C E M B U R U

88bahaya-tidur-dekat-hand.jpg
(pic: http://www.ummi-online.com)

Aku berharap menjadi smartphone itu.

Seharian berada dalam kantong mu.

Kau pandangi,

kau sentuh berjam-jam

dan lantas tertidur satu bantal dengannya.

Dan saat terlupa di mana dia,
Kau dengan kalap mencarinya.

Ah!

Advertisements

KETIKA HARGA BERAS NAIK DRASTIS

Beberapa hari terakhir ini pemberitaan media sering menyoroti tentang kenaikan harga beras yang tak terkendali di Ibu Kota. Mendadak terasa ironi karena ini terjadi justru setelah harga BBM diturunkan. Absurd!

Mari, kita bisa sama-sama menjalankan anjuran om Ebiet G. Ade; ramai-ramai kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Ask why ??

Kalau di Jakarta heboh kenaikannya baru beberapa waktu terakhir ini, justru di daerah saya pulau Borneo ini mahalnya beras sudah berlangsung sejak pasca panen kemarin sampai memasuki musim tanam saat ini. Sama saja, mau hujan mau panas, mau minyak naik apa turun. The rice is expensive.

Mungkin, karena berkurangnya lahan pertanian yang dialihfungsikan oleh bangunan dan perumahan.

Dan barangkali mungkin, karena mulai maraknya bangunan apartemen berlantai puluhan itu. Lalu si Beras nekat naik lift atau tangga menuju lantai tertinggi.

Nyaris tak terjangkau.

Tak terkendali.

Beberapa tak mampu beli.

#di situlah kadang saya merasa sedih.



Sebuah inspirasi dadakan setelah menonton banyolan menohok di acara ILK.

BAWAAN BAYI ATAU BAWAAN MALAS ??

Ekhem!

Tes satu dua.

Tes ting tes ting, setetes langsung bunting.

Eh,

ibuhamil.gif
Gambar dari:
budak-keren.blogspot.com

Kalau biasanya saya rajin mengkritisi dan menilai secara subjektif, lebih menekan dan sedikit menyudutkan pria. Maka kali ini saya mau bawel, cerewet, ‘rese’ mengkritisi kaum saya, p e r e m p u a n.

Akhir-akhir ini saya sering dibuat ‘grrrh’, agak kesal gimana gitu lihat perangai dan lagaknya para ibu hamil. Kalau perihal ngidam yang tidak biasa di awal-awal kehamilan rasanya itu sudah lumrah dan biasa ya.

Tapi sekarang ini saya baru tahu kalau karena hamil si calon ibu bisa jadi maniak belanja, hobi jalan-jalan, makan di luar dan gak masak di rumah seharian.

Dan dalih yang paling shahih ya kata-kata sakti ”bawaan bayi, yang kalau tidak dituruti nanti anaknya bisa ileran, ngeces gak karuan”. Itu selalu jadi senjata pamungkas paling mandraguna agar para suami mau saja membiarkan para istri yang sedang bunting itu bertindak ‘semena-mena’.

Saya tahu kalau kondisi psikis ibu hamil rawan stres, gak boleh kelelahan dan butuh perhatian lebih dari orang-orang terdekat, terutama suami selaku oknum pelaku yang membuat bengkak kronis sembilan bulanan itu. Juga perlu pakaian baru ukuran jumbo untuk memuat perut yang membesar, pay*dara dan pinggul yang melebar. Tapi kok saya merasa agak kejam ya, kalau karena hamil para wanita jadi kemaruk dan konsumtif tiada tara yang tak ayal membuat para suami mengurut dada dan mengelus isi dompet yang isinya tinggal tak seberapa karena sedang kena sindrom tanggal tua.

Membuat saya bertanya, itu memang bawaan bayi atau bawaan malas??

Karena anehnya lagi siklus ‘ngidam mahal’ ini terus berlanjut sampai si orok lahir. Kalau pas hamil selalu makan di luar karena alasan bawaan bayi, maka pasca melahirkan dalihnya pasti tak lain tak bukan karena rempong dan repotnya mengurus bayi itu.

Herran saya, mungkin jaman emang udah berubah, kalo dulu perempuan hamil cukup puas dengan memakai daster jadul warisan ibu atau mertua yang sudah kadaluwarsa, maka sekarang lain lagi, baju hamilnya mesti beli yang teranyar di mall atawa butik ternama biar gak kucel dan tetap trendy macam sosialita. Dan ini bener-bener kalap, melewati batas.

