TENTANG INGATAN DAN ORANG-ORANG YANG HIDUP DALAM KENANGAN

Jadi ceritanya saya semakin jarang posting di blog karena malas dan melakukan hobi yang lain juga. Saya mulai merajut lagi, ketularan anak-anak jadi keranjingan main game dan (masih) terbawa suasana roman ala drama Korea.

Hmm. . . Saya sangat menikmatinya dan inilah apa yang saya sebut “hidup”.

Tentang draKor saya sedang menonton PRIME MINISTER AND I, yang menceritakan tentang seorang perdana menteri yang tak bisa melupakan mendiang istrinya (yang ternyata masih hidup). Istri PM ‘meninggal’ karena sebuah kecelakaan saat hendak pergi dengan selingkuhannya yang ternyata punya adik yang bekerja pada PM, yang hendak membalas dendam pada PM atas derita kakaknya karena koma selama 7 tahun akibat kecelakaan tersebut. Adik selingkuhan istri PM tersebut mengira PM lah yang menyebabkan kecelakaan terjadi.

Intrik dan konflik beruntun terjadi saat PM terlibat pernikahan kontrak dengan seorang reporter yang memiliki ayah penderita alzhaimer dan gejala kepikunan.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Menyitir kata-kata Arswendo Atmowiloto dalam cerpen SUAMIKU JATUH CINTA PADA JAM DINDING:

KENANGAN TAK AKAN PERNAH BISA DIKALAHKAN OLEH WAKTU, JUSTRU KENANGAN MENANG DENGAN WAKTU. MAKIN LAMA BERLALU KENANGAN MAKIN BERMUTU.

Itulah hidup, tanpa kita sadari, seperti PM yang tak bisa melupakan dan memaafkan kepergian istrinya, kita seringkali membangun ingatan dan memelihara kenangan-kenangan menyakitkan. Terus melukai diri dengan membangunkan ‘sosok orang mati yang telah lama pergi.’

Kadang pula manusia menjadi bodoh sedemikian rupa karena mencintai seseorang yang tidak mencintainya dan bahkan tak mempedulikan orang lain yang justru mencintainya.

Saya pernah membaca sebuah kutipan: MASIH BANYAK DARI KITA YANG MENGHABISKAN WAKTU DAN MENUNGGU SESUATU HANYA UNTUK MENEMUKAN KENYATAAN BAHWA IA TAK AKAN DATANG PADAMU.

Rasanya manusia butuh semacam penegasan atas hal-hal absurd yang telah dilakukan dan berapa waktu yang terbuang percuma dalam mencapai kesia-siaan belaka.

Saya hanya tak dapat membayangkan bagaimana jika suatu hari saya menjadi tua dan mulai sering lupa? Entah kenangan macam apa yang akan tersisa jika suatu saat kita mengalami demensia? Bahkan kenangan indahpun akan binasa.

Setiap kita punya masa lalu di mana kenangan-kenangan tersimpan rapi di sana, dan ingatan seumpama buku yang sekali waktu dapat kita buka lembarannya, dan. . .mengenangnya.

Dan ketika ingatan itu pergi, dengan apakah lagi kita dapat ‘mengunjungi’ rumah kenangan??

Dan saya menulis ini sebagai apresiasi atas suka duka masa lalu, sebagai pengingat kenangan indah dan sedih. Paling tidak saat waktu beranjak menjauh, saat penglihatan mengabur dan ingatan semakin samar. Masih ada kenangan dalam sebuah tulisan dan satu catatan sejarah kehidupan telah diabadikan.

PILIH KASIH DALAM PELAYANAN KESEHATAN (REVIEW DRAMA KOREA MEDICAL TOP TEAM)

editing-medical-top-team.jpgMEDICAL TOP TEAM

Setelah kepincut kagum dengan drama Korea tentang dunia medis Good Doctor, kali ini saya lagi-lagi menikmati cerita serupa di Medical Top Team. Tentu saja, walau bertema sama, drama dengan 20 episode ini isinya jelas berbeda dan lebih membuka mata saya tentang lika liku dunia kedokteran modern.

