ANTARA HARAPAN DAN REALITA CINTA (REVIEW DRAMA KOREA CUNNING SINGLE LADY)

cunning-single-ladymbc201.jpg
Drama Korea Cunning Single Lady
(Foto dari: es.drama.wikia.com)

“Manusia bukanlah manusia bila tak mengalami perubahan.”

“Wanita punya dua kesempatan untuk sukses. Yang pertama; melalui usaha dan jerih payah sendiri, ke dua: menikah dengan pria mapan/kaya.”

“Bagaimana seseorang bisa mencintai tanpa dibiayai?”

Itu adalah beberapa kata kutipan yang saya ambil dari drakor ini. Sebuah drama yang paling saya nanti-nantikan di layar kaca sepanjang tahun 2014 ini (beruntung, akhirnya ditayangkan juga di sebuah stasiun TV swasta lokal; BanjarTV), karena saya dapat kembali menyaksikan akting cool yang mumpuni dari aktor negeri ginseng idola saya (siapa lagi kalau bukan) Joo Sang Wook (di drama ini Oppa berperan sebagai Cha Jung Woo).

ceo-cha-jsw1313.jpg
CEO keren Cha Jung Woo
(Foto dari: pearlsides19.rssing.com)

Drama ini kalau saya boleh bilang bisa diberi stempel ‘saya banget’ karena menceritakan tentang pasangan menikah yang membina rumah tangga dengan segala romantika, cinta, dan masalah kehidupan sampai kemudian si istri (Na Ae Ra) terpaksa meminta cerai karena tak tahan lagi menanggung kesulitan hidup akibat ambisi sang suami (Cha Jung Woo) yang berhenti jadi pegawai negeri dan hendak jadi bisnisman.

Dari sanalah segalanya bermula, selama 4 tahun pernikahan, Ae Ra diharuskan bekerja keras mati-matian, hutang modal sana sini untuk membantu suaminya dalam merintis bisnis jejaring sosial yang tengah diusahakannya.

Tapi untung belum dapat diraih dan kemalangan datang silih berganti. Ae Ra yang kelelahan setengah mati dan telah kehilangan kesabarannya akibat tumpukan hutang dan biaya hidup yang harus ditanggungnya, akhirnya menyerah dan merekapun berpisah. Walau masih saling mencintai dan sama-sama sakit hati, toh hidup masih harus diteruskan.

3-cunning-single-lady-sly.jpg
Cha Jung Woo sebelum jadi CEO (culunnya lebay gak ketulungan)

3 tahun kemudian pasca perceraian, mereka bertemu kembali dan alangkah terkejutnya Ae Ra ketika mendapati mantan suaminya telah berubah drastis seratus delapan puluh derajat, yang dulunya culun, cupu dan gaje gitu sekarang telah jadi keren dan tampan abis dengan stelan tuksedo dan jas mahal yang berpotensi meningkatkan denyut jantung, menggetarkan tulang belulang dan meremukkan sendi-sendi kaum hawa (termasuk sayah, hahaha. . .)

Dan yang paling hebatnya lagi adalah Cha Jung Woo kini telah sukses besar dan telah jadi seorang CEO di perusahaan Soft D &T Ventures dengan produk aplikasi jejaring sosial andalannya; Dontalk.

Maka ternganga, pangling dan terperangahlah Ae Ra yang hidupnya masih berkutat jadi karyawan toko yang selama 3 tahun terakhir ini menghabiskan hidupnya untuk melunasi pinjaman yang pernah digunakan mantan suaminya untuk bisnisnya yang kini telah sukses besar itu.

Ae Ra tidak rela atas segala cucuran darah, keringat dan airmata yang telah ia lalui bertahun-tahun ini. Ia ingin mantan suaminya tahu diri, berterima kasih dan minta maaf padanya. Tapi itu tak mudah, Cha Jung Woo yang juga merasa sakit hati dan menganggap Ae Ra wanita serakah yang mata duitan, telah berubah menjadi sosok yang arogan, dingin dan tak berperasaan.

Lalu akan kemanakah harapan cinta dan egoisme Ae Ra dan Cha Jung Woo bermuara??


