Bukan Tukang Bubur Naik Haji; KETIKA TUKANG BUBUR ITU MANTAN BRIPTU NORMAN KAMARU

Akhir-akhir ini, sebenarnya saya dibuat heran oleh pemberitaan di berbagai media tentang Norman yang kini ‘banting setir’ jadi penjual bubur, padahal dulu kita tahu ia sempat tenar jadi artis mendadak ketika sebagai polisi dan joget India caiya-caiya.

Pemberitaan itu terkesan menyudutkan, membuat saya bertanya memang apa salahnya jadi tukang bubur??
Dan seakan-akan itu pekerjaan rendah dan kurang terhormat.

Padahal dengan menjadi pedagang artinya orang itu telah dengan sadar untuk menjadi mandiri dan menjadi “the real bos” untuk dirinya sendiri dan mungkin karyawan/anak buahnya suatu saat nanti.

Saya hanya heran dan gagal paham betapa sempitnya pandangan kita terhadap kemuliaan dan kehormatan orang lain.

Memang, menjadi aparat negara amat sangat membanggakan rasanya, tapi pun kita semua tahu di tengah rusaknya birokrasi dan rumitnya urusan administrasi di negeri kita ini membuat semua mafhum bahwa untuk sebuah gelar dan jabatan yang prestisius kita harus berakrab ria dengan yang namanya sogok menyogok, suap menyuap, saling sikut dan berlaku culas.

Lalu apa yang mesti kita banggakan bila untuk menjadi seorang aparat kita harus ikut-ikutan menempuh cara-cara yang k*parat??

Menjadi artis??
Saya tidak bermaksud merendahkan profesi artis. Tapi perlu ditinjau ulang, untuk apa kita menjadi seseorang yang pada akhirnya hanya sebagai penambah jumlah kuantitas dan bukan peningkat kwalitas??

Rasanya kita sudah jenuh dengan sensasi-sensasi sesaat nan kosong yang digelar oleh segelintir orang di layar kaca saban hari. Kita butuh seniman-seniman dan pekerja seni yang benar-benar mumpuni dan kaya prestasi, tak hanya mengumbar sensasi, adu seksi atau sekadar membuat kontroversi.

JADI, APA SALAHNYA JIKA NORMAN KAMARU JADI PENJUAL BUBUR??

Itu profesi yang sama layaknya dengan jadi polisi atau artis sekalipun!

Mengapa kita harus malu (atau seakan-akan harus dibuat jadi malu oleh kata-kata orang) ketika bisa dengan kuat berdiri di atas kaki sendiri??

INILAH IRONISME ITU, KAWAN

Ini hanyalah catatan seorang perempuan, seorang ibu tak berdaya yang hanya bisa menyaksikan ketidakadilan meraja lela.

Selama ini kita terlena oleh apa yang setiap hari disuguhkan di depan mata kita. Membangun mimpi dan harapan kosong di atas permainan apik segelintir orang.

Kita, rakyat jelata, terus saja dibodohi dan diakali, bahkan nurani tertutupi.

Saat ini, Gaza siaga satu, anak-anak dan wanita Palestina ditembaki setiap hari. Israel dan antek-anteknya terus memborbardir kaum muslimin di sana. Tapi dimanakah kita? Sedang apakah kita saat tragedi kemanusiaan membumi hanguskan Palestina dan Suriah??

Kita masih ‘tidur’ dalam kekenyangan akut pasca ‘balas dendam’ buka puasa. Kita masih terlena oleh simpati tokoh teraniaya dalam sinetron dan drama. Kita masih sibuk menggaungkan euforia jelang final piala dunia dan tenggelam dalam kekalahan di meja pertaruhan perjudian. Dan KITA MASIH TERBIUS OLEH TAYANGAN TELEVISI YANG DENGAN SURVEY-SURVEY PASCA PILPRES MEMBUAT KITA MELONGO BERJAM-JAM MENYAKSIKAN WARTA TIPU-TIPU YANG MENYESATKAN RAKYAT. Kita hanya pikirkan siapa menang siapa kalah, padahal masih jauh panggang dari api.

INILAH IRONISME ITU KAWAN, DI TEMPAT SAYA ADA LIMA BELAS MACAM STASIUN TV TAPI TAK ADA SATU PUN YANG MENYIARKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGAN SAUDARA SEIMAN KITA DI PALESTINA !!!

Bukalah mata dan hatimu kawan, dan siapapun yang membaca postingan ini Ya Allah. . . Selamatkan Palestina.

Selamatkan Palestina.

CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA ADALAH KEKUATAN SEKALIGUS KELEMAHAN KITA. TAK CUKUP HANYA MEMBUAT GILA, IA MEMBUAT ORANG MENJADI BEBAL DAN JUGA BUTA.

Kata-kata itu tiba-tiba muncul di otak saya ketika menyaksikan dua drama Korea, Innocent Man dan Queen of Ambition. Yang inti ceritanya mengisahkan tentang seorang laki-laki yang karena sangat mencintai seorang wanita rela melakukan apa saja, tak sungkan menjadi tergila-gila, melakukan kebodohan-kebodohan di luar logika sampai dengan picik dan buta mengesampingkan harga diri.