Terlepas dari nyata atau tidak, ada pelajaran yang dapat kita ambil dari drama ini, yang juga kerap kita temui di kehidupan nyata.

KETIKA KEMANUSIAAN DIPENGARUHI BERBAGAI KEPENTINGAN.

Drama ini mengisahkan tentang sekelompok Dokter handal yang tergabung dalam Medical Top Team yang bertujuan untuk mengobati dan meneliti penyakit-penyakit langka dan berat untuk semua kalangan, termasuk dari golongan ekonomi lemah.

Adalah Park Tae Shin, seorang dokter yang pernah praktek di AS, seorang ahli bedah yang handal, berdedikasi tinggi dan memiliki idealisme yang kuat, ikut bergabung dalam Top Team setelah RS gratis tempatnya bekerja ditutup karena pailit. Ia bertujuan dapat membangkitkan dan membangun lagi RS gratis di pinggiran kota itu setelah ia menjadi anggota Top Team.

Tapi kemudian konflik tercipta ketika pelayanan kesehatan terbaik terbentur dengan masalah keuangan. Karena dianggap menghabiskan anggaran dana RS, Top Team dipaksa mengubah visi dan misi awalnya menjadi Tim Dokter khusus yang kelak hanya akan melayani pasien-pasien VIP. Juga sebagai alat untuk membangun RS elite yang baru Royal Medical Center yang diperuntukkan bagi pasien kelas atas dari luar negeri.

Dr. Park kecewa dan ia memilih keluar dari Top Team menjadi dokter jaga malam. Yang lebih memilukan lagi ketika Dr. Park menemui pasien yang tak datang untuk periksa. Saat ia ke rumah pasien dengan penyakit pernapasan akut ini, ia menemukan ayah si pasien hampir mati karena bunuh diri dan si anak yang sakit itu pingsan tak bisa bernapas.

Ternyata si ayah sangat putus asa untuk mengupayakan pengobatan dan operasi bagi anaknya itu. Semuanya karena kemiskinan dan ketidakmampuan ekonomi.

Inilah fakta yang sering kita temui di kehidupan nyata; pendidikan layak, pekerjaan bagus dan pelayanan kesehatan yang memadai (seakan-akan) hanya milik mereka-mereka yang berkantong tebal. Mudah sekali kita temui penolakan dan pemulangan paksa pasien dikarenakan ia hanya membawa selembar kertas jaminan kesehatan dari pemerintah dan bukan lembaran-lembaran uang. Adalah klise dan lumrah terjadi bila terjadi kematian karena keterlambatan penanganan. Lagi-lagi, dengan dalih prosedur dan urusan administrasi.

Dan drama ini dengan baik menampilkan itu semua. Satu hal yang penting diingat, para dokter bekerja di bawah tekanan yang sangat tinggi dan intens. Mereka juga bukan Tuhan, ketika sesekali terjadi kegagalan atau kesalahan dalam pengobatan pasien mereka ada di garda terdepan untuk disalahkan, dipojokkan bahkan diseret ke ranah hukum (jadi teringat kasus dr. Ayu dkk). Jadi semua ini seperti lingkaran setan yang berputar di situ saja; penolakan pasien kerap terjadi karena adanya kekhawatiran semacam ini, penyelamatan yang gagal bisa jadi bumerang.

Karenanya penting menjadi pribadi yang tak mementingkan diri sendiri. Menjadi pasien cerdas dan terbuka pemikirannya, menjadi dokter yang sigap dan ahli dibidangnya, jujur dan tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Agar pasien dan dokter bisa bekerjasama dalam menangani masalah kesehatan yang diderita pasien.

Ah. . . Saya hanya terbawa suasana, ini hanya pandangan dan pendapat saya saja. Walau terkadang realitas hidup sesekali melukai, tapi bukankah itu yang akan menguatkan kita?

Ok, selamat menikmati dramanya.


Gambar:
asianwiki.com

MEMAKNAI KEHIDUPAN DAN MENERIMA KETIDAK SEMPURNAAN DALAM DRAMA THE HEIRS

the-heirs.jpg

Aigoo. . . .

