RAMADHAN KALI INI. . . (antara kebutuhan dan keinginan)

Ramadhan datang!
Gegap gempita gaungnya di mana-mana. Mulai dari anak-anak yang harus mulai diajari puasa, liburan panjang, sampai album-album religi para selebriti mendadak Islami. Pun dengan tayangan TV dan iklan-iklan yang menggugah selera dengan berbagai macam makanan dan minuman yang beraneka warna.

Ah. . . Ramadhan.
Selalu penuh cerita setiap tahunnya. Apalagi bagi ibu-ibu macam saya. Kalo setiap hari biasanya sering makan beli di luar (syndrom malas ke dapur akut)_bulan puasa gak bisa gitu lagi. Maka jadilah magic jar nganggur dan panci yang digantungin masuk dapur lagi, bersentuhan api lagi.

Perihal kebutuhan dapur (urusan perut) adalah sudah jadi bidangnya para istri alias wanita umumnya. Dan tahun ini ada sesuatu yang akan menguji kesabaran kita sebagai hakikat berpuasa.

Puasa kan secara bahasa artinya 'menahan. Ya, singkatnya menahan segala yang membatalkan sampai waktu yang ditentukan.
Tapi di saat tuntutan ekonomi terasa menggerogoti sendi-sendi kehidupan dalam mencari rezeki. Tantangan zaman tentang urusan makan saja masih sering tak terpecahkan, bahkan banyak yang kekurangan.

Tahun ini komplit terasa, lengkap dan sempurna. Kebijakan pemerintah dengan kenaikan harga BBM amat sangat bertepatan dengan tahun ajaran baru dan menjelang Ramadhan. Oalah. . . Efeknya itu lo Pak, Bu wakil rakyat yang terhormat, nyampe dapur saya!

Kalo para suami sudah cukup pusing dengan tanggung jawab sebagai pencari nafkah, maka para istri bisa mengalami pusing 3x lapangan gelora Bung Karno.
Lah iya, wong ngatur belanja di tengah kenaikan harga yang menggila dengan budget seadanya, adalah simalakama. Dibeli, duitnya mana? Gak beli, tapi butuh. . . Duh.
Belum lagi jajan anak-anak dan keperluan sekolah mereka yang udah nagih dari bulan-bulan kemaren.
Gak papa kalo cuma punya 2 anak yang masih kecil kayak saya, coba bayangkan mereka yang punya 6 anak dan pada sekolah menengah atau kuliah?

Lengkap rasanya penderitaan kita selaku ibu rumah tangga.

Justru inilah saatnya, this is the time for the moment. Di saat para ibu hiruk pikuk menyambut Ramadhan, ketika iklan-iklan mengajarkan kita menjadi pribadi yang konsumtif, mengaburkan batasan antara kebutuhan dan keinginan.
Sudah saatnya kembali pada makna 'menahan' itu tadi.
Kita mau puasa, mau ibadah! Tapi kok pada kalap, lupa diri, panic buying, panjang-panjang bikin list belanja yang kalo dikalkulasi nominalnya cuma bikin mengurut dada dan tambah pusing kepala.

Segala daging, ayam, ikan , telor dibeli, semuanya diborong. Itu keinginan dan bukan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Percaya deh, perut diisi apapun biar gak enak-enak banget juga tetap kenyang, pun hasil pabrikannya juga serupa.

Tapi ini maunya selera, dan selera mulai bertindak sebagai raja; nafsu tidak boleh engga.
Cukuplah kalo hari ini telor atau ikan saja. . Ntar besok-besok kalo masih bisa beli bolehlah daging atau ayam.
Jangan kalap!
Jangan membeli barang-barang di pasar seakan-akan besok pasarnya mau digusur Satpol PP.

Biar gak stres jelang lebaran, kan katanya pengeluaran di bulan puasa 2x lipat daripada hari biasa (termasuk keluarga saya).
Heran ya. . .
Padahal toh cuma makan sahur dan berbuka. Kalo hari biasa malah bisa makan ampe 4x. Tapi anggaran gak sampai kebobolan.
Dan hilanglah makna dari 'menahan' itu. Kembalikanlah pada tempatnya antara yang benar-benar kita butuhkan dan apa yang sekadar menurutkan keinginan.
Sayangnya makanan yang sia-sia pasca berbuka hanya karena selera raja (baca:nafsu) yang kita perturutkan.

So, selamat puasa!!:-)

Nasehat pada diri sendiri

15 thoughts on “RAMADHAN KALI INI. . . (antara kebutuhan dan keinginan)

  1. Dibarengi harga yang kian melambung tinggi. Hemm nambah prihatin aja di bulan ramadhan besok. Semoga tetap diberi kesabaran oleh-Nya. Amiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s