri yang profesi serupa itu pasti deh dimana-mana jadi bahan kebanggaan buat keluarganya dan membuat nyempil-nyempil rasa iri dari orang disekitarnya.

Baru di episode pertama saja saya sudah dibuat ngiler klepek-klepek oleh aksi Joong Ki yang super terus terang tentang rasa sukanya pada si dokter cantik. Hye Kyo juga gak kalah menawan, perannya sebagai dokter muda ahli bedah yang sudah menyandang gelar profesor itu sangat pas dengannya. Membuat saya percaya, pantas saja netizen dalam dan luar negeri pada heboh tentang drama ini. Pantas saja sampai ada meme-meme yang bikin mupeng tentang Song Joong Ki yang dibanding-bandingkan dengan tentara ganteng di kehidupan nyata; Agus Harimurti, anaknya pak SBY. Pantas saja ke dua pemerannya dapat julukan SONG SONG COUPLE. Pantas saja mereka berdua digosipkan menjalin hubungan asmara beneran di luar drama. Pantas saja rating dramanya menanjak naik terus. Pantas saja drama dan artis pemeran nya dapat banyak penghargaan dan booming di seantero asia. ARRRGHHHHH….. JOONG KI. .. kamu terlalu manis untuk jadi tentara yang mesti baku tembak dan bersimbah darah!! Tidaaakkkkkkkk….

Gambar dari: hmetro.com.my

Lihat kacamatanya, betapa keren dan gagahnya Song Joong Ki oppa di drama ini. Dari sekian judul drama yang pernah dibintanginya, bisa dibilang drama inilah yang paling sukses melambungkan namanya.

Gak sabar seperti apa ceritanya (padahal guenya aja yang paling gak sabar, adahay nasib tak punya saluran TV digital), pantengin aja di RCTI setiap Senin sampai Jumat pukul 22.30 WIB. (sambil berdoa dalam hati semoga tayangnya konsisten sampai selesai).

Amiin!!

KETIKA CINTA DAN CITA-CITA MEMBUAT ORANG MENGHALALKAN SEGALA CARA (Review Drama Korea My Heart Twinkle-Twinkle)

my-heart-twinkle-twinkle.jpg
My Heart Twinkle-Twinkle
(pic: http://www.koreandrama.org)

Melihat dari judul drama ini saya kira akan menemukan kisah cinta yang manis dan mendebarkan khas anak muda. Ternyata saya justru disuguhi pemandangan cinta yang ‘dark, hard and hurt’ dari seorang taipan pengusaha kaya yang mencintai seorang gadis anak dari teman alm ayahnya yang menjadi rival abadi bisnisnya.

Saya juga dihadapkan pada adegan2 dan karakter khas sinetron, yaitu suami obsesif yang temperamental, istri yang lemah tak berdaya, saudari ipar yang judes plus ibu mertua yang memperlakukan menantunya seperti pembantu di rumahnya. Komplit ya. Haha. . . Membuat saya berpikir, kok ada ya drakor semacam ini? Hiks. .

bae-soo-bin.jpg
Bae Soo Bin as CEO Cheon Woon Tak
(pic : dramajjang.wordpress.com)

Saya suka akting dan wajah Ahjushi ini (sudah gak muda lagi) pertama kali di Dong Yi. Tapi di sana dia berperan protagonis, jadi kakak baik hati pelindung Dong Yi. Berbeda sekali dengan perannya di sini, bengis dan kejam.

Adalah Cheon Woon Tak (diperankan dengan apik oleh Bae Soo Bin) seorang owner dan CEO dari jaringan mega bisnis dan perusahaan Monachus Grup yang meliputi bisnis waralaba dan kuliner di Kyungsan. CWT ini meneruskan bisnis ayahnya yang telah meninggal. Dulu ayahnya bersahabat dgn Lee Jin Sam dalam mengelola restoran ayam, tapi kemudian karena perbedaan visi dan misi maka LJS memutuskan membuka restoran sendiri, walau tidak besar tapi cukup untuk menghidupi ke tiga anak gadisnya (Lee Soon Jin, Lee Soon Soo dan Lee Soon Jung) dan saudara perempuannya.

Sedangkan CWT setelah ayahnya meninggal ia menjadi sosok pengusaha ambisius yang menghalalkan segala cara dalam memajukan usahanya. Termasuk pemberian pengawet dan bahan berbahaya pada ayam goreng. Ini yang sangat ditentang oleh LJS.