Kesan pertama nonton drama ini adalah biasa. Iya, biasa, biasa banget malah, bertemakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin adalah sangat biasa dalam dunia hiburan semisal sinetron dan drama (tapi tak dipungkiri, tema miskin-kaya memang paling digandrungi).

Tapi eit, jangan keburu kabur dulu, bukan drama Korea namanya bila tak mampu membuat mata saya betah menontonnya dan kemudian mengaduk emosi jiwa.

Walau bertema biasa dan umum tapi dalam ceritanya terdapat sesuatu yang berbeda dan lain dari drama bertema serupa.

Terlepas dari para pemainnya yang tampan dan cantik didominasi artis muda berbakat yang ‘memanjakan mata’ seperti Lee Min Ho, Park Shin Hye, Kim Woo Bin dan masih banyak lagi, saya betah menontonnya karena jalan ceritanya unik dan cukup menggugah perasaan.

The Heirs, sesuai judulnya menceritakan tentang hidup remaja-remaja kaya raya kalangan jet set, chaebol alias konglomerat para calon pewaris harta dan aset orang tua mereka. Lalu ada seorang gadis remaja miskin yang merupakan anak seorang pembantu yang kemudian menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda kaya, anak dari majikan tempat ibunya bekerja.

Dari sanalah segalanya bermula. Jika kebanyakan manusia beranggapan menjadi orang kaya itu enak, maka kali ini itu adalah anggapan yang keliru.

Karena ada saja yang demi materi dan harta orang dapat menjadi demikian buta, mengesampingkan nurani. Maka memang tak berlebihan bila ada istilah BURUNG DALAM SANGKAR EMAS. Karena boleh jadi wajah rupawan, harta melimpah, segalanya tersedia. Tapi semua itu tak pernah bisa menjadi jaminan suatu kebahagiaan. Manusia bisa menjadi cangkang kosong yang nelangsa.

Seorang anak, karena kekayaan dan ambisi orang tuanya bisa dengan mudahnya menjadi alat untuk mempererat relasi hubungan bisnis. Sebuah pertunangan atau bahkan pernikahan bisa menjadi sekadar sarana memperkuat kekuasaan. Ironismenya orang selalu berdalih demi masa depan, tapi masa depan macam apa yang hanya akan membelenggu dan membebani kehidupan??

Seorang ibu bahkan tak diijinkan ‘memiliki’ anak kandungnya sendiri karena ‘kehormatan yang dianut orang-orang kaya’ itu tak boleh dicederai. Ah, sebuah kehormatan yang pada akhirnya menjadi titik terrendah dan tergelap daiam kehidupan dan hubungan sosial sesama manusia.

Lalu manusia-manusia ini dicetak menjadi pribadi-pribadi yang harus tanpa cela nan sempurna. Tapi siapa yang dapat menerima fakta bahwa kesempurnaan itu tak pernah ada di dunia fana?

Anak-anak yang begitu membanggakan diri karena hidup bergelimang harta, tak menyadari dari mana kekayaan itu berasal. Sampai di satu titik kesadaran, manusia butuh manusia lainnya untuk mampu menerima segalanya apa adanya. Segala kekurangan dan kelebihan, bahkan kesalahan terfatal sekalipun.

Dan kembali, hanya cinta yang punya ruang untuk itu semua.

Hmm. . . .

Gambar dari:
http://www.kdramastarz.com

INTRIK DAN KONSPIRASI DALAM DRAMA JANG OK JUNG

Korea lagi Korea lagi. Drama lagi drama lagi. . .

Membuat saya jarang aktif ngeblog, karena tontonan saya kali ini benar-benar ngeri-ngeri sedap. Drama ini diambil dari kisah nyata berlatar belakang sejarah Korea tempo dulu. Pada jamannya dinasti Joseon. Mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita dari kalangan budak rendahan yang bisa menjadi selir kesayangan Raja Suk Jong, bahkan sampai bisa menjadi permaisuri dan meningkatkan derajatnya.

jangokjung-keyart.jpg

Saya tak akan membahas mendetail tentang ceritanya, karena jika berminat para pembaca bisa saja mencari tentang drama Jang Ok Jung ini dalam referensi pencarian Google. Sinopsis lengkapnya pun ada.