Drakor bergenre komedi romantis ini sarat akan nilai-nilai kehidupan, membuat saya jadi terpekur sendiri merenungi kehidupan rumah tangga saya yang telah (alhamdulilah) berjalan sepuluh tahun ini. Setiap kehidupan pernikahan yang dibangun atas nama cinta pasti memiliki harapan indah dan cita-cita masa depan, dan jalan yang dilalui tak pernah semulus yang kita bayangkan.

Bahwa ternyata dalam hidup penuh hal-hal tak menyenangkan yang sering terjadi. Saat hal-hal baik menghampiri, justru di saat kita bukan bagian dari situasi itu lagi. Dan kita tak berhak untuk merasa punya andil atas segalanya.

Ada kalanya kegagalan bukan lagi suatu kesuksesan yang tertunda, tapi kegagalan kita adalah bisa jadi salah satu faktor penyebab atas kesuksesan orang lain. Karena kebaikan dan budi yang pernah kita perbuat tempo hari bukan semacam benda atau piutang yang mesti kita minta lunasi di dunia ini. Dan kita tak bisa (baca: tak boleh) memaksa orang yang telah kita tolong/bantu untuk berterima kasih atau membalas budi.

Hah. . . Jadi sentimentil sendiri dan mendadak sok idealis dan dramatis juga kalau sudah menikmati tontonan yang beginian. Biasalah ibu-ibu, kalau sudah ketemu drama udah kayak ikan bakar ketemu cocolan sambel terasi; p a s dan k l o p bingitz. Wkwkwkwk. . .

IMPIAN CINDERELLA

“Cinderella telah menghancurkan hati banyak wanita di dunia, karena telah memberikan harapan tanpa dasar.”
(Drama Korea When a Man Fall in Love)

Menikmati novel-novel roman (saya sudah suka sekali sejak jaman saya remaja dulu) seperti Harlequin dengan penulis-penulis romantis tenar semisal Nora Roberts dan Sandra Brown. Maka kita akan menemukan satu pola dan tipe cerita yang hampir nyaris sama.

Novel-novel roman seringkali menyimpan harapan dan idealisme terpendam dalam hati seorang wanita sejak jaman baheula. Saya menyebutnya tipe cerita “IMPIAN CINDERELLA”.

Novel roman juga sering didominasi oleh penokohan tentang karakter seorang wanita biasa dengan lawan main seorang pria sempurna yang punya segalanya. Sebutlah contoh kisah A Romantic Story about Serena karya Shanty Agatha, penulis dalam negeri yang cukup populer di jagat internet juga telah memilih genre romansa yang selalu berakhir bahagia.

Sampai-sampai saya iseng menulis status:

“Tipikal buku-buku roman; wanita polos, mandiri dan sederhana VS pria superior, arogan, playboy dan punya segalanya.

Masih semacam mimpi Cinderella di era gombalisasi, dan itu dalam dunia nyata hanya terasa sebagai ironi dan jarang terjadi.”

Lalu saya tersadar oleh sebuah komentar yang ditulis adik saya:

“Itu sebabnya orang-orang membuat cerita, novel, film dsb, itu semua perwujudan asa yang sulit/bahkan mustahil direalisasi.

Anything may happen in the movie and book, those are the fairy tales that every one wish happened.”

Hmm. . . Itu benar, sakit memang. Sesakit mata saya saat nonton sebuah film India Chori Chori Chupke Chupke tentang seorang istri yg tak bisa hamil dan menyewa seorang pelacur cantik untuk mengandung benih suaminya. Pelacur itu diperankan apik oleh Preity Zinta, dalam salah satu adegannya ada kata-kata seperti ini:

“Dulu sewaktu kecil, aku sering berharap tentang seorang pangeran yang akan datang melamarku dengan kuda putih. Tapi ternyata setelah aku dewasa justru bertemu dengan pria-pria hidung belang bermobil putih. Mereka hanya menginginkan tubuhku.”

Tragis ya. . .