Karenanya saya menulis ini (walau dengan resiko tinggi kemungkinan dicekal, ditimpuk kapstok atau gak diundang lagi di acara arisan oleh para tetangga dan ibu-ibu muda) agar para suami waspada dan para istri sadar diri supaya kehamilan tidak dijadikan senjata, alat pemuas keinginan yang sebenarnya tidak penting-penting amat dan cenderung sebagai tindakan pemborosan yang menyuburkan perilaku malas.

Bukan berarti ibu hamil tak berhak menikmati kesenangan, tapi yang sesuailah dan sewajarnya saja.

Beli baju hamilnya gak usah banyak-banyak, cuma dipakai beberapa bulan ini kok.

Juga gak usahlah beli high heels berjeti-jeti, toh bahaya kalo pas hamil memakainya, kalau entar kepeleset trus mrosot ke got, piye? Kalaupun niatnya bisa dipakai pasca melahirkan biasanya ukuran kaki berubah dari saat hamil.

Tengoklah suasana dapur dan rasakan betapa dinginnya tanpa sentuhan tangan wanita. Kurangilah aktivitas makan di luar dan jadikan memasak sebagai kegiatan yang menyenangkan.

“Memasak dan mengolah makanan sendiri bukan hanya sekedar urusan mengisi perut yang lapar. Tapi itu juga sebagai sarana pemenuhan gizi keluarga yang terjamin kebersihan dan higienitasnya.

Lebih dari itu, memasak dan menyediakan makanan sendiri adalah salah satu elemen pengendalian yang super penting dalam rumah tangga yang berfungsi untuk terus merekatkan cinta kasih sayang suami pada sang istri”.

Ciyee. . . Ciyee. . . Masakanmu tak terlupakan ! #melukwajanamapanci

Jadi, mau insyaf kan jadi ibu hamil yang pemalas, gak suka masak dan doyan ngemall ?

TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

Percaya atau tidak, di sini kita bisa membuat roket hanya dengan biaya dua ribu saja. Tak perlu inti sel nuklir dan bubuk mesiu.

Iya, roket dari selongsong peluru kosong si cabai busuk yang mendadak terbang ke langit lantaran kena imbas efek domino dari aliran licin minyak yang (justru) deras mengalir dari tempat rendah ke tempat tinggi. Mengkhianati sifat asli bawaan lahir dari material cairan yang mestinya meluncur ke bawah.

Kalkulator dan neraca timbangan harian tiba-tiba hank bin error gara-gara angka yang dikalkulasi tak mencukupi untuk apa yang mesti dibeli hari ini.

Padahal toh ‘cuma dua ribu’ ini. Yang konon kata mereka rokok sekian puluh ribu masih kebeli, shabu sekian ratus ribu masih sarat peminat, pulsa pol dan kuota akses dunia maya gak ada habisnya. Kok minyak yang cuma naik sekian ribu protesnya gak ketulungan??

Ada yang tega bilang begitu??? Ada, banyak! Tapi tahukah mereka kalo 2 ribu itu bisa menjadi radang bisul bengkak hampir nyaris pecah berdarah-darah ketika dihadapkan pada berapa harga beras perliternya untuk saat ini? Apa masih bisa makan ikan dan sayuran juga buah-buahan, atau susu kalengan??

Standar makanan empat sehat lima sempurna bisa jadi masih mimpi bagi sebagian orang yang selama ini cukup lapangdada nrimo untuk tak mengkonsumsi daging cukup berlauk tempe dan sambal terasi saban hari. Dan kini tempe dan terasi pun mesti naik jadi roket? How could it be??

Sementara di rumah ada beberapa mulut yang mesti disumpal nasi. Ada beberapa pasang mata yang mesti dijaga agar tak berangkat ke alam mimpi dengan perut tak terisi.Tak bisa dunk jika hanya memandang orang yang masih bisa beli rokok, pulsa atau sesekali jajan shabu tapi protes soal si dua ribu! (emangnya umat serepublik ngrokok dan nyabu semua??)

Empatinya manaaaaa???

Di luar sana masih ada jutaan jelata yang upah kerja hariannya jauh di bawah UMR. Masih banyak tulang punggung keluarga yang tulang belakangnya nyaris patah lantaran terlalu berat menanggung beban kehidupan, masih banyak buruh serabutan dan pekerja kasar yang terpaksa menjadikan kepala sebagai kaki demi untuk tetap hidup dan benapas tiap hari. Dan di sini, saban hari di pasar pagi ada ratusan ibu-ibu yang mesti pintar-pintar mengeluarkan jurus aji pengiritan paling mandraguna untuk mencukupkan hitungan segala kebutuhan harian.