Saya akan membahas tentang bagaimana lika-liku hidup dalam istana (mungkin juga dalam kehidupan sesungguhnya). Bahwa banyak manusia yang mempertaruhkan segalanya demi kenikmatan hidup yang maha semu.

Bertepatan di tahun 2014 ini dimana Indonesia akan kembali memilih pemimpin dan menentukan kemana arah kekuasaan berjalan, drama ini benar-benar membuka mata saya tentang intrik dunia politik. Seperti yang dahulu sekali pernah saya baca BAHWA POLITIK ITU KOTOR maka menurut pendapat saya CINTA ADALAH SANDARAN YANG PALING LEMAH DAN KEKUASAAN ADALAH KURSI PALING RAPUH YANG MENAHAN KEDUDUKANMU. FAKTANYA MEREBUTNYA ADALAH SELALU LEBIH MUDAH DARIPADA MEMPERTAHANKANNYA.

Orang yang paling berkuasa bisa jadi orang yang paling lemah dan paling malang hidupnya. Seorang Raja atau Kaisar yang terlihat kuat dan dilindungi, bisa jadi tak lebih hanya sebagai alat penunjang kepentingan dan pencapai tujuan bagi orang-orang disekelilingnya.

Seorang wanita, yang dalam kelemahlembutannya menjelma seorang istri dan ibu adalah sangat mungkin jadi menjungkirbalikkan seisi istana. Karena hanya wanitalah yang mampu memenangkan pertarungan bahkan tanpa menyentuh sebilah pedangpun.

Maka tak berlebihan bila orang bijak selalu menyebut HARTA, TAHTA dan WANITA akan selalu mewarnai kehidupan, mencipta intrik dan berragam konspirasi dalam kehidupan seorang pria. Bahkan seorang Kaisar, Raja atau Presiden sekalipun.

Nah, sebagai pelengkap pandangan dan pendapat saya tentang kekuasaan dan cinta yang tergambar di drama Jang Ok Jung ini, maka disini ada beberapa kata kutipan yang saya ambil dari drama tersebut. Sebagai bahan renungan dan penggugah kesadaran kita, terutama untuk penguasa-penguasa di republik ini:

KEKUASAAN TIDAK DATANG DENGAN MUDAH. KEKUASAAN ADALAH SESUATU YANG DIMILIKI OLEH ORANG YANG TAHU BAGAIMANA MENGGUNAKANNYA.

MESKIPUN RASANYA SEPERTI ANGIN HANGAT MUSIM SEMI KETIKA PRIA PERTAMA KALI MENDEKATIMU, ITU AKAN JADI ANGIN MUSIM DINGIN SETELAH PERNIKAHAN.

SESUATU YANG PALING LEMAH DAN PENGECUT ADALAH YANG PALING CEPAT MENUNJUKKAN KEKUATAN MEREKA.

MEMILIKI INFORMASI YANG SALAH LEBIH BERBAHAYA DARI PADA TIDAK MENGETAHUI INFORMASI SAMA SEKALI.

2 HAL YANG TAK BISA DIPAKSAKAN DAN TAK BISA DIJAMIN ADALAH HATI DAN TAKDIR.

TAHTA SEBENARNYA ADALAH KURSI YANG KEJAM.

KEKUASAAN BUKAN SESUATU YANG DAPAT DIBAGI.

JIKA TAK BISA MEMILIKI YANG BAIK MAKA PILIHLAH YANG KURANG BURUK DARI YANG TERBURUK.

JANGAN PERCAYA SIAPAPUN SELAIN DIRIMU.

BERTINDAKLAH DENGAN APA YANG KAU YAKINI.

KEMENANGAN TERGANTUNG PENDERITAAN YANG DIATASINYA.

ORANG YANG PALING DITAKUTI DI DUNIA INI ADALAH ORANG YANG TIDAK MEMBUTUHKAN APAPUN.

KEBERUNTUNGAN DATANG PADA MEREKA YANG MEMBANGUNNYA.

Nah, bagaimana? Sebenarnya banyak kata-kata penuh makna, filosofis dan sangat membidik langsung pada poros kehidupan manusia dalam drama ini. Tapi yang saya tulis ini adalah yang paling ‘ngena banget di jiwa’ menurut saya.

