OKTOBER BAPER (Edisi Kehilangan Mywapblog)

Galaulah kalian, galaulah kita, galaulah saya!!

Faktanya, di dunia ini ada banyak hal yang berada di luar kendali kekuasaan kita. Salah satunya adalah tentang masalah Mywapblog yang kita cintai ini, yang peredarannya akan segera hilang dari muka bumi ini. Padahal…..

Dulu, bahkan sekarang pun jikalau Mywapblog resmi ditutup, ngeblog tanpa perangkat komputer atau laptop itu adalah suatu hal yang sangat niscaya mustahil. Kerena itulah kehadiran Mywapblog di tengah banyaknya umat manusia dengan kemampuan dan fasilitas terbatas yang hendak menyalurkan hobi sharing dan menulis tetapi tak punya laptop, itu laksana sebuah oase di tengah gersang dan kejamnya gurun pasir terpanas di dunia. Bayangkan, kita semua dapat bebas berkarya dan mengelola blog lewat ponsel saja, hampir nyaris semudah kita update status galau dan alay di facebook!!!
Dan tentu saja, kita dapat juga bergaya, bangga, gak kalah dengan blog sebelah. Jiah!!

Tapi mungkin memang benar apa kata orang, kegembiraan yang agak "terlalu" indah dan penuh euforia emang gak akan tahan lama. Dan… this is it, so inilah akhirnya, kita berkabung, saya berduka sodara sodara!!! Atas berita akan ditutupnya mywapblog.

Terasa memang agak ganjil selama saya ngeblog di Mywapblog, tiga tahun pemirsa, bukan waktu singkat untuk sebuah kesabaran, yap! Selama itu saya terus bersabar dengan keterbatasan menulis lewat ponsel java yang harganya tak seberapa jika dibandingkan ponsel android terkini. Bersabar atas fasilitas ngeblog gratis yang servernya sering down hingga tak bisa diakses berhari-hari. Bersabar atas kwalitas lemotnya paket jaringan internet yang dibeli dengan harga rupiah termurah. Bersabar atas segalanya, bahkan saya bersabar ketika menkominfo, UC Browser dan provider kartu seluler yang saya pakai berkonspirasi memblokir banyak situs, termasuk Mywapblog, yang membuat saya tak lagi bisa maksimal dalam ngeblog ria. Kejaaaaaammm….

Maka, kalau kalian yang baru aja tempo hari bikin blog di sini, dan udah mau nangis darah saking bapernya karena Mywapblog mau ditutup, PANDANGLAH SAYA, LIHATLAH SAYA DAN USER-USER LAWAS LAINNYA yang udah sedia ampe lumutan menulis dan koar-koar di Mywapblog selama ini, dan kemudian menemukan fakta paling menyakitkan seperti ini. HOW COULD IT BEEEE??!!!!! Bayangkan betapa bapernya kita!!! Yang udah pernah jatuh bangun merasakan rumit, nyesek, ngenes dan juga senangnya ngeblog lewat hape. Baper sebaper-bapernya sayang!!

Dulu, harapan dan ekspektasi saya ketika pertama ngeblog adalah ingin mengabadikan kenangan dan membuat sejarah saya sendiri, kerena saya takut jikalau saya tua nanti saya akan semakin pelupa dan mulai tak bisa mengingat lagi moment-moment terbaik dalam hidup ini, karena itulah kelak blog inilah yang akan menjadi penyambung lidah atas kisah yang tak pernah bisa saya sampaikan secara lisan, blog inilah yang akan jadi kotak pandora berharga tempat saya menyimpan semua cerita. Lebih dari itu, blog ini adalah bukan sekadar karya tulis saja, blog ini adalah kumpulan KEKAYAAN INTELEKTUAL saya yang tak ternilai harganya!!

Ok, mungkin memang agak berlebihan, tapi memang seperti itulah saya menganggapnya.

Barangkali memang seperti inilah kehidupan, kita tetap harus bertahan. Seperti halnya dulu kejayaan Friendster yang digantikan Facebook, Multyply yang punya begitu banyak user pun akhirnya juga tutup yang membuat anggotanya juga kocar kacir entah kemana, situs Ngerumpi dot com yang punya motto ngerumpi tapi pake hati juga akhirnya tiada lagi. Seperti itu…. datang, hilang, pergi, hanyalah bagian kecil dari kehidupan, dan jikalau karena itu saya merana, baper, menangis dan insomnia lalu menulis keluh kesah penuh luka ini, maka itu juga hanyalah sebagian kecil saja dari masih banyaknya luka dan guncangan masalah yang akan menimpa dalam hidup ini.
Harusnya tidak apa-apa, harusnya kita bisa, harusnya…. Tapi…..

