BAWAAN BAYI ATAU BAWAAN MALAS ??

Ekhem!

Tes satu dua.

Tes ting tes ting, setetes langsung bunting.

Eh,

ibuhamil.gif
Gambar dari:
budak-keren.blogspot.com

Kalau biasanya saya rajin mengkritisi dan menilai secara subjektif, lebih menekan dan sedikit menyudutkan pria. Maka kali ini saya mau bawel, cerewet, ‘rese’ mengkritisi kaum saya, p e r e m p u a n.

Akhir-akhir ini saya sering dibuat ‘grrrh’, agak kesal gimana gitu lihat perangai dan lagaknya para ibu hamil. Kalau perihal ngidam yang tidak biasa di awal-awal kehamilan rasanya itu sudah lumrah dan biasa ya.

Tapi sekarang ini saya baru tahu kalau karena hamil si calon ibu bisa jadi maniak belanja, hobi jalan-jalan, makan di luar dan gak masak di rumah seharian.

Dan dalih yang paling shahih ya kata-kata sakti ”bawaan bayi, yang kalau tidak dituruti nanti anaknya bisa ileran, ngeces gak karuan”. Itu selalu jadi senjata pamungkas paling mandraguna agar para suami mau saja membiarkan para istri yang sedang bunting itu bertindak ‘semena-mena’.

Saya tahu kalau kondisi psikis ibu hamil rawan stres, gak boleh kelelahan dan butuh perhatian lebih dari orang-orang terdekat, terutama suami selaku oknum pelaku yang membuat bengkak kronis sembilan bulanan itu. Juga perlu pakaian baru ukuran jumbo untuk memuat perut yang membesar, pay*dara dan pinggul yang melebar. Tapi kok saya merasa agak kejam ya, kalau karena hamil para wanita jadi kemaruk dan konsumtif tiada tara yang tak ayal membuat para suami mengurut dada dan mengelus isi dompet yang isinya tinggal tak seberapa karena sedang kena sindrom tanggal tua.

Membuat saya bertanya, itu memang bawaan bayi atau bawaan malas??

Karena anehnya lagi siklus ‘ngidam mahal’ ini terus berlanjut sampai si orok lahir. Kalau pas hamil selalu makan di luar karena alasan bawaan bayi, maka pasca melahirkan dalihnya pasti tak lain tak bukan karena rempong dan repotnya mengurus bayi itu.

Herran saya, mungkin jaman emang udah berubah, kalo dulu perempuan hamil cukup puas dengan memakai daster jadul warisan ibu atau mertua yang sudah kadaluwarsa, maka sekarang lain lagi, baju hamilnya mesti beli yang teranyar di mall atawa butik ternama biar gak kucel dan tetap trendy macam sosialita. Dan ini bener-bener kalap, melewati batas.

Karenanya saya menulis ini (walau dengan resiko tinggi kemungkinan dicekal, ditimpuk kapstok atau gak diundang lagi di acara arisan oleh para tetangga dan ibu-ibu muda) agar para suami waspada dan para istri sadar diri supaya kehamilan tidak dijadikan senjata, alat pemuas keinginan yang sebenarnya tidak penting-penting amat dan cenderung sebagai tindakan pemborosan yang menyuburkan perilaku malas.

Bukan berarti ibu hamil tak berhak menikmati kesenangan, tapi yang sesuailah dan sewajarnya saja.

Beli baju hamilnya gak usah banyak-banyak, cuma dipakai beberapa bulan ini kok.

Juga gak usahlah beli high heels berjeti-jeti, toh bahaya kalo pas hamil memakainya, kalau entar kepeleset trus mrosot ke got, piye? Kalaupun niatnya bisa dipakai pasca melahirkan biasanya ukuran kaki berubah dari saat hamil.

Tengoklah suasana dapur dan rasakan betapa dinginnya tanpa sentuhan tangan wanita. Kurangilah aktivitas makan di luar dan jadikan memasak sebagai kegiatan yang menyenangkan.

“Memasak dan mengolah makanan sendiri bukan hanya sekedar urusan mengisi perut yang lapar. Tapi itu juga sebagai sarana pemenuhan gizi keluarga yang terjamin kebersihan dan higienitasnya.

Lebih dari itu, memasak dan menyediakan makanan sendiri adalah salah satu elemen pengendalian yang super penting dalam rumah tangga yang berfungsi untuk terus merekatkan cinta kasih sayang suami pada sang istri”.

Ciyee. . . Ciyee. . . Masakanmu tak terlupakan ! #melukwajanamapanci

Jadi, mau insyaf kan jadi ibu hamil yang pemalas, gak suka masak dan doyan ngemall ?

TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

Percaya atau tidak, di sini kita bisa membuat roket hanya dengan biaya dua ribu saja. Tak perlu inti sel nuklir dan bubuk mesiu.

Iya, roket dari selongsong peluru kosong si cabai busuk yang mendadak terbang ke langit lantaran kena imbas efek domino dari aliran licin minyak yang (justru) deras mengalir dari tempat rendah ke tempat tinggi. Mengkhianati sifat asli bawaan lahir dari material cairan yang mestinya meluncur ke bawah.

Kalkulator dan neraca timbangan harian tiba-tiba hank bin error gara-gara angka yang dikalkulasi tak mencukupi untuk apa yang mesti dibeli hari ini.

Padahal toh ‘cuma dua ribu’ ini. Yang konon kata mereka rokok sekian puluh ribu masih kebeli, shabu sekian ratus ribu masih sarat peminat, pulsa pol dan kuota akses dunia maya gak ada habisnya. Kok minyak yang cuma naik sekian ribu protesnya gak ketulungan??

Ada yang tega bilang begitu??? Ada, banyak! Tapi tahukah mereka kalo 2 ribu itu bisa menjadi radang bisul bengkak hampir nyaris pecah berdarah-darah ketika dihadapkan pada berapa harga beras perliternya untuk saat ini? Apa masih bisa makan ikan dan sayuran juga buah-buahan, atau susu kalengan??

Standar makanan empat sehat lima sempurna bisa jadi masih mimpi bagi sebagian orang yang selama ini cukup lapangdada nrimo untuk tak mengkonsumsi daging cukup berlauk tempe dan sambal terasi saban hari. Dan kini tempe dan terasi pun mesti naik jadi roket? How could it be??

Sementara di rumah ada beberapa mulut yang mesti disumpal nasi. Ada beberapa pasang mata yang mesti dijaga agar tak berangkat ke alam mimpi dengan perut tak terisi.Tak bisa dunk jika hanya memandang orang yang masih bisa beli rokok, pulsa atau sesekali jajan shabu tapi protes soal si dua ribu! (emangnya umat serepublik ngrokok dan nyabu semua??)

Empatinya manaaaaa???

Di luar sana masih ada jutaan jelata yang upah kerja hariannya jauh di bawah UMR. Masih banyak tulang punggung keluarga yang tulang belakangnya nyaris patah lantaran terlalu berat menanggung beban kehidupan, masih banyak buruh serabutan dan pekerja kasar yang terpaksa menjadikan kepala sebagai kaki demi untuk tetap hidup dan benapas tiap hari. Dan di sini, saban hari di pasar pagi ada ratusan ibu-ibu yang mesti pintar-pintar mengeluarkan jurus aji pengiritan paling mandraguna untuk mencukupkan hitungan segala kebutuhan harian.

Ibu-ibu rumah tangga selalu ada stand by di garda terdepan dari dampak roket seharga dua ribu ini. Bagai euforia petasan nyasar yang meledak memancar di malam tahun baru dan lebaran, mengagetkan, mengejutkan, membuat kita mesti rajin mengurut dada yang kembang kempis menyadari bahwa ‘isinya’ menjadi ‘satu-satunya (atau dua-duanya) benda yang mengalami penurunan’ seiring kenaikan segala harga dan bertambahnya usia. Mencari adakah kesabaran yang masih tersisa?

Dan hampir pasti, sudah barang tentu, di bulan-bulan berikutnya ibu-ibu ini mesti berhadapan dengan meroketnya segala varian iuran bulanan. Mulai dari iuran listrik yang sering byar pet, mati nyala bisa sampai 3 kali sehari macam orang minum obat pilek resep andalan dari puskesmas. Atau iuran air bersih yang kerap ngadat di jam-jam prime time macam sinetron kebanyakan iklan, proses pengurasan tiada kabar berita, tahu-tahunya kita bisa memancing di air keruh beraroma cairan antiseptik.

Telat bayar, denda!
Telat 3 bulan, hamil! Eh.

Canggihnya 2 ribu ini bisa membuat segalanya jadi roket, melesat tak terkendali, dengan perbandingan bisa dua kali lipat. Turunan nenek moyang kita orang pelaut, para nelayan kini mikir buat pergi ke laut. Karena udah gak mungkin kapal bakal jalan jika hanya mengharap angin yang tak tentu arah. Biaya operasional yang tadinya sekian tiba-tiba membengkak jadi 2 sampai 3 kali sekian.