Fiksi memang, tapi fakta juga tak sedikit yang menunjukkan demikian. Betapa dengan dalih alasan karena cinta, manusia bisa kehilangan akal sehatnya. Bukankah masih segar diingatan? Tentang seorang mahasiswi yang kuliahnya didanai Pak Mentri malah memilih kabur bersama pujaan hatinya dari pada bersungguh-sungguh belajar, dan gadis itu telah mengecewakan sekaligus mempermalukan ayahnya yang nyaris menjual ginjalnya demi pendidikan anaknya tersebut.

Ya, cinta dan kebodohan telah menjadi dua karib tak terpisahkan. Cinta yang begitu kita agungkan justru sering membuat salah jalan dan kerap mencelakakan, warna merah mudanya yang penuh candu dapat mengaburkan pandangan dan keliru penilaian. Cinta yang semacam ini seakan membentuk tameng untuk dunia luarnya. Para pencinta hanya berteman dengan kekasihnya dan orang yang sefaham dengan jiwanya, lain dari itu adalah musuh baginya, mereka kebal terhadap doktrin ketidaksetujuan dari sekitarnya.

Bahkan, saat sudah tahu terluka dan berdarah tetap tak bisa menyerah, walau berkali-kali sakit hati masih tak bisa berhenti. Sungguh suatu kesesatan yang melenakan.

Harusnya cinta mencerdaskan, membuka pikiran dan kebijaksanaan, lebih dari itu ia harus bisa memberdayakan. Bukan terus menerus memelihara pembenaran atas nama cinta yang menyesatkan.

Mau dibawa kemana cinta kita??

Note:
Sorry, Admin lama gak ngeblog karena lagi mumet mikirin cinta dan misteri tai gigi rasa coklat itu. Xixixixi. . .

APLIKASI PENGEREM JARI DAN ETIKA SOSIAL

Seperti yang pernah dan sering dibahas sebelumnya, di artikel, di forum-forum dan berbagai media, sebuah jejaring sosial amat memudahkan manusia berinteraksi dengan orang-orang terdekat atau bahkan orang asing yang tak dikenali di belahan dunia manapun. Ini sebagai salah satu fenomena masyarakat moderen saat ini.

Dan yang kerap kita temui, karena saking mudah dan bebasnya ‘berbicara’ lewat ketikan keypad di sebuah gadget, kadang membuat sebagian orang lupa tentang bagaimana etika sosial di media yang bersifat maya.

Tak mengapa dan adalah biasa jika jejaring sosial di gunakan sebagai ajang pamer. Pamer galau, pamer pacar, pamer anak atau apalah selama tak mengganggu user lain sah-sah saja.

Tapi ingat! Di dumay ada banyak orang juga yang jelas beda pemikirannya dengan kita. Kata-kata dan niat yang baik sekalipun akan jadi salah jika konteks dan momennya tidak tepat. Apalagi jika yang terang-terangan melecehkan, menghujat, rasis, atau meremehkan.

Seperti kata mba Rini, kita harus menjaga kendali jempol dan jari kita di dumay karena sekarang bisa semakin mudah ‘menyakiti’ orang lain, bahkan tanpa disadari.

Yup, kita butuh APLIKASI PENGEREM JARI, SEGERA! Karena benar atau tidak, apa yang kita tuliskan, apa yang kita tunjukkan di dumay akan menunjukkan siapa kita. Paling tidak, akan menimbulkan kesan ‘seperti itulah kita’ di mata orang lain. Tak apa jika memang teman yang kenal di duta, tapi akan lain halnya jika yang menilai adalah orang yang bahkan tak kita kenal sama sekali. Karena kesan pertama sering dikenang orang selamanya.

Setelah sekian tahun aktif di dumay saya telah mendapati berbagai macam orang. Ada yang jujur dan apa adanya seperti bagaimana dia di duta, ada yang seperti caleg dengan mengumbar pencitraan kesana kemari, ada pula yang hobi bergalau-galau selalu (haha. . .saya bgt ini). Yang paling saya suka yang lucu dan bisa buat ketawa saat liat tulisannya. Tapi dari semua itu, saya rasa yang paling mengesalkan dan membuat ingin membanting hape adalah tipikal orang yang sok, muka dua dan berkepribadian ganda.

Sok tahu atau sok pintar, karena beda loh orang yang ingin tahu karena memang peduli dan yang mau tahu saja. Sekalipun mungkin memang tahu dan pintar tapi ya kembali lagi ke aplikasi pengerem jari tadi, ada banyak hal yang pantas dan tidak pantas untuk diucapkan atau ditunjukkan. Yang dikenal baik pun ada juga ternyata bisa menjadi sangat berbeda, di depan bilang A di belakang ngomong B. Dan itu semua tercermin oleh kata-kata yang kita tuliskan di dumay.

Tahu tidak, kenapa orang banyak tertipu oleh kebohongan? Karena dusta disampaikan dengan cara menyenangkan. Dan karena itulah penting dalam menyampaikan sesuatu menggunakan pemilihan kata yang tidak menyakiti orang lain.