Itulah mengapa cerita-cerita dengan impian Cinderella yang berakhir bahagia selamanya selalu populer dan tak pernah lekang sepanjang masa. Karena dunia fana ini hampir tak pernah ramah (kalau tak bisa dikatakan kejam) pada kaum hawa. Wanita selalu jadi santapan empuk nan lezat oleh ketidakadilan dan diskriminasi keadaan.

Dan, cerita roman menjadi semacam penyembuh luka dari hati wanita yang pernah merasakan kepahitan cinta dan kengerian realita.

Ada sebuah lagu yang sangat relevan dengan “Impian Cinderella” ini, lagu yang kalo saya boleh bilang GUEH BANGET karena sudah jadi semacam original soundtracknya kisah cinta saya dan suami (ciyew. . .)

HANYA

oleh Melly Goslaw

Hanya dengan sedikit malu.
Akhirnya aku harus akui.
Keberadaan cintamu dalam hatiku Yang kau renangi
Rasa resah singgah bila terjadi perang Emosi kau dan aku

Reff:

Jangan pernah menyanjung cinta Bila tak mengerti maknanya cinta
Satu terindah dalam dirimu Kini ada di jiwaku.

Ku inginkan cerita cinta Terindah bagaikan dalam dongeng.
Percintaan berhujankan rindu, asmara kita akankah lama?

Dalam hati ku terhibur Bila senyum mahalmu merebak.
Rasa resah singgah bila terjadi perang Emosi kau dan aku.

Kurang lebih begitulah pemirsa. Dunia memang tak selalu baik hati pada perempuan, karenanya harapan-harapan Cinderella masih harus kita simpan sepanjang perjalanan.

Sebagai penyemangat, sebagai pengobat dan sebagai penjaga prasangka baik bahwa harapan-harapan positif akan membuat kita baik-baik saja. Meski tak selalu ada akhir bahagia, tapi yakinlah Tuhan selalu membuat kita bisa menikmati setiap cerita dan juga realita.

FROM ZERO TO HERO (REVIEW DRAMA MISS KOREA)

ORANG YANG SADAR KEMANA ARAH DUNIA BERJALAN, TAK AKAN MENYERAH KETIKA DIHAMPIRI KEGAGALAN.

Itulah kata-kata yang muncul di otak saya ketika menonton drama Miss Korea ini. Yang dari covernya saya kira hanya akan membeberkan keglamoran, hedonisme dan pesona fisik semata. Ternyata saya salah.

miss-korea-poster5.jpg

Berlatar tahun 1997 saat dunia diguncang krisis moneter dan gejolak IMF, tak terkecuali di Korea Selatan yang membuat banyak perusahaan bangkrut dan PHK dimana-mana.

Adalah Oh Ji Young seorang gadis cantik nan baik hati yang menjadi karyawan di sebuah mall sebagai gadis lift yang harus berjuang mati-matian untuk menghidupi dirinya dibawah tekanan manajer mall yang otoriter, cabul dan tak berperikemanusiaan.

Sampai kemudian ia mendapat tawaran untuk mengikuti ajang pemilihan Miss Korea oleh teman SMA nya dulu yang sekarang memiliki perusahaan kosmetik Vivi yang terancam bangkrut. Kim Hyeong Joon bertujuan memenangkan Miss Korea agar bisa menyelamatkan perusahaannya dan pemenangnya akan menjadi agen promosi produk BB Cream yang akan segera dirilisnya.

Namun jalan terjal harus dilalui Kim Hyeong Joon dan Oh Ji Young. Halangan dari rival abadi perusahaan Vivi, Bada cosmetic selalu berusaha menggagalkan usaha Hyeong Joon. Juga Yoon, investor untuk pembuatan BB Cream yang justru menusuk dari belakang karena tak suka dengan kedekatan Hyeong Joon dan Ji Young.

Sementara itu, seorang penagih utang terus dicecar bosnya agar segera menagih uang dari Joon. Karena tak terlaksana, si penagih dan Joon yang jadi akrab karena terjebak situasi sulit menuju ajang Miss Korea malah beberapa kali dipukuli oleh bos si penagih.