Mywapblog….
Banyak hal yang tak dapat saya relakan dalam kehidupan, dan kau kini menjadi salah satu di antaranya.
Hikz…..

Advertisements

MISTERI DAN RAHASIA HATI (Review Buku Sepotong Hati yang Baru Karya Tere Liye)

sepotong-hati2.jpg
(pic: sitimariiyam.wordpress.com)

Lagi, kali ini saya dibuat kepincut abis oleh kisah2 apik karya Tere Liye (bangga banget Indonesia punya penulis handal seperti beliau). Buku ini berisi 8 cerita pendek yang di setiap kisahnya memiliki berragam konflik, tokoh dan latar yang berbeda. Menuturkan dengan puitis dan menyentuh perihal urusan hati anak manusia ketika berhadapan dengan biang keanehan dan sumber kegilaan hidup yang selama ini kita sebut cinta.

Ya, Tere Liye memang amat piawai dalam hal mengaduk2 emosi pembaca. Menyinggung perkara cinta langsung menohok pada porosnya. Bagaimana tentang sepotong hati yang cuma satu2nya kita miliki mesti disakiti berkali2? Bagaimana bisa cinta yang demikian besarnya bisa tumbuh tanpa rasa percaya?

Makanya, siapa suruh ge’er? Saat kebenaran itu datang, maka bagai embun yang terkena cahaya matahari, debu disiram air, musnah sudah semua harapan2 palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?
(1. Hiks, kupikir itu sungguhan)

Di cerpen pertama ini berkisah tentang dua sahabat yang menyukai cowok yang sama, mereka terlena akan kebaikan dan keramahan cowok itu dan dilambung harapan yang mereka bangun sendiri, kege’eran sendiri. Sampai kemudian fakta menunjukkan semuanya. Membaca bab ini dijamin senyum sambil meringis sendiri, mengingat betapa konyolnya kita ketika sedang jatuh cinta dan berasumsi sendiri bahwa si doi pun punya rasa yang sama. Padahal tidak. Haha. . . Alamak jleb nampol!

Sayangnya, kebencian yang besar tidak cukup untuk melawan sesuatu.
(2. Kisah Cinta Sie Sie)

Kisah ke dua ini tentang seorang amoy, gadis muda usia 16 tahun keturunan Cina yang terjerat kehidupan sulit di pinggiran kota Singkawang, Pontianak. Sie Sie terpaksa menjadi ‘istri belian’ bersama seorang pemuda Taiwan yang amat buruk dan kasar perangainya. Di sinilah rasanya sulit dipercaya bahwa cinta bisa dengan hebatnya menguatkan hati seseorang dan lalu mengubah hati yang lainnya yang tadinya tidak suka menjadi cinta. Sie sie yang tetap tulus mencintai suaminya, yang walau sekian puluh tahun menyiksanya dan tak memperlakukan Sie Sie sebagai manusia, akhirnya bisa memenuhi janjinya di kala belia, ia bisa ‘memaksa’ menghadirkan rasa cinta itu dan mengubah perangai suaminya. Benar2 pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa.

Buat apa cinta jika kau tidak percaya padaku, buat apa sayang jika kau terus berprasangka yang bukan2.

Bukankah orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama termasuk definisi orang gila?

Kepercayaan adalah pondasi penting sebuah cinta.

Tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki2nya, runtuh menyakitkan.

Cinta yang besar, tanpa disertai komitmen dan kepercayaan maka dia hanya akan menelan diri sendiri.
(3. Percayakah Kau Padaku)

Ini yang sangat mengenaskan sekaligus paling inspiratif menurut saya, tentang seorang ayah yang bercerita pada pusara kuburan anaknya, kisah tentang legenda Rama dan Shinta yang mengilhami kisah cintanya pada mantan istrinya. Seperti halnya besarnya rasa cinta Rama dan Shinta yang diuji oleh kelemahan hati Rama yang sangat curiga dan tak percaya pada kesuciannya ketika dalam tawanan Rahwana. Maka cinta itupun tak berakhir bahagia. Terpisah dengan sangat tragisnya karena tak ada rasa percaya.

Seperti itu pula kisah hidup si ayah yang karena profesinya sebagai seorang pelaut yang harus pergi berbulan2, membuat istrinya tak percaya lagi pada kesetiaan suaminya (si ayah). Lalu meninggalkan suami dan anaknya yang sedang sakit, sampai kemudian si anak meninggal. Itulah tragedi terbesar dalam cinta yang lahir dari ketiadaan rasa percaya, pada akhirnya justru membinasakan buah cinta itu sendiri.