Atau, apa karena tidak bertatap muka jadi kita bisa dengan mudahnya mengetikkan kata semau jari kita? Yang sekiranya tak terucap jadi tertuliskan dengan gampangnya.

Sekarang jaman memang sudah beda ya? Yang kentut di seberang lautan pun kita bisa tahu, si anu punya masalah anu kita juga tahu. Makanya ada peribahasa barat LIFE IS EASIER WHEN APPLE AND BLACKBERRY WAS STILL FRUITS.


Kepada semua pembaca yang sudi meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya, saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga. Kepada semuanya, saya mohon maaf atas segala bentuk kesalahan yang disengaja ataupun tidak.

KETIKA ORANG TUA JADI SAPI PERAH

Minggu-minggu ini rada mumet diterpa berbagai dinamika kehidupan. Ditambah lagi setiap mau masuk akun blog sendiri harus log in melulu, padahal sudah simpan kata sandi, gak paham ada gangguan apa? Maka saya nonton drama saja sampai migrain gak ada bahan postingan. Jadi maaf belum sempat tamasya ke tempat kawan semua. Biane. . . Sorry. . . Afwan. .

Maka kali ini saya akan jujur, terbuka, apa adanya dan blak-blakan! Mengajak kita semua sesaat merenung menyentuh nurani dan perlahan menguak sedikit pintu kesadaran yang alpa itu.

Ada yang bilang, jaman sudah berubah. Jikalau dahulu anak-anak yang manut dan patuh pada orang tua, tapi sekarang justru sebaliknya orang tua yang selalu menuruti apa mau anaknya.

Hmm. . . Benarkah? Seironis itukah?

Tapi kalau mau jujur, memang. Coba kita kilas balik ke sekian tahun lalu ketika anak masih berupa segumpal darah tanpa nyawa dalam rahim istri. Rasanya sejak itu para orang tua sudah kehilangan kekuatan untuk mengatakan TIDAK. Kok bisa?

Lihat saja, siapa yang rela tengah malam buta mencari buah yang tak sedang musimnya karena orok belum berbentuk itu menuntut ngidam? Siapa yang rela melalui waktu semalam suntuk menahan kantuk karena bayi merah yang belum genap 40 hari itu hobinya begadang semalaman? Siapa yang mau saja membelikan mainan super mahal hanya karena tak tega melihat balitanya menangis?

Dan waktu berlalu, tahun-tahun terlewati tanpa sempat kita sadari. Anak-anak tumbuh dan terbentuk dalam kenyamanan yang orang tua kondisikan sedemikian rupa. Agar mereka tak kekurangan sesuatu apa. Maka kemudian jangan heran bila dahulu kita bisa sekolah jalan kaki dengan sepatu menganga ala mulut buaya, sedangkan anak sekarang manja dengan ritual antar jemput setiap harinya. Jangan ditanya kalau mereka malu dan gengsi pakai sepeda, dunia mereka sudah beda dengan dunia para orang tua dahulu kala. Tanpa motor itu namanya kampungan, gak pake mobil itu kejam (ketinggalan jaman).

Tak bisa dipungkiri tantangan pergaulan anak-anak jaman sekarang sangat berragam dan banyak menghabiskan biaya. Tak tahu mengapa, saat hari senja menyambangi para orang tua, anak-anak seakan punya dunia, pemikiran dan ambisi mereka sendiri. Orang tua tak punya hak mengatur anak-anak, orang tua hanyalah sarana penggapai impian anak-anak, acap kali menjelma sapi perah yang setiap hari membanting belulang dan menguras darah.

Tengoklah saat masa-masa kuliah. Uang kiriman bulanan yang telat sampai menjadi satu-satunya alasan untuk menghubungi bapak di kampung. Biaya semester, uang kos, sampai jelang wisuda peletakan titel sarjana dibelakang nama kita adalah hasil jual, gadai, ngutang dan pinjam apa yang masih bisa dinilai dengan rupiah untuk melancarkan perwujudan yang namanya cita-cita.

Sampai memasuki dunia kerja, adakah para orang tua dapat berhenti menguras keringat di kulit keriput mereka diambang senja?? Apakah mereka dapat istirahat sesaat menggemeretakkan tulang setelah berjibaku demi menggapai harapan??

Sekali lagi TIDAK!!

Sampai anak-anak menikah, berkeluarga dan memberi cucu, tak henti-hentinya mem’beban’i orang tua. Pernahkah kita mengkalkulasi berapa lama kita terlena dalam pondok indah mertua/orang tua? Berada dalam kenyamanan dan jaminan periuk nasi dan dulang ikan mereka, sementara gaji dan penghasilan yang kita miliki erat masuk tabungan untuk rencana masa depan yang kita canangkan.

Saya tahu, walau setiap orang tua tak pernah pamrih dan rela melakukan A P A S A J A demi anak-anaknya, tapi sebegitu tegakah kita terus menjadi parasit, lintah pengisap darah dengan selalu menjadikan orang tua serupa ATM berjalan, seumpama sapi perah??

Sampai kapan kita tetap ‘menyusu’ dan berada dalam kenyamanan bawah ketiak orang tua?