Akhirnya tepat di malam penobatan Ji Young yang menang sebagai Miss Korea, perusahaan Vivi tamat, mesin-mesin pabrik disita oleh rentenir, Joon, si penagih dan ke 3 temannya babak belur. Parahnya lagi sampel BB Cream terpaksa berpindah tangan ke Bada Cosmetic dan Ji Young yang jadi model iklannya. Sungguh kegagalan yang mengenaskan.

¤ ¤ ¤

Itulah sepenggal fragmen kehidupan, di mana orang-orang memakai segala cara untuk bertahan ditengah guncangan resesi ekonomi. Kegagalan hanyalah salah satu faktor untuk kesuksesan yang lain (atau mungkin kesuksesan orang lain).

Setelah usaha keras dan doa tanpa henti, hidup juga perlu sentuhan keberuntungan, dan bagi sebagian orang keberuntungan tidak datang dengan mudah. Ia ada dari bagaimana manusia bisa melihat sekecil apapun celah kesempatan dan sedikit kemungkinan, juga banyak keberanian untuk melakukannya, terus mencoba lagi lagi dan lagi.

Seperti halnya mencintai, jua butuh keberanian tak terhingga sampai mampu membangunnya. Dan drama ini menunjukkan itu semua, membuat saya banjir air mata saat kegagalan yang paling pahit sekalipun bisa menjadi penawar yang mujarab tatkala diekstraksi dengan unsur cinta (seperti cintanya preman si penagih utang pada Doctor ahli kosmetik bergelar Ph. D).

Karena memang seperti itulah cara-cara dunia berjalan dan orang-orang dapat bertahan. Ketika di satu titik orang-orang begitu terlena pada kecantikan dan kesempurnaan tampilan fisik, tapi toh itu semua akan jadi casing usang tak berharga ketika tanpa sifat-sifat baik dan tak ada perilaku terpuji. Dan akan selalu ada segelintir orang yang dapat mendobrak pakem yang telah ada, mengubah arah pemikiran dan membuat perubahan.

Setiap manusia adalah orang yang selalu ingin jadi seseorang. From zero to hero, merangkak dari bawah agar bisa merasakan kenyamanan saat berada di tempat yang lebih tinggi, dan kegagalan hanyalah anak tangga untuk dapat naik lebih tinggi lagi.

Drama ini benar-benar menggugah jiwa saya dan sanggup mengeringkan telaga air mata. Bagaimana di saat tersedih justru kita malah tertawa, dan airmata hadir justru di saat berbahagia. Inilah fakta, dunia memang telah lama sakit jiwa, dan ‘kegilaan’ amat mungkin menjadikan manusia berbuat apa saja. A P A S A J A !!!

Karena sejatinya, HIDUP ADALAH BAGAIMANA CARA KITA BERTAHAN MENGHADAPI KETIDAK ADILAN.



Gambar:
http://www.koreandrama.org

TENTANG INGATAN DAN ORANG-ORANG YANG HIDUP DALAM KENANGAN

Jadi ceritanya saya semakin jarang posting di blog karena malas dan melakukan hobi yang lain juga. Saya mulai merajut lagi, ketularan anak-anak jadi keranjingan main game dan (masih) terbawa suasana roman ala drama Korea.

Hmm. . . Saya sangat menikmatinya dan inilah apa yang saya sebut “hidup”.

Tentang draKor saya sedang menonton PRIME MINISTER AND I, yang menceritakan tentang seorang perdana menteri yang tak bisa melupakan mendiang istrinya (yang ternyata masih hidup). Istri PM ‘meninggal’ karena sebuah kecelakaan saat hendak pergi dengan selingkuhannya yang ternyata punya adik yang bekerja pada PM, yang hendak membalas dendam pada PM atas derita kakaknya karena koma selama 7 tahun akibat kecelakaan tersebut. Adik selingkuhan istri PM tersebut mengira PM lah yang menyebabkan kecelakaan terjadi.