CWT dihadapkan pada berbagai masalah hukum karena sepak terjangnya. LJS dan seorang temannya yang mengetahui rahasia dan kejahatan CWT sedang terancam nyawanya. Termasuk anak bungsu Lee Jin Sam, Lee Soon Jung, yang mendengarkan pembicaraan rahasia CWT dgn orang2 kepercayaannya. Hingga suatu malam dalam pelarian, LJS dan putrinya dibakar oleh bawahan CWT di sebuah peternakan ayam. Anak buah CWT itu bertindak atas kemauan sendiri, CWT marah dan segera ke lokasi kejadian. Tapi apa, ia tidak jadi menolong dua anak beranak itu. Sehingga LJS mati terbakar dan hanya bisa menyelamatkan Lee Soon Jung.

Disinilah babak baru keluarga Lee dimulai. CWT dgn heroik dan muka pahlawan datang ke acara pemakaman LJS. Bertindak sbg pemimpin upacara duka dan meminta maaf pada 3 anak gadis Lee dan bibi mereka. Hanya si bungsu yang tidak percaya pada kebaikan CWT. Tapi dgn segala akal bulusnya, CWT dapat mengambil hati keluarga Lee, si bibi sangat menyukainya apalagi ketika ia mengatakan sangat mencintai si sulung Lee Soon Jin dan hendak menikahinya.

Mengerikan bukan, bagaimana mungkin seorang durjana yang menyebabkan kematian seorang ayah tapi justru menikahi anak gadisnya yg tidak tahu apa2?

Karena itulah memang tak berlebihan jika ada ungkapan:

“Everything is fair in love and war.”
Segalanya adil/sah dalam perang dan cinta.

Singkat kata, meski tak direstui sang ibu, CWT tetap menikah dan membawa istrinya ke rumahnya yang megah itu. Bisa ditebak, Lee Soon Jin jadi bulan2an mertua yang memang tidak menyukainya. Terlebih ketika si bungsu juga diajak tinggal di rumah itu. Sampai kemudian karena hobi ‘main detektif’ sejak kematian ayah mereka Lee Soon Jung lagi2 mendengar pembicaraan tentang kronologis kebakaran malam itu. Maka bertambah yakinlah ia bahwa kakak iparnya adalah penjahat berwajah pahlawan yg amat berbahaya. Karena diancam dan demi kakaknya, iapun akhirnya melarikan diri ke Seoul, tiga tahun berlalu dan tanpa kabar sama sekali.

Sedangkan Lee Soon Jin sedikit demi sedikit mulai menemukan fakta tentang siapa sebenarnya suaminya. Ia shock setelah mengetahui apa yg sebenarnya terjadi dan semakin tak berdaya ketika ia sendiri mengandung anak dari orang yg telah membunuh ayahnya dan menghancurkan keluarganya.

Akan kemana cinta obsesif nan kejam sang taipan bermuara?

Dapatkah Lee Soon Jin menguatkan dirinya dan mempertemukan kembali keluarganya?

Bagaimana nasib anak yg dikandungnya, sang calon pewaris Monachus Grup yang berharga?

Bagaimana nasib adik bungsunya dalam pelarian?

Benar2 sebuah drama yg penuh intrik dan konspirasi kotor. Ternyata bisnis tak ubahnya seperti politik, orang2 bisa menjadi demikian kejam demi mencapai tujuan. Rasa cinta dan kehilangan pun tak lagi membuat manusia dapat melembutkan hatinya namun melahirkan pemahaman keliru yang sekeras batu.

#gak nyesel udah nonton

KADANG (PERNIKAHAN)

Terkadang. . .

Kita hanya perlu berterimakasih dan meminta maaf.

Tapi mengapa itu begitu sulit?

Ini terasa seperti sesungguhnya.
Kita saling berteriak, memaki dan berkata benci.
Kita mulai saling menyakiti satu sama lain.
Meski saling menyimpan cinta yang sama besarnya.

Tapi kita bisa apa??

Kau bukan lagi jemari yang pernah menghapus airmata di pipi.
Yang jatuh lantaran hal- hal sepele yang ternyata menyedihkan.
Kau kini telah jadi penyebab turunnya airmata itu,
menjadi hujan. . .
yang tenggelam ditelan bantal semalaman.



