DI SEBUAH GANG bagian 3

Diadulah ayam2 malang tersebut, makhluk bertaji itu berkoar2, berkokok2 berusaha membinasakan lawannya. Terkurung dalam lingkaran kandang bambu seadanya ayam2 tersebut saling patuk, menginjak, memagut, berdarah2 berputar2.

Sementara para penonton lupa lupa segalanya. Ujang dgn semangat perang revolusi kemerdekaan meneriaki Agaw yang lagi tempur sampai titik darah eh. . .sampai rontok bulu penghabisan.
Makanya diwarung acil Irah kerap berseloroh; “Siapa yang sangat disayangi tapi disakiti?”
Jawabannya ya ayam aduan, yang dimandikan, di elus2, ditimang2 dipantun2kan, dipuja puji pula. Tapi di adu, bagus kalo luka parah langsung mampus. Lah biasanya sakaratul dgn nafas tipus tipus. . .

Intinya, setelah berjuang sampai rontok bulu terakhir, agaw menang lagi. Bukan buatan hepinya (baca:gilanya) Ujang malam itu. 50 juta sukses masuk sarung keramatnya.
11 juta buat bayar utang ke bosnya, dana perawatan dan pakan ayam plus terapi magis non medis kira2 20 juta. Sisanya buat mejeng ke HBI (diskotik lokal di kota) dgn konco2nya. Dan buat istrinya yang bakal ‘bamamay’
“Duit haram. . .duit haram. . .!”

Dengan sarung tergulung habis hingga menampakkan celana kolor ijo seragam futsal miliknya, Ujang pulang menenteng Agaw yang gak karu2an; hidup segan matipun enggan.

*

Pagi masih seperti biasa, hanya sedikit lebih ramai di warung acil Irah, membicarakan tanding ayam tadi malam.
Inilah salah satu kebiasaan di gang, senang berpanjang2 cerita tentang apa yang sudah ditonton, dilihat dan diketahui bersama.
Bahkan lebih ramai daripada cerita seusai nonton tanding Manchester United sama Liverpool.

Di tengah keramaian pagi tiba2 ada seorang wanita kira2 usia 40 an tapi nampak baru jelang 25. Gayanya modis abis, enerjik, trendy dan kota banget deh lagunya. Tampaknya baru turun dari sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang diparkir di depan gang. Dgn antusias dan bernafsu nyonya ini bertanya di warung acil Irah.

“Maaf bu lah, rumahx Odah di mana ya?”
Tanyanya dgn gaya orang kota yang di Indonesiakan. Maklum, pengaruh budaya sekuler liberalisme.

Sebelum menjawab acil Iraah menscanning wanita tegang tersebut.
Baju atasannya kerah lebar membuka dada yang dihiasi bandul segede jempol kaki dgn kalungnya nyaris segede rantai kapal.
Celananya legging hitam ketat bermerek, diteruskan dgn sepatu hak tinggi keluaran butik yang senada dgn tas tangan yang menghiasi tampilannya saat itu.
Rambutnya mekar baru diblow, persis seperti bunga di musim semi di luar negeri sono.
Wajahnya mancung hasil permak salon dan pahatan operasi plastik. Tubuhnya singset padat macam iklan jamu tradisional_hasil senam, fitnes dan diet ketat bertahun2.

“Ada apa ya mencari saya?!”
Tiba2 suara Onah tak kalah antusias.

Maka dua wanita berhawa panas itu bersitatap, bersitegang.

“Oh. . .jadi nyawa ngene kah madunya laki unda?!”
sambar nyonya yang ternyata istri sah bang Udi, sambil memelototi Onah dari ujung kepala sampai kaki.
Onah emang setel bgt hari itu, kan mau ke dokter kandungan katanya aku telat tiga bulan. . .

Sejurus kemudian ibu tadi langsung menjambak rambut Onah, tapi Onah jelas lebih sigap. Ditingkahi keriuhan orang satu gang yang heboh menonton mereka dan omelan istri Bang Udi_ Onah jelas tidak menyerah. Ia tak rela dandanannya untuk pergi bersama suaminya harus hancur ditangan madu tuanya. NO WAY. . .

Dengan semangat macan diserang di sarangnya, Onah menggigit, mencakar, menjambak dan melumpuhkan lawannya. Jadilah bu pejabat yang sok muda itu acak2an. Nangis dgn airmata menghitam lantaran eyeshadow eyeliner maskaranya luntur. Persis zombie baru dicabuli.

“Bulik pian sana!!” hardik Onah.

Nyonya itu bangkit dan melangkah terhuyung, masih tersisa omelan dan gerutuan tak jelas dari mulutnya.

“Awas! Ku lapor polisi kam!” ancamnya.

“Jin ha!” tantang Onah. “Ini akan memenangkan semua kasus.” tunjuknya pada perutnya yang masih rata.

Setelah suasana kondusif bang Udi mendekati Onah, dari tadi beliau diam saja dalam rumah menyaksikan, keluar hanya memperparah keadaan.

“Sabar Nah, katanya hamil, jadi kada kita ka duktur?” hibur pria tua itu kikuk.

“GAK ! Kada jadi, kita ka pangadilan haja sudah_ cerai !”
sentak Onah seraya menepiskan tangan suaminya dari bahunya.

*

Bersambung Ke bagian 4 (tamat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s