Itulah sedikit ulasan dan cuplikan kata dari beberapa cerita pendek (yang sebenarnya agak panjang) di buku Sepotong Hati yang Baru ini. Karena keterbatasan ruang tulis saya tak bisa mengulas semuanya. Pokoknya buku ini recomended lah. Tere Liye selalu sukses mengharu biru jiwa saya dan menumbuhkan pemahaman baru tentang arti kehidupan dan juga cinta.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kalimat di cerpen ke delapan yang berjudul sama dengan bukunya:

Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional/sesuatu yg tak masuk akal dan tak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat luka itu akan kembali menganga. Kau dgn mudah membenarkan apapun yg terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tsb. Tidak lebih, tidak kurang.

Nah, keep reading! ^_^v

KETIKA PERNIKAHAN TAK SEPERTI HARAPAN (Review Novel The Marriage Roller Coaster)

“Seriously, aku selalu berpendapat kalau kekecean istri adalah salah satu lambang kesuksesan pria. Penjelasannya sederhana saja. Seringkali kesuksesan seorang suami bisa dinilai dari harga tas, sepatu dan pakaian mahal. Dan jangan lupa, hanya pria sukses yang mampu membiayai perawatan tubuh istrinya agar kinclong selalu di klinik kecantikan yang sekali datang biayanya sama dengan harga BB entry level.
Sayangnya, kadang pria-pria ini justru nggak punya waktu melihat istri-istri mereka yang tampil semakin menawan karena terlalu sibuk mengejar uang dan kekuasaan. Mereka nggak bisa melihat hasil kesuksesan mereka sendiri. Ironis.
(bab 1: Shopping is the Best Aspirin)

Normalkah pernikahanku? Buat apa kita menikah kalau bertemu saja susah begini? Buat apa kita menikah kalau tetap merasa sendirian dan kesepian? Ah ternyata, pernikahan jauh sekali dari bayanganku sebelumnya.
(bab 2: Loneliness)

Rafa, i wish u could drink your words and realize how bitter they taste!
(bab 4: Perdebatan)

Itulah beberapa penggalan kalimat yang berasa ‘jleb’ banget di novel ini.

Jika ada pertanyaan mengenai pengorbanan dalam kehidupan pernikahan, maka saya dengan segala sindrom sensitifitas gender yang saya derita dan kecenderungan naluri keperempuanan saya yang amat sering terusik oleh otoritas lelaki akan menjawab; wanitalah yang paling banyak (dituntut) berkorban. Kenapa?

Hm. . . Jangan-jangan membahas ini membuat saya dikira feminis ekstrim yang membenci lembaga pernikahan. Gak gitu juga sebenarnya. Saya hanya melihat fakta, bahwa perempuan adalah satu-satunya makhluk yang paling legowo untuk hidup demi kepentingan orang lain, terutama ketika mereka menjadi seorang istri dan kemudian mengandung anak manusia dalam rahimnya. Perempuan juga cenderung lebih cepat menyesuaikan diri atas perubahan yang terjadi. Sementara lelaki dengan dominannya sifat egois menjadi relatif lebih agak kaget dalam menerima perubahan-perubahan dalam pernikahan, terlebih untuk hal-hal yang sedikit kurang sesuai dengan rencana semisal kehamilan yang terlalu cepat atau malah terlalu lambat terjadi dan perubahan emosional istri karena faktor hormonal. Beberapa malah ada yang tak bisa berubah, sama sekali.

mariage-roller-coaster.jpg
The Mariage Roller Coaster karya Nurilla Iryani
(pic: http://www.goodreads.com)

Ribet yah, sebenarnya mau nyari bacaan yang ringan dan menghibur, maka sayapun mencoba ke novel bergenre chicklit ini. Eh ternyata saya terjebak pada alur brutal roller coaster yang ternyata bernama pernikahan. Iya, kisah ini memang diceritakan dengan ringan dan santai, tapi ternyata menyimpan konflik yang rumit dan berat. Terlebih ketika saya yang membacanya telah berada belasan tahun dalam dunia pernikahan. So, saya tahu banget bagaimana rasanya diguncang-guncang duapuluhempat jam sehari dalam roller coaster itu, sampai kepayang dibuatnya. Hahaha. . .

Adalah Rafa dan Audi, pasangan muda mapan yang menikah dan hidup di kota. Menjalani kehidupan sebagai suami istri yang berkarier disamping juga berrumah tangga. Mereka nampaknya sempurna dan ideal untuk ukuran pasangan di dunia modern. Mandiri, tinggal di apartemen dan sepakat menunda kehamilan. Sampai karena beratnya tekanan pekerjaan membuat mereka mulai kurang komunikasi, puncaknya ketika karier Audi menanjak dan bertemu mantan kekasih di masa lalu yang menjadi kliennya, maka konflik dan pertengkaran dengan Rafa menjadi tak terhindarkan. Ditambah lagi ketika Audi hamil, kehamilan yang tidak direncanakan. Membuat Rafa dengan jahatnya mempertanyakan apa benar itu anaknya. Duh. . .