Intrik dan konflik beruntun terjadi saat PM terlibat pernikahan kontrak dengan seorang reporter yang memiliki ayah penderita alzhaimer dan gejala kepikunan.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Menyitir kata-kata Arswendo Atmowiloto dalam cerpen SUAMIKU JATUH CINTA PADA JAM DINDING:

KENANGAN TAK AKAN PERNAH BISA DIKALAHKAN OLEH WAKTU, JUSTRU KENANGAN MENANG DENGAN WAKTU. MAKIN LAMA BERLALU KENANGAN MAKIN BERMUTU.

Itulah hidup, tanpa kita sadari, seperti PM yang tak bisa melupakan dan memaafkan kepergian istrinya, kita seringkali membangun ingatan dan memelihara kenangan-kenangan menyakitkan. Terus melukai diri dengan membangunkan ‘sosok orang mati yang telah lama pergi.’

Kadang pula manusia menjadi bodoh sedemikian rupa karena mencintai seseorang yang tidak mencintainya dan bahkan tak mempedulikan orang lain yang justru mencintainya.

Saya pernah membaca sebuah kutipan: MASIH BANYAK DARI KITA YANG MENGHABISKAN WAKTU DAN MENUNGGU SESUATU HANYA UNTUK MENEMUKAN KENYATAAN BAHWA IA TAK AKAN DATANG PADAMU.

Rasanya manusia butuh semacam penegasan atas hal-hal absurd yang telah dilakukan dan berapa waktu yang terbuang percuma dalam mencapai kesia-siaan belaka.

Saya hanya tak dapat membayangkan bagaimana jika suatu hari saya menjadi tua dan mulai sering lupa? Entah kenangan macam apa yang akan tersisa jika suatu saat kita mengalami demensia? Bahkan kenangan indahpun akan binasa.

Setiap kita punya masa lalu di mana kenangan-kenangan tersimpan rapi di sana, dan ingatan seumpama buku yang sekali waktu dapat kita buka lembarannya, dan. . .mengenangnya.

Dan ketika ingatan itu pergi, dengan apakah lagi kita dapat ‘mengunjungi’ rumah kenangan??

Dan saya menulis ini sebagai apresiasi atas suka duka masa lalu, sebagai pengingat kenangan indah dan sedih. Paling tidak saat waktu beranjak menjauh, saat penglihatan mengabur dan ingatan semakin samar. Masih ada kenangan dalam sebuah tulisan dan satu catatan sejarah kehidupan telah diabadikan.

PILIH KASIH DALAM PELAYANAN KESEHATAN (REVIEW DRAMA KOREA MEDICAL TOP TEAM)

editing-medical-top-team.jpgMEDICAL TOP TEAM

Setelah kepincut kagum dengan drama Korea tentang dunia medis Good Doctor, kali ini saya lagi-lagi menikmati cerita serupa di Medical Top Team. Tentu saja, walau bertema sama, drama dengan 20 episode ini isinya jelas berbeda dan lebih membuka mata saya tentang lika liku dunia kedokteran modern.

Terlepas dari nyata atau tidak, ada pelajaran yang dapat kita ambil dari drama ini, yang juga kerap kita temui di kehidupan nyata.

KETIKA KEMANUSIAAN DIPENGARUHI BERBAGAI KEPENTINGAN.

Drama ini mengisahkan tentang sekelompok Dokter handal yang tergabung dalam Medical Top Team yang bertujuan untuk mengobati dan meneliti penyakit-penyakit langka dan berat untuk semua kalangan, termasuk dari golongan ekonomi lemah.

Adalah Park Tae Shin, seorang dokter yang pernah praktek di AS, seorang ahli bedah yang handal, berdedikasi tinggi dan memiliki idealisme yang kuat, ikut bergabung dalam Top Team setelah RS gratis tempatnya bekerja ditutup karena pailit. Ia bertujuan dapat membangkitkan dan membangun lagi RS gratis di pinggiran kota itu setelah ia menjadi anggota Top Team.

Tapi kemudian konflik tercipta ketika pelayanan kesehatan terbaik terbentur dengan masalah keuangan. Karena dianggap menghabiskan anggaran dana RS, Top Team dipaksa mengubah visi dan misi awalnya menjadi Tim Dokter khusus yang kelak hanya akan melayani pasien-pasien VIP. Juga sebagai alat untuk membangun RS elite yang baru Royal Medical Center yang diperuntukkan bagi pasien kelas atas dari luar negeri.