Kabarnya drama ini saat tayang perdana tahun lalu di negeri asalnya ratingnya kurang seperti yang diharapkan. Mungkin kalah pamor dengan drama Saeguk bergenre serupa seperti Dong Yi dan Dae Jang Geum.

Tapi apapun itu, drama ini benar-benar layak diapresiasi dan lumayan sedap dimata saat ditonton. Karena seperti drakor berlatar jaman kerajaan atau dinasti selalu dipenuhi wajah-wajah rupawan berbalut busana tradisional Korea dan aksesoris cantik khas wanita istana.

Dan drama ini adalah drama Saeguk ke dua yang cukup membuat saya terkesan (setelah The Moon That Embrace The Sun) dan bela-belain menulis tentang kisahnya dalam 5 ribu karakter yang terbatas di blog ini.


Gambar dari:
http://www.onetvasia.com

.

DRAMA KOREA GOOD DOCTOR

4306-gooddoctor-slider.jpg

Pemain:

Joo Won sebagai Park Shi On
Moon Chae Won sebagai Cha Yoon Seo
Joo Sang Wook sebagai Kim Do Han
Kim Min Seo sebagai tunangan Prof. Kim Do Han

Kesan pertama menonton drama dengan 20 episode ini (gak tahu genre tepatnya apa, sebenarnya gak drama-drama banget karena cukup menegangkan dan gak melow) membuat saya berpikir bagaimana bisa seorang dokter dalam menjalani profesi yang penuh tekanan itu masih bisa makan, tidur, menikah dan hidup secara normal???

Saya jadi tersadar betapa ‘mengerikan’nya tugas seorang dokter. Nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian dan mentalitas benar-benar diuji. Ironisnya, semua itu kadang (bahkan mungkin sering) berlawanan dengan hal-hal teknis dan prosedural dari kebijakan dan peraturan yang ada di rumah sakit yang menyediakan jasa para dokter tersebut. Sungguh suatu hal yang amat memiriskan hati saya sebagai orang awam yang tak paham akan berat dan ketatnya dunia kedokteran modern saat ini.

Film ini menceritakan tentang para dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit terbaik di Korea, di sebuah Departemen Bedah Anak. Masalah bermula saat pihak RS menerima seorang dokter bedah baru yang menderita SAVANT SYNDROME yaitu gejala lain dari Autisme yang membuat penderitanya menjadi sangat pintar pada bidang tertentu dan punya daya ingat yang luar biasa menakjubkan.

Adalah Park Shi On si dokter baru ini dan membuat konfrontasi juga kontroversi secara langsung pada semua dokter senior di RS tersebut. Terutama kepada Prof. Kim Do Han atasannya di Dept Bedah Anak tersebut dan beberapa dokter senior dari Dept. HPB (hepatopancreatobiliary) yang sejak lama memang tak suka dengan sepak terjang tangan dingin yang mumpuni dari Kim Do Han dan anak buahnya.

Kekacauan demi kekacauan terjadi sejak kemunculan Dokter Park Shi On. Kondisi autisnya sering membuat kecelakaan dan masalah-masalah yang cukup serius. Di tambah lagi intrik, konspirasi dan adu kuat berebut pengaruh yang terjadi di kalangan dokter membuat film ini benar-benar layak ditonton dan direnungkan. Setiap adegan benar-benar membuat emosi campur aduk jadi satu.

Kehidupan pribadi para dokter juga mendapat porsi yang pas dalam drama ini. Di tengah semua tekanan di lingkungan RS dan di luar profesi sebagai dokter, mereka juga manusia yang kadang bisa berbuat kekeliruan, yang ingin menjalin hubungan dan punya kehidupan sosial masyarakat yang normal.

Tapi perlu diingat, jika Anda punya fobia dokter atau mudah jijik, JANGAN NONTON INI !!! Karena adegan sayat menyayat bedah membedah dan blepotan darah benar-benar seperti nyata adanya. Saya saja sampai bergidik ngeri dibuatnya.