Sungguh terlalu, meski akhirnya Rafa meminta maaf atas sikapnya dan sangat bahagia atas kehamilan Audi, toh hal itu tak urung membuat Audi tetap harus menuruti kemauan suaminya. Ia berhenti bekerja dan mengorbankan karier yang selama ini amat dibanggakannya justru di saat ia baru mendapatkan promosi. Karena stres dan kelelahan Audi nyaris kehilangan bayinya ketika mengalami flek sepulang kerja.

Seakan2 semua yang ada dalam pernikahan hanyalah guncangan disaster saja. Seakan2 tak ada hal dalam kehidupan yang memenuhi harapan. Padahal sejatinya dalam hidup memang tak ada yg dapat memuaskan keinginan manusia karena hal-hal menyenangkan tak pernah terlepas dari apa2 yang tidak kita miliki. Yang jomblo kepengen punya pasangan, yang lama pacaran pada bosan pengen bubaran. Yang menikah kadang iri dengan yang lajang (saya bgt ni), yang di rumah mau kerja di luar. Yang udah diporsir kerjaan ingin vakum. Dan lain sebagainya.

Makanya ada pepatah: Pasangan sempurna nan ideal di dunia ini hanya ada dua, yang pertama belum dilahirkan, yang ke dua sudah mati.

Mestinya ikuti saja roller coaster kehidupan ini, duduk dan kencangkan gesper keselamatan, sesekali histeria tak mengapa, nikmati dan yang terpenting syukuri!!

Hm. . . Bisa??

SETITIK CAHAYA DI TENGAH KELAMNYA NUANSA KEBEBASAN DI TANAH RUSIA (Review Novel Bumi Cinta Karya Habiburrahman EL Shirazy)

Sebenarnya sempat bosan dan males sendiri dengan karya-karya Kang Abik yang sering bercerita tentang tokoh yang alim sempurna, gak neko-neko, taat dan pemberani. Sedikit terlalu idealis menurut saya di tengah tatanan duniawi yang amat rusak ini. Walau saya telah merampungkan beberapa novelnya dengan hampir selalu terkesima dan penuh lelehan airmata namun juga perlahan mencibir sendiri karenanya. Saya menyukai karya-karya kang Abik sekaligus kesal juga. Aneh ya, kok bisa?

Ada tokoh Fahri di Ayat-Ayat Cinta yang membuat saya gemes sendiri perihal hubungannya dengan dua wanita. Juga si Azzam di Ketika Cinta Bertasbih yang bukan main heroiknya karena mampu membiayai diri sendiri untuk menempuh pendidikan di luar negeri dan juga adik-adiknya yang terbilang sukses semua (justru membuat saya lebih cenderung pada Furqan yang mendapat ujian fitnah wanita dan ‘sedikit terjebak’ karenanya). Ada Pudarnya Pesona Cleopatra tentang ketulusan seorang istri yang menantikan cinta suaminya yang ternyata amat menggandrungi kecantikan eksotisme wanita negeri piramida. Juga Takbir Cinta Zahrana, tentang pentingnya menjaga kesucian diri dan impian sederhana dalam pencarian cinta sejati yang ternyata rumit di usia yang tak lagi muda.

Tokoh utama selalu digambarkan dengan karakter yang amat sangat baik-baik dan keimanan yang nyaris tanpa cela.

bumi-cinta.jpg
(pic: http://www.dakwatuna.com)

Tapi yang namanya hobi membaca, walau di Bumi Cinta kali inipun penulis tidak menawarkan hal baru, ada sesuatu yang mampu menarik minat saya untuk mencerna tiap katanya. Novel-novel Kang Abik selalu mampu jadi semacam oase di tengah gerah hedonisme dunia sastra modern yang digempur oleh karya-karya yang mengusung vulgarisme dan dominasi roman erotisme. Pun beliau tak segan menukilkan beberapa ayat Al Qur’an yang sekiranya sesuai dengan kondisi terkini dan situasi cerita. Jadi seolah membaca buku pelajaran agama ketika sekolah dulu namun tanpa bosan atau mengantuk sama sekali. Suatu nilai plus yang mungkin sulit saya temui di novel beraliran religius lainnya.

Yang terasa berbeda dalam Bumi Cinta ini adalah pemilihan setting lokasi di sebuah negara penganut free sex dan pengakses situs porno terbesar di dunia, Rusia. Ya, sebuah negara yang tersohor dengan cantik wanitanya yang amat menguji keimanan. Ini jelas sangat berbeda dengan eksotisme seribu piramida Mesir, jazirah Arabia atau ketentraman Indonesia yang cukup kondusif untuk mukim seorang muslim.