Dr. Park kecewa dan ia memilih keluar dari Top Team menjadi dokter jaga malam. Yang lebih memilukan lagi ketika Dr. Park menemui pasien yang tak datang untuk periksa. Saat ia ke rumah pasien dengan penyakit pernapasan akut ini, ia menemukan ayah si pasien hampir mati karena bunuh diri dan si anak yang sakit itu pingsan tak bisa bernapas.

Ternyata si ayah sangat putus asa untuk mengupayakan pengobatan dan operasi bagi anaknya itu. Semuanya karena kemiskinan dan ketidakmampuan ekonomi.

Inilah fakta yang sering kita temui di kehidupan nyata; pendidikan layak, pekerjaan bagus dan pelayanan kesehatan yang memadai (seakan-akan) hanya milik mereka-mereka yang berkantong tebal. Mudah sekali kita temui penolakan dan pemulangan paksa pasien dikarenakan ia hanya membawa selembar kertas jaminan kesehatan dari pemerintah dan bukan lembaran-lembaran uang. Adalah klise dan lumrah terjadi bila terjadi kematian karena keterlambatan penanganan. Lagi-lagi, dengan dalih prosedur dan urusan administrasi.

Dan drama ini dengan baik menampilkan itu semua. Satu hal yang penting diingat, para dokter bekerja di bawah tekanan yang sangat tinggi dan intens. Mereka juga bukan Tuhan, ketika sesekali terjadi kegagalan atau kesalahan dalam pengobatan pasien mereka ada di garda terdepan untuk disalahkan, dipojokkan bahkan diseret ke ranah hukum (jadi teringat kasus dr. Ayu dkk). Jadi semua ini seperti lingkaran setan yang berputar di situ saja; penolakan pasien kerap terjadi karena adanya kekhawatiran semacam ini, penyelamatan yang gagal bisa jadi bumerang.

Karenanya penting menjadi pribadi yang tak mementingkan diri sendiri. Menjadi pasien cerdas dan terbuka pemikirannya, menjadi dokter yang sigap dan ahli dibidangnya, jujur dan tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Agar pasien dan dokter bisa bekerjasama dalam menangani masalah kesehatan yang diderita pasien.

Ah. . . Saya hanya terbawa suasana, ini hanya pandangan dan pendapat saya saja. Walau terkadang realitas hidup sesekali melukai, tapi bukankah itu yang akan menguatkan kita?

Ok, selamat menikmati dramanya.


Gambar:
asianwiki.com

MEMAKNAI KEHIDUPAN DAN MENERIMA KETIDAK SEMPURNAAN DALAM DRAMA THE HEIRS

the-heirs.jpg

Aigoo. . . .

Kesan pertama nonton drama ini adalah biasa. Iya, biasa, biasa banget malah, bertemakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin adalah sangat biasa dalam dunia hiburan semisal sinetron dan drama (tapi tak dipungkiri, tema miskin-kaya memang paling digandrungi).

Tapi eit, jangan keburu kabur dulu, bukan drama Korea namanya bila tak mampu membuat mata saya betah menontonnya dan kemudian mengaduk emosi jiwa.

Walau bertema biasa dan umum tapi dalam ceritanya terdapat sesuatu yang berbeda dan lain dari drama bertema serupa.

Terlepas dari para pemainnya yang tampan dan cantik didominasi artis muda berbakat yang ‘memanjakan mata’ seperti Lee Min Ho, Park Shin Hye, Kim Woo Bin dan masih banyak lagi, saya betah menontonnya karena jalan ceritanya unik dan cukup menggugah perasaan.

The Heirs, sesuai judulnya menceritakan tentang hidup remaja-remaja kaya raya kalangan jet set, chaebol alias konglomerat para calon pewaris harta dan aset orang tua mereka. Lalu ada seorang gadis remaja miskin yang merupakan anak seorang pembantu yang kemudian menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda kaya, anak dari majikan tempat ibunya bekerja.

