PEREMPUAN PENCINTA HUJAN

10-puisi-tentang-hujan.jpg

1-dancing-in-the-rain-283.jpg

Tahukah engkau??

Bahwa aku sangat mencintai hujan.

4-hujan-ber2.jpg

Ya,
hujan yg pernah merangkum pertemuan kita kali pertama, dan kita terperangkap dalam derasnya bersama segelas hangat kopi yang mengepulkan uap panas pada kaca yang berembun.

6-rainy-days-by-doorstopp.jpg

Hujan pula yang menemani malam-malam dingin di penghujung bulan Desember sesaat ketika ku dengar sapamu pada kabel sambungan telepon dan kau katakan. . .

telepon-i-miss-you.jpg

“Selamat malam, tidur dan bermimpi indahlah.”

hujan-tempias-di-kaca-win.jpg

Dan hujan pula yang menyembunyikan airmataku, juga selaksa kesedihan ketika aku patah kau tinggalkan.

11-ayunanalone.jpg

Mungkinkah kita akan masih berbagi rinai hujan yang sama??

2-menatap-hujan-sendirian.jpg

Tak ingin kah kau membagi keteduhan dibawah payungmu yang sewarna pelangi?

hujancute2kid.jpg

Seperti kenangan manis masa kecil, seperti cinta ketika sebelum menjelma derita, seperti rindu sebelum ia merundung sendu.

8-mawar-hujan.jpg

Aku mencintaimu kekasihku. . .
Dan masih berharap tempias hujan mampu menyejukkan jiwa-jiwa yang kesepian.

12-photography-rain-umbre.jpg



All images taken from Google

BORNEOKU SAYANG BORNEOKU MALANG

BORNEOKU SAYANG BORNEOKU MALANG

Batu bara oh batu bara. . .

Emas hitam di timbunan kedalaman tanah Kalimantan.
Janji-janji dan harapan yang kau biakkan dalam hati kami kini mulai merangkak tinggal mimpi di ujung pagi.
Kami terkesiap kesiangan.
Dibangunkan luka-luka alam yang menjerit kesakitan.

Batu bara oh batu bara. . .

Luka-luka pertambangan telah menebar banjir sepanjang Sungai Danau.
Luka-luka pertambangan memupuk limbah di aliran sungai Balangan, membuat kolaps tambak ikan-ikan.

Paru-paru dunia itu kini sesak napas, terbatuk-batuk meniupkan jelaga dan kabut abu di tengah kota.
Warna kehijauan di eloknya hutan yang kini tak lagi perawan adalah luka-luka yang menambang bencana demi bencana.

Batu bara oh batu bara. . .
Yang jika bara itu padam, tinggallah KAMI MENJADI SEKEDAR BATU YANG DILUPAKAN. . .

(RQ, Gambut 12 Agustus 2014)

PERCAKAPAN MALAM

jalan.jpg

Bayangan malam.
Terkontaminasi abu kabut senja itu.
Dalam keremangan, tarian langit meluruhkan sekelebatan tirai sayap yang terluka.
Menjamah mimpi-mimpi, sebelum malam beranjak pergi.

Kita masih menekuri secangkir arak yang tertuang dalam cawan-cawan kesunyian.
Larut dalam percakapan-percakapan panjang tentang seteru waktu yang tak pernah selesai,
jua penantianmu yang tak kunjung usai.

Sementara nampan mulai kosong dan remah-remah kacang bertebaran di bibir meja.
Menandaskan sejengkal lagi langkah malam.
Tapi asap kretekmu terus mengepul,
jelaga kelabu itu mendaki langit dan mengetuk pintunya.

Sesaat ku dengar kau terbahak, bernafas di depan wajahku dengan aroma tuak.
Seperti sudah terlalu jauh kini. . .

Lalu embun malam berguguran,
Menggemerisikkan daun-daun Akasia yang kesepian.
Kita masih saja berjalan lalu berhenti sejenak di sebuah sudut lampu taman, di antara Laron dan Ngengat yang terbang mengitarinya.
Lalu perlahan melepaskan serpihan sayapnya, dan menggelepar dalam terpaan musim.

Katamu kau akan menghentikan waktu, dan mencegah pagi datang memutuskan rantai-rantai mimpi.
Yang kita rangkai dari kenangan-kenangan kemarin dan luka-luka tempo hari.

ayunanalone.jpg

Note:
Puisi ini terinspirasi dari draKor Prime Minister and I.

KITA DAN WAKTU

senja-ilalang.jpg

Mungkin waktu jahat padaku !

Karena betapa mudahnya ia membuatmu berpaling dariku.
Sejenak meninggalkan selaksa kenangan,
lalu kemudian kau lupakan.

Aku masih ingat. . .
Ketika jerejak ilalang menusuk pada sinar senja.
Dan angin menerjemahkan kesunyian yang senyap.
Saat bahumu masih berupa tempat bersandar bagiku.
Juga malam,
yang masih setia merangkai mimpi-mimpi kita. . . Dan sejuta harapan cinta.

Barangkali memang waktu kejam padaku.
Ia membuatmu tak kuasa melawan lupa.
Bahwa para capung pernah mengitari mata air dan kupu-kupu terlelap dalam keropos kulit kepompong menanti musim. . .
menyibak cuaca dan membuka dekap mendung di dalam dada.

Sementara aku masih menekuri jalanan kemarin.
Pada rerumputan di tanah yang beraroma basah.
Selepas gerimis memindahkan jelaga di ruang mata.
Setelah waktu membuat kita lupa.
Dan mulai berhenti mengatakan cinta.