Adalah Muhammad Ayyas seorang mahasiswa Indonesia yang hendak menyelesaikan penelitian tesisnya untuk mempelajari Sejarah agama Islam di Rusia di era penjajahan komunis Stalin yang terkenal amat kejam, diktator dan tak berperikemanusiaan. Mengetahui kelamnya sejarah Rusia (dulu Uni Soviet) yang berkubang darah dan jeritan dari orang-orang tak bersalah yang dibantai selama perang dunia II mampu membuat saya merinding ngeri. Kebebasan yang amat sangat diagungkan di kota Moskwa justru dapat menjerat para penganutnya sendiri. Tidak beragama dan tak mengakui keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang banyak dianut sebagian orang. Orang-orang bebas saja mau menuhankan apa atau siapa. Menuhankan materi, cinta, kebebasan, pengetahuan ataupun bertuhankan kecanggihan teknologi. Semua sah! Ternyata kemajuan negara Rusia sedikit dinodai oleh kemerosotan moral penduduknya.

Selama di Rusia Ayyas benar-benar dihadapkan dengan berbagai masalah. Mulai dari teman seapartemen yang ternyata adalah dua perempuan yang bebas saja membawa teman prianya dan lalu dapat dengan mudahnya ML di sofa ruang tamu. Berurusan dengan sadisme mafia Rusia. Tak ramahnya sopir taksi yang kerap menipu para pendatang dari Asia. Sampai godaan kerlingan mata nonik2 muda Gadis Rusia yang tak pelit berbagi daging paha dan belahan dada miliknya (tentu saja, bukan paha atau dada ayam).

Kecerdasan Ayyas juga diuji ketika profesor ahli sejarah yang akan menjadi pembimbingnya ada urusan penting sehingga terpaksa di gantikan oleh asistennya yang ternyata seorang Doktor wanita muda yang amat jelita. Ayyas sendiri menggambarkannya sebagai perpaduan pesona Tsarina Rusia dan wibawa kaisar Roma.

Duhai, Allah yang Maha membolak balik hati manusia. Mampukah Ayyas bertahan? Ketika menemukan fakta bahwa dua teman sekamarnya ternyata seorang Atheis yang berprofesi sebagai pelacur papan atas Rusia dan seorang agen rahasia Israel yang hendak menjebaknya dalam konspirasi terorisme dan teror bom yang ditujukan agar dunia membenci orang2 Islam. Semakin membenci Islam. Dan mampukah juga kita mempertahankan nilai2 iman yang setiap hari tanpa disadari kita lemahkan sendiri?

Semoga cahaya itu selalu menerangi kehidupan kita.

Sebuah kisah yang benar-benar membangun jiwa (sesuai tulisan covernya) dan penuh hikmah. Jua layak direnungkan. Jempol buat kang Abik untuk Bumi Cintanya.

MENGULAS NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA KARYA TERE LIYE

“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli.” (Al Waqi’ah: 22)

“Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita.” (Ar Rahman: 70)

Akhir-akhir ini alur kehidupan sedang berjalan kurang menyenangkan dan kurang memenuhi lumbung harapan. Hati pun dipenuhi mood jelek dan emosi negatif yang senantiasa mengancam produktifitas hidup. Belum lagi cuaca super panas sebulan terakhir ini. Pasca hujan lebat dan sedikit banjir di Januari lalu, hujan tak pernah benar-benar menyentuh tanah ini lagi. Sawah-samah mulai mengering padahal baru saja mulai musim tanam. Pun setali tiga uang dengan kebijakan para abdi negara yang nampaknya akan membuat kita lebih sering mengurut dada, menempa selaksa kesabaran hingga level paling mutakhir. Agar kepala tetap pada tempatnya meski harga BBM, tarif angkutan umum, kereta api, listrik, sembako sampai terasi busuk naik (sering juga turun naik, maju mundur cantik. . Gak cantik kalo gini mah !) gila-gilaan tak kenal kompromi.

Kalau sudah begini, saya bisa jadi uring-uringan sepanjang sore. Mau nyampah, sadar sudah gak punya akun FB lagi (syukurlah). Tapi beruntung ada novel bagus rekomendasi adik saya. Tentu saja bukan dalam bentuk buku fisik yang tebal, berat dan juga mahal itu, melainkan ebook berjenis pdf saja.

bidadari2-surga.jpg

Novel BBS karya Tere Liye ini benar-benar menggugah jiwa, inspiratif dan penuh hikmah. Bahkan ternyata sudah sukses difilmkan, yang saya baru tahu sekarang (saya sering dibuat kecewa oleh film yang diadaptasi dari buku, sering sangat berbeda dari buku aslinya). Karena saya seorang “enjoyed reader” yang lebih bisa menghayati bacaan ketimbang tontonan.