Dari sanalah segalanya bermula. Jika kebanyakan manusia beranggapan menjadi orang kaya itu enak, maka kali ini itu adalah anggapan yang keliru.

Karena ada saja yang demi materi dan harta orang dapat menjadi demikian buta, mengesampingkan nurani. Maka memang tak berlebihan bila ada istilah BURUNG DALAM SANGKAR EMAS. Karena boleh jadi wajah rupawan, harta melimpah, segalanya tersedia. Tapi semua itu tak pernah bisa menjadi jaminan suatu kebahagiaan. Manusia bisa menjadi cangkang kosong yang nelangsa.

Seorang anak, karena kekayaan dan ambisi orang tuanya bisa dengan mudahnya menjadi alat untuk mempererat relasi hubungan bisnis. Sebuah pertunangan atau bahkan pernikahan bisa menjadi sekadar sarana memperkuat kekuasaan. Ironismenya orang selalu berdalih demi masa depan, tapi masa depan macam apa yang hanya akan membelenggu dan membebani kehidupan??

Seorang ibu bahkan tak diijinkan ‘memiliki’ anak kandungnya sendiri karena ‘kehormatan yang dianut orang-orang kaya’ itu tak boleh dicederai. Ah, sebuah kehormatan yang pada akhirnya menjadi titik terrendah dan tergelap daiam kehidupan dan hubungan sosial sesama manusia.

Lalu manusia-manusia ini dicetak menjadi pribadi-pribadi yang harus tanpa cela nan sempurna. Tapi siapa yang dapat menerima fakta bahwa kesempurnaan itu tak pernah ada di dunia fana?

Anak-anak yang begitu membanggakan diri karena hidup bergelimang harta, tak menyadari dari mana kekayaan itu berasal. Sampai di satu titik kesadaran, manusia butuh manusia lainnya untuk mampu menerima segalanya apa adanya. Segala kekurangan dan kelebihan, bahkan kesalahan terfatal sekalipun.

Dan kembali, hanya cinta yang punya ruang untuk itu semua.

Hmm. . . .

Gambar dari:
http://www.kdramastarz.com

INTRIK DAN KONSPIRASI DALAM DRAMA JANG OK JUNG

Korea lagi Korea lagi. Drama lagi drama lagi. . .

Membuat saya jarang aktif ngeblog, karena tontonan saya kali ini benar-benar ngeri-ngeri sedap. Drama ini diambil dari kisah nyata berlatar belakang sejarah Korea tempo dulu. Pada jamannya dinasti Joseon. Mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita dari kalangan budak rendahan yang bisa menjadi selir kesayangan Raja Suk Jong, bahkan sampai bisa menjadi permaisuri dan meningkatkan derajatnya.

jangokjung-keyart.jpg

Saya tak akan membahas mendetail tentang ceritanya, karena jika berminat para pembaca bisa saja mencari tentang drama Jang Ok Jung ini dalam referensi pencarian Google. Sinopsis lengkapnya pun ada.

Saya akan membahas tentang bagaimana lika-liku hidup dalam istana (mungkin juga dalam kehidupan sesungguhnya). Bahwa banyak manusia yang mempertaruhkan segalanya demi kenikmatan hidup yang maha semu.

Bertepatan di tahun 2014 ini dimana Indonesia akan kembali memilih pemimpin dan menentukan kemana arah kekuasaan berjalan, drama ini benar-benar membuka mata saya tentang intrik dunia politik. Seperti yang dahulu sekali pernah saya baca BAHWA POLITIK ITU KOTOR maka menurut pendapat saya CINTA ADALAH SANDARAN YANG PALING LEMAH DAN KEKUASAAN ADALAH KURSI PALING RAPUH YANG MENAHAN KEDUDUKANMU. FAKTANYA MEREBUTNYA ADALAH SELALU LEBIH MUDAH DARIPADA MEMPERTAHANKANNYA.