Organda sibuk protes di mana-mana, mogok gak kemana-mana karena kenaikan tarif yang ditetapkan sekian persen membuat merugi. Sebab ibu-ibu yang saban hari naik angkot, sekarang lebih memilih buat jalan kaki karena itu termasuk di dalam buku jurus aji pengiritan bab satu.

Semua karena roket buatan seharga dua ribu.

Pemikiran sederhana orang biasa tak peduli dan tak bisa memahami jika pengalihan subsidi untuk kemaslahatan rakyat juga. Bisa untuk peningkatan sarana dan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, pendidikan dan lain sebagainya.

Sebuah logika rakyat paling sederhana ya BBM naik everything naik, tensi naik. Buntutnya ya ngiriiiit. . . Membuat anak lari terbirit-birit ketika mau minta jajan emaknya gak ada lagi duit dan lempar sendal ke parit.

TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

KITA MASIH HARUS TURUN KE JALANAN

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Menadahkan tangan pada sebarisan kendaraan yang lalu lalang, melesakkan panah mimpi ke tengah jantung kota ini.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menepiskan gerimis sekalipun ia menjelma badai. Menerobos hujan, walau ia nanar membekukan sejuta kesempatan. Di pagari garis suratan yang membiru malamkan segala kehidupan pinggiran. Mata-mata yang nyalang tak lagi peduli malam atau pun siang.

Kita masih saja berhimpitan dalam gerbong-gerbong kelas ekonomi. Atau berjejeran menyenandungkan serenade anak jalanan di sepanjang trotoar kehidupan. Dan mungkin masih mengiris sebentuk tangis di bawah jembatan yang ditinggalkan.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Mengkiblatkan wajah pada ruang-ruang pengap di sudut peradaban. Mengerotiskan tarian-tarian permisif atas segala kesopanan, dari bar ke bar. Sebagian juga kerap berbuka paha menjanjikan keriuhan surga.

Sementara seniman-seniman penabuh genderang kaleng masih merapalkan nyanyian kemarin. Di setiap perempatan lampu merah, mata-mata tak berdosa yang mulutnya beraroma lem kimia, berlarian mengitari jalan menyongsong mobil sedan seorang anggota dewan.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menggelar baliho, pamflet dan ratusan selebaran. Sibuk mengkritisi penguasa yang telah kita pilih tempo hari.

Menghujat kemelaratan yang masih setia bergelayut manja di leher kita. Atau sekadar berebut bantuan beberapa liter beras untuk makan.

Kita masih memetakan arah perjalanan panjang ini, masing-masing bersaing dalam kiprah tak kenal kompromi. Kau bisa saja leluasa menjual anak-anakmu, atau menggadaikan harga dirimu. Pun mungkin aku bisa saja sejenak menjelma kanibal pemangsa sesama.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Mensiasati nasib yang seakan enggan memihak kemiskinan. Masih bergerilya di belantara kota, yang menyamarkan berjuta wajah kita. Masih di bawah lampu jalanan, memberhalakan hasrat para bidadari panggilan.

Tak mengapa jika mesti terlena pada sebotol air mineral di oplos alkohol dan cairan pembasmi nyamuk, atau mau teler dengan racikan obat batuk. Ini malam adalah sudah serba terserah, semua sah !! Atau kau mau menangis ? Seperti seorang remaja di ujung gang sana yang barusan diapeli pacarnya, dan kehilangan miliknya yang paling berharga.

Atau dia, seperti pria separuh wanita yang kerap menyibukkan diri minta kesetaraan dan penerimaan yang selayaknya manusia.

Kita masih harus turun ke jalanan. . .

Menyaksikan anak-anak bumi ini yang tengah membuat sejarah mereka sendiri. Yang tak tersentuh tangan nyaman kelayakan hidup. Yang tak terjamah tangan bijaksana pendidikan. Mereka telah melampaui batas mampu kepapaan yang tak punya apa-apa. Tapi jalanan telah begitu baik pada mereka. Di sana bisa hidup, sekolah, makan, menjalin harapan, berteman, menjelma preman, di jalanan kita bebas berkembang biak, membuat anak dan beranak.

Dan sesekali lampu merah berwarna serupa darah.



Note:
Puisi satire ini tertanggal 28 Oktober 2013 tahun lalu, saya posting ulang karena terasa sangat relevan dan pas timingnya di saat-saat seperti ini.

Bukan Tukang Bubur Naik Haji; KETIKA TUKANG BUBUR ITU MANTAN BRIPTU NORMAN KAMARU

Akhir-akhir ini, sebenarnya saya dibuat heran oleh pemberitaan di berbagai media tentang Norman yang kini ‘banting setir’ jadi penjual bubur, padahal dulu kita tahu ia sempat tenar jadi artis mendadak ketika sebagai polisi dan joget India caiya-caiya.