BBS menceritakan tentang kisah anak manusia di Gunung Kendeng, tepatnya di sebuah tempat indah nan asri Lembah Lahambay (di daerah Sumatera, mungkin). Adalah Laisa dan empat adiknya Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta yang berjuang dalam keterbatasan dan jeratan kemiskinan yang mengisolir kehidupan penduduk kampung. Betapa Tere Liye dengan apik menyampaikan kehidupan sederhana itu menjadi konflik yang luar biasa. Rumit tak terperi namun dapat dipahami.

5 anak yatim yang ditinggal mati bapaknya karena diterkam harimau gunung itu berusaha keras untuk tetap melanjutkan hidup tanpa ayah. Laisa, si sulung yang tak normal tubuhnya rela mengorbankan masa kanak-kanaknya dan membantu sang ibu di ladang agar ke 4 adiknya tetap bisa sekolah dan ‘jadi orang’, mencapai cita-cita, melihat dunia, tidak berakhir hanya menjadi penduduk lembah yang mencari kumbang, menyadap damar atau berladang sepanjang tahun berkutat dengan kemiskinan.

Benar-benar sebuah cerita yang membuat saya merasa hina jika dibandingkan dengan ketegaran dan keteguhan Laisa. Membuat keluhan-keluhan saya tadi tak ada apa-apanya. Laisa yang berkulit hitam legam karena sering terbakar matahari di ladang, yang tubuhnya pendek, berwajah jelek, namun berhati bidadari. Mengerjakan apa saja, bangun pukul 3 dini hari membantu sang ibu, memasak gula aren, mengantar adik-adiknya sekolah, lalu ke ladang dan malamnya mengerjakan anyaman. Sampai pada mimpi manis perkebunan Stroberi yang jadi kenyataan ketika rombongan mahasiswa KKN memberikan penyuluhan dan perubahan. Dan Laisa lah yang jadi pelopor gerakan perubahan di lembah itu.

Maka sukseslah si jenius Dalimunte (yang semasa kecil telah mampu membuat kincir air untuk mengairi sawah-sawah penduduk lembah) menjadi profesor ahli fisika dengan penelitian tentang Peristiwa Bulan Terbelah oleh Rasulullah dan Badai Gelombang Elektromagnetik Menjelang Kiamat. Juga menghantarkan Ikanuri dan Wibisana menjadi spesialis sparepart mobil balap yang mendunia, dan Yashinta yg menjadi aktivis pencinta lingkungan di bidang konservasi satwa langka, penakluk 27 gunung di seluruh dunia.

Laisa dan ke empat adiknya adalah kepahitan-kepahitan masa lalu yang berbuah manis. Semanis warna merah perkebunan Stroberi puluhan hektar milik Laisa. Pengorbanan dan ketegarannya sepanjang hidup hingga akhir hayatnya demi ibu dan adik-adik yang dikasihinya sungguh luar biasa. Laisa adalah sosok yang dapat mengerti hidup dan cinta pada pengertian yang paling hakiki (meski ia tak menikah sampai akhir hidupnya). Ia mencintai dan menerima kehidupannya dengan amat baik, pengorbanan-pengorbanan yang ia lakukan demi adik-adiknya adalah perwujudan cinta yg mampu memberdayakan dan mengubah kehidupan. Maka tak berlebihan jika penulis, Tere Liye menuliskan dengan sangat menakjubkan tentang “mimpi sejuta kunang2, cahaya yang mampu menerangi kegelapan lembah, jutaan warna pelangi dan seperti ribuan kupu-kupu bersayap kaca.”

Membuat saya harus lebih mensyukuri hidup ini dan menikmati matahari.

Sungguh, satu lagi karya Tere Liye yang amat sayang jika dilewatkan!

KENGERIAN TRAUMATIK MASA LALU YANG MEMBENTUK DAN MENGUBAH SESEORANG (Review Buku “Menyingkap Karen”)

This is what that i called live!

Inilah apa yang saya sebut hidup. Menikmati hobi dan sedikit me time di tengah rutinitas harian saya sebagai ibu rumah tangga. Beberapa waktu lalu saya dibelikan (lagi) oleh suami sebuah ponsel berbasis android yang kali ini lumayan canggih dibanding gadget abal-abal yang dulu pernah kami miliki hanya untuk menyenangkan anak-anak bermain game online.