Gambar dari:
darisdarisman.blogspot.com

MONOLOG SUNGAI

sungai-kotor.jpg

Dahulu. . .

Aku masih menjanjikan ikan-ikan pada pancingan. Satu-satunya limbah cuma. kotak jamban.

Tapi kini. . .

Aku dikepung peradaban. Ditimpa aspal pelebaran jalan, yang setiap musim hujan tak bosan aku rendam.

Adakalanya sekelompok Eceng Gondok mampir lewat, terbawa arus hulu ke hilir yang tersendat. Pangkal dari selokan yang tersumbat.

Tapi kemarin, barusan sesosok muda jasad perempuan dihanyutkan. Korban tanpa pakaian.

Tak ketinggalan pula sampah dan aneka limbah tumpah ruah di badanku yang keruh dihujani serapah.

Aku bukan lagi tepian yang syahdu tempat sepasang kasih memadu rasa rindu.


Gambar dari:
smart-bethree.blogspot.com

Baca juga:
MONOLOG ANGIN

MONOLOG ANGIN

Apa kau mau percaya?

Bahwa akulah yang mengetuk daun jendela kacamu yang berembun itu.

Saat sebagian mereka masih sibuk membicarakan cuaca. Dan yang lainnya masih setia menayangkan mimpi-mimpi cinta.

Apa kau tidak tahu?
Akulah yang tempo hari masih kau harap akan menyampaikan kerinduanmu pada kekasihmu. Ketika hembusanku masih serupa bayu.

Tidakkah kalian menduga bahwa aku mampu melesak dahsyat hingga tiga ratus kilometer per jamnya?

Dan aku meluluhlantakkan harapan mereka. . .

Kerinduan Itu. . .

nightrain.jpg

Biarkan kerinduanku merayapi selasar malam. Yang sunyi dihempas gigil gerimis, dari hujan sesaat lalu. Yang tempiasnya membias pada kaca berdebu. Melukis embun. masih menggugurkan daun-daun.

Kita masih terseok di atas jalanan. Menapaki alur kehidupan yang pontang-panting hulu ke hilir. Masih merangkai belukar terjal menuju rumah. Mendaki ngarai harapan yang kadang menjanjikan sejuta kemungkinan.

Ya, satu kemungkinan untuk kita dapat membuat kesempatan. Barangkali mungkin tentang cinta kita mampu melewati dekade pertama. Atau. .mungkin pula kerinduan yang kerap ku gulirkan dari keriuhan warna malam. Kala ku ratapi luka-luka masa lalu seorang diri; menekuri raungan sunyi.

Aku pun enggan lagi menuai rintik airmata ini. Aku bosan menggadaikan harapan menjual impian. Kita masih sibuk menghitung waktu dari hari ke hari. Dari senja ke senja berikutnya. Dari pagi ke pagi. . . Masih menelikung mimpi.

Dan aku ingat dahan Asam yang kau pangkas daunnya itu. Karena jemu terus melihatnya berjatuhan mendekap tanah. Ranting-ranting tuanya patah diterpa angin hujan tempo hari. Akar yang tak kuasa lagi berdiri.

Entah apa yang hendak dikabarkan langit pada rindu yang ku tanggungkan itu? Mungkin saja air yang menguap menjelma udara. Atau hujan menjadi salju ditipu cuaca?

Tak mengapa jika kita mesti datang kembali ke jalanan kota. Menggelar cita sepanjang alur trotoar. Menegakkan gerobak-gerobak berkaki lima. Mendamparkan lapak-lapak yang masih saja berspekulasi membilang untung rugi.

Di antara rindu, menggubah kidung sendu.


Image:
mung-diary.blogspot.com

(KATANYA) DEMI CINTA

heart.jpg

Manusia melupakan realita. . .

Ketika panah cinta menusuk membabi buta.
Ketika racunnya membutakan mata, segalanya indah semata.
Dan kita meninggalkan fakta. . .

Manusia melupakan realita. . .
Ketika rindu membentuk gumpalan taman syahdu. Dengan kidung nyanyian sendu.
Menggempur gelora jiwa yang menggebu.
Dan kita meninggalkan suara otak yang bisu.

Manusia melupakan realita. . .
Ketika asmara membarakan api jiwanya. Menjadi nyala yang tiada padamnya.
Beranak pinak dalam khayalan dan meninggalkan kenyataan.

Dan kita melupakan realita. . .

Meski buta cinta bukan tak menjanjikan luka.
Meski buta cinta bukan tak membawa derita.
Meski buta cinta bukan tak kenal nestapa
Mungkin kita yang dengan rela membutakan mata hati kita.

DEMI CINTA

Image:
dukuncinta-anda.blogspot.com

Kabut Kelabu Selepas Hujan Senja

kursi-kabut-pagi.jpg

Mungkinkah hujan kemarin mengirimkan pesan-pesan cintamu? Atau cuma gerimis yang lindap sesaat mengerjap mataku?

Ah, lamat-lamat ku dengar senandungmu yang sembari luruh bersama daun-daun.
Yang meranggas ditindas hawa panas. Dan kali kering menyisakan nelangsa ikan-ikan.

Tak inginkah kau duduk di sini bersamaku? Sekedar menemaniku merangkum laju waktu, di kursi hampa yang pernah kau tinggalkan itu. Ketika kabut berpijaran di udara, mengaburkan pendar-pendar cahaya.


Puisi Galau Lainnya:
Yang Tak Akan Pernah
Mimpi Penulis
Rumah Kardus