Tak semua kita jadi orang tua, tapi setiap kita adalah anak-anak yang walau mereka tak pernah meminta sudah seharusnya kita berbakti dan berhenti menyusahkan mereka. Jikalau tak mampu membuat orang tua bahagia, maka jangan membuat lebih banyak masalah bagi mereka.

KECELAKAAN LALU LINTAS DAN TENSI EMOSI

aaajalanraya.jpg

Pernah lihat gak? Peristiwa kecelakaan lalu lintas atau kemacetan di jalan raya (yang biasa terrekam kamera CCTV)? Yang mana saat kecelakaan terjadi pihak yang mengalami masih bisa bangkit karena tak terluka parah. Lalu jadi saling mengumpat, menyalahkan dan bisa jadi baku hantam.

Atau saat kemacetan ada orang di belakang kita yang membunyikan klakson berulang-ulang dengan tak sabar?

Nah, jika pernah, atau malah justru mengalaminya sendiri. Maka ini patut kita renungkan bersama.

Peningkatan penduduk, aktifitas manusia sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia terus bergerak, berinteraksi dan mobilitas tanpa henti. Setiap hari orang-orang tumpah ruah ke jalan dengan berbagai urusan dan aneka kepentingan.

Dan ternyata, jalanan telah mendidik dan membentuk manusia dengan caranya sendiri. Betapa mencengangkannya, dan betapa mudahnya jalanan dapat menguras kesabaran seseorang dan menjadikannya temperamental. Adegan adu otot di bawah lampu merah bisa dengan mudahnya terjadi, bahkan sebelum sempat disadari.

Jalanan juga membentuk anak-anak kita menjadi raja jalanan yang keliru pergaulan. Menjadi koboy jalanan berkuda besi yang slonong boy saenake udele dewe menenteng gadget dan asyik memencet tombolnya sementara tangan kanannya memacu kendaraannya secepat mungkin.

Jalanan juga merenggut ratusan ribu nyawa setiap tahunnya. Tanpa ampun, setiap hari ada saja anak yang mendadak menjadi yatim. Entah mengapa ini semua terjadi? Keramaian jalanan, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas dapat menaikkan tensi emosi hingga level tertinggi dengan gampangnya.

Saya tak tahu, apakah kesadaran berlalulintas kita rendah, atau karena pengelolaan emosi kita payah?

Jadi kemarin itu saya, suami dan anak balita saya sempat mengalami kecelakaan kecil (beruntung, karena tak terluka). Saat akan menyeberang, suami melihat sebuah motor melaju kencang dari arah berlawanan, maka tak jadi dan menepi. Tapi sesaat kemudian ada motor yang menabrak kami dari arah belakang. GUBRAK!! Saya pun terjatuh ke arah kanan, untung anak saya tak apa-apa karena sempat dihalangi dengan tangan oleh suami. Si penabrak juga terjatuh, luka, berdiri dan tiba-tiba marah.

“Gimana sih! Mau nyebrang lampu seinnya tak dinyalakan!”

Saya sempat shock, sambil memegangi tangan anak, saya menahan suami saya yang juga marah-marah dan beradu mulut dengan si penabrak. Saya seakan mati rasa, berulang-ulang saya bilang jangan dan tak usah saling menyalahkan sambil memegangi pergelangan tangan suami sekuat tenaga. Mereka nyaris berkelahi dan saling pukul.

Orang-orang berdatangan dan keadaan mulai tenang. Saat dicek, tak ada luka serius hanya lecet dan motor hanya ringsek sedikit. Lalu suami dan si penabrak itu mulai tegang lagi dan menyebut ‘polisi’. Saya sampai ketakutan kalau-kalau mereka beneran berkelahi, apalagi si penabrak terbukti tak punya SIM dan STNK. Untungnya kemudian keduanya melunak dan sepakat diakhiri sampai disini. Toh, berlarut-larut juga bikin ribut dan buat masalah baru.

Peristiwa itu membuat saya tersadar akan pentingnya menjaga stabilitas emosi dan kepala dingin walau dalam kondisi mengesalkan. Saya tak bisa membayangkan kalau 2 pria dewasa yang sama-sama emosi dan dengan aliran adrenalin tinggi adu fisik?

Saya hanya tak paham, kenapa pria lebih senang saling mencari yang benar dan salah daripada mengamankan bekas kecelakaan? Apakah itu semacam “REAKSI SPONTAN ATAU REFLEKS YANG MENANDAI EGO, HARGA DIRI ATAU SUPERIORITAS YANG TERUSIK” ??

Sungguh suatu hal yang tak dapat saya pahami.

Karena itulah kawan, di jalan kita harus menanamkan kesadaran dan kesabaran tingkat tinggi. Jangan karena kemacetan yang gila-gilaan kita menghalalkan segala macam hujatan, seluruh isi Ragunan diikut sertakan dalam makian. Jangan jadikan budaya saling menyalahkan dan mencari pembenaran menjadi hal yang dimafhumkan. Karena tak ada masalah yang bisa dituntaskan dengan emosi negatif, apalagi marah-marah.

Nah, bagaimana menurut pendapat para pria??