Pemberitaan itu terkesan menyudutkan, membuat saya bertanya memang apa salahnya jadi tukang bubur??
Dan seakan-akan itu pekerjaan rendah dan kurang terhormat.

Padahal dengan menjadi pedagang artinya orang itu telah dengan sadar untuk menjadi mandiri dan menjadi “the real bos” untuk dirinya sendiri dan mungkin karyawan/anak buahnya suatu saat nanti.

Saya hanya heran dan gagal paham betapa sempitnya pandangan kita terhadap kemuliaan dan kehormatan orang lain.

Memang, menjadi aparat negara amat sangat membanggakan rasanya, tapi pun kita semua tahu di tengah rusaknya birokrasi dan rumitnya urusan administrasi di negeri kita ini membuat semua mafhum bahwa untuk sebuah gelar dan jabatan yang prestisius kita harus berakrab ria dengan yang namanya sogok menyogok, suap menyuap, saling sikut dan berlaku culas.

Lalu apa yang mesti kita banggakan bila untuk menjadi seorang aparat kita harus ikut-ikutan menempuh cara-cara yang k*parat??

Menjadi artis??
Saya tidak bermaksud merendahkan profesi artis. Tapi perlu ditinjau ulang, untuk apa kita menjadi seseorang yang pada akhirnya hanya sebagai penambah jumlah kuantitas dan bukan peningkat kwalitas??

Rasanya kita sudah jenuh dengan sensasi-sensasi sesaat nan kosong yang digelar oleh segelintir orang di layar kaca saban hari. Kita butuh seniman-seniman dan pekerja seni yang benar-benar mumpuni dan kaya prestasi, tak hanya mengumbar sensasi, adu seksi atau sekadar membuat kontroversi.

JADI, APA SALAHNYA JIKA NORMAN KAMARU JADI PENJUAL BUBUR??

Itu profesi yang sama layaknya dengan jadi polisi atau artis sekalipun!

Mengapa kita harus malu (atau seakan-akan harus dibuat jadi malu oleh kata-kata orang) ketika bisa dengan kuat berdiri di atas kaki sendiri??

BORNEOKU SAYANG BORNEOKU MALANG

BORNEOKU SAYANG BORNEOKU MALANG

Batu bara oh batu bara. . .

Emas hitam di timbunan kedalaman tanah Kalimantan.
Janji-janji dan harapan yang kau biakkan dalam hati kami kini mulai merangkak tinggal mimpi di ujung pagi.
Kami terkesiap kesiangan.
Dibangunkan luka-luka alam yang menjerit kesakitan.

Batu bara oh batu bara. . .

Luka-luka pertambangan telah menebar banjir sepanjang Sungai Danau.
Luka-luka pertambangan memupuk limbah di aliran sungai Balangan, membuat kolaps tambak ikan-ikan.

Paru-paru dunia itu kini sesak napas, terbatuk-batuk meniupkan jelaga dan kabut abu di tengah kota.
Warna kehijauan di eloknya hutan yang kini tak lagi perawan adalah luka-luka yang menambang bencana demi bencana.

Batu bara oh batu bara. . .
Yang jika bara itu padam, tinggallah KAMI MENJADI SEKEDAR BATU YANG DILUPAKAN. . .

(RQ, Gambut 12 Agustus 2014)

CATATAN HITAM 17 AGUSTUS DI KOTA KECIL KAMI

CATATAN HITAM 17 AGUSTUS DI KOTA KECIL KAMI

Kami (saya dan suami) menerima sebuah undangan di hari Sabtu sore, sebuah undangan berdesain apik dan mewah berwarna merah hati. Biasa, saya mengiranya undangan walimah perkawinan karena tertanggal 17 Agustus hari Minggu.

Ternyata saya salah, di undangan itu tertera UNDANGAN SELAMATAN. Saya jadi bertanya dan ketika membuka isinya itu adalah acara syukuran dan makan-makan dalam rangka menyambut hari proklamasi.

Kening saya berkerut, ternyata si empunya hajatan adalah seorang bos pelangsir yang terkenal top di kota kecil (sebenarnya masih kecamatan) kami.

Kontan suami saya jadi murung sejurus, nama-nama yang turut mengundang adalah kawan-kawan lamanya dahulu ketika masih kerja di SPBU sekitar 6 tahun lalu sebelum ia kena PHK (PHK itu, adalah peristiwa paling menyakitkan dalam rumah tangga saya yang ternyata sekarang amat saya syukuri).

