HILANGNYA DUNIA ANAK-ANAK

Beberapa waktu ini saya lagi bosan-pake-banget-tingkat-dewa-pula terhadap semua jenis tayangan televisi. Gerah aja liat sinema elektronik yang para aktor dan aktrisnya ganteng dan cantik tapi terkotak-kotak dengan alur, gaya, versi dan tema cerita yang itu-itu saja.

Capek pula lihat menjamurnya ajang-ajang adu bakat yang bertujuan memuluskan jalan jadi tenar.

Males juga nonton kartun anak yang mengasyikkan tapi terus menerus diulang-ulang-ulang melulu tanpa ada episode baru.

Kesal juga kalo ada tayangan film yang baru perdana tampil di layar kaca, pasti jeda iklannya Nauzubilah. . . Puanjang dan buanyak banget, ampek capek nungguin acaranya yang ditayangin cuma sekian menit.

Dan mati gaya saya lihat infotainment yang tayang lebih dari tiga kali sehari yang pada latah berlomba-lomba menyiarkan berita yang serupa.

Hufth. . .

anak2.jpg

Maka kemarin itu saya sempat beli kaset DVD, yang bajakan tentu saja, kisaran lima atawa enam ribu perak. Secara, tahu lah ya betapa sulitnya mendapatkan kaset asli di sini. Kalau pun ada harganya pasti mahal sekali, apalagi kaset yang saya beli itu isinya lagu-lagu anak jaman dulu ketika saya masih bocah ingusan yang kadang ileran dan panangisan (cengeng).

Alhasil, setiap hari, berjam-jam, anak bungsu saya yang belum genap 3 tahun itu selalu nonton lagu-lagu anak yang ada di kaset tersebut.
Dan saya jadi seperti tersadar kalo dulu ada lagu-lagu anak yang hits semacam itu.

Naik Becak, Kereta Api, Balonku, Sayang Semuanya, 1 tambah 1, Kasih Ibu, Kukuruyuk, Sayonara, Dua Mata Saya, Cicak Di Dinding dan masih banyak lagi hanyalah sebagian dari judul lagu anak yang dahulu kala masih eksis dinyanyikan para artis cilik yang kala itu masih sesuai dengan ‘kodrat’nya.

Sekarang, paling-paling anak-anak hanya mengenalnya di sekolah TK, antara usia 3-6 tahun.

Selebihnya, lepas dari TK anak-anak akan sibuk histeria dengan musik yang jejingkrakan dan berjumpalitan kesana kemari.

Atau merasa senang dan bangga dengan ritual-ritual dance yang atraktif dan enerjik. Dan yang masih cadel saja berbondong-bondong lenggak-lenggok di atas catwalk.

Tak apa sih sebenarnya, mungkin ini hanya perasaan saya yang tak bisa menerima perubahan zaman. Itukan memang bakat, bidang dan keinginan mereka.
Tapi entah mengapa saya selalu merasa kalau sepak terjang anak-anak sekarang tidak lagi sesuai dengan porsinya. Sepertinya mereka ramai-ramai menduplikat gaya orang dewasa, bersama-sama menjadi semacam miniatur dari style bernafas sekuleritas yang amat lekat dengan para senior mereka.

Di era cyber nan modern ini sepertinya anak-anak tidak lagi cemas memikirkan tentang nilai sekolah atau bisakah naik kelas tahun ini. Sebab sekolah, pendidikan dan ilmu adalah sudah tidak lagi perlu mereka datangi. Justru sekolah yang bisa datang ke rumah, atau bahkan diboyong ke tempat syuting sekalipun.

Mereka lebih memilih memikirkan gaya berpakaian, gebetan, atau gadget apa yang terbaru bulan ini.

Karena apa yang anak-anak lihat, maka itulah yang mereka ingat, mereka tiru dan duplikat, lalu pelan tapi pasti jadi melekat.

Dan ironisnya, media massa amat sangat mendukung itu semua, mengamini segala bentuk pendewasaan dini terhadap anak-anak. Mereka diarahkan, dicetak dan-mungkin telah- dieksploitasi demi kepentingan dunia hiburan yang bagi saya pribadi amat sangat tidak menghibur sama sekali.

Kalau dahulu anak-anak mudah menyanyikan lagu Abang Tukang Bakso, maka sekarang mereka lebih familiar dengan Bang Toyib. Kalau kemarin-kemarin masih pada koar-koar dengan Balonku Ada Lima, kini malah lebih hafal dan fasih dengan lirik Pacar Lima Langkah.

Setali tiga uang dengan penyanyi anak-anak atau remaja muda, tema lagunya juga sudah berputar haluan penuh nuansa pubertas dan tentang sensualitas (pacar-pacaran, tukeran nomer atau pin dan lain sebagainya.)

Belum lagi gaya pakaiannya, masih balita dikasih kemben, rok ketat ekstra mini, tanktop sampai ikutan latah bergaya penuh onderdil ala K Pop. Dulu banyak artis cilik yang centil-centil, tapi rasa-rasanya centilnya tidak ‘kelebihan dosis’ kayak sekarang.

Saya ingin anak-anak punya dunia mereka lagi, tempat yang pantas buat mereka jalani, kalau jadi artis atau berkecimpung di dunia hiburan, jadilah yang benar-benar khasnya anak-anak, ceria dengan aktivitas sekolah dan bermain. Bukannya malah heboh dengan foto ciuman padahal masih di bawah umur dan bau kencur.

Agar anak -anak yang setia berada di depan televisi bisa mendapatkan esensi yang benar tentang indahnya dunia mereka saat ini. Agar tak jadi penduplikat segala bentuk kedewasaan yang kadar kepantasannya masih diragukan.