Gambar dari:
fbhotnews.blogspot.com

Wahai Para Suami, Banyak Berbaik Hatilah pada Istrimu !!

Masih senada dan seirama dengan posting saya terdahulu tentang istri minta bantuan suami. Iya, yang harusnya pasutri ada korelasi dan kerja sama di segala bidang, bukan hanya sama-sama kerja di ranah ranjang.

Jadi, kemarin itu saya bawa anak saya jajan di warung dan beli cemilan beberapa bungkus. Nah, kebetulan si penjual lagi sibuk nyiapin anaknya mau berangkat sekolah, yang tunggu jualan itu suaminya sambil duduk nyantai di teras.

Lalu saat saya nanya harganya berapa, eh malah teriak manggil istrinya. Untung yang saya ambil harga satuannya 5 ratus rupiah, sudah, saya hitung sendiri totalnya 6 ribu.

Saya bayar dengan uang pas saja, untungnya ada, coba kalo gak ada pasti teriak lagi. Tapi cemilan-cemilan itu gak mungkin saya bawa tanpa kantong plastik. Saya pun minta, eh, bukannya mengambilkan atau mencarikan malah teriak lagi manggil istrinya. Ampun deh!

“Mira. . . !! Plastik mana? Ini ada orang belanja!” masih tetap duduk santai dengan kepulan asap rokok mildnya itu.

Sumpah deh, berasa pengen minggat dari sana saking keselnya. Beberapa detik kemudian istrinya keluar masih dengan membawa atasan seragam anaknya. Sambil menggerutu protes pada suaminya ia mengambil kan plastik dan menerima uang bayar saya.

“Bergerak dong pak! Udah tahu ada orang belanja, dilayanin dong, kan tadi nyuruh saya nyiapin anak, gimana sih?” Mukanya memberengut kesal.

Heran ya? Usaha istri laris dan lumayan itu kok gak mau bantu? Lagian pasti ada alasannya kenapa ia berjualan padahal merawat dua anaknya yang masih balita saja sudah rempong separuh mampus.

Bukankah dengan membantu usaha, istri jadi bisa meringankan beban nafkah suami? Nah, kalau istri sudah sedia membantu, kenapa suami tak bisa lebih ringan tangan juga dalam membantu kerepotan istri?

Lagi, ada pasutri dengan 3 anak yang ribut gara-gara piring pecah terinjak anaknya yang berlarian seantero rumah. Si suami malah menyalahkan istrinya habis-habisan yang sedang sibuk mengerjakan hal lain sehingga piring bekas makan suaminya itu belum ia bawa ke bak cuci di dapur.

Ah, coba saja si suami lebih berbaik hati sedikit, setelah makan langsung bawa piringnya ke dapur dan bukannya langsung menyesap kretek dan mengepulkan asap kemana-mana, tentu insiden ini tak akan terjadi, beruntung kaki si kecil tak terluka.

Pernah juga sekali waktu pria kerap melupakan membawa handuk ketika mandi (hayo. . .ngaku! Agan-agan pernah kan, atau sering?). Yang kebetulan pas si istri lagi solat, si suami udah teriak aja manggil-manggil “ma, handuknya. . Papa lupa!”

Duh. . . Dilematis banget dah, udah gitu rakaat terakhir lagi, nanggung amat. Ah, jika saja si suami mau lebih ‘mandiri’ sedikit saja, tentu tak akan membuyarkan kekhusyu’an kewajiban istrinya.

Saya juga kerap mendengar keluhan kaum pria yang katanya istrinya enggan melayani atau menolak ketika diajak berhubungan intim. Mayoritas alasannya adalah capek. Nah ini, para suami jangan main langsung menyalahkan istri saja, harus ditelaah benar-benar apa yang menjadi penyebab ‘kemalasan layanan di tempat tidur’ ini.

Kalau suami tahunya hanya kerja dan kerja saja, sementara di rumah istri berjibaku dengan gunungan cucian kotor saban hari, mengurus anak-anak, membereskan rumah, memasak dan lain sebagainya, sendirian dan tanpa bantuan, maka bisa dipastikan seks akan menjadi hal terakhir yang istri inginkan. ALIAS TEPAR TINGKAT DEWA.

Dan ini sering luput dari perhatian kaum pria. Belum lagi vonis masyarakat tentang suami yang tak segan membantu pekerjaan rumah tangga. Ini membuat kaum pria semakin enggan ‘turun ke dapur’ atau membantu menjaga anak saat istri sibuk.

Faktanya masih banyak yang menganggap tabu jika para suami bersentuhan langsung dengan pekerjaan harian para istri. Padahal dengan membantu memasak, mencuci atau mengganti popok bayi tak akan mengurangi kadar harga diri kaum lelaki. Dan hal-hal semacam itu jauh lebih romantis ketimbang sebuket bunga.

Karena itulah, WAHAI PARA SUAMI ! Luangkanlah waktu lebih banyak untuk peduli terhadap kesibukan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Jadikan istrimu sebagai Ratu di rumahmu (bukan pembantu), maka ia akan menghangatkan rumahmu dengan cinta yang tak ada habisnya.