Saya menyarankan agar suami memenuhi undangan itu. Dan ia tak mau, bukan karena malu atau apa (kami alhamdulilah sudah punya lahan rejeki yang lebih dari pada di SPBU). Tapi dia sudah tahu acara itu akan seperti apa.

Apa pasal?

Sepertinya timing dan momennya memang pas, ada orang yang senang berpesta menikmati alam kemerdekaan dengan menjajah hak-hak sesama mereka.

Dengan sedih dan geram suami saya melanjutkan, katanya di acara semacam itu akan hadir berbagai macam manusia dari aneka kalangan. Mulai dari karyawan, sampai aparat dan pejabat berdahi yang -nota bene bukan rahasia lagi- menjadi beking dari kegiatan pelangsiran BBM yang kebanyakan diperuntukkan bagi kegiatan pertambangan batu bara.

Ya, BBM, solar ataupun premium bersubsidi yang harusnya menjadi jatah rakyat jelata untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya malah (selalu) beralih tangan ke ranah industri yang justru tidak mensejahterakan orang kecil.

Dan pembatasan solar bersubsidi saat ini justru semakin memperparah kebobrokan mekanisme dunia perminyakan di republik ini. Orang-orang sibuk dengan kepentingan mereka sendiri, beking membeking sudah biasa, yang penting saling untung. Lagi, rakyat jelata yang buntung.

Singkat kata, suami saya bilang kalau itu MEMAKAN HAK ORANG BANYAK.

Saya hanya bisa menyimpan airmata saat menyaksikan para nelayan sulit melaut karena tak dapat jatah solar, juga pabrik penggilingan padi terpaksa vakum karena kehabisan stok solar. Juga para sopir angkutan yang harus membawa berbagai barang kebutuhan hidup dipaksa antri berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari jauh dari anak istri mereka demi solar subsidi yang kini kuota dan waktunya dibatasi.

Duh. . .

Bos pelangsiran itu dengan pongah menyebar undangan makan dan pesta pora di tengah krisis kesenjangan yang memalukan sekaligus memilukan ini. Lalu dilanjut dengan live show dangdut lokal erotika yang mempertontonkan segala perkakas kaum hawa. Tak puas, biasanya pasti dilanjut dengan euforia menenggak miras sampai nyaris gila. Dan ironisnya, banyak aparat dan pejabat yang mengamininya.

Enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, dan kita memaknainya dengan terus mencorengkan noda.

Benarkah kita sudah merdeka??


Saya menulis ini seperti menambal luka serupa di Agustus tahun lalu DI SEBUAH PERAYAAN. Maaf jika kata-kata ini tak pantas.

INILAH IRONISME ITU, KAWAN

Ini hanyalah catatan seorang perempuan, seorang ibu tak berdaya yang hanya bisa menyaksikan ketidakadilan meraja lela.

Selama ini kita terlena oleh apa yang setiap hari disuguhkan di depan mata kita. Membangun mimpi dan harapan kosong di atas permainan apik segelintir orang.

Kita, rakyat jelata, terus saja dibodohi dan diakali, bahkan nurani tertutupi.

Saat ini, Gaza siaga satu, anak-anak dan wanita Palestina ditembaki setiap hari. Israel dan antek-anteknya terus memborbardir kaum muslimin di sana. Tapi dimanakah kita? Sedang apakah kita saat tragedi kemanusiaan membumi hanguskan Palestina dan Suriah??

Kita masih ‘tidur’ dalam kekenyangan akut pasca ‘balas dendam’ buka puasa. Kita masih terlena oleh simpati tokoh teraniaya dalam sinetron dan drama. Kita masih sibuk menggaungkan euforia jelang final piala dunia dan tenggelam dalam kekalahan di meja pertaruhan perjudian. Dan KITA MASIH TERBIUS OLEH TAYANGAN TELEVISI YANG DENGAN SURVEY-SURVEY PASCA PILPRES MEMBUAT KITA MELONGO BERJAM-JAM MENYAKSIKAN WARTA TIPU-TIPU YANG MENYESATKAN RAKYAT. Kita hanya pikirkan siapa menang siapa kalah, padahal masih jauh panggang dari api.

INILAH IRONISME ITU KAWAN, DI TEMPAT SAYA ADA LIMA BELAS MACAM STASIUN TV TAPI TAK ADA SATU PUN YANG MENYIARKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGAN SAUDARA SEIMAN KITA DI PALESTINA !!!

Bukalah mata dan hatimu kawan, dan siapapun yang membaca postingan ini Ya Allah. . . Selamatkan Palestina.