Ibu-ibu rumah tangga selalu ada stand by di garda terdepan dari dampak roket seharga dua ribu ini. Bagai euforia petasan nyasar yang meledak memancar di malam tahun baru dan lebaran, mengagetkan, mengejutkan, membuat kita mesti rajin mengurut dada yang kembang kempis menyadari bahwa ‘isinya’ menjadi ‘satu-satunya (atau dua-duanya) benda yang mengalami penurunan’ seiring kenaikan segala harga dan bertambahnya usia. Mencari adakah kesabaran yang masih tersisa?

Dan hampir pasti, sudah barang tentu, di bulan-bulan berikutnya ibu-ibu ini mesti berhadapan dengan meroketnya segala varian iuran bulanan. Mulai dari iuran listrik yang sering byar pet, mati nyala bisa sampai 3 kali sehari macam orang minum obat pilek resep andalan dari puskesmas. Atau iuran air bersih yang kerap ngadat di jam-jam prime time macam sinetron kebanyakan iklan, proses pengurasan tiada kabar berita, tahu-tahunya kita bisa memancing di air keruh beraroma cairan antiseptik.

Telat bayar, denda!
Telat 3 bulan, hamil! Eh.

Canggihnya 2 ribu ini bisa membuat segalanya jadi roket, melesat tak terkendali, dengan perbandingan bisa dua kali lipat. Turunan nenek moyang kita orang pelaut, para nelayan kini mikir buat pergi ke laut. Karena udah gak mungkin kapal bakal jalan jika hanya mengharap angin yang tak tentu arah. Biaya operasional yang tadinya sekian tiba-tiba membengkak jadi 2 sampai 3 kali sekian.

Organda sibuk protes di mana-mana, mogok gak kemana-mana karena kenaikan tarif yang ditetapkan sekian persen membuat merugi. Sebab ibu-ibu yang saban hari naik angkot, sekarang lebih memilih buat jalan kaki karena itu termasuk di dalam buku jurus aji pengiritan bab satu.

Semua karena roket buatan seharga dua ribu.

Pemikiran sederhana orang biasa tak peduli dan tak bisa memahami jika pengalihan subsidi untuk kemaslahatan rakyat juga. Bisa untuk peningkatan sarana dan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, pendidikan dan lain sebagainya.

Sebuah logika rakyat paling sederhana ya BBM naik everything naik, tensi naik. Buntutnya ya ngiriiiit. . . Membuat anak lari terbirit-birit ketika mau minta jajan emaknya gak ada lagi duit dan lempar sendal ke parit.

TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

KITA MASIH HARUS TURUN KE JALANAN

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Menadahkan tangan pada sebarisan kendaraan yang lalu lalang, melesakkan panah mimpi ke tengah jantung kota ini.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menepiskan gerimis sekalipun ia menjelma badai. Menerobos hujan, walau ia nanar membekukan sejuta kesempatan. Di pagari garis suratan yang membiru malamkan segala kehidupan pinggiran. Mata-mata yang nyalang tak lagi peduli malam atau pun siang.

Kita masih saja berhimpitan dalam gerbong-gerbong kelas ekonomi. Atau berjejeran menyenandungkan serenade anak jalanan di sepanjang trotoar kehidupan. Dan mungkin masih mengiris sebentuk tangis di bawah jembatan yang ditinggalkan.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Mengkiblatkan wajah pada ruang-ruang pengap di sudut peradaban. Mengerotiskan tarian-tarian permisif atas segala kesopanan, dari bar ke bar. Sebagian juga kerap berbuka paha menjanjikan keriuhan surga.

Sementara seniman-seniman penabuh genderang kaleng masih merapalkan nyanyian kemarin. Di setiap perempatan lampu merah, mata-mata tak berdosa yang mulutnya beraroma lem kimia, berlarian mengitari jalan menyongsong mobil sedan seorang anggota dewan.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menggelar baliho, pamflet dan ratusan selebaran. Sibuk mengkritisi penguasa yang telah kita pilih tempo hari.

Menghujat kemelaratan yang masih setia bergelayut manja di leher kita. Atau sekadar berebut bantuan beberapa liter beras untuk makan.

