MENDUNG KELABU DI MATA IBU

ibu.jpg

Hari ini, seperti biasa, di sebuah koridor panjang dengan lantai marmer putih aku mempercepat langkahku. Ada mendung hitam bergayut di langit sana.

Tak banyak yang dapat ku ingat dari ibu, ketika semua terjadi aku masih kanak-kanak sekali. . . .

Ah ibu, aku tahu beliau bukan wanita cengeng yang gampang sedih. Saat gaji ayah tak mencukupi untuk sekolah kakakku dan aku, juga adikku yang masih balita, beliau dengan sigap membantu perekonomian keluarga. Beliau begadang malam hari, membuat penganan kue-kue dan menjualnya siang hari. Sampai suatu malam, aku terbangun saat mendengar tangisan dan teriakan di dapur.

Saat itu yang ku ingat adalah ayah jadi jarang pulang karena menjadi tukang ojek malam hari. Tapi aku tak pernah tahu bahwa dari pekerjaan sampingan yang ayah klaim dapat menambah penghasilan itu, segalanya bermula.

Kadang satu malam ia tak pulang, dua hari sampai berhari-hari. Wanita pendiam yang tegar itu, yang ku sebut Ibu. . . Beliau tetap berjualan seperti biasa, karena ayah mulai alpa memberikan sangu kepada kami berempat. Itu berlanjut dan puncaknya adalah malam itu saat ku dengar keributan di dapur.

Rupanya ayah baru pulang setelah nyaris seminggu lupa pada rumah. Entah kenapa beliau marah sekali pada ibu yang masih sibuk memasak kue-kuenya. Aku tak berani melihat langsung ke dapur, hanya dari celah pintu kamar. Kulihat kakakku yang saat itu baru masuk SMU menangis meraung-raung dengan sebatang sapu ditangannya.

Ayah dan ibu terlibat pertengkaran dan adu mulut. Tak jelas apa yang mereka ributkan, hanya ibu berkali-kali menyebut “wanita itu”. Lalu ayah kian menggila, beliau mulai memukul ibu, dan menampar wajahnya. Sampai kakakku histeris saat ayah hendak membanting sebuah kursi kayu pada ibu.

“BERHENTI !! Jangan pukul ibuku, jangan pukul ibuku, ayah pergi!” teriak kakak berulang-ulang sambil memukulkan gagang sapu pada pintu.

Dan akhirnya kursi itu dihempaskan ke lantai dan ayah pergi lagi entah kemana. Kulihat ibu dan kakakku berpelukan dalam tangis paling memilukan yang pernah ku ingat, aku berlari dan memeluk ibu, ikut menangis. Saat itu adik kecilku masih terlelap di ranjangnya.

Tak pernah ku tahu, malam itu adalah awal dari hari-hari gelap ibu. Dan aku baru tahu jawabannya setelah beberapa bulan kemudian. Ayah pulang membawa seorang bayi laki-laki berusia 8 bulanan. Yang ternyata adalah anak dari istri muda ayah, yang masih terbilang tetangga karena rumah wanita itu tidak jauh dari rumah kami. Setiap akhir pekan dan sepulang sekolah kami bertiga disuruh ayah menjagakan Reno karena ibunya harus bekerja.

Dan ibuku, aku tak tahu bagaimana hati ibu saat harus merawat anak dari wanita yang telah mengambil lelaki yang ia sebut suami. Bertahun-tahun itu terjadi. Rupanya anak laki-laki itulah yang menjadi kebanggan ayah, yang tak pernah ada pada kami, putri-putrinya.

Belasan tahun berlalu, istri muda ayah itu telah punya dua anak. Kami telah terbiasa dengan segala kekurangan dan saling berbagi, sampai-sampai aku mengira duka itu telah sirna.

Tapi aku tak pernah tahu, saat ibu mulai meracau tak jelas, marah-marah, mengganggu orang dan atau mengamuk tiba-tiba.

Sampai di sinilah ibu akhirnya saat seminggu yang lalu sebuah mobil petugas kesehatan terpaksa membawanya dengan ke dua tangan terikat dan suntikan penenang.

Mendung sedari pagi yang memberati langit akhirnya menjatuhkan rinai gerimis. Aku melangkah cepat bersama ke dua anakku menuju ruangan tempat ibu di rawat di sebuah rumah sakit jiwa.

“Nenek. . . !” ke dua anak ku memeluk ibu, kata suster kondisi beliau mulai stabil. Kami duduk santai di kursi panjang di selasar itu.

Aku mencium tangan ibu yang selama ini telah merawatku. Aku tak pernah tahu ternyata luka-luka itu separah ini. Luka-luka masa lalu itu ternyata mampu membawa ibu ke tempat menyedihkan macam ini. Ibu bercanda dengan ke dua cucunya, beliau bilang jika terus membaik dan teratur minum obat, beliau bisa cepat pulang.

“Ibu harus sembuh dulu,” kataku sambil melihat pergelangan ibu, di sana ada bekas ikatan di kulitnya. Kata suster baru tadi pagi dilepaskan karena ibu tak meronta-ronta lagi.

“Kasian Ipah, siapa yang menyediakan keperluannya?” ibu ingat adikku yang baru masuk perguruan tinggi.

“Ibu tenang aja, kan di rumah ada ayah.”

Mendadak ibu terdiam, aku menatap wajahnya. Ah, mendung itu belum sirna. Sementara gerimis menjelma hujan memerciki sepanjang selasar pagi itu. . .


Gambar dari:
kresyagina.wordpress.com

30 thoughts on “MENDUNG KELABU DI MATA IBU

  1. @oglex only,

    pasti, stiap ibu punya ksh syg. Seorg ibu sibuk pasti ada hal yg melatarbelakangix, ada alasan yg membuatx melakukan itu. Tp cinta dan ksh syg juga tak bs brdiri sndiri, harus dipupuk dgn sbr. Krn itulah, yg trpenting skrg adlh kt mencintai ibu trlbh dahulu, sbg bntuk kewajibn dan kepatuhan.

    Like

  2. subhanallah….
    betapa terkoyak hati ini ketika membaca kisah pilu ini, namun saya bersyukur bahwa ketegaran ibu dan anaknya begitu besar.
    Dan saya yakin ada bentuk kasih sayang Allah yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang karena ia hanya bisa dirasakan oleh hati yang jernih.

    Assalammualaikum,
    salam kenal mbak….
    terima kasih atas untaian cerita yang dahsyat.
    🙂

    Like

  3. Wah terpotong lagi ceritanya,,:D

    Tag »» FORMULIR PENDAFTARAN KONTES MYWAPBLOG FAMILY TELAH DIBUKA !!…

    Salam Keluarga MYWAPBLOG
    »Mas Raghiel«

    Like

  4. Jd pgn balik ke surabaya,. Klo di rmhku kebalikannya, kami semua cowok 5 orang. Ga bs tak bygke ibu betapa sabar mengurus kami yg ktnya dulu naksl2 ini..

    Ibu

    Like

  5. Absen pagi :mrgreen: salam Mwb sukses slalu

    Mampir, Ada new post

    Trik Internet Gratis Xl combo Tanpa Opera zone dan Masteng, trik All Telkomsel
    angkat file Ratusan MB,
    Desember 2013 ,trikpindah paket xl Bebas ke Xl
    combo Gratis paling ampuh

    Like

  6. klo dekat cuek, kll jauh kuangen banget… Itulah ibu!!! Tp cinta terdalam senantiasa padax, akupun menangis ikhlas karenanya.
    Maaf telat ba'…

    Like

Leave a Reply to Rusminah Qumainah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s