Satu lagi, yang membuat saya betah menonton ‘kengerian’ di GOOD DOCTOR ini adalah siapa lagi kalau bukan aktor guanteng super keren Joo Sang Wook yang berperan sebagai Prof. Kim Do Han yang galak, killer, teguh pendirian, berdedikasi tinggi, ia sangat keras dan agak ‘sadis’ pada bawahannya. Pertunangannya dengan putri presdir RS menjadi sisi lain si dokter galak ini yang membuat saya terus penasaran.

kimdohan-gooddoctor.jpgJOO SANG WOOK

Tak diragukan lagi akting oppa Joo patut diacungi jempol (kalo perlu dikasih cium wkwk. . .) Saya sudah kadung kepincut dari aktingnya di Thorn Bird.

Hahay. . . Ternyata sayapun terinfeksi virus dari Korea. Ok, selamat menonton di DVD masing-masing. Gumawo. . . Anyongaseo. . . Kamsamida (Korean syndrome stadium lanjut, gak tahu artinya padahal).

Gambar dari:
forum.abs-cbn.com
cakrawala-senja-1314.blogspot.com

UNANSWERED PRAYERS

“Dalam hidup, apapun yang tidak membunuhmu, akan membuatmu kuat.”

Kata-kata yang benar-benar ngena banget di film UNANSWERED PRAYERS (doa-doa yang tak terjawab) ini.

91-213258-0-unansweredpra.jpg

This is what that i called life. . . Ini apa yang (selalu) ku sebut hidup.

Biasa, tapi sangat istimewa bagi seorang ibu rumah tangga seperti saya. Bisa dibilang ini ME TIME nya saya. Terbangun tengah malam, menyelesaikan beberapa tugas rumah yang tertunda, lalu nonton TV yang kebetulan menayangkan film dini hari yang bagus dan layak diapresiasi.

Ya, lama sekali tidak dapat tayangan yang dapat menggugah jiwa dan (tentu saja) menguras stok airmata. Dan di film UNANSWERED PRAYERS ini punya ‘sesuatu’ yang saya banget, ibu-ibu banget. Sukses besar membuat saya banjir airmata dan menangis sampai akhir, khas drama romantis.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang hangat dan bahagia penuh kebersamaan. Ada seorang ayah yang tipe ‘family man’ (Ben), ibu yang penyayang (Lorrie), seorang anak remaja dengan ‘kebengalan khas anak muda’ (Jesse) dan kakek nenek.

Mereka bersama menghadapi masa sulit ekonomi dalam usaha milik keluarga di bidang penyedia jasa konstruksi dan perbaikan bangunan.

Dalam kesibukan itu membuat hubungan suami istri tenggelam dalam rutinitas pekerjaan dan masalah anak di sekolahnya. Sampai suatu hari seseorang dari masa lalu (Ava Anderson) datang yang ternyata adalah teman Ben dan Lorrie sekaligus mantan kekasih Ben.

Ava meminta pada Ben untuk memperbaiki rumah mendiang ibunya agar bisa ia jual. Dari sinilah konflik berawal, mereka jadi sering bertemu dan terlibat perselingkuhan. Sampai suatu malam saat berduaan di dalam mobil, mereka mengalami kecelakaan kecil dan membuat Lorrie mengetahui hal yang sebenarnya.

Pasutri ini bertengkar hebat dan pisah sementara. Membuat si anak benar-benar kecewa pada sang Ayah, sikap pembangkang remajanya semakin menjadi. Ia sampai mengultimatum ayahnya agar tidak datang ke pertandingan football yang akan ia ikuti.

Ternyata Jesse kalah, itu pasti membuat ayahnya kecewa dan marah besar. Karena football adalah olahraga kegemaran ayahnya ketika di SMU dulu dan ayahnyalah yang ‘memaksa’nya untuk mengikuti olahraga ini. Sebenarnya Jesse lebih senang menulis artikel di koran sekolah.

Tapi, setiap kejadian dan peristiwa tak menyenangkan selalu memberi pelajaran berharga. Ben dapat menerima kekalahan anaknya, pun Jesse dapat memaafkan kekhilafan ayahnya. Tak ada yang sempurna, hidup seperti permainan, saat kita kira segalanya berjalan sesuai rencana, kenyataan bisa saja berbeda.