Selamatkan Palestina.

PENDIDIKAN: KEBANGGAAN ATAU KESOMBONGAN?

Katakanlah kali ini saya sedang down, gak bisa move on, sedih bin nelangsa alias galau tingkat dewa. Saat ini saya sedang berada di titik terendah perasaan hati yang tersakiti (halah lebay! Udah kayak abege labil ajah. . .)

Semakin kesini, semakin saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan sekolah yang tinggi. Lebih penting lagi, meraih ilmu sepanjang kehidupan.

Jadi ceritanya, baru-baru ini saya ketemu teman lama jamannya sekolah dulu, kami pun bertukar cerita, sekarang anaknya juga sudah dua. Sekarang dia juga sama seperti saya, jadi pedagang dan tidak kuliah. Dari ceritanya ia agak menyayangkan karena tak bisa meneruskan pendidikan pasca SMA padahal dia (juga saya) termasuk siswa berprestasi yang selalu masuk 5 besar.

Lalu ia bercerita tentang teman-teman dulu yang ‘lebih beruntung’ karena bisa kuliah dan punya pekerjaan bagus, gaji tinggi dan jabatan prestisius. Dan ah. . . Rasa minder itu sedikit mengikis rasa syukur atas hidup kami saat ini.

Ironisnya, teman-teman yang sekarang ‘sukses’ itu adalah orang-orang yang dahulunya malas sekolah, bandel, aktivis nyontek, jago curang dan sebagainya. Tapi satu hal yang mereka punya dan tak ada pada kami: mereka kaya.

Sekali lagi, pendidikan dan sekolah terbaik hanya milik mereka yang mampu membayarnya, dan mereka bisa berpongah-pongah ria membanggakannya, dan sah-sah saja bila menyombongkannya.

Yang paling membuat saya jatuh ke titik terendah adalah cerita dari Fikri anak sulung saya, yang pas kelas 3 ini ia punya wali kelas yang ternyata adalah teman sekolah saya dulu. Selama setahun menjadi guru kelas anak saya, saya amat merasakan dan menyadari bahwa titel sarjana di belakang nama seseorang akan menjadi pembeda yang kejam bagi orang yang tidak mempunyainya seperti saya.

Sebagai guru, yang mana anak saya, saya titipkan padanya selama di sekolah, beberapa kali saya rasakan sikap dan perkataan guru tersebut yang agak melukai harga diri dan merendahkan saya sebagai orang tua. Dan tidak sekali dua kali anak saya menangis dan sering murung karena sikap dan kata-kata gurunya ini.

Saat itu terjadi saya hanya bisa menelan airmata dan terus menyemangati Fikri agar jangan kecil hati. Karena itu lah nak, kamu harus sekolah sungguh-sungguh agar tidak terhina, dapat menjadi sukses dan jangan semena-mena.

Saya jadi teringat tokoh Lintang di novel Laskar Pelangi yang sangat jenius dan pintar luar biasa tapi ‘hanya berakhir menjadi buruh serabutan’ dan tak bisa kuliah ke luar negeri seperti Ikal (padahal Ikal hanya jadi pengangguran setelah kuliah di Prancis).

Betapa sempitnya pikiran manusia akhir zaman dalam menakar bentuk kesuksesan. Memangnya kenapa walau pintar tapi tak kuliah? Walau hanya jadi kuli rendahan tapi mampu menghidupi diri sendiri dan tak kelaparan, bukankah itu juga suatu kesuksesan?

Dan lagi, pendidikan macam apa yang dapat dibanggakan ketika kemampuan nilai dan otak tak mencukupi maka sogokan yang menjadi pembuka jalan??

Inilah fenomena yang sudah amat lumrah dan biasa. Orang-orang ‘pintar dan berpendidikan tinggi’ di luar sana sudah terbiasa berbangga hati pada jabatan dan profesi mereka bahkan tak sungkan menyombongkan diri pada orang yang dianggap lebih rendah dari mereka.

Inilah dunia yang absurd dan aneh itu. Seorang petani di desa yang punya puluhan hektar sawah akan dianggap kesuksesan yang biasa saja walau tanah itu miliknya sendiri. Tapi coba lihat, seorang sarjana yang dapat bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar milik asing justru amat dibanggakan begitu rupa. Padahal hanya jadi jongos, bawahan yang difungsikan untuk mempertebal pundi-pundi atasan mereka. Inilah realitas pendidikan yang sama sekali tidak mencerdaskan, tidak memerdekakan, justru melahirkan perbudakan dan penjajahan gaya baru yang kita semua bangga-banggakan menjadi lingkaran setan mematikan.