Bisa dibayangkan seperti apa rasa “pride and prestise”nya di jemari saya yang terbiasa menjamah ponsel java sederhana yang fitur hebatnya hanya karena ada kamera bermegapixel skala dua di belakang layarnya dan jaringan internet berbasis Edge yang loadingnya cukup menguji kesabaran jiwa. Ckckck. . .

Saya bersyukur, karena saya dapat menggunakan si android ini sebagai mana mestinya. Paling tidak, saya merasa sedikit lebih cerdas dan tidak gaptek-gaptek amat ketika ponsel pintar itu bisa saya gunakan untuk menyalurkan hobi membaca novel kronis yang saya derita (yang sukses membuat saya sekarang berkacamata berlensa super tebal karenanya). Yah, walau untuk menulis saya tetap mengandalkan si jadul Java, sebab masih agak gemetaran dengan sensitifitas tombol layar jilatnya. Hahay. . .

Saya mulai memburu ebook yang bertebaran di internet dan mengunduh aplikasi readernya yang paling mumpuni. Sukses, sayapun menemukan sebuah ebook yang cukup menggugah di blog seorang sahabat MWB, DI SINI.

karen.jpg

Ebook yang berjudul Menyingkap Karen ini mengisahkan tentang seorang Psikiater bernama Richard Baer__sekaligus penulis buku ini__ yang menangani seorang pasien depresi bernama Karen, seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak.

Karen mengeluhkan berbagai tekanan dan rasa sakit fisiknya pasca melahirkan anak ke duanya melalui operasi cesar. Jadwal konseling, pertemuan dan kegiatan konsultasipun dimulai dengan Dr. Baer. Fakta-fakta penyebab dan pemicu depresi juga keinginan yang begitu besar untuk melakukan bunuh diri dan melukai diri Karen pun mulai terkuak perlahan-lahan. Membuka lembar demi lembar sketsa hitam di sepanjang kehidupan Karen dan trauma emosional masa lalu yang ternyata sangat menyakiti diri, jiwa dan mentalnya melebihi yang dapat manusia bayangkan sebelumnya. Penuh luka menganga yang menyeret inti sari kehidupan manusia dari koridor seharusnya. Bahkan seorang psikiater handal (yang amat mengedepankan profesionalitas dan kredibilitas) seperti Dr. Baer pun seakan ikut larut, tersesat dan merasakan ketakutan yang sama besarnya seperti yang dirasakan Karen dan kecenderungannya untuk bunuh diri yang sangat parah itu.

Selama 18 tahun pengobatan Karen, banyak fakta mencengangkan yang akhirnya terungkap. Melalui terapi hipnotis, akhirnya Dr. Baer menemukan kepastian diagnosis kondisi Karen yang selama ini telah dicurigainya. Terbukti, Karen mengalami gangguan kejiwaan kepribadian ganda, tidak tanggung-tanggung ada 17 macam alter ego yang berada dalam tubuhnya dan mengendalikan kehidupan Karen sepenuhnya selama 30 tahun lebih.

Ke 17 sosok ini secara sistematis menangani berbagai peristiwa hidup Karen sehari-hari. Membuatnya sering merasa menjadi orang yang paling gila, kehilangan waktu dan tak dapat mengingat apa yang telah ia lakukan beberapa saat sebelumnya (bahkan Karen merasa tidak pernah berhubungan fisik dengan suaminya).

Sungguh sangat mengerikan menyaksikan bagaimana Karen bisa memiliki kepribadian ganda itu. Setiap peristiwa, waktu dan tempat kejadian digambarkan secara detail, teratur dan jelas. Membuat saya yang membacanya tak ayal merasakan gelitik ngeri di bagian tubuh saya sendiri karena Karen semasa kecilnya adalah korban child abuse paling brutal yang saya ketahui pernah ada dilakukan oleh manusia; orang-orang terdekat Karen yang mestinya menyayangi dan melindunginya.

Karen telah dijadikan objek kekerasan seksual oleh Kakek dan ayahnya sendiri. Saya sedih dan marah ketika di usia 7 tahun ia (maaf) dilecehkan, diperkosa, dilukai, ditusuk dan diiris organ vitalnya. Dan dengan cara paling biadab yang pernah ada di usia 11 tahun ia mulai dijual ayahnya pada rekan-rekan kerjanya dan diharuskan melayani mereka. Ibunya tidak peduli dan tak pernah membelanya. Sampai ia dewasa dan menikah, sang suami pun tidak memperlakukannya dengan baik.

Membuat saya bertanya hal yang sama yang ada dalam pikiran Dr. Baer: apakah hal semacam itu memang benar terjadi dan bagaimana mungkin manusia dapat menghadapinya ?