Memaafkan memang tak mudah, terlebih menerima kekalahan dan kenyataan menyakitkan. Ben mengucapkan selamat tinggal pada Ava. Kata-katanya menyentuh sekali:

“Saat dahulu kau meninggalkanku, aku berdoa agar kau kembali. Tapi kemudian aku bersama Lorrie dan aku mencintainya sepenuh jiwaku.”

Nangis jijay dah saya pas scene ini, lalu Ben berjuang mengajak rujuk istrinya lagi.

Artinya, memang, banyak harapan-harapan kita di masa lalu yang tak terkabul seolah doa-doa tak terjawab. Tapi percayalah, sebenarnya apa yang kita punya hari ini adalah perwujudan atas harapan tempo hari. Karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi kita.

Khusus buat para orang tua. Berhentilah menjadikan anak sebagai ‘penyambung cita-cita kita yang putus di masa lalu’. Anak-anak punya bakat mereka sendiri, punya hidup yang ingin mereka jalani. Seperti Jesse yang karena kalah ia tak mendapatkan program beasiswa untuk kuliah. Tapi ternyata karena bakatnya menulis ia akhirnya dapat beasiswa dari sana. Sesuatu yang telah membuka mata ayahnya.

Film ini bisa saya katakan sangat sangat manusiawi, sangat menyentuh nurani dan bagian penting dalam kehidupan manusia. Bahwasanya keluarga adalah tempat kita menumbuhkan cinta, memetik buahnya dan belajar menghargai esensi dari cinta; tanggung jawab, rasa hormat dan kemaafan.

Hufth. . .*ngelap ingus

MOST RECOMENDED BANGET DAH !! Wajib nonton!


Gambar dari:
connect.collectorz.com

PETARUNG KEHIDUPAN

cinderella-man-movie-post.jpg

CINDERELLA MAN

Film yang saya tonton malam ini, mengisahkan tentang seorang pria, seorang kepala keluarga yang harus bertahan dalam guncangan ekonomi di tahun 1930 an di Amerika. Ia harus berjuang untuk hidup dan menafkahi keluarganya.

Adalah Jimmy Braddock yang nekat naik ring tinju agar bisa membayar utang dan dapat beli makanan. Dalam kondisi ekonomi yang kacau dan diguncang krisis, ia berjuang memenangkan pertandingan, ia cedera tangan, tak punya pekerjaan dan hal yang paling menyakitkan bagi Jim adalah saat istrinya terpaksa mengungsikan anak-anak mereka ke rumah keluarganya karena sakit, kedinginan dan nyaris kelaparan.

Berkali-kali saya menghela napas berat saat menonton film ini. Inilah potret dari sebagian orang yang masih harus pontang-panting mencari penghidupan. Dan Jimmy Braddock menjadikan tak akan ada sepenggal kesempatan pun ia lewatkan, untuk bertahan.

Karena manusia adalah petarung kehidupan. Kita masih harus berkelahi melawan nasib, bertarung mati-matian melawan ketidakberuntungan. Berjibaku saban hari mencari kelayakan hidup. Sampai titik darah penghabisan.

Manusia tak boleh menyerah, hidup adalah usaha tiada henti. Bahwa demi masa depan yang lebih baik segalanya layak diperjuangkan. Bahwa untuk memperjuangkan kehidupan semuanya pantas dipertaruhkan. Kehidupan hanyalah perkara menunggu giliran, siapa yang layak mendapat karcis pertama atau berikutnya untuk naik ring pentas realita. Sebelum kita semua mendapat tiket pasti dari hembus napas paling akhir.


Wahai lelaki yang menandaskan separuh malam dalam perjudian nasib.
Wahai para ayah yang merapatkan diri pada barisan tentara dingin di luar rumah.
Wahai para suami yang melintasi pematang sepanjang siang, menuai putik-putik harapan tentang semu masa depan.
Pulanglah dan bawakan kami piala kemenangan itu.

Haram manyarah, waja sampai ka puting.

Gambar dari:
http://www.craigerscinemacorner.com