KETIKA RESEPSI PERKAWINAN MENYISAKAN UTANG

30marriage.jpg

Sudah jamak dan lumrah terjadi di lingkungan masyarakat kita, jika orang tua amat sangat berbahagia dengan anak-anaknya yang akan segera memasuki gerbang pernikahan. Terlebih lagi jika para orang tua sudah sangat mendambakan hadirnya cucu.

Ketika seorang anak telah cukup usianya, matang pribadinya dan mapan kehidupannya, maka tak ada lagi hal yang dapat lebih membahagiakan orang tua selain dari memiliki calon pendamping hidup. Sebagai penerus generasi, penyambung tongkat estafet kehidupan, sebuah keniscayaan insting dan fitrah yang paling manusiawi dan sebagai pelengkap separuh dien.

Karenanya Islam amat sangat memuliakan pernikahan dan memudahkan tatanan dan arah menuju sunah Rasul ini. Tidak diperkenankan memberatkan dan mempersulit dua sejoli yang ingin bersegera menikah. Sampai hanya dengan mahar selingkar cincin tembaga yang tak seberapa, semua demi kemudahan tercapainya tujuan suci dari pernikahan.

Tapi, sekali lagi, fakta seringkali menuai dilema. Kehidupan bermasyarakat telah sejak lama mengalami pergeseran nilai-nilai budaya, adat dan kebiasaan yang kini telah berurat dan berakar. Seakan menjadi suatu keharusan dan kepantasan yang tidak boleh tidak.

Euphoria pernikahan dan rancangan resepsi perkawinan seolah menjadi ukuran, eksistensi dan takaran status sosial masyarakat. Sudah jadi semacam kebanggaan dan kejumawaan tersendiri jika bisa melangsungkannya dengan meriah, megah, mewah atau kalau perlu serba wah dan wah.

Tengoklah fenomena resepsi perkawinan super glamor dari kalangan artis dan pejabat. Tak tanggung-tanggung budget yang disiapkan bisa mencapai bilangan angka sekian M. Tapi sesuailah. . . Dan mereka memang mampu.

Lain kisahnya apabila yang mengalaminya rakyat jelata. Saya paham, bahwa ini adalah momen sakral yang hanya sekali seumur hidup, yang ingin dikenang sepanjang hayat dan dinukilkan dalam lipatan sejarah anak manusia. Tapi yang tak saya pahami, adalah ketika keinginan tak berbanding lurus dengan kemampuan. Demi resepsi perkawinan rela kesana kemari mencari utangan.

Kalau dalam adat Banjar, mahar pernikahan termasuk jujuran adalah cincin, hantaran pengantin lengkap, atribut seisi kamar juga sekian rupiah untuk walimah dan resepsi biasanya ditanggung pihak laki-laki. Bisa terbayang betapa ‘berat’ pundak calon mempelai pria di saat itu. Pihak wanita pun juga menanggung beban serupa, apalagi jika keduanya ngotot mengadakan pesta. Saat dana yang tersedia tak mencukupi, tombok sana sini jadi solusi. Alhasil, usai acara daftar pinjaman menanti ke dua belah pihak.

Mulai dari cetak undangan, baju pengantin, jasa tata rias, sewa tempat, makanan dan katering, sampai hiburan mulai dari orkes organ tunggal hingga lakon wayang semalam suntuk. Tak pelak, setelah acara bubar, tensi darah meninggi, uang amplop yang diharapkan tak dapat menutupi meski separuh tagihan.

Yang lebih parah lagi, strata sosial dan tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi hal ini. Misal, karena si A sudah bertitel sarjana maka malu kan kalau kawinnya tidak meriah seperti si B yang hanya SMP saja.

Seakan jadi keharusan yang tidak boleh tidak, meriah dan mewahnya resepsi pernikahan seolah menjadi tolok ukur kesuksesan si anak dalam berkehidupan. Seakan jadi barometer kebanggaan si empunya hajatan dapat terpandang di hadapan khalayak, meski utang-utang menumpuk menggerogoti pikiran sampai koyak.

Walau ini perlu dalam kehidupan dan kemanusiaan dan dapat merekatkan kekerabatan, tapi tak adakah cara yang lebih nyaman tanpa masalah belakangan??

Katanya takut mendapat malu jika acara perkawinan anak tidak meriah dan wah. Tapi sebenarnya lebih malu mana jika dibandingkan dengan banyak utang dan jadi bahan gunjingan di belakang??

Resepsi yang harusnya sebagai penyambung silaturahmi, bertransformasi menjadi ajang pamer, arena gaya dan adu perasaan riya.

Sampai ada yang bilang ke saya: “Ini seumpama tumpukan kembang api yang kita persiapkan mati-matian, semuanya meledak dan gegap gempita dalam hitungan detik saja.”

Ah, ironisme macam apa ini, kawan??


Ilustrasi dari:
http://www.mirifica.net

TANTANGAN PENDIDIKAN DI AKHIR ZAMAN

Lama juga tidak posting sesuatu, jadi kangen dengan kegiatan blogging. Nah, daripada nyampah tidak karuan mengumbar status galau di FB, mending saya menulis lagi di sini. Semoga para pengunjung setia tidak bosan, ya ya?