SINDROM ORANG KAYA BARU

Menurut bahasa ilmiahnya adalah NEW RICH PEOPLE SYNDROME ini merupakan sebuah situasi di mana seseorang mengalami perubahan perilaku secara mendadak, aneh, tak biasa, berlebihan dan menyita perhatian masyarakat di sekitarnya karena peningkatan kwalitas hidup dan kesuksesan secara materi.

Kurang lebih begitulah artinya. Penyakit mungkin bukan tapi semacam reaksi sosial atau gejala perilaku yang bisa kita lihat di lingkungan sekitar kita.

Sejak krisis moneter melanda Indonesia (kalo gak salah bener) tahun 1997 silam, berbagai peristiwa yang membuat guncangan ekonomi hebat melanda di segala bidang. Mulai dari PHK besar-besaran, sembako melangit tak terkendali sampai stres dan gangguan kejiwaan atas ketidak tahanan mental menghadapi kegilaan situasi yang terjadi.

Lalu belakangan orang-orang mencoba bangkit dari kejatuhan ekonomi itu, berlomba-lomba membangun lagi raksasa-raksasa bisnis yang telah porak poranda. Memenuhi segala lini bidang pekerjaan, yang berkutat dengan perkara keuangan dan pemenuhan kebutuhan.

Lalu statistik ekonomi mulai bangkit dengan bermunculan orang-orang yang mengendalikan pergerakan bisnis, pemasaran dan manajemen keuangan, yang serta merta menyusul kemunculannya ORANG KAYA BARU DAN SEGALA KEANEHANNYA.

Bisnis menggiurkan yang paling menghasilkan dan cepat melahirkan OKB adalah PERBANKAN yang dikelola perorangan alias rentenir bin lintah darat. Setelah kolapsnya ekonomi pasca krisis moneter dunia perbankan banyak yang mati suri dan mulai menarik bunga tinggi dan syarat yang ruwet mumet njilmet bagi para nasabahnya. Maka jadilah rentenir bertebaran bak jamur dimusim hujan. Karena proses utang piutang terjadi dengan mudah dan ‘murah’.

OKB-OKB ini bertebaran dijalanan dengan berbagai kendaraan lengkap dengan aksesoris yang semakin memperlebar jurang antara si miskin dan si kaya. Gelangnya nyaris mencapai siku, tasnya brand ternama dan baju di badannya tidaklah murah harganya, menagih hutang pada PKL pinggir jalan yang keuntungan jualannya habis hanya untuk mengencangkan pundi uang para rentenir. Rumah mereka segede istana megah di tengah kemelaratan tetangga di sekitarnya. Terkadang saking besarnya rumahnya, tak menyisakan sedikitpun tanah untuk garasi mobil sehingga mobilnya terparkir begitu saja di tepi jalan dan mengganggu kenyamanan umum.

Sekali waktu membeli AC, besok kulkas dua biji, lalu TV LCD, kapan-kapan bisa jadi tambah istri sekalian menambah jaringan rentenir antar generasi. Rumahnya masih baru, eh, mulai direnovasi di sana-sini. Mungkin karena rupiah mereka tak terbilang timbunannya jadi terkadang melakukan hal aneh itu sah-sah saja. Makanya ada ungkapan orang gila dan pekerja seni sensasional sama ‘sintingnya’, bedanya hanya kaya atau tidak (makanya dulu itu sampai ada tayangan bertajuk LO BOLEH GILA).

Ini seakan mengamini bahwa orang boleh melakukan apa saja jika ia bisa (baca:kaya). Urusan tenggang rasa dengan sesama mah nomer dua ratus lima.

Dan juga, sindrom OKB ini mulai merambah ke ranah maya. Kita bisa lihat dengan mudahnya orang-orang berfoto di sosial media dengan menunjukkan (harta) apa yang mereka punya.

Rasanya belum afdol kalo belum upload foto di dalam mobil pribadi dengan fashion terkini, belum sah bila tak update tentang ke salon, ke mall, liburan di pulau anu, makanan mahal di resto anu, on the way tempat wisata di anu atau foto dengan background graha megah, jua foto selfie pamer bibir dan behel jutaan, yang notabene semua itu bernilai prestisius dan hanya dapat dicapai dengan kelebihan materi.

Fenomena dan sindrom OKB ini jelas sekali telah berputar haluan dari rasa kepekaan sosial. Memunculkan berbagai masalah dan fenomena yang lain lagi. Tak mengapa jika memang mampu, yang akan jadi bahaya adalah yang mau tapi tak mampu. Karena bertampang seadanya maka marak foto editan yang sarat penipuan.