Dan ternyata, 17 kepribadian dengan latar dan karakter berbeda itulah yang menjadi mekanisme pertahanan diri seorang Karen, ia mengalami kesulitan akut dalam mempercayai orang lain. Karenanya perlu waktu bertahun-tahun sampai akhirnya ia mengungkapkan traumanya pada Dr. Baer.

Fiuh. . .

Most recomended !! #ngelapingus
#jemurbantal

IMPIAN CINDERELLA

“Cinderella telah menghancurkan hati banyak wanita di dunia, karena telah memberikan harapan tanpa dasar.”
(Drama Korea When a Man Fall in Love)

Menikmati novel-novel roman (saya sudah suka sekali sejak jaman saya remaja dulu) seperti Harlequin dengan penulis-penulis romantis tenar semisal Nora Roberts dan Sandra Brown. Maka kita akan menemukan satu pola dan tipe cerita yang hampir nyaris sama.

Novel-novel roman seringkali menyimpan harapan dan idealisme terpendam dalam hati seorang wanita sejak jaman baheula. Saya menyebutnya tipe cerita “IMPIAN CINDERELLA”.

Novel roman juga sering didominasi oleh penokohan tentang karakter seorang wanita biasa dengan lawan main seorang pria sempurna yang punya segalanya. Sebutlah contoh kisah A Romantic Story about Serena karya Shanty Agatha, penulis dalam negeri yang cukup populer di jagat internet juga telah memilih genre romansa yang selalu berakhir bahagia.

Sampai-sampai saya iseng menulis status:

“Tipikal buku-buku roman; wanita polos, mandiri dan sederhana VS pria superior, arogan, playboy dan punya segalanya.

Masih semacam mimpi Cinderella di era gombalisasi, dan itu dalam dunia nyata hanya terasa sebagai ironi dan jarang terjadi.”

Lalu saya tersadar oleh sebuah komentar yang ditulis adik saya:

“Itu sebabnya orang-orang membuat cerita, novel, film dsb, itu semua perwujudan asa yang sulit/bahkan mustahil direalisasi.

Anything may happen in the movie and book, those are the fairy tales that every one wish happened.”

Hmm. . . Itu benar, sakit memang. Sesakit mata saya saat nonton sebuah film India Chori Chori Chupke Chupke tentang seorang istri yg tak bisa hamil dan menyewa seorang pelacur cantik untuk mengandung benih suaminya. Pelacur itu diperankan apik oleh Preity Zinta, dalam salah satu adegannya ada kata-kata seperti ini:

“Dulu sewaktu kecil, aku sering berharap tentang seorang pangeran yang akan datang melamarku dengan kuda putih. Tapi ternyata setelah aku dewasa justru bertemu dengan pria-pria hidung belang bermobil putih. Mereka hanya menginginkan tubuhku.”

Tragis ya. . .

Itulah mengapa cerita-cerita dengan impian Cinderella yang berakhir bahagia selamanya selalu populer dan tak pernah lekang sepanjang masa. Karena dunia fana ini hampir tak pernah ramah (kalau tak bisa dikatakan kejam) pada kaum hawa. Wanita selalu jadi santapan empuk nan lezat oleh ketidakadilan dan diskriminasi keadaan.

Dan, cerita roman menjadi semacam penyembuh luka dari hati wanita yang pernah merasakan kepahitan cinta dan kengerian realita.

Ada sebuah lagu yang sangat relevan dengan “Impian Cinderella” ini, lagu yang kalo saya boleh bilang GUEH BANGET karena sudah jadi semacam original soundtracknya kisah cinta saya dan suami (ciyew. . .)

HANYA

oleh Melly Goslaw

Hanya dengan sedikit malu.
Akhirnya aku harus akui.
Keberadaan cintamu dalam hatiku Yang kau renangi
Rasa resah singgah bila terjadi perang Emosi kau dan aku

Reff:

Jangan pernah menyanjung cinta Bila tak mengerti maknanya cinta
Satu terindah dalam dirimu Kini ada di jiwaku.

Ku inginkan cerita cinta Terindah bagaikan dalam dongeng.
Percintaan berhujankan rindu, asmara kita akankah lama?

Dalam hati ku terhibur Bila senyum mahalmu merebak.
Rasa resah singgah bila terjadi perang Emosi kau dan aku.

Kurang lebih begitulah pemirsa. Dunia memang tak selalu baik hati pada perempuan, karenanya harapan-harapan Cinderella masih harus kita simpan sepanjang perjalanan.

Sebagai penyemangat, sebagai pengobat dan sebagai penjaga prasangka baik bahwa harapan-harapan positif akan membuat kita baik-baik saja. Meski tak selalu ada akhir bahagia, tapi yakinlah Tuhan selalu membuat kita bisa menikmati setiap cerita dan juga realita.