Bukannya sok alim atau sok suci, juga bukan bermaksud menyinggung SARA, ini hanyalah bentuk kekhawatiran dan kegalauan saya saja sebagai orang tua, sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Apalagi di era sekarang, yang katanya sudah masuk kategori zaman edan. Dimana anak-anak semakin luas pergaulannya dan semakin berliku tantangan pendidikannya. Bukan hanya sekedar pendidikan yang menunjang kehidupan fana duniawi, tapi yang terpenting dan (seharusnya) yang utama adalah pendidikan untuk bekal akhirat kelak.

Ada 4 peristiwa yang membuat saya ingin menulis ini:

¤Nah, kemarin itu anak saya yang masih kelas 3 SD itu ada tugas praktek gerakan solat dari guru agamanya. Satu persatu murid maju ke depan kelas dan memperagakannya. Ada 3 penilaian: BAIK, CUKUP dan KURANG. Kata anak saya, banyak yang nilainya KURANG karena tak hapal gerakan solat.

¤Ada seorang pemuda yang saat orang tuanya meninggal ia tak bisa membacakan doa dan surah Yasin dalam tulisan arab dan kesana kemari mencari Yasin yang ada tulisan latinnya.

¤Ada sekumpulan anak-anak tengah bermain di salah satu rumah temannya. Lalu di rumah itu ada orang dewasa yang sedang shalat zuhur. Tiba-tiba ada seorang anak usia 7 tahunan yang bertanya:

“Itu ibumu lagi ngapain?”

“Lagi shalat, emang kamu gak tahu?” jawab si anak dari pemilik rumah yang lagi shalat itu.

Kalau anak yang bertanya tadi non muslim mungkin wajar. Tapi ia muslim, ironis jika shalat saja ia bahkan tak tahu. Apa orang tuanya. . . .

¤Saya sempat terlibat pembicaraan serius dengan adik saya yang masih sibuk merampungkan kuliahnya. Katanya, menilik pendidikan anak-anak sekarang perlu bukan hanya sekedar pelajaran umum, yang terpenting adalah penanaman nilai moral dan agama.

Anak-anak yang dibekali ilmu agama, katakanlah salah satunya bersekolah di madrasah atau pesantren yang mengkhususkan pada pelajaran keislaman, bukan jaminan ia bisa menjadi ‘lurus’ dan tidak terjerumus pergaulan yang ke barat-baratan. Apalagi jika sejak kecil sudah dijejali tata cara dan gaya pendidikan yang hanya mementingkan tujuan kemapanan duniawi saja.

Memang, 2 hal itu juga tergantung pribadi si anak nantinya. Tapi bukankah paling tidak sebagai langkah awal penanaman nilai-nilai moral dan agama, sebagai dasar untuk bekal akhirat kelak. Karena itu, jauh lebih penting dari segala jenis pendidikan (umum maupun agama) yang didapat anak di sekolah, adalah PENDIDIKAN AGAMA DI RUMAH. Jadikan rumah dan para penghuni di dalamnya punya atmosfer keislaman yang kondusif dan terarah.

Yang lebih mencemaskan saya, berkaca dari peristiwa di atas, adalah ironisme yang terjadi di kalangan masyarakat belakangan ini. Para orang tua berramai-ramai mengikutkan anak-anaknya dalam program les untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris atau untuk les musik yang kadang tidaklah terlalu perlu.

Tapi ketika anak-anak hanya bisa bengong dan melongo saat membaca surah al fatihah karena tak bisa membaca huruf hijaiyah, yang saya lihat orang tuanya adem ayem saja, tak ada niat memberikan les mengaji atau mengajari si anak baca tulis Al Qur’an.

Sungguh sesuatu yang amat memiriskan rasa hati saya.

Jikalau di rumah saja anak tak mendapat bimbingan agama dan pendidikan moral yang cukup dan tepat lantas bagaimana jadinya dengan pergaulannya di luar rumah? Maka kita tak perlu kaget jika tawuran pelajar marak, bisa bergaul bebas tanpa batas, sampai seks usia dini hingga kehamilan dan aborsi.

Saya bersyukur, walau tidak pernah sekolah agama secara intensif tapi orang tua terutama Abah, beliau cukup sadar dalam penanaman nilai agama bagi anak-anaknya. Saya masih ingat, dahulu selesai solat Magrib berjamaah, beliau selalu mengajari saya mengaji walau saya juga bersekolah di TPA setiap sore. Dan suasana itulah yang ingin saya ‘hidupkan’ di lingkungan keluarga saya.

Sungguh tak mudah, mendidik anak-anak di era ini penuh tantangan dan perlu pengawasan ekstra. Ini adalah akhir zaman, perlahan menuju pasti suatu kehancuran yang tak terelakkan. Dan kita semua perlu bekal iman yang cukup agar kehancuran itu tak menjadikan kita binasa dan masuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Wallahualam bishshawab. . .