Di belahan bumi manapun, setiap orang butuh pengakuan dan penerimaan dari lingkungannya, pencurian identitas dan pencemaran nama baik bisa mudah saja terjadi. Semua itu agar manusia bisa mendapat tempat yang dirasa layak dan eksistensi di antara sesamanya.

Karenanya ada kutipan yang patut di ingat bersama:

2 HAL YANG PALING MEMBAHAYAKAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MANUSIA ADALAH ORANG KAYA YANG PUNYA RASA BANGGA BERLEBIHAN DAN ORANG MISKIN YANG MENYIMPAN RASA DENGKI YANG TAK TERTAHANKAN.

PERGESERAN NILAI-NILAI SENI DAN HIBURAN

Musik, tarian dan nyanyian dalam kerangkanya sebagai salah satu wujud seni dan media hiburan, adalah hal-hal yang kini tak lagi terpisahkan dalam keseharian kita. Berbagai jenis musik sudah akrab di telinga kita.

Tapi rasanya kita mesti membuka mata, bahwa musik dahulu bukanlah yang sekarang. Dulu jarang-jarang sekarang banyak goyang.

Nah, jadi beberapa waktu yang lalu ada acara musik di sebuah hajatan di daerah saya. Orkes dangdut organ tunggal seperti lazimnya acara hiburan penambah kemeriahan suasana.

Musik dimainkan dan lagu-lagu khas dangdut masa kini mulai dilantunkan. Menghibur dan rame tentu saja. Tapi sekian menit berlalu, mendadak suasana menjadi heboh tak terkira. Apa pasal?

Ternyata si penyanyi mendekati seorang penonton pria yang tengah duduk dan tiba-tiba duduk di atas pangkuan si pria, berhadapan sembari membuka lebar-lebar kakinya dengan goyangan yang semakin gila.

Sontak semua yang melihat termasuk anak-anak menjadi histeria tak terperi, tontonan hari itu sejenak membuat lupa diri.

Kegiatan di belakang panggung juga tak kalah gila, banyak orang yang mabuk miras dan teler pil koplo.

Peristiwa serupa juga (kabarnya) semakin marak terjadi di saat menjelang pemilu seperti sekarang ini. Dalam sebuah kampanye beberapa partai anu ditemukan hiburan musik dangdut yang menyajikan ‘tarian gila’ mengumbar aurat nan mengundang syahwat. Ironisnya, masyarakat melihatnya sebagai hiburan yang diamini, menyenangkan, memabukkan dan membuat orang-orang berbondong-bondong mendatangi. Tak terkecuali anak kecil. Sungguh tak elok pesta demokrasi dinodai hiburan yang tak pantas macam ini.

Saya jadi teringat ketika terjadi penolakan terhadap konser Lady Gaga beberapa waktu yang lalu. Banyak pihak yang melarang bahkan memboikot karena Lady Gaga dianggap merusak moral generasi muda karena penampilannya yang aneh nyleneh vulgar dan terbuka, bahkan dikabarkan ia pengikut kesesatan setan.

Tapi sekarang coba lihat! Hiburan-hiburan rakyat tak lebih terhormat dari Lady Gaga yang sempat kita hujat. Bahkan sampai masuk ke pelosok desa, artis-artis lokal sewaan dari grup musik panggilan berbagai acara hajatan tak sungkan berpakaian minim (bahkan ada yang tanpa celana dalam), menampilkan tarian erotik dengan bergaya seperti orang yang tengah melakukan hubungan layaknya suami istri.

Dan lagi, tayangan-tayangan TV juga tak mau kalah, acara joget-joget berjamaah adalah hal lumrah. Yang paling membuat saya sakit mata saat melihatnya adalah ketika joget sambil sedikit menunggingkan pantat. Dan semua itu sudah seperti sebuah candu yang melenakan.

Tulisan ini mungkin hanya buah tangan saya yang buta hasil pikiran yang mengganggu ketenangan jiwa. Mungkin ada yang menganggap saya sok pintar bicara soal moral, atau sok alim dan munafik. Tapi, jauh di kedalaman hati, saya hanya khawatir tentang anak-anak yang ‘terpaksa’ menyaksikan tontonan hiburan musik rakyat jelata semacam ini. Saya hanya seorang ibu yang mungkin naif memandang dunia di jaman edan ini.

Saya juga miris, musik dangdut yang sudah merakyat jadi memiliki cap negatif karena pergeseran nilai-nilai seni dan hiburan seperti ini menjadikan goyangan erotisme merajalela di mana-mana.

Astaghfirullahaladzim. .

Wallahualam.