Kita masih memetakan arah perjalanan panjang ini, masing-masing bersaing dalam kiprah tak kenal kompromi. Kau bisa saja leluasa menjual anak-anakmu, atau menggadaikan harga dirimu. Pun mungkin aku bisa saja sejenak menjelma kanibal pemangsa sesama.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Mensiasati nasib yang seakan enggan memihak kemiskinan. Masih bergerilya di belantara kota, yang menyamarkan berjuta wajah kita. Masih di bawah lampu jalanan, memberhalakan hasrat para bidadari panggilan.

Tak mengapa jika mesti terlena pada sebotol air mineral di oplos alkohol dan cairan pembasmi nyamuk, atau mau teler dengan racikan obat batuk. Ini malam adalah sudah serba terserah, semua sah !! Atau kau mau menangis ? Seperti seorang remaja di ujung gang sana yang barusan diapeli pacarnya, dan kehilangan miliknya yang paling berharga.

Atau dia, seperti pria separuh wanita yang kerap menyibukkan diri minta kesetaraan dan penerimaan yang selayaknya manusia.

Kita masih harus turun ke jalanan. . .

Menyaksikan anak-anak bumi ini yang tengah membuat sejarah mereka sendiri. Yang tak tersentuh tangan nyaman kelayakan hidup. Yang tak terjamah tangan bijaksana pendidikan. Mereka telah melampaui batas mampu kepapaan yang tak punya apa-apa. Tapi jalanan telah begitu baik pada mereka. Di sana bisa hidup, sekolah, makan, menjalin harapan, berteman, menjelma preman, di jalanan kita bebas berkembang biak, membuat anak dan beranak.

Dan sesekali lampu merah berwarna serupa darah.



Note:
Puisi satire ini tertanggal 28 Oktober 2013 tahun lalu, saya posting ulang karena terasa sangat relevan dan pas timingnya di saat-saat seperti ini.

Bukan Tukang Bubur Naik Haji; KETIKA TUKANG BUBUR ITU MANTAN BRIPTU NORMAN KAMARU

Akhir-akhir ini, sebenarnya saya dibuat heran oleh pemberitaan di berbagai media tentang Norman yang kini ‘banting setir’ jadi penjual bubur, padahal dulu kita tahu ia sempat tenar jadi artis mendadak ketika sebagai polisi dan joget India caiya-caiya.

Pemberitaan itu terkesan menyudutkan, membuat saya bertanya memang apa salahnya jadi tukang bubur??
Dan seakan-akan itu pekerjaan rendah dan kurang terhormat.

Padahal dengan menjadi pedagang artinya orang itu telah dengan sadar untuk menjadi mandiri dan menjadi “the real bos” untuk dirinya sendiri dan mungkin karyawan/anak buahnya suatu saat nanti.

Saya hanya heran dan gagal paham betapa sempitnya pandangan kita terhadap kemuliaan dan kehormatan orang lain.

Memang, menjadi aparat negara amat sangat membanggakan rasanya, tapi pun kita semua tahu di tengah rusaknya birokrasi dan rumitnya urusan administrasi di negeri kita ini membuat semua mafhum bahwa untuk sebuah gelar dan jabatan yang prestisius kita harus berakrab ria dengan yang namanya sogok menyogok, suap menyuap, saling sikut dan berlaku culas.

Lalu apa yang mesti kita banggakan bila untuk menjadi seorang aparat kita harus ikut-ikutan menempuh cara-cara yang k*parat??

Menjadi artis??
Saya tidak bermaksud merendahkan profesi artis. Tapi perlu ditinjau ulang, untuk apa kita menjadi seseorang yang pada akhirnya hanya sebagai penambah jumlah kuantitas dan bukan peningkat kwalitas??

Rasanya kita sudah jenuh dengan sensasi-sensasi sesaat nan kosong yang digelar oleh segelintir orang di layar kaca saban hari. Kita butuh seniman-seniman dan pekerja seni yang benar-benar mumpuni dan kaya prestasi, tak hanya mengumbar sensasi, adu seksi atau sekadar membuat kontroversi.

JADI, APA SALAHNYA JIKA NORMAN KAMARU JADI PENJUAL BUBUR??

Itu profesi yang sama layaknya dengan jadi polisi atau artis sekalipun!

Mengapa kita harus malu (atau seakan-akan harus dibuat jadi malu oleh kata-kata orang) ketika bisa dengan kuat berdiri di atas kaki sendiri??