KETIKA PRIA INGIN MENIKAH (LAGI)

KETIKA PRIA INGIN MENIKAH (LAGI)

Sebenarnya sudah sangat lama sekali ingin menulis tentang ini (perselingkuhan, poligami, istri ke dua atau apalah namanya). Tapi, seperti yang biasa diulas di berbagai media di tanah air, persoalan ini memang agak ‘rumit’ dan barangkali tabu dibicarakan. Tapi tetap saja, naluri keperempuanan saya terusik ketika melihat maraknya seorang pria punya istri lebih dari satu. Yah. . . Walau poligami boleh secara hukum agama dan negara tapi tetap saja ada ‘efek samping depan dan belakang’ yang tak bisa kita diamkan saja.

Dan rasa itu kian membuncah, menggedor otak dan membuat gatal jari-jari ini. Apalagi kemarin sempat baca novel yang pernah in banget di kalangan perempuan, khususnya para istri. Dalam karyanya yang bertajuk CATATAN HATI SEORANG ISTRI, Asma Nadia sukses membuka mata saya sekaligus menguras airnya sekalian.

novel-chsi.jpg

Buku itu menceritakan tentang kisah-kisah yang nyata dialami para istri dalam kehidupannya mengayuh biduk rumah tangga. Sedih, bahagia, janji yang teringkari sampai perkara poligami disajikan secara apik dan menyentuh.

Sampai-sampai ada beberapa kata yang membuat saya merenung lama dan tak habis pikir dibuatnya:

“Apa salahnya? Jika suami diibaratkan teko, isinya boleh saja tumpah kemana-mana, yang penting kan tekonya balik ke rumah!”

“Namun apakah dimadu dan menjadi istri tua, merupakan jalan satu-satunya untuk mendekatkan perempuan (yang telah menghabiskan tahun-tahun dalam kepatuhan dan bakti itu) pada surga??”

Oke, cukup tentang bukunya. Lalu apa hubungannya dengan yang ingin saya tulis di sini? Thats it, check this out!

Jadi, beberapa waktu lalu saya pernah dapat telepon dari seorang family kerabat suami yang tinggal jauh di luar kota. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba dia menyinggung masalah poligami dan keinginannya untuk punya istri lagi. Iya, dia terang-terangan ingin menikah lagi dan menanyakan apa barangkali saya punya adik atau keluarga yang bisa diajak menikah (mendadak saya bersyukur bahwa adik saya yang masih kuliah itu baru saja menikah, fiuh. . .).

Saya tak paham apa sebabnya jadi dia seperti itu padahal saya tahu kalau istrinya sedang hamil anak ke dua. Kok bisa-bisanya. . . Ok, cukup, setiap membahas beginian sentimen saya kumat dan mau marah saja sudah.

Lalu saya tanyakan motivasi dia kenapa hendak menikah lagi, lebih mengejutkan ini jawabannya:

1) Namanya pria kan kadang kadang selalu ‘ingin’ dan istri tak selalu bisa memenuhi. Ah, tanpa saya bahas lebih detil pun kita tahu apa maksudnya, saya rasa ini hanya karena masalah hormonal akibat kehamilan yang kian besar.

2) Kalo punya yang kurus kan pengen juga nyari yang rada gemuk. Ouch, batin saya meringis ngeri-ngeri sedap dibuatnya: kan bisa dikasih obat penggemuk badan. So what?

3) Ingin membantu. Hah? Okelah secara ekonomi dia memang mampu dan lebih. Tapi, masak karena ingin membantu harus dengan menikah lagi? Banyak kok janda-janda tua dan anak yatim yang bisa disantuni. Dan lagi? Kalau benar mau membantu kenapa nyarinya yang agak muda? Kenapa gak memilih janda 6 anak yang kerjanya jadi tukang cuci saban hari? Dan ketika saya tanya kriterianya gadis atau janda atau yang rada berumur eh. . .jawabannya ngambang.

Membuat saya jadi garuk-garuk kepala yang gak dikeramas 3 hari. Ckckck. . .

Setelah meminimalisir emosi saya. Saya mencoba memberikan pandangan bagaimana nanti istrinya dan dampak ke depannya. Lagi-lagi saya dibuat shock, katanya itulah tantangannya. WOW. . .

Saya kenal dengan seorang pelaku poligami, meski sekarang pria itu tetap dengan dua istrinya tapi tak urung juga pernah membuat istri pertama dan anaknya depresi dan ketergantungan obat penenang.

Dia menyanggah saya, jangan samakan katanya tiap orang beda-beda dan tak semua kasus poligami merana. Banyak juga yang berhasil dan bahagia. Saya mengiyakan, dia benar tapi saya juga tak salah. Itu adalah pandangan saya dari apa yang menjadi realita di sekitar.

Saya menulis ini hanya sebagai pandangan, pendapat, unek-unek saja. Karena saya amat tak paham apa yang membuat seorang suami bisa berpoligami dengan mudahnya? Saya hanya takut, jangan-jangan kita berramai-ramai mengatasnamakan sunah untuk urusan yang lebih ah.

Saya bukan anti poligami, saya hanya tak siap menjadi bagian dari poligami (lagi, menyitir kata-kata mba Asma dalam bukunya.)

Bagaimana menurut Anda ?