A poetry inspired by :
Korean Drama FULL HOUSE

PELAJARAN MENJADI SEORANG IBU (Review Film Raising Helen)

Menjadi orang tua memang tak ada sekolahnya, mau sarjana ataupun tidak ketika harus menjadi orang tua, manusia kembali belajar, mengajar, diajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Urusan berhasil tidaknya tergantung proses keseluruhan. Karena pelajaran menjadi ibu itu terus berlangsung sepanjang alur kehidupan dan seharusnya tak ada yang berhak memvonis atau mengklaim bahwa ibu yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Ketika seorang ibu memutuskan menyerahkan anak-anaknya pada orang lain, maka kita semua tahu bahwa tak akan ada orang yang cukup pantas untuk itu. Maka kita hanya bisa menyerahkannya pada orang yang sekiranya paling mirip denganmu. (Lindsey)

raising-helen.jpg
Gambar: http://www.allmusic.com

Inilah film bergenre drama komedi yang justru membuat saya banjir air mata. Raising Helen, mengisahkan tentang seorang wanita muda yang sukses mencapai impiannya dan bekerja di bidang industri fashion di sebuah perusahaan mode ternama di tengah kota Manhattan. Adalah Helen Harris seorang wanita mandiri, yang bebas dan merdeka, gambaran sempurna untuk sosok wanita karier.

Tapi kemudian segalanya berubah total ketika kakak Helen (Lindsey) dan iparnya/suami Lindsey (Paul) meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Meninggalkan tiga anak yang diwalikan kepadanya, padahal ia masih lajang dan tak punya pengalaman menjadi ibu dan mengapa bukan Jenny, saudarinya yang lain yang telah menikah dan tengah mengandung anak ke tiga.

Helen memang sangat menyayangi keponakannya dan cukup dekat dengan mereka, tapi menjadi wali dan harus membesarkan mereka jelas bukan perkara mudah. Apalagi mengurus anak-anak yang hatinya luka karena kehilangan ke dua orang tuanya.

Ada si abege labil Audrey (15 tahun) yang mulai suka dengan lawan jenis dan pesta-pesta, Henry (10 tahun) yang senang berbohong, bermasalah dengan kegiatan di sekolah dan kehilangan minat belajar olahraga yang dulu sangat digandrunginya, dan si bungsu Sarah (5 tahun) yang kerap merasa sedih, menangis karena hal-hal sepele yang mengingatkannya pada sang ibu yang telah tiada.

Benar-benar sebuah gebrakan yang menghentakkan hidup Helen sepenuhnya. Ia berusaha tetap menjalani semuanya dengan normal, bekerja dan merawat anak-anak, mencarikan tempat tinggal dan sekolah yang baru. Semuanya berjalan cukup baik, super sibuk walau sedikit ‘berantakan’. Sampai akhirnya karena satu insiden membuat Helen dipecat dari pekerjaannya.

Keluarga dan fashion memang tidak cocok.

Seperti itulah kata-kata atasan Helen.

Memang ya, agak sulit untuk tetap rapi, teratur dan stylish (juga berkarier) di tengah anak-anak yang terus bergerak, merengek, tak bisa diam dan hobby membuat pacuan jantung karena tingkahnya. Dan Helen menjadi seorang ibu yang menanggung itu sendirian.

Belum lagi tekanan Jenny yang merasa ia lebih berpengalaman dan rasa tersisihnya karena Lindsey lebih memilih Helen untuk mengasuh anak-anaknya. Dua kakak beradik ini saling bertengkar karena banyak perbedaan. Tapi kemudian mereka tersadar ketika Audrey hilang dari pesta dansa sekolah dan pergi ke motel bersama teman laki-lakinya yang begajulan. Semua panik, membuat saya terkagum-kagum ketika Jenny melacak nomor kartu Visa yang dicuri Audrey dari dompet Helen dan menyetir mobil dalam keadaan hamil besar di tengah malam buta bersama Helen yang kebingungan dan menggerebek kamar motel tempat Audrey berada (ternyata seorang ibu bisa menjadi detektif sekaligus satuan polisi pamong praja yang berdedikasi tinggi). Sukses, ke dua wanita itu pun jadi bibi yang sangat dibenci keponakannya.

Mungkin memang seperti itulah cara kerja seorang ibu berjalan. Bahkan seperti Nilma (tetangga Helen) bilang “aku menikmati saat anak-anak membenciku”. Karena orang tua tetap harus menentukan peraturan dan batasan-batasan jelas terhadap anak-anak mereka. Lemah lembut di saat tertentu, tegas dan tak terbantahkan di saat lainnya. Apapun konsekuensinya.

Dan jiwa muda anak akan selalu bertanya mengapa? Maka dengan sedikit superioritas orang tua pun menjawab, karena kau harus melakukannya/aku menyuruh demikian! Titik, habis perkara, no compromized! Tak ayal, membuat mata belia itu melotot, menangis dan membanting pintu kamar tepat di depan muka.

Menjadi ibu memang sesuatu, saya saja menyebut ini sweet horrible moment (masa-masa menyeramkan yang manis). Tapi saya berharap tak akan mendapat bantingan pintu atau semacamnya karena kegagalan negosiasi yang mati kompromi.

Mungkin kita memang tak bisa menjadi super mom atau ibu yang sempurna. Tapi bukankah kita semua bisa belajar jadi ibu yang baik?? (in my deeply heart, i hope so.)

Sesuatu yang sangat cetar menggelegar, sebuah film yang benar-benar layak ditonton dan direnungkan. Masih meninggalkan sebuah tanda tanya besar di benak saya selama 10 tahun__belajar__ menjadi ibu:

Mampukah saya ???

KETIKA DUNIA TAK AMAN BAGI ANAK PEREMPUAN DAN STIGMA NEGATIF TERHADAP ISLAM (Review Film “TAKEN”)

taken-poster-big.jpg
Film TAKEN ini ada juga sekuelnya (Gambar dari: tiffmedia.wordpress.com)

Inilah film yang membuat malam Minggu saya terasa lebih berarti, terhibur sekaligus kesal di saat yang bersamaan.

Film ini mengisahkan tentang seorang ayah, seorang pensiunan agen pemerintah yang sangat over protektif dan paranoid terhadap keselamatan putri semata wayangnya yang berusia 17 tahun. Perceraian sang ayah dengan istrinya membuat ia dan si anak terpisah, dan ia ingin memperbaiki hubungannya agar bisa lebih dekat dengan si anak.

Masalah besar muncul ketika si ibu mengijinkan si anak pergi ke Perancis berdua saja dengan temannya, yang ternyata itu adalah tour keliling Eropa untuk menghadiri konser band U2. Tentu saja sang ayah marah dan keberatan (walau akhirnya terpaksa mengijinkan) putrinya pergi.

Lalu si anak dan temannya jadi korban penculikan oleh gembong penjahat kelas kakap yang merupakan jaringan perdagangan manusia lintas negara tingkat internasional yang ternyata justru melibatkan petinggi aparat keamanan setempat.

Sungguh mengerikan, membuat marah luar biasa dan naluri perempuan saya terusik sampai terasa sakitnya tu di sini (nunjuk jempol pegal kelamaan ngetik keypad HP). Perjuangan sang ayah benar-benar heroik dan sangat berani demi menyelamatkan putrinya.

Sinopsis lengkap dan mantapnya bisa dibaca DI SINI.

Lalu mengapa saya kesal? Dan apa hubungannya dengan stigma negatif terhadap Islam?

Saya bukan bermaksud menyinggung isu SARA yang sensitif di ruang publik macam begini. Saya hanya menyampaikan rasa ketidakenakan dan sedikit keberatan pada beberapa adegan di film ini yang saya anggap menghina agama tertentu. Mungkin pandangan kita bisa saja berbeda, atau anggap saja saya berpikiran sempit. Entahlah. . .

Dalam salah satu adegan ketika si anak gadis diculik, ia sempat menggambarkan si penculik berjenggot dan bertato lambang bulan bintang. Ah, yang rasanya secara sekilaspun kita tahu bahwa itu merujuk pada simbol agama tertentu.

Lalu di bagian ketika transaksi terjadi, calon pembeli untuk si anak yang ternyata masih perawan itu adalah seorang Arab yang rela membayar dengan harga mahal. Membuat dada saya semakin sesak. Hal itu terasa semakin memperkuat anggapan saya bahwa film ini memang memojokkan Islam dengan stigma negatif yang selama ini memang sering ditampilkan di berbagai media, film, buku dan sebagainya (rasanya sudah lebih dari cukup ketika orang Islam selalu diidentikkan dengan teroris, kekerasan dan biang bom bunuh diri dan juga berbagai tindak kriminal yang melanggar Hak Asasi Manusia !!).

Memang bukan rahasia lagi kan, dunia entertainment sangat akrab sebagai sarana propaganda Barat dengan segala visi dan misinya. Lihat betapa suksesnya Drakula karya Bram Stoker sampai yang teranyar Drakula, Untold Story. Film itu adalah benar-benar upaya untuk memutarbalikkan sejarah, mengagungkan seorang tokoh pembantai tersadis sepanjang masa dan membuat kita melupakan kejayaan Islam di abad pertengahan dan menyingkirkan seorang pahlawan, mujahid sejati Sultan Mehmed al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. Bahasan lengkapnya ada DI SINI.

Saya memang pencinta film Hollywood dan senang juga dengan hal-hal yang berbau Barat. Tapi ketika apa yang saya lihat terasa mengusik jati diri sebagai umat (walau saya hanya seorang awam) paling tidak saya harus menyampaikan rasa keberatan dan memfilternya agar jangan sampai rasa bangga kita sebagai Muslim tergerus oleh gencarnya tayangan-tayangan yang berpotensi melecehkan (kalau tak bisa dibilang menghina) agama yang kita anut dan yakini.

Wallahualam. . .


Dan,
Malam inipun mata lambat terpejam, ada sebuncah rasa yang mengganggu di dalam rongga dada.

Yang aku tak tahu itu apa?

HIDUP DAN CARA MANUSIA BERTAHAN MENGHADAPI PERUBAHAN (Review Film Real Steel)

Inilah salah satu hal yang saya suka di liburan akhir tahun; tayangan televisi dipenuhi film-film box office yang terbilang masih baru dan fresh. Karena liburan kali ini tetap jadi penghuni rumah saja dan gak plesiran kemana-mana maka jadilah televisi sebagai alternatif hiburan sekeluarga.

Masih ingat ulasan film Cinderella Man yang pernah saya posting dulu?? Yang mengisahkan tentang seorang petinju yang mencoba bertahan dalam krisis ekonomi di Amerika?

Nah, kali ini ada lagi sebuah film yang masih tak jauh dari arena ring adu bogem itu. Yup, kali ini saya dibuat terpesona lagi oleh film bertema tinju dan adu jotos, tapi bukan sembarang tinju, ini adalah tinju yang dilakoni oleh seperangkat besi; tinju robot petarung.

Real Steel, itulah judul film yang dibintangi aktor kawakan nan seksi sekaligus tampan dengan bulu dada aduhai, yang aktingnya melejit lewat saga X Men sebagai Logan Wolverine atau pemburu vampir Van Helsing, siapa lagi kalau bukan Hugh Jackman.

rs-mzi-xdcvyvub-200x200-7.jpg

Gambar dari:
trailers.apple.com

Dalam film bergenre science fiction sekaligus drama keluarga yang dirilis tahun 2011 ini, Hugh Jackman berperan Sebagai Charlie Kenton, seorang petinju handal yang terpaksa angkat sarung dari ring tinju karena tinju manusia sudah tidak populer lagi. Di film yang mengambil latar tahun 2020 ini, pertarungan tinju telah digantikan oleh robot-robot besar super canggih.

Di tengah kemajuan teknologi itu manusia dituntut untuk bisa bertahan menghadapi perubahan dan harus bersaing dengan robot-robot yang telah menggantikan tugas, fungsi dan pekerjaan manusia di segala bidang.

Termasuk Charlie yang berjuang mati-matian karena petinju merupakan mata pencarian satu-satunya, maka mau tak mau ia harus punya robot agar bisa kembali ke ring tinju dan mendapatkan uang untuk hidup dan membayar utang-utangnya.

Maka bersama si anak (Max Kenton), Charlie mulai berjuang dengan memperbaiki robot bekas yang mereka ambil dari tempat pembuangan. Dari sana pula ia mulai membangun hubungan akrab dengan anaknya yang selama 11 tahun dari sejak lahir hingga sekarang tak pernah dipedulikannya itu.

Sebuah film yang sayang untuk dilewatkan karena bisa ditonton bersama anak dan keluarga. Terlepas dari hal negatif pertaruhan dan judi di ring tinju, secara keseluruhan film ini cukup bagus dan menarik. Tak hanya sinematografi memukau mata dan scene-scene yang keren tapi juga banyak pelajaran yang dapat kita ambil.

Meski kemajuan teknologi bertujuan untuk meringankan dan mempermudah hidup manusia, tapi tetap saja akan ada dampak yang pada akhirnya dapat berimbas pada kehidupan manusia itu sendiri. Ketika peran dan pekerjaan manusia digantikan robot maka bukan tak mungkin manusia akan terpinggirkan dan terbuang karena kalah bersaing.

Dan tetap saja, meski secanggih apapun teknologi elektronik dan seakan menjadi teman hidup sehari-hari, manusia tidak boleh melupakan keberadaan manusia lainnya, komunikasi dengan sesama teman, tetangga dan keluarga harus tetap jadi prioritas utama.

Having quality time on the week end, with your family and someone special. Happy watching! 🙂