Orang yang paling berkuasa bisa jadi orang yang paling lemah dan paling malang hidupnya. Seorang Raja atau Kaisar yang terlihat kuat dan dilindungi, bisa jadi tak lebih hanya sebagai alat penunjang kepentingan dan pencapai tujuan bagi orang-orang disekelilingnya.

Seorang wanita, yang dalam kelemahlembutannya menjelma seorang istri dan ibu adalah sangat mungkin jadi menjungkirbalikkan seisi istana. Karena hanya wanitalah yang mampu memenangkan pertarungan bahkan tanpa menyentuh sebilah pedangpun.

Maka tak berlebihan bila orang bijak selalu menyebut HARTA, TAHTA dan WANITA akan selalu mewarnai kehidupan, mencipta intrik dan berragam konspirasi dalam kehidupan seorang pria. Bahkan seorang Kaisar, Raja atau Presiden sekalipun.

Nah, sebagai pelengkap pandangan dan pendapat saya tentang kekuasaan dan cinta yang tergambar di drama Jang Ok Jung ini, maka disini ada beberapa kata kutipan yang saya ambil dari drama tersebut. Sebagai bahan renungan dan penggugah kesadaran kita, terutama untuk penguasa-penguasa di republik ini:

KEKUASAAN TIDAK DATANG DENGAN MUDAH. KEKUASAAN ADALAH SESUATU YANG DIMILIKI OLEH ORANG YANG TAHU BAGAIMANA MENGGUNAKANNYA.

MESKIPUN RASANYA SEPERTI ANGIN HANGAT MUSIM SEMI KETIKA PRIA PERTAMA KALI MENDEKATIMU, ITU AKAN JADI ANGIN MUSIM DINGIN SETELAH PERNIKAHAN.

SESUATU YANG PALING LEMAH DAN PENGECUT ADALAH YANG PALING CEPAT MENUNJUKKAN KEKUATAN MEREKA.

MEMILIKI INFORMASI YANG SALAH LEBIH BERBAHAYA DARI PADA TIDAK MENGETAHUI INFORMASI SAMA SEKALI.

2 HAL YANG TAK BISA DIPAKSAKAN DAN TAK BISA DIJAMIN ADALAH HATI DAN TAKDIR.

TAHTA SEBENARNYA ADALAH KURSI YANG KEJAM.

KEKUASAAN BUKAN SESUATU YANG DAPAT DIBAGI.

JIKA TAK BISA MEMILIKI YANG BAIK MAKA PILIHLAH YANG KURANG BURUK DARI YANG TERBURUK.

JANGAN PERCAYA SIAPAPUN SELAIN DIRIMU.

BERTINDAKLAH DENGAN APA YANG KAU YAKINI.

KEMENANGAN TERGANTUNG PENDERITAAN YANG DIATASINYA.

ORANG YANG PALING DITAKUTI DI DUNIA INI ADALAH ORANG YANG TIDAK MEMBUTUHKAN APAPUN.

KEBERUNTUNGAN DATANG PADA MEREKA YANG MEMBANGUNNYA.

Nah, bagaimana? Sebenarnya banyak kata-kata penuh makna, filosofis dan sangat membidik langsung pada poros kehidupan manusia dalam drama ini. Tapi yang saya tulis ini adalah yang paling ‘ngena banget di jiwa’ menurut saya.

Kabarnya drama ini saat tayang perdana tahun lalu di negeri asalnya ratingnya kurang seperti yang diharapkan. Mungkin kalah pamor dengan drama Saeguk bergenre serupa seperti Dong Yi dan Dae Jang Geum.

Tapi apapun itu, drama ini benar-benar layak diapresiasi dan lumayan sedap dimata saat ditonton. Karena seperti drakor berlatar jaman kerajaan atau dinasti selalu dipenuhi wajah-wajah rupawan berbalut busana tradisional Korea dan aksesoris cantik khas wanita istana.

Dan drama ini adalah drama Saeguk ke dua yang cukup membuat saya terkesan (setelah The Moon That Embrace The Sun) dan bela-belain menulis tentang kisahnya dalam 5 ribu karakter yang terbatas di blog ini.


Gambar dari:
http://www.onetvasia.com

.