Hmm. . . Entahlah, mungkin ini hanya perasaan sentimen dan udik dari seorang ibu seperti saya.

Gambar: blogricho.blogdetik.com

30 thoughts on “HILANGNYA DUNIA ANAK-ANAK

  1. Assalamualaikum wr wb.

    Kenapa tayangan yg benar2 bagus untuk anak jarang? Karena dianggap tidak laku untuk menghasilkan untung banyak bagi kapitalis yg punya saham di sebuah stasiun televisi.

    Yg penting tetap dampingi anak dalam melakukan apapun sampai ia bisa membedakan mana yg baik & salah tuk di tiru. Disinilah keuntungan seorang IRT, karena bisa setiap saat mendampingi anak2 kecilnya.

    (keluar lg dech sok taunya!sory ya!)

    Like

  2. sepertinya kita sehati bu..
    sudah lama ulun merasakan seperti ibu rasakan, tapi ulun bukan penulis, terpaksa ulun pendam dalam hati saja πŸ™‚

    Like

  3. skrng yg di cri srba cpat.artis karbitan cepet tenar.dapt bnyk duit.g malu kalo hasil poling sms.bkn murni prstasi.

    Like

  4. ya kalau di pikir2 memang sangat ironis juga, anak2 jaman sekarang yang dinyanyikan lagu2 orang dewasa. Bukan itu saja sbg contoh dul jaelani, anak usia 13th sudah pacaran, bwa mobil sendiri, dulu anak2 jamanku gak ada yg seperti itu.

    Like

  5. hm,. Benar sekali memang. Yah, inilah realita kehidupan. Cukup berbekal TV dan Internet, moral bocah bisa dengan mudah dilenyapkan. Banyak sekali program/acara di TV yang gak pada bener. kalu lihat tayangan TV isinya kok buat 0rang dewasa, mulai dari sinetron cinta, dan apalah, pokoknya banyak banget. Dan pualing ndak suka, kalu ada film anak yang jadwalkan tayang jam stengah 6 sore – stengah 7 malem atau lebih. Al-hasil, TV yang seharusnya dimatikan waktu maghrib, malah dikerumuni bocah2 cilik, yang seharusnya pada ngaji…

    Like

  6. @Dont Touch Me,

    iya tuh, brusan nabrak org mati 6. Heboh dah tu satu negara. Bocah masih 'menyusu' dikasih mobil. Heran, apa krn punya sgalax dan terkenal bs seenakx, jumawa dan sombongx gak tanggung2. Saban muncul di tipi pasti pamer apa yg mrk punya.

    Dan skrg, setelah 6 org mati sia2 gara2 anak2 13 tahun nekat pakai mobil, apa kata ortux? Apa kata dunia?

    Like

  7. @eanreana,

    wa alaikum salam.
    Iya memang, makanya kdg jadi kesal sendiri bl di jam2 utama sinetron melulu yg ditayangin. Maka jdlah nyari2 kaset apa aja yg sekiranya pantas untuk tontonan usia bocah.

    Like

  8. Capek jg ya dg kemajuan jaman..
    Mau mengikuti kok gak sesui dg hati nurani,,mau pertahankan kekolotan meniru pendidikan ortu kita ,anak jd menjauh,
    Yg efektif kayaknya beri contoh konkrit aja ya..
    Disaat anak sedang blajar,tv jangan dihidupkan.dan jangan rebutan tv sama anak..mending kita yg ngalah,,
    Dan peralatan tehnologi saya lbh suka beli yg bisa dipakai seluruh kelga,supaya kita bisa sambil memantau..
    Pokoknya komunikasi..
    Meski saya kerja pagi sampai sore,kadang mlm,,tapi tiap pulang meski capek jika anak menyongsong dg curhatan ya mesti kita dengarkan…
    Alhamdulillah mb,,anak saya cewek sudah lumayan mandiri dan bertanggung jwb pada sekolahnya,ibadahnya,,,dan lumayan berprestasi,,slalu ranking 1,jg fasih baca Alquran.

    Like

  9. kunjungan pagi kawan semoga sukses
    selalu..kalau tidak keberatan mampir ya ikut
    nyimak aja ngak apa2

    Like

  10. :):):):):):):):):):):):):):):):):):):):):)
    Anak2 sekarang lebih hafal dan suka menyannyikan lagunya cerry bele daripada lagu anak anak tersebut ya mbak.,mmakasih.:):):):):):): .ditunggu kunjungan baliknya di blog aku yaa

    serpihanfb.mywapblog.com/faedah-doa-nurbuwat.xhtml

    Like

  11. Jadi bingung dg kemajuan jaman sekarang bun,
    Film ank" di televisi aj gayanya pd begitu banget,
    udh kostumnya pakaian gaya" dewasa, alur ceritanya macam ank sma, pdhl masi berseragam merah putih, tapi pada pacaran,berantem,oalah…. Televisi mlh jadi nyekokin ank" sekarang utk ber abg ria sblm wktunya…
    Paling kuesel mytha bun, lw liat tv ceritanya yg begitu"…

    Like

  12. Hadir berkunjung
    bersiap-siaplah untuk menghadapi era cyber modern karna kita sebagai orang tua harus selalu waspada dan memberikan tauladan yg baik untuk anak2 kita kelak..

    Like

  13. Hadir berkunjung
    bersiap-siaplah untuk menghadapi era cyber modern karna kita sebagai orang tua harus selalu waspada dan memberikan tauladan yg baik untuk anak